
" Dia seorang artis internasional. Menurut pengakuan Indrana, dia adalah Amora yang sudah melakukan operasi plastik untuk melarikan diri dari kejaran polisi dan juga mantan suaminya yang dia takutkan akan membalas dendam padanya karena dia telah mencuri seluruh harta suaminya saat di Amerika." Siska terkejut bukan kepalang mendengar Pengakuan dari petugas kepolisian.
" Jadi Amora melakukan operasi plastik? Ya Tuhan! Pantas saja kami sangat sulit untuk mencari dia di manapun. Jadi karena hal itu?" Siska terus menggeleng-gelengkan kepalanya atas perilaku Amora yang luar biasa licin sekali.
Petugas polisi kemudian menyuruh Andi dan Anto untuk keluar dulu. Karena Siska hendak menemui dapat di ruangan tersebut. Mereka tidak mau kalau mereka yang masih dibawah umur melihat semua kejadian yang ada di dalam ruang investigasi Kepolisian.
" Siska?" terlihat David yang terkejut melihat siska ada di antara para petugas polisi yang sedang menginvestigasi dirinya.
Siska mendekat kepada David yang masih membeku di tempat.
" Bukankah seharusnya kau masih di penjara? Kenapa kau sudah bebas dan berkeliaran?" tanya Siska merasa keheranan luar biasa.
David hanya tersenyum miring mendengar pertanyaan dari Siska yang terlihat sekali bahwa dia sangat terkejut melihat dirinya berada di depannya.
" Memangnya kenapa aku harus selalu ada di penjara? Aku adalah orang yang pintar sangat mudah untukku untuk kabur dari sana." terlihat David yang begitu merendahkan.
Siska seakan kembali diingatkan tentang penculikan anaknya yang masih bayi pada saat 10 tahun yang lalu. Seorang David yang pada dasarnya masih termasuk pamannya Aaron sendiri, dia begitu tega dan begitu jahatnya memperlakukan anaknya.
" Pikirkanlah sendiri apakah Kau layak untuk hidup di luar sana secara bebas? Setelah apa yang sudah kau lakukan kepada anakku saat kau menculiknya 10 tahun yang lalu! Kau jauh lebih hina daripada binatang!" Siska begitu geram melihat senyum David yang seperti sedang merendahkan dirinya.
Siska hampir saja melakukan sesuatu yang anarkis kalau tidak dihalangi oleh petugas polisi yang terus memegang tangannya agar tidak bersikap berlebihan terhadap David yang sudah membunuh Andini dengan begitu kejam dan sadis.
" Bbahkan kau begitu tega membunuh seorang ibu yang sedang hamil. Di manakah letak prikemanusiaan kamu? Apa kaulah yang disebut seorang manusia yang berhak bebas di dunia ini?" Siska sudah tidak mampu lagi menahan emosi di hatinya yang membludak luar biasa.
Petugas polisi langsung menarik Siska untuk keluar dari ruang investigasi. Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan yang pada akhirnya akan merugikan Siska.
" Bawa Nyonya Siska keluar! Kita sudah cukup mendapatkan pernyataannya. Tenanglah Nyonya Siska! Kami pasti akan memberikan keadilan untuk istri pamanmu yang sudah meninggal. Sekarang biarkanlah petugas yang berwenang yang memberikan hukuman kepada penjahat itu." sang komandan berusaha untuk menasehati Siska yang hampir saja lepas kontrol karena emosinya melihat David yang sepertinya tidak merasa berdosa sama sekali sudah membunuh istri dari pamannya yang sedang mengandung.
" Kau layak untuk dihukum mati! manusia sepertimu hanya mengotori dunia ini dengan kejahatan kamu!" Siska pun kemudian keluar dari ruangan investigasi menyisakan David yang tampak gentar melihat mata Siska yang berapi-api.
David tahu semua yang dikatakan oleh Siska pasti akan diwujudkan karena dia sangat tahu bahwa Farel sangat mencintai Siska sebagai istrinya.
" Kita lihat saja! Apakah kalian menemukan bukti bahwa akulah yang sudah membunuh perempuan itu atau tidak. Kau jangan terlalu percaya diri Siska dunia ini tidak berputar hanya di sekelilingmu saja! Haha!" Tawa David benar-benar membuat Siska luar biasa marah sekali.
" Aku percaya bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Manusia jahat sepertimu pasti akan diberikan hukuman yang setimpal atas semua perbuatan jahatmu!" setelah mengatakan itu Siska pun keluar dari sana dan tidak memperdulikan lagi semua yang dikatakan oleh David kepadanya.
Begitu keluar dari ruang investigasi, Siska tampak berbicara dengan serius bersama komandan yang menangani kasus pembunuhan Andini.
