Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
180. Bagaimana ini?


Rosa Mandalika tampak marah. Sejak tadi, ia terus berusaha menghubungi hacker yang kemarin dia minta tolong untuk menghancurkan perusahaan Prayoga Group. Anehnya, heacker tersebut sekarang tidak mau menerima telepon ataupun membalas pesan darinya lagi.


"Ada apa, Rosa? Bukankah kamu bilang kamu bisa mencari orang profesional yang bisa menyelesaikan masalah ini? Lihatlah apa yang sekarang sedang terjadi?" tanya ayahnya Rosa yang saat itu benar-benar marah padanya.


Rosa benar-benar kehilangan kata-katanya untuk menghadapi ayahnya.


"Katakan! Bagaimana caranya kamu akan menyelesaikan masalah ini?" Rosa Mandalika meminta izin kepada ayahnya untuk keluar.


"Maafkan Rosa, Pa! Bisakah Rossa mencari hacker ini? Rosa akan mencari dan berusaha menemukannya!" Rosa merasa frustasi dan marah karena selalu menjadi sasaran kemarahan ayahnya ketika dia marah tentang perusahaan.


"Kamu mau melarikan diri dari masalah ini, hmmm? Bukankah semua ini gara-gara kamu yang bermain dengan hacker itu? Sehingga akhirnya mereka malah membalasmu kembali?" Rosa Mandalika sampai tersedak saliva sendiri mendengarkan apa yang dikatakan oleh ayahnya yang tidak lagi mempertimbangkan perasaannya.


Meskipun tidak diberi izin oleh ayahnya, Rosa langsung keluar dari ruangan ayahnya. Ayahnya Rossa marah besar. Dia bahkan melemparkan semua berkas yang ada di atas mejanya untuk menunjukkan kemarahan di hatinya kepada putrinya yang sedang menimbulkan bencana besar pada perusahaan miliknya yang sudah dia rintis dan bangun dengan susah payah.


"Kalau kamu tidak bisa menyelesaikan masalah ini, jangan salahkan Papa jika dia mengeluarkanmu dari ahli waris keluarga kita!" Rosa Mandalika sampai berhenti langkah dan menatap ayahnya dengan kesal.


"Lakukan saja semua yang Papa inginkan! Aku tak peduli!" Rosa Mandalika kemudian keluar dari ruangan ayahnya dan pergi dari perusahaan Mandalika Group yang sudah satu minggu ini membuat kepalanya hampir meledak saja rasanya.


Ayahnya sampai saat ini masih menyalahkan dirinya sebagai orang yang bertanggung jawab atas masalah yang sedang melanda perusahaan mereka. Database perusahaan semuanya lenyap. Server diserang virus yang membuat mereka tidak bisa berkutik sama sekali. Kegiatan perusahaan lumpuh total.


Rosa Mandalika benar-benar menyesali kebodohannya karena tidak menyelidiki hacker yang dia sewa untuk menghancurkan Prayoga Group.


"Aneh! Aku perintahkan dia untuk menghancurkan Prayoga Group. Kenapa dia malah menghancurkan perusahaanku? Ada apa ini sebenarnya?" tanya Rosa Mandalika pada dirinya sendiri.


"Aku yakin ini ada kaitannya dengan ponselku yang tiba-tiba menghilang. Aku harus menyelidiki restoran itu!" Rosa Mandalika kemudian memutuskan untuk pergi ke restoran tempat dia kehilangan ponselnya dan akhirnya menemukannya secara tiba-tiba.


Rossa memperhatikan struktur restoran.


"Rasanya tidak ada yang mencurigakan di tempat ini. Apakah aku perlu melihat CCTV yang ada di dalam restoran ini supaya aku bisa mengetahui kejadian yang sebenarnya pada hari itu?" monolog Rossa.


Rossa kemudian melangkahkan kakinya menuju ke dalam restoran.


"Apakah aku bisa bertemu dengan manajer kalian?" tanya Rosa dengan penuh percaya diri dan arogansi yang terlalu tinggi yang selalu melekat padanya.


Pelayan menatap Rosa yang saat itu masih berdiri di hadapannya dengan sangat angkuh dan sombong.


"Maafkan saya, Nona, tapi manajer kami saat ini tidak ada di restoran karena dia sedang pergi ke luar kota," dusta pelayan itu karena dia malas melayani wanita sombong seperti Rossa.


Rossa terlihat mengurutkan keningnya dan merasa tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh pelayan restoran di hadapannya sekarang.


Pelayan yang tadi mengatakan bahwa manajer tidak ada di dalam ruangannya, gemetar ketakutan melihat Rosa yang dengan begitu lancang masuk begitu saja ke dalam ruangan sang pemilik.


"Ada apa ini?" tanya seorang pemuda tampan yang kebetulan sedang bekerja.


"Abimana, pegawai kamu ini kurang ajar! Dia tidak mengizinkanku untuk bertemu denganmu!" Rosa Mandalika menatap tajam kepada pegawai yang sekarang sedang menundukkan kepalanya karena rasa takut.


Pelayan tidak menyangka kalau ternyata tamu yang meminta bertemu dengan manajernya mengenal pemilik dari restoran tempat dia bekerja sekarang.


"Maafkan saya, Pak. Dia meminta pada saya ingin bertemu dengan manajer, bukan ingin bertemu dengan anda!" pegawai restoran itu sudah ketakutan melihat amarah di mata Rossa yang tertuju kepadanya.


"Sudahlah, Rosa! Kamu jangan membuat keributan di tempat kerjaku!" ucap Abimana sebagai pemilik restoran itu.


"Pergilah kembali bekerja, tidak usah melayani dia." Abimana kemudian duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya.


"Ada apa kau mengganggu orang lain bekerja dengan sifat jumawa dan kesombonganmu itu?" tanya Abimana yang terlihat jengah menatap Rosa yang duduk di hadapannya dengan begitu sombong.


"Minggu lalu aku kehilangan ponsel di restoranmu ini, dan tiba-tiba saja ponsel ini kembali kepadaku tanpa sebab. Apakah kau bisa memperlihatkan kepadaku CCTV pada hari aku kehilangan ponselku di sini?" tanya Rosa Mandalika langsung to the point.


Abimana mengerutkan keningnya, merasa tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya yang selalu mencari perkara dengan orang lain.


"Dengarkan, Rosa! Bukankah kamu seharusnya bersyukur karena ponselmu sudah kembali lagi? Lalu, apalagi masalahnya?" tanya Abimana yang terlihat tidak sabar melihat kelakuan Rossa yang seakan berpikir bahwa dunia hanya berotasi di sekitarnya dan harus selalu tunduk kepadanya.


"Ayolah, tolong aku satu kali ini. Aku butuh melihat CCTV itu," pintanya Rossa pada Abimana. Rossa benar-benar kehabisan kata-kata untuk meminta tolong.


"Pergi saja, Rossa! Aku mohon jangan menggangguku lagi! Aku benar-benar sibuk dan tidak bisa diganggu oleh siapapun," tolak Abimana. Dia mendorong tubuh resah Rossa keluar dari ruangannya, tanpa peduli dengan protes dan amarahnya.


"Kau sangat jahat! Aku hanya meminta tolong untuk melihat CCTV saja, tidak meminta apapun yang memberatkanmu!" teriak Rossa pada Abimana, yang kini melotot ke arahnya.


"Kamu dengar Rossa! CCTV itu adalah privasi dari restoran ini. Jika kami membukanya secara sembarangan untukmu, maka itu artinya kami sedang memperlihatkan aib dari restoran ini. Sudahlah, pergi dari sini karena aku tidak akan membahas permintaanmu yang konyol itu lagi!" usir Abimana tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.


"Abimana brengsek! Awas saja jika kamu nanti meminta tolong padaku, aku juga tidak akan menolongmu!" balas Rossa yang meninggalkan restoran dengan marah dan sumpah serapah yang tiada henti.


Setelah Rossa pergi, Abimana merenung di dalam ruangannya. "Steven, kau benar-benar membuat masalah," gumamnya sambil menghubungi sahabatnya dari sekolah dulu yang bernama Steven.


"Ada apa, Abi? Mengapa kau menelponku?" tanya Steven yang pada saat itu sedang berada di rumah sakit bersama Andini dan juga Adrian.