
Steven setuju dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya. Bahwa orang yang telah menteror mereka adalah orang yang mengenal rumah itu dengan baik.
" Apakah kakak berpikir sama denganku?" tanya Steven sambil menatap Adrian yang mengangguk pelan.
Steven kemudian mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada kakaknya.
Message mode:
Steven: Aku curiga bahwa sopir ataupun pembantu Siska yang melakukan ini kepada kita. Bagaimana menurut mu?
Adrian: Aku pun berpikir hal yang sama.
Steven: Bagaimana kalau besok kita mulai menyelidiki hal ini secara diam-diam?
Adrian: Baiklah
Steven: tapi untuk apa mereka menteror kita?
Adrian: Tentu saja untuk bisa menguasai rumah ini hanya untuk diri mereka sendiri. Apa kau tidak berpikir bahwa mereka pasti menginginkan rumah mewah setelah kematian Kakak kita?
Steven: Tetapi kenapa harus menggunakan ancaman untuk meninggalkan perusahaan bukannya minta untuk meninggalkan rumah ini?
Adrian: Aku yakin itu hanyalah akal-akalan mereka agar kita tidak melihat tujuan mereka yang sebenarnya.
Steven: Kau benar kak!
Adrian: Bagaimana kalau sekarang kita pura-pura tidur semua? Setelah itu kita aktifkan kamera ponsel kita dan sembunyikan di tempat aman. Pasti mereka akan mulai bergerak kalau melihat kita semua tidur.
Steven: Ok kak
Adrian: Hati-hati untuk menyimpan ponsel kita, jangan sampai penjahat itu tahu
Steven: Asiap kakaku sayang ❤
Kedua Paman Siska itu pun kemudian saling menatap satu sama lain dan Adrian kemudian bangkit dari tempat duduknya. Dia kemudian mengaktifkan kamera miliknya dan menaruh di tempat tersembunyi yang bisa merekam semua yang terjadi di ruangan luas itu.
Steven pun melakukan hal yang sama tetapi di tempat yang berbeda agar bisa menyorot tempat lain yang tidak tertangkap oleh kamera milik kakaknya.
Mereka benar-benar sangat berhati-hati untuk melakukan aksi itu. Jangan sampai penjahat itu curiga dengan apa yang mereka lakukan.
Setelah semua kamera yang ada di ponsel mereka sudah stand by, mereka kemudian berbaring di sofa dan mulai memajangkan matanya.
" Ya ampun Kak. Aku ngantuk sekali. Aku nggak bisa berjaga lagi Kak. Aku tidur dulu ya?" tanya Steven sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Adrian yang langsung mengangguk pelan.
Adrian kemudian membaringkan tubuhnya di atas selimut yang tadi dihamparkan oleh Steven di dekat kaki Siska yang sudah mereka baringkan di atas sofa.
" Ah nikmat sekali tidur itu ya?" tanya Adrian yang langsung di setujui oleh Steven.
Kedua adik dan kakak itu pun kemudian terlelap dalam tidur mereka. Niat awal mereka yang tadinya hanya berniat untuk pura-pura tidur, tetapi ternyata mereka berdua malah benar-benar tidur dan sangat pulas.
Saat jam 05.00, tampak seorang berpakaian hitam mengendap-endap masuk ke dapur melalui jendela yang di buka dari luar.
" Aku harus segera membersihkan semua ini. Jangan sampai nanti mereka bangun masih melihat semuanya. Akan aku buat mereka seakan sedang berhalusinasi dengan semua teror yang ada di rumah ini! Jadi secara perlahan mereka akan meninggalkan rumah ini. Sehingga aku bisa menguasai rumah ini secara utuh! Hahaha! Darmi kamu memang hebat sekali. Idemu sangat keren!" ucap orang yang menggunakan pakaian hitam dan menutup wajahnya dengan kain hitam.
