
Pagi ini suster yang dikirimkan oleh dokter yang merawat Adrian sudah sampai.
Seorang wanita muda yang sangat cantik bernama Andini yang telah dipilih oleh dokter Abizar.
Visualisasi Andini
" Selamat pagi Tuan Steven. Saya adalah suster yang sudah dipilih oleh dokter Abidzar untuk mendampingi kakak anda!" suster Andini memperkenalkan dirinya kepada Steven yang saat ini baru saja bangun tidur.
" Selamat pagi. Maafkan saya Suster yang baru saja terbangun," Steven kemudian meraup wajahnya dengan kedua tangannya untuk menghilangkan bekas-bekas tidur.
" Tidak apa-apa Tuan. Tidak masalah bagi saya. Baiklah saya akan memulai tugas saya untuk mengurus Tuan Adrian!" suster Andini kemudian memulai pekerjaannya membersihkan tubuh Adrian yang sampai saat ini masih dalam keadaan koma.
Steven masuk ke dalam kamar mandi dan melihat suster Andini yang sekarang sudah mulai untuk memperkenalkan diri kepada Adrian.
" Halo Tuan Adrian. Nama saya adalah suster Andini. Mulai hari ini saya akan bekerja untuk mengurus anda sebagai suster pribadi Anda. Mohon kerjasama dari Anda agar saya bisa bekerja dengan baik!" ucap suster Andini yang saat ini sedang memperkenalkan diri kepada Adrian yang sampai saat ini masih belum terlalu memberikan banyak respon apapun kepada sekitarnya.
" Terima kasih atas kerjasama yang sudah anda berikan kepada saya. Sekarang saya akan mulai untuk membersihkan tubuh anda!" suster andinipun kemudian mulai mengelap tubuh Adrian satu demi satu.
Seven dari arah kamar mandi terus memperhatikan cara kerja Andini yang sangat profesional.
" Aku harap kakakku bisa kembali sadar dari koma dia. Setelah memiliki seorang suster yang akan menjaganya dengan baik." Doa Steven yang saat ini sedang berada di kamar mandi dan sekarang sudah mulai melaksanakan aktivitasnya di sana.
Setelah selesai, Steven pun kemudian keluar. Steven melihat seseorang ini sudah selesai mengerjakan tugasnya dan sekarang dia sedang menyiapkan inpus Adrian yang terlihat sudah habis.
" Bagaimana dengan kondisi kakakku suster? Apakah ada perubahan ataukah masih sama saja?" tanya Steven yang sekarang sudah kembali segar setelah mandi.
Suster Andini tampak terlihat gugup melihat Steven yang tampak begitu tampan dengan balutan busana casualnya. Hari ini adalah hari Minggu jadi Steven bisa menemani kakaknya seharian full.
" Alhamdulillah keadaan pasien sejauh ini stabil! Semoga akan ada kemudahan dan juga kemajuan untuk keadaan pasien!" ucap suster Andini berusaha untuk menghindari untuk menatap Seven.
" Baiklah Tuan Steven. Saya permisi dulu untuk melanjutkan pekerjaan saya di rumah sakit. Nanti setelah pulang bekerja dari rumah sakit. Saya akan full untuk menjaga Tuan Adrian!" Steven Pon hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan Andini untuk melanjutkan pekerjaannya.
Bagaimanapun mereka belum menandatangani kontrak untuk membiarkan Andini menjaga kakaknya selama 24 jam.
Steven menarik nafasnya dalam dalam dia bisa melihat bahwa Andini adalah suster yang profesional dan bisa dipercaya.
***
Terlihat Andini yang keluar dari ruangan Adrian. Sejak tadi dia terus memegang jantungnya yang berdebar sangat kencang. Hal itu gara-gara tadi Andini melihat Steven yang baru pertama kali keluar dari kamar mandi yang terlihat sangat tampan sekali.
" Ya Allah ini sangat berbahaya untuk tugasku sebagai seorang suster. Andini Kenapa kau tidak profesional begini?" tegur Andini kepada dirinya sendiri setelah dia sekarang sudah berada di ruangan suster.
Hari ini dia akan mengikuti dokter Abizar untuk berkeliling memeriksa pasiennya.
" Bagaimana Andini? Apakah kau sudah berkenalan dengan pasienmu? Nanti kita akan bertemu dengan Tuan Farel dan juga Nyonya Siska yang akan mengontrakmu untuk menjadi suster yang akan menjaga Tuan Adrian selama 24 jam," dokter Abidzar tersenyum kepada Andini yang menganggukan kepalanya.
