Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
187. Sedih


Keesokkan paginya, Farel dan Siska bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit di mana saat ini Steven sedang dirawat.


" Sayang, Kita akan mampir dulu ke kediaman Prayoga, karena Paman Adrian juga ingin ikut dengan kita untuk menjemput Paman Steven." ucap Farel yang saat ini sedang bersiap-siap untuk berangkat.


Siska hanya mengangguk saja. Karena dia tidak mau berdebat dengan siapapun. Apalagi sekarang suasana hatinya sedang tidak baik.


" Iya sayang tidak apa-apa." Siska mengulas senyum pada suaminya.


Setelah memastikan bahwa Aaron baik-baik saja bersama dengan pengasuhnya. Mereka pun kemudian meninggalkan Jakarta bersama dengan Adrian dan juga Andini untuk menjemput Steven yang masuk rumah sakit.


Terlihat Adrian yang begitu panik setelah mendengar cerita dari Siska mengenai keadaan adiknya.


" Aku harap Steven baik-baik saja. Sungguh semalaman Aku tidak bisa tidur karena memikirkan dia!" Andini menggengam telapak tangan Adrian berusaha untuk menenangkan.


Siska melihat interaksi keduanya yang setiap hari semakin dekat dan semakin intens.


' Tampaknya memang ada hal yang spesial di antara keduanya. Aku bisa merasakan kalau hubungan mereka lebih dari sekedar pasien dan susternya atau jangan-jangan mereka sudah bersama?' bathin Siska yang mulai tidak nyaman.


" Pak Adrian! Tenanglah, Pak. Anda tidak boleh cemas seperti ini. Karena kesehatan Anda harus diperhatikan juga. Anda baru saja pulih setelah berjuang dari penyakit yang begitu berat. Tolong jangan terlalu stress untuk memikirkan masalah ini. Saya yakin Tuan Steven pasti akan baik-baik saja. Karena dia sudah ditangani oleh tim dokter di sana." Andini mengelus punggung Adrian dan terus menghiburnya.


Adran melirik kepada Andini yang sejak tadi terus berusaha untuk membuatnya tenang dan tidak memikirkan tentang Steven secara berlebihan.


" Baiklah aku akan berusaha untuk tenang. Terima kasih Andini karena kau juga mau ikut dengan kami," Adrian terlihat tersenyum kepada Andini.


Andini hanya mengangguk," Ini semua adalah kewajibanku. Bagaimanapun aku tidak boleh jauh darimu. Kalau terjadi apa-apa denganmu. Itu semua adalah tanggung jawabku. Karena sampai kau benar-benar sudah mandiri dan aku terlepas dari kontrak kerja kita. Selama itu aku akan selalu menemani kamu!" Siska terkesiap mendapatkan jawaban tersebut dari Andini.


' Apakah benar perasaan Andini terhadap Pamanku hanya seperti itu?? Aku hanya khawatir kalau Pamanku yang memiliki perasaan sendiri terhadap gadis itu.' Siska semakin stres melihat mereka berdua yang tidak jelas hubungannya seperti apa.


Farel yang saat ini sedang fokus menyetir tidak terlalu memperhatikan apa saja yang terjadi di dalam mobil. Apalagi Adrian dan Andini yang duduk di kursi belakang.


Farel yang tangan kirinya menggengam telapak tangan Siska dia kadang menciumnya dengan lembut.


" Kamu tidak usah terlalu stress. pikirkanlah anak yang ada di dalam kandunganmu," nasehat Farel sambil berdiri sekilas kepada istrinya yang sejak tadi terus memperhatikan interaksi antara Adrian dan Andini melalui kaca spion.


Siska hanya menganggukkan kepalanya.


Perjalanan itu terasa begitu berat karena masing-masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Terlebih Siska yang sedang pusing memikirkan nasib kedua pamannya yang tampaknya peduli dan menyukai Andini.


Akan tetapi Siska tidak mengetahui. Siapakah diantara keduanya yang disukai ataupun dicintai oleh Andini. Karena Andini memperlakukan keduanya secara merata alias sama.