Setelah orang itu menyelesaikan misinya untuk membersihkan semua teror yang dikirimkan olehnya tadi malam di rumah Siska untuk menakut-nakuti Siska dan kedua pamannya. Setelah dia memastikan bahwa semuanya sudah rapi dan tanpa jejak sama sekali. Dia langsung keluar lagi lewat jendela yang tadi dia buka dengan pisau kecil yang ada di tangan dia.
Orang tersebut tampak tertawa senang karena rencananya sudah berhasil. Dia tadi melihat dengan jelas. Siska dan kedua pamannya yang sedang menginap di sana tampak sangat ketakutan sehingga mereka tidak berani untuk tidur.
Orang itu menguburkan kucing yang tadi telah dia bunuh di bawah pohon pisang yang ada di taman belakang. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar miliknya yang tidak jauh dari sana.
Setelah membuka topeng dan pakaian hitamnya, baru terlihat bahwa dia adalah sopir pribadi Siska yang menyamar menjadi penjahat yang sedang menteror Siska dan kedua paman tampannya.
Pria berusia 30 tahun itu tampak bahagia karena merasa bahwa dia telah berhasil menakut-nakuti penghuni rumah utama.
Dia tadi sudah mendengar percakapan antara Steven dan Adrian yang meminta kepada Siska untuk tinggal di rumah mereka.
" Setelah non Siska keluar dari rumah ini maka rumah ini hanya akan menjadi milikku dan Darmi. Kami bisa menikmati rumah mewah ini tanpa harus mengabdikan hidup kami kepada anak manja itu!" ucap Darno dengan mata berapi-api.
Tiba-tiba saja Darno merasa sangat jengkel, ketika dia melihat Siska yang begitu nyamannya tidur di sofa dan tidak merasa terganggu dengan teror yang dia berikan.
" Sudahlah tidak apa-apa besok juga dia akan meninggalkan rumah ini! Sebaiknya aku tidur saja supaya besok bisa pindah ke rumah utama dengan bahagia! Besok aku akan melamar Darmi untuk menikah denganku dan tinggal di sini bersamaku! Sayang kau pasti akan senang karena kita akan memiliki rumah mewah ini berdua saja!" ucap Darno.
Darno sangat bahagia karena memimpikan akan menjadi pemilik dari rumah mewah itu tanpa harus bekerja keras lagi menjadi sopir maupun pembantu untuk Siska.
Sementara itu Adrian dan Steven mulai membuka matanya. Setelah mereka berdua mendengar bunyi ayam yang berkotek di luar sana. Adrian mengingat ponsel yang dia nyalakan kameranya untuk mengawasi segala sesuatu yang terjadi di dapur dan ruang keluarga yang mereka gunakan untuk tidur.
Adrian juga mengambil ponsel milik Steven yang tadi dia lihat ditaruh di dapur oleh Steven yang menyorot ke tempat bangkai kucing itu di letakkan.
Mereka berdua kemudian melihat hasil rekaman yang terekam di dalam ponsel mereka. Suaranya tidak terlalu jelas. Karena memang jauh tetapi mereka bisa melihat dengan jelas seseorang yang sedang membersihkan semua teror yang ada di dalam rumah itu kemudian keluar melalui jendela setelahnya.
" Berpura-pura lah kalau kita besok panik mengenai teror yang kita lihat malam ini. Kita akan menjebak siapa orang yang sudah melakukan kejahatan semacam ini terhadap kita. Walaupun hatiku sudah memiliki nama penjahat itu, tetapi kita tetap harus mencari bukti yang akurat dan tak terbantahkan. Agar kita bisa memejarakannya tanpa dia bisa mengelak lagi!" ucap Adrian dengan geram ketika menatap hasil video yang terekam di dalam ponselnya.
Dia geram sekali ketika melihat orang yang berpakaian hitam-hitam dan bercadar itu yang tampak berani sekali kepadanya dengan menendang kakinya ketika dia tidur tadi.
" Beengsek! Dia berani sekali melakukan hal ini padaku!" ujar Adrian merasa terhina.