Dokter Abizar sendiri adalah seorang dokter paruh baya yang bekerja di rumah sakit itu sudah sangat lama dan bisa dikatakan sebagai dokter yang menjadi andalan dari rumah sakit tempat Adriani sekarang dirawat.
" Saya sangat berharap kamu bisa cocok dengan keluarga mereka. Mereka adalah keluarga yang sangat kaya raya di kota ini. Saya harap kau tidak mencari masalah dengan kedua Kakak Adik yang memiliki paras yang sangat rupawan!" Andini tanpa kesulitan menelan salivanya sendiri mendengar peringatan yang diberikan oleh dokter Abizar kepadanya.
" Tenanglah dokter. Saya akan berusaha untuk bersikap profesional dalam bekerja dan tidak mengecewakan dokter!" Andini berusaha untuk memberikan senyum yang terbaik kepada dokter Abizar yang selama ini selalu banyak membantu dengan selalu merekomendasikan dirinya dengan pekerjaan-pekerjaan yang sangat bagus dan berpotensi gaji yang besar.
" Saya percaya kepadamu Andini. Dengan kualifikasi dan juga pengalaman kerjamu. Jangan membuat saya kecewa dengan membuat skandal dengan pasien ataupun keluarganya. Apa kau faham?" tanya dokter Abizar sambil melirik ke arah Andini.
" Siap dokter!" terlihat Andini yang meringis kepada dokter Abizar yang kemudian melanjutkan acara keliling mereka untuk memeriksa semua pasien dokter Abizar.
Setelah mereka selesai berkeliling dokter Abidzar menyuruh Andini untuk kembali memeriksa Adrian karena sudah waktunya untuk memberikan obat dan memeriksa kateter yang terpasang.
" Baiklah saya permisi dokter!" Andini walaupun merasakan lelah tubuhnya Tetapi dia tetap bersemangat untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang suster.
Dokter Abidzar sangat menyukai semangat yang dimiliki oleh Andini yang sejak muda sudah menjadi tulang punggung keluarganya.
Andini sekarang sedang menyekolahkan adik-adiknya yang masih kecil. menjaga dua orang tuanya meninggal dialah menjadi kedua orang tua bagi adik-adiknya yang masih kecil dan menggantungkan hidup kepada dirinya.
Tok tok tok
Andini mengetuk pintu ruangan Adrian. Steven membuka pintunya dan merasa senang karena ternyata adalah suster yang akan menjaga kakaknya.
" Kebetulan sekali suster datang. Saya baru saja ditelepon oleh keponakan saya. Bahwa saat ini di kantor sedang membutuhkan saya. Apakah saya bisa meminta bantuan anda untuk menjaga kakak saya, selama saya pergi ke kantor?" tanya Steven dengan wajah khawatirnya.
Andini yang cukup terkejut mendapatkan berondongan perkataan dari Stevan hanya bisa mengganggukan kepala.
" Baiklah Tuan anda jangan khawatir. Saya pasti akan menjaga Tuan Adrian sampai Anda kembali!" Andini kemudian melihat Steven yang meninggalkan ruangan tersebut.
Andini bisa melihat kekhawatiran di wajah Steven yang kemarin sempat membuat dia berdebar sangat kencang pada saat pandangan pertama mereka.
" Terima kasih suster Andini!" Steven pun kemudian meninggalkan ruangan dengan mengelus lembut rambut Andini.
Sesuatu yang kecil yang dilakukan oleh Steven. Benar-benar sukses membuat Andini menjadi kelapakan sendiri.
' Ya ampun Andini sadarlah bahwa kau saat ini sedang bekerja bukan waktunya untuk merasakan Romansa semacam ini!' Andini berusaha untuk menepuk kedua pipinya yang terasa begitu panas setelah mendapatkan perlakuan yang begitu manis dari Steven.
Entah apa yang membuat Steven sampai saat ini masih juga jomblo. Padahal hanya dengan sight first saja sudah sukses membuat Andini kalang kabut begitu.
Ketampanan Steven dan Adrian memang sudah terkenal di kalangan pebisnis. Keturunan Prayoga group yang menjadi andalan keluarga mereka.
Walaupun banyak yang menyayangkan tentang keputusan kakeknya Siska yang lebih memilih untuk mewariskan seluruh aset Prayoga group kepada cucunya daripada kepada kedua putranya.
Hal itu dilakukan oleh kakeknya Siska. Karena melihat ambisi liar yang dimiliki oleh istri barunya yang dikhawatirkan akan menghancurkan perusahaan keluarga mereka.