" Tolong awasi penjahat itu baik-baik. Dia bisa kabur dari penjara di Amerika. Pasti karena dia memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu!" Siska berpesan sebelum dia meninggalkan kantor polisi.
Ketika Siska sudah berada di luar kantor polisi. Andi dan Anto terlihat mengkhawatirkan kondisinya yang terlihat begitu lemas dan pucat wajahnya.
Di dalam mobil terlihat Siska yang menghubungi Farel yang sekarang masih ada di Surabaya.
" Sayang, kamu di mana sekarang?" tanya Siska dengan suara yang sangat lemah membuat Farel menjadi khawatir dengannya.
Andi dan Anto hanya melihat dan mengawasi Siska yang sejak tadi terlihat pucat pasi wajahnya.
" Aku masih ada di kantor polisi bersama paman Adrian. Sebentar lagi Indrana dan juga Amora akan dipindahkan ke Jakarta agar bisa dilakukan investigasi di sana." Siska merasa senang mendengar kabar itu.
" Aku sangat berharap wanita keji itu bisa di hukum seberat-beratnya!" setelah mengatakan itu tiba-tiba saja Siska Jatuh pingsan.
Andi dan Anto sontak berteriak melihat Siska yang jatuh pingsan.
Mendengar teriakan Andi dan Anto membuat Farel begitu khawatir dengan mereka," Sayang, kau, kau kenapa?" Andi kemudian mengambil ponsel Siska yang tadi jatuh.
" Dia jatuh pingsan. Kami tutup dulu telponnya. Kami akan membawanya dulu ke rumah sakit." setelah mengatakan itu Andi langsung menutup panggilan telepon dan meminta kepada sopir pribadi Siska untuk membawa mereka ke rumah sakit.
" Mang, Ayo kita ke rumah sakit. Saya khawstir sekali kalau ada apa-apa dengannya." Mereka pun kemudian langsung melajukan kendaraan menuju rumah sakit untuk memeriksaan keadaan Siska yang mendadak jatuh pingsan.
Begitu sampai di rumah sakit dokter langsung memeriksa Siska yang pingsan. Ternyata dokter menemukan kalau Siska saat ini sedang hamil muda.
" Selamat ya Nyonya Siska, atas kehamilannya. Tolong dijaga baik-baik ya. Karena kondisi Anda saat ini benar-benar sangat lemah. Apalagi anda sudah mempunyai riwayat pernah keguguran." Dokter mengingatkan kepada Siska untuk lebih berhati-hati karena usia trimester pertama benar-benar sangat rawan untuk janin dan ibunya.
Siska sampai berderai air mata mendapatkan kabar itu. Sungguh tidak di sangka kalau Allah masih memberikan kepercayaan padanya dengan kehadiran seorang anak di dalam pernikahannya bersama Farel.
" Anakku!! Semoga mama bisa menjagamu sayang!" Siska benar-benar merasakan haru yang luar biasa.
Air mata tanpa terasa menetes dari kelopak matanya yang terlihat menghitam dan beberapa hari ini dia mengalami kesulitan tidur.
" Ya Allah bantulah diriku dan suamiku untuk bisa menjaga anak ini agar bisa terlahir dengan selamat. Jangan biarkan kejadian buruk terjadi lagi kepada kami seperti dulu!" Siska mengelus perutnya masih rata dengan penuh haru dan kebahagiaan.
Andi dan Anto juga terlihat begitu bahagia dengan kabar itu. Ya!! Di antara begitu banyak kabar buruk yang akhir-akhir ini diterima oleh keluarga mereka. Kehamilan Siska benar-benar suatu anugerah yang sangat luar biasa untuk mereka semua.
Steven dan Rossa langsung datang ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar kehamilan tersebut dari Andi yang menghubunginya.
" Ka.u beristirahatlah dulu di sini. Wajahmu begitu pucat Siska. Pasti karena kamu sudah beberapa hari tidak tidur dengan tenang dan makanmu juga tidak teratur bukan?? Paman akan menghubungi Farel untuk segera pulang agar bisa menemanimu di sini." Terlihat Siska yang begitu terharu dengan apa yang dikatakan oleh Steven yang hingga saat ini selalu memperhatikannya walaupun sudah mempunyai seorang istri.
Rossa mendampingi Siska dengan telaten dan membantunya melakukan beberapa tugas untuk mengurus Siska yang terlihat begitu lemah dan pucat wajahnya.
" Istirahatlah Dulu Siska. Ingat jangan melakukan hal-hal yang membuatmu lelah kalau kau butuh apa-apa, katakanlah padaku." Siska tersenyum kepada Rossa yang sekarang sudah menjadi seorang Bibi yang baik dan selalu memperhatikannya dalam kesulitan semacam itu.