Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
209. Sedih


Steven yang tanpa sengaja melihat ke arah bawah, yang kebetulan tepat ke arah mobil Irdina yang sedang parkir di bawah kamarnya.


' Sedang ngapain kedua Kakak Adik itu di sana? Jangan Katakan padaku kalau mereka sedang mengintip Kami berempat! OMG! Sungguh konyol! Apa yang sedang mereka lakukan itu?' bathin Steven yang menghela nafas berat. Merasa tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh keduanya yang pernah menjadi orang penting di dalam hidupnya dan juga sang kakak.


Hal itu membuat Rossa menjadi heran dengan apa yang dilakukan Steven.


" Kenapa sayang?" tanya Rosa pada Steven yang langsung menggelengkan kepalanya.


Saat ini Stevan sedang melihat bahwa Irdina sedang mengawasi mereka di dalam mobilnya yang berkaca transfaran. Oleh karena itu dia sengaja mencium bibir istrinya dengan begitu mesra di sana.


Padahal sebenarnya Steven merasa malu karena harus melakukan itu di pagi hari. Di mana pasti orang-orang di jalan ataupun di tempat lain, juga sudah bangun dan sedang menikmati mentari pagi di balkon kamar mereka. Sama seperti mereka berdua.


Akan tetapi Steven yang memang sedang ingin mematahkan hati dan membuat Irdina cemburu agar segera pergi meninggalkan hotel itu tengah benar-benar nekat.


Steven bahkan mencium mesra Rosa dengan begitu menggebu dan akhirnya berakhir kembali di atas ranjang sama seperti Adrian dan Andini yang ada di kamar sebelah.


Gagal sudah rencana mereka untuk pergi ke luar negeri untuk bulan madu pagi-pagi. Karena mereka berempat malah sibuk menyesap madu yang ada di hadapan mereka saat ini.


Kedua insan yang sedang jatuh cinta dan merasakan indahnya mencintai tidak mampu mengendalikan diri mereka. Ya!! Saat mereka masih berstatus tunangan dan pacaran mereka berdua sudah menahan diri untuk melakukan semua itu. Karena saling menjaga satu sama lain yang masih belum punya hak untuk menyentuh pacar mereka.


Oleh karena itu, mereka hanya di sibukkan dengan aktifitas bercinta selama dua hari itu di kamar hotel yang sudah dipesan oleh kedua orang tua Rossa sebagai hadiah pernikahan mereka.


Makanan mereka saja di pesan dan minta layanan kamar. Ah, mereka benar-benar menikmati Waktu mereka bersama sebagai pasangan pengantin baru yang sedang menikmati dan mereguk nikmatnya cinta.


Untung saja mereka hendak berangkat ke luar negeri yang menggunakan jet pribadi milik keluarga Mandalika. Kalau tidak, pasti mereka terlibat masalah dengan tiket pesawat yang harus hangus karena tidak mereka gunakan.


***


Irdina dan Indrana kemudian meninggalkan hotel dengan perasaan yang berkecamuk di dalam hati mereka.


Kedua adik kakak itu bahkan tidak bisa berkata-kata lagi. Sepanjang perjalanan hanya diam dan fokus dengan jalanan yang mereka lalui.


Begitu sampai di rumah mereka, keduanya langsung masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


" Aku yakin tadi Stevan melihat keberadaanku di sana. Oleh karena itu dia melakukan hal ekstrim seperti itu. Steven sengaja melakukan semuanya hanya untuk membuatku marah dan cemburu. Kau benar-benar sangat kejam Steven!" irdina terlihat menangis pilu di dalam kamarnya.


Hal yang tidak berbeda terjadi kepada Indrana yang juga sedang menangis nasibnya yang telah kehilangan Adrian.


" Aku tidak mengerti kenapa kedua orang tua kami melarang kami untuk mencintai Adrian dan Steven. Aku tidak tahu kenapa mereka tidak memperbolehkan kami untuk bersama. mereka bahkan begitu berusaha keras untuk memisahkan Irdina dan Steven. Ada rahasia apakah sebenarnya dibalik ini semua?" monolog indrama yang benar-benar tidak mengerti tentang kedua orang tua mereka yang bahkan sampai mengirimkan adiknya untuk kuliah di luar negeri hanya untuk memisahkan sang adik dengan Steven yang dulu menjadi kekasihnya.


***


Siska dan Farel saat ini sedang berada di dalam rumah mereka. Tidak tahu kalau kedua pamannya sampai saat ini masih ada di hotel yang di sewa untuk malam pertama mereka.


" Sayang, kita juga pergi bulan madu lagi yuk, melihat kedua pamanmu sedang bergembira dengan istri mereka, membuat aku jadi iri dan ingin pergi bulan madu juga!" Farel membujuk Siska untuk pergi berbulan madu kembali.


