
Steven dan Adrian lahirnya mengajak kekasih mereka untuk mengunjungi Silvia, ibu kandung mereka yang menetap di Bandung.
Steven benar-benar merasa deg-degan karena dia sangat tahu karakter ibunya yang sangat keras kepala dan sulit untuk dibujuk.
Adrian pun sama seperti sang adik apalagi ketika dia melihat sosok Andini yang hanya seorang yatim piatu yang tak berharta maupun bertahta.
Hati keduanya benar-benar merasa kesulitan. Akan tetapi demi pernikahan yang sangat mereka inginkan bersama kekasih tercinta, mereka harus mengunjungi ibu kandung mereka yang tetap harus dihormati sebagai wanita yang telah mengandung dan melahirkan mereka.
" Ingatlah apapun yang dikatakan oleh ibuku kau tidak boleh ambil hati semua itu. Paham?" tanya Adrian kepada Andini yang sejak tadi hanya terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Adrian.
" Ibuku memang termasuk sangat sulit untuk menerima hubungan anak-anaknya yang baru. Kekasihku yang dulu-dulu selalu mundur setiap kali bertemu dengannya. Aku harap kamu tidak akan melakukan hal yang sama seperti mereka." Steven pun tidak mau kalah untuk memberitahukan Rossa agar kuat mental menghadapi ibunya.
Rossa dan Andini saling tatap satu sama lain mereka tahu bahwa kekasih mereka saat ini benar-benar sangat menghawatirkan hubungan mereka berdua.
" Kalian Tenang saja. Kami tidak termasuk wanita yang akan mengalah begitu saja dengan rintangan semacam itu." Rossa berkata dengan penuh keyakinan.
" Apakah kau yakin kalau kau bisa melewati ujian ini? Ibuku wanita yang galak dan juga pedas mulutnya Aku khawatir kalau kau merasa tersinggung dengan apa yang dia katakan." Adrian menggenggam telapak tangan Andini yang terasa begitu dingin.
Mendengar semua yang dikatakan oleh Steven dan Adrian. Sejujurnya Andini merasa insecure dan juga tidak percaya diri. Karena mengingat dirinya hanyalah anak yatim piatu yang tak berayah dan tak beribu.
Adrian benar-benar merasa khawatir saat melihat Andini yang wajahnya mulai pucat.
" Jangan khawatir Andini. Aku akan selalu bersamamu Kau harus percaya bahwa aku akan melindungimu!" Adrian tersenyum kepada Andini yang Malah semakin gugup mendengarkan apa yang dikatakan oleh kekasihnya.
Rossa bisa mengerti. Bagaimana perasaan dari saat ini yang pasti merasa kebingungan dan juga kesulitan untuk menghadapi ibunya Adrian yang terkenal perfectsionis dan cerewet itulah yang dikatakan oleh ibunya yang pernah bertemu dengan Silvia.
" Jujur kalian seperti ini malah membuatku sangat gugup. Aku tahu kalau aku adalah anak yatim piatu yang tidak bisa dibanggakan oleh ibumu. Apapun yang aku milik semua hanya kemiskinan. Tapi aku memiliki cinta yang besar untuk Adrian dan aku percaya cinta itu akan membukakan pintu hati ibumu agar menerima cinta kita berdua dan merestui hubungan kita untuk sampai ke jenjang pernikahan. Percayalah padaku Adrian. Aku tidak akan mengecewakanmu." ucap Andini berusaha untuk meyakinkan kekasihnya.
" Aku percaya dengan semua yang kau katakan aku hanya tidak percaya dengan ibuku. Kau tidak tahu apa saja yang sudah dilakukannya hanya untuk menyakiti hatiku. Oleh karena itu aku lebih memilih untuk membantu Siska di Jakarta, alih-alih mengambil alih perusahaan yang di Bandung yang sekarang diserahkan ke manajemen profesional yang sudah aku pilih sendiri." Andini mengeratkan genggaman tangannya kepada Adrian.
Bisa dilihat bagaimana hubungan antara Adrian dan ibu kandungnya. Bahkan ketika Adrian terbaring koma selama berbulan-bulan lamanya di rumah sakit tidak pernah satu kali pun Ibunya datang untuk menjenguknya.
Dari itu, Andini bisa mengetahui hubungan mereka seperti apa. Rossa pun bisa mengetahui bagaimana hubungan kekasih nya bersama calon mertuanya.
Pada saat Steven mengalami kecelakaan dan tinggal di rumah sakit, Ibu mereka tidak datang satu kali pun ke rumah sakit untuk menjenguk mereka berdua.
" Sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan tentang apapun yang belum terjadi. Kita yakin saja bahwa niat baik kita pasti akan diridai oleh Allah!" ucap Andini mencoba untuk menguatkan kekasihnya.
Begitu sampai di Bandung, Adrian menggenggam telapak tangan Andini dengan sangat erat. Begitu pula dengan Stevan yang tidak mau melepaskan genggamannya pada Rossa.
