Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
173. Bertemu


Setelah menyelesaikan makan malam dan juga berbelanja semua kebutuhan yang dia butuhkan untuk berada di rumah sakit. Steven pun kemudian kembali ke apartemennya sekedar untuk mandi dan berganti pakaian.


Steven merasa terkejut saat dia melihat Rossa yang juga ternyata berada di gedung yang sama dengan apartemen miliknya.


' Aiya! Kenapa aku harus bertemu dengan nenek lampir itu? Gimana kalau dia bertanya tentang ponselnya ya?? Duh!!! Tenang Stevan! Kau adalah ahli. Jadi kau tidak usah takut dengan masalah sepele seperti ini!!" Steven terus memberi sugesti positif ke dalam dirinya agar tidak merