
" Di mana kotak musik itu sekarang?" tanya Adrian yang ikut penasaran tentang kotak musik yang dibicarakan oleh Farel kepada mereka semua.
" Aku menyimpannya di brankas bank milikku. Jadi Insya Allah aman. Tidak akan ada yang bisa mencurinya dariku." semua orang yang ada di ruangan itu bernafas lega.
" Kita tunggu besok. Mamaku pasti akan datang ke sini untuk mengambil USB yang ada di pembantuku. Sekarang kita harus bergerak cepat untuk memeriksa pembantu itu dan mencari USB yang dimaksud olehnya dan kita cari tahu ada apa di USB itu." Siska kemudian mengomando Adrian untuk memanggil pembantu mereka yang berada di dalam CCTV yang terekam tadi siang ketika surat kaleng itu datang ke rumah mereka.
Pembantu itu kemudian dibawa masuk ke dalam ruangan kerja Adrian. Sementara Steven dan Farel masuk ke dalam kamarnya dan menggeledah kamar tersebut untuk mencari keberadaan USB yang dimaksud oleh pembantu Farel.
" Farel! Apakah USB ini yang dimaksud oleh dia?" tanya Steven sambil memperlihatkan sebuah USB kepada Farel.
Farel kemudian mengambil USB tersebut dan memeriksanya melalui laptop yang tadi dia bawa ke sana. Mereka berdua kemudian membuka USB tersebut.
Karena waktu yang sempit Farel pun hanya memindahkan saja file yang ada di dalam USB tersebut ke dalam laptop yang dimiliki.
Setelah berhasil memindahkan semua file yang ada di dalam USB. Farel pun kemudian mengembalikan USB tersebut ke tempatnya semula agar pembantunya tidak curiga bahwa mereka telah mengetahui tentang USB tersebut.
" Ayo paman kita harus segera keluar dari kamar ini jangan sampai pembantuku keburu datang dan mencurigai apa yang kita lakukan di sini!" Farel pun kemudian kembali menutup kamar sang pembantu dan kembali ke dalam kamarnya.
Setelah mengunci pintu kamarnya Farel dan Steven kemudian membuka kembali semua file yang tadi disalin di dalam USB tersebut.
Steven terkejut bukan kepalang melihat video tidak senonoh sang ibu dengan bodyguard-nya yang dikenal oleh Steven sebagai Rudi. Mereka semua sampai tidak berani untuk menatap apa yang terjadi di dalam laptop tersebut.
" Ya Allah aku tidak menyangka. Kalau ibuku ternyata seperti ini." Steven terlihat begitu tergoncang dengan apa yang dia lihat. sewaktu Steven hendak mematikan rekaman itu dia kemudian tidak jadi karena mendengar percakapan yang dilakukan oleh Silvia dan Rudi yang sedang memerintahkan kepada kekasihnya untuk membunuh Farel dan Siska.
Farel kesulitan menelan salivanya sendiri mendengar semua percakapan itu.
" Sejak dulu aku tahu kalau nenek Silvia tidak pernah menyukaiku dan juga Siska. Tapi tidak kusangka Kalau dia sampai berniat jahat seperti ini kepada kami berdua. Ya Tuhan! Aku sungguh tidak bisa berkata-kata dengan semua ini." Farel terlihat begitu shock mendengarkan semua percakapan di antara Silvia dan Rudi.
Steven bahkan sampai marah wajahnya karena marah yang luar biasa terhadap ibunya yang begitu jahat dan berhati culas karena ingin menguasai Prayoga group dan juga Handoyo group setelah membunuh Siska dan Farel melalui Aaron yang akan ibunya jadikan sebagai boneka untuk mengikuti semoga keinginannya.
Mereka semalaman itu hanya membuka semua bukti yang dikirimkan oleh orang misterius yang sampai saat ini belum diketahui oleh mereka.
Bahkan yang lebih gila lagi ternyata ibunya yang telah memerintahkan kepada asistennya untuk membunuh Henry dan juga ibunya Siska.
Dunia Steven seakan runtuh seketika setelah mengetahui semua yang tersembunyi di dalam keluarga besarnya yang sama ini terlihat begitu mentereng dan hebat di mata semua orang.
" Ya Allah kenapa Mama sampai Begitu jahat kepada Papa dan kita semua?" Steven sampai menangis sedih setelah mengetahui semuanya.