Mereka berdua sudah seperti orang yang akan masuk ke penjagalan. Wajah mereka pucat tubuh mereka bergetar ketakutan.
Andini dan Rossa mengangguk kepada kekasih mereka." Tenanglah sayang. Kau bisa menghadapi ayahku yang sama galaknya. Kenapa kau begitu takut menghadapi ibumu sendiri?' tanya Rosa berusaha untuk menenangkan Steven.
Saat ini sudah masuk jam makan malam. Mereka pun masuk ke dalam rumah ibunya yang sudah lama tidak berkunjung ke sana.
Berbeda dengan Adrian yang beberapa saat lalu, sebelum dia mengalami kecelakaan bersama Jasmine pernah menetap di kediaman itu walaupun hanya sebentar.
Mengingat tentang Jasmine seketika hati Adrian menjadi pilu. Wanita yang pernah memberikan kehidupan yang begitu indah untuknya selama beberapa saat setelah pertemuan mereka kembali.
" Kenapa?" tanya Andini.
" Datang ke rumah ini membuatku mengingat tentang Jasmine. Kekasihku yang telah meninggalkan aku karena kecelakaan bersama denganku. Kalau bukan karena kecelakaan itu mungkin aku tidak akan pernah koma dan tidak akan pernah bertemu denganmu." Adrian menggenggam telapak tangan Andini dengan mata berkabut.
" Apa yang terjadi kepada kita, semuanya adalah atas kehendak Allah. Kita sebagai makhluknya hanya bisa berusaha dan terus berjuang agar tidak berbuat kesalahan. Percayalah padaku bahwa semua yang terjadi di dalam hidup kita, pasti akan ada hikmah dibaliknya yang bisa kita petik." ucap Andini.
Adrian mengangguk kemudian menghapus air mata yang tadi sempat mengalir di pipinya karena perasaan haru dan sedih.
Melihat kedatangan Steven dan Adrian kepala pelayan yang bekerja di kediaman utama Prayoga langsung menyambut mereka berdua dengan senang.
" Akhirnya Tuan muda Steven dan Tuan muda Adrian datang juga. Nyonya selama ini sangat merindukan kalian berdua." kepala pelayan pun kemudian meminta kepada mereka berdua untuk masuk bersama kekasih mereka yang tidak lepas dari genggaman tangan keduanya.
Sekali pandang kepala pelayan langsung mengetahui bahwa Tuan mudanya datang bersama dengan kekasih mereka masing-masing.
" Sebentar Tuan saya akan memanggil nyonya yang kebetulan tadi baru saja masuk ke dalam kamarnya." kepala pelayan kemudian meninggalkan Steven dan Adrian yang sekarang duduk di kursi yang ada di ruang tamu mereka.
" Entah kenapa setelah lama tidak datang kemari. Sekarang datang ke sini, rasanya seperti tamu saja. Apalagi selama ini mama yang selalu memusuhi kita berdua." ucap Steven yang benar-benar tidak mengerti dengan pikiran ibunya hingga saat ini.
" Kau benar Steven! Aku juga merasakan hal yang sama dengan kamu. Duduk disini, aku rasanya begitu asing dengan rumah ini. Entahlah!! Semoga ini hanya perasaanku saja. Bagaimanapun juga kita lahir dan besar di rumah ini!" Adrian melihat ke sekeliling di mana rumah itu begitu besar dan sunyi.
Sejak ayahnya mereka meninggal, ibunya memang hanya tinggal sendiri dimension itu bersama beberapa orang pelayan tukang kebun dan juga sopir pribadinya.
Dari kejauhan terlihat Ibu mereka yang turun dari anak tangga yang setelah berjalan dengan begitu Anggun dan sangat cantik.
Andini dan Rossa terkesiap melihat calon ibu mertua mereka yang begitu cantik. Walaupun usianya sudah senja.
Mereka sekarang sudah mengerti dari mana ketampanan kekasih mereka berasal.
Walaupun usia Silvia sudah mencapai 55 tahun lebih, akan tetapi wajahnya masih terlihat muda dan tidak menampakkan penuaan pada raut wajahnya.
Silvia termasuk seorang wanita yang sangat perfeksionis dan selalu mementingkan penampilannya.
Apalagi statusnya sebagai CEO di Prayoga group yang ada di Bandung. Membuat Silvia semakin cemerlang dan gemilang di usia senjanya.
Melihat ibunya Adrian Andini benar-benar semakin insecure dengan dirinya sendiri dengan status dan juga keluarganya.
' Bahkan aku mungkin tidak layak untuk menjadi pembantu mereka. Ya Tuhan! Apa yang akan kulakukan kalau sampai ibunya Adrian tidak merestui hubungan kami. Bagaimanapun aku benar-benar sangat mencintai Adrian. bantulah kami ya Allah!' doa Andini.