" Aku kemaren baru saja keguguran sayang. alau melakukan perjalanan jauh rasanya sangat lelah. Tidak kuat sayang." Siska membiarkan suaminya memijit kakinya yang terlihat membengkak karena selama seharian berdiri dengan menggunakan high heels.


" Sayang, kamu sebaiknya memakai sepatu flat saja. Lihatlah kakimu membengkak seperti ini. Aku sungguh tidak tega!" Farel dengan lembut memijat kaki sang istri.


Siska tidak menanggapi semua yang dikatakan oleh Farel padanya karena saat ini dirinya sudah terlelap tidur.


Farel hanya menggelengkan kepalanya ketika dia melihat Siska yang sudah terlelap.


" Tidurlah sayang. Kamu pasti kelelahan sekali setelah acara resepsi pernikahan yang begitu melelahkan tadi." setelah memastikan bahwa Siska saat ini sedang tidur pulas Farel kemudian pergi menuju ke ruang kerjanya.


Terlihat Farel tengah menghubungi asisten yang belum terlalu lama bekerja dengannya. Akan tetapi Farel sangat mengakui kinerjanya yang sama bagusnya seperti Alex.


Alex sekarang sudah menikah dengan Melinda dan memimpin perusahaan yang diberikan oleh mertuanya. Walaupun Alex sebenarnya menolak karena dia lebih tertarik untuk mengelola usaha miliknya sendiri.


Akan tetapi istrinya marah dan tidak mau kalau sampai sang Suami menolak pemberian kedua orang tuanya.


Bagaimanapun Melinda memiliki hak atas harta kekayaan kedua orang tuanya. Dia sendiri tidak terlalu suka untuk ikut campur dengan urusan perusahaan keluarga. Kalau bukan karena terpaksa dia pun tidak akan pernah mau melakukan itu.


Setelah suaminya sekarang mengelola perusahaan yang menjadi bagian Melinda, wanita itu lebih menghabiskan waktunya untuk hobi dan juga membahagiakan dirinya sendiri dengan menjadi ibu rumah tangga.


Alex dan Melinda sekarang sudah memiliki seorang Putra yang berusia 1 tahun. Melinda sekarang lebih fokus di rumah dengan putra kesayangannya. Buah cintanya bersama Alex.


Terlihat Farel sedang memberikan perintah kepada asistennya. " tolong selidiki tentang Melly Prakoso dan juga suaminya yang bernama Abian. Besok pagi laporan yang harus sudah ada di mejaku." setelah memberikan perintah itu pada asistennya, Farel langsung menutup teleponnya.


Terlihat Farel yang sedang merenung atas semua yang terjadi hari ini. " Bagaimana mungkin Abian yang berada di dalam penjara bisa bebas begitu saja? Ya Tuhan ini benar-benar sangat kacau. Bahkan Amora sampai saat ini masih belum ditemukan jejaknya di mana. Sekarang malah ditambah lagi dengan Abian dan istrinya yang pasti akan menambah kepeningan di kepalaku!" Farel terlihat memijat pelipisnya yang terasa begitu sakit hanya dengan memikirkan kedua nama orang yang selalu membuat masalah dalam hidupnya.


" Entah apa dosaku terhadap mereka. Kenapa mereka begitu keji dan selalu menteror hidupku dengan semua kejahatan mereka terhadap keluargaku. Ya Tuhan! Semoga aku bisa menemukan cara untuk mengusir mereka dari hidupku." Farel berdoa dengan hati yang khusyuk dan berharap kehidupan rumah tangganya bersama Siska akan berjalan baik-baik saja.


Aaron yang sekarang sudah masuk SMP terlihat menghampiri ayahnya yang masih melamun di ruang kerjanya.


" Papa kenapa belum tidur?" tanya Aaron yang merasa heran melihat ayahnya seorang diri dan melamun begitu dalam.


Farel tersentak ketika melihat putranya yang sedang melihat kepadanya dengan tatapan heran dan khawatir.


" Kenapa kamu belum tidur sayang?" Tanya Farel pada Aaron.


Aaron mendekati ayahnya dan duduk di kursi yang tepat ada di hadapan Farel.


" Aku tadi sudah tidur tetapi turun untuk mengambil air minum karena kehausan. Aku lihat, lampu di ruangan kerja Papa masih hidup. Makanya Aaron datang kemari untuk memeriksa siapa tahu ada pencuri yang masuk kemari." Farel tersenyum mendengar perkataan putranya yang terdengar begitu intelektual baginya.


Aaron merasa bahagia melihat senyum ayahnya yang begitu bebas. " Papa Aaron ke kamar dulu. Selamat malam. Papa juga sebaiknya tidur karena ini sudah tengah malam sekali!" Aaron tersenyum pada ayahnya kemudian meninggalkan Farel kembali sendirian di ruang kerjanya yang begitu sepi senyap.