Farel bisa mengerti. Bagaimana perasaan Steven saat ini karena dia dulu juga pernah mengalami hal yang sama. Ketika mengetahui ibunya yang ternyata menjadi dalang dari semua rencana untuk memisahkan dirinya bersama sang istri tercinta yang bekerjasama dengan Amora untuk selalu menyakiti hati Siska dengan mengirimkan foto-foto mesra yang direkayasa oleh mereka.
" Tenanglah paman kita akan menyelidiki semua ini secara tuntas. Aku pasti akan memberikan keadilan kepada kakek dan juga kedua orang tua Siska yang meninggal begitu tragis." Farel hatinya saat ini benar-benar terhiris sembilu karena kejahatan Silvia yang sudah melewati takaran kemanusiaan.
Steven berusaha untuk menguatkan hatinya sendiri yang saat ini sedang merasakan kesedihan luar biasa. Setelah mengetahui ibunya yang ternyata telah membunuh ayahnya dan kakak tirinya.
Steven mengingat semua yang dikatakan oleh ibunya setiap kali bertemu dirinya. Ibunya selalu membujuk dan juga menyuruh Steven dan Adrian untuk bekerja sama dalam rangka mengambil alih perusahaan Prayoga Group dari tangan Siska.
Hal itu pulalah yang membuat hubungan mereka semakin menjauh. Karena Steven dan Adrian yang selalu menolak apa yang dikatakan oleh Silvia kepada mereka berdua.
" Paman. Ayo sekarang kita keluar. Kita lihat apa yang didapatkan oleh Paman Adrian dan yang lainnya dari pembantuku! Aku akan menyimpan laptop ini di dalam brankasku sehingga tidak ada orang lain yang mengetahuinya selain kita berdua." Steven yang sampai saat ini masih lemas seluruh tubuhnya hanya bisa mengikuti semua yang dikatakan oleh Farel kepadanya.
Setelah mereka menyimpan laptop di dalam brankas pribadi milik Farel mereka berdua pun kemudian kembali ke ruangan kerja Adrian di mana saat ini mereka sedang mengintrogasi pembantu yang ternyata adalah mata-mata yang ditanamkan oleh Silvia kediaman Handoyo.
" Ingatlah Paman. Jangan sampai masalah tentang Nenek Silvia diketahui oleh yang lain dulu. Kita harus mengetahui bukti secara konkret agar tidak asal menuduh saja. Setidaknya kita harus melihat secara langsung. Apa yang dilakukan oleh nenek Silvia. Besok, kita akan putuskan semuanya. Setelah Nenek Silvia datang dan melakukan aksinya. Sampai hari itu, bersiaplah untuk bersikap biasa saja agar tidak dicurigai siapapun juga. Semakin sedikit orang yang mengetahui masalah ini, kita akan lebih aman." Farel bersama yakinkan kepada Steven agar mengikuti rencananya untuk menjebak Silvia.
" Nanti malam datanglah ke ruang kerjaku. Kita akan membuat rencana untuk membuat Nenek Silvia mengakui semua kejahatannya secara langsung. Paman, aku mohon kuatlah saat ini kita harus memiliki tekad yang besar untuk bisa mengungkapkan kematian Kakek Andi dan juga kedua orang tuanya Siska. Sudah terlalu lama mereka meninggal tanpa mendapatkan keadilan karena pembunuhnya yang masih bebas berkeliaran melakukan kejahatan yang lainnya." Steven hatinya semakin terhiris sembilu mendengar semua yang dikatakan oleh Farel tentang ibu kandungnya yang telah melahirkan dirinya.
" Aku tidak akan mungkin sanggup untuk menjebak Ibuku sendiri. Tolong mengerti bagaimana perasaanku saat ini. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa saat ini!" terlihat Steven yang meneteskan air mata kesedihan karena sampai saat ini dia masih belum percaya bahwa ibunya lah yang telah membunuh ayahnya.
Rasanya seperti sebuah mimpi yang tidak mampu untuk dipercaya oleh Steven. Walaupun dia sudah melihat begitu banyak bukti yang ada di dalam USB tersebut. Akan tetapi sampai saat ini Steven masih belum mempercayai semua kenyataan di depan matanya tentang kejahatan ibunya yang begitu serakah ingin menguasai semua perusahaan yang berada di tangan Siska dan Farel.
Steven yang begitu lemas dan pucat wajahnya akhirnya memilih untuk masuk ke dalam kamar dan beristirahat di sana. Farel benar-benar merasa prihatin kepada Steven yang benar-benar terpukul mengetahui semua kenyataan itu bahwa ibunya begitu jahat dan hina karena berselingkuh dengan bodyguardnya sendiri.