' Kalau kejadiannya seperti ini, aku Jadi menyesal pernah mengangkat seorang suster wanita yang muda dan cantik. Apalagi gadis secerdas Andini. Hah! Sekarang tampaknya kedua Pamanku harus berjuang melawan perasaan mereka. Karena mencintai gadis itu. Apa jangan-jangan suamiku juga tertarik padanya?' monolog Siska sambil melirik ke arah Farel yang sejak tadi hanya menatap jalanan di depan sana.


' Ya Allah lindungilah keluargaku. Semoga suamiku juga tidak terpincut dengan pesona seorang Andini!' Siska menghela nafas berat dan mencium telapak tangan suaminya yang saat ini sedang menggenggam telapak tangannya.


Farel tersenyum kepada Siska ketika melihat istrinya yang tadi mencium tangannya dengan lembut.


Andini dan Adrian yang berada di kursi belakang hanya bisa sensi melihat kemesraan mereka berdua yang tidak tahu tempat dan waktu.


" Rampaknya mereka berdua memang Saling mencintai satu sama lain," bisik Andini di telinga Adrian yang hanya mengangguk.


" Mereka adalah pasangan yang sempurna yang aku kagumi dan aku sangat senang karena mereka bisa berhasil melewati semua cobaan yang datang dalam kehidupan rumah tangga mereka. Aku berharap semoga suatu saat Rumah tanggaku pun akan sama seperti mereka." Adrian melirik kepada Andini yang sekarang malah tertunduk dan mengalihkan pandangan matanya ke jendela.


" Kenapa?" tanya Adrian yang merasa heran dengan apa yang terjadi pada Andini.


Andini menggeleng kemudian tersenyum kepada Adrian yang kemudian mengelus pucuk rambut Andini dengan lembut.


Kalau ada orang lain yang memperhatikan interaksi semacam itu. Pasti akan berpikir kalau mereka adalah pasangan sejoli yang sedang jatuh cinta.


Begitu pula yang dirasakan oleh Siska yang sadar tadi terus saja tidak ada bosannya memperhatikan mereka berdua.


Siska sangat mengenal siapa pamannya yang selalu membatasi pergaulannya dengan para wanita dan tidak gampang untuk bisa menarik simpati dari seorang Adrian yang kaku dan juga workaholic.


Saat ini hubungan antara Adrian dan Andini memang masih abu-abu. Adrian terlihat begitu nyaman dengan cara kerja Andini yang sangat profesional dan juga bertanggung jawab dalam mengurus dirinya.


Terkadang Adrian memang merasakan lebaran jantung yang begitu kuat ketika tanpa sengaja mereka bersentuhan fisik. Sama halnya dengan Andini yang selalu berdegup kencang jantungnya setiap kali Adrian memperlakukan dirinya dengan begitu manis.


Sudah banyak pasien yang di jaga oleh Andini hanya Adrian yang benar-benar memperlakukannya sebagai seorang manusia yang berharga.


Pekerjaan yang benar-benar dihargai dan keluarganya pun sangat baik terhadapnya dan juga kedua adiknya. Itulah yang membuat Andini merasa bahwa mereka seperti layaknya keluarga sendiri.


Begitu mereka sampai di rumah sakit mereka langsung mencari Rossa dengan cara menelpon nomor telepon milik Steven yang sekarang berada di tangan Rossa.


" Rosa?? Bagaimana kabar pamanku?" tanya Farel begitu bertemu dengan Rossa di koridor di rumah sakit saat dia hendak mengambil air panas untuk Steven.


Steven sekarang sudah siuman dan mulai bisa bicara bersama Rosa.


" Alhamdulillah Steven sudah siuman. Ini aku mau ngambil air hangat dulu untuk mengelap tubuhnya. Kasihan dia, sejak kemarin dia belum mandi sama sekali!" Rosa kemudian meninggalkan mereka setelah menunjukkan kamar Steven di mana.


Siska berterima kasih kepada Rosa yang semalaman sudah menjaga Steven dengan baik tanpa merasa lelah sama sekali.


Bahkan Siska bisa melihat lingkaran mata yang begitu besar di kelopak mata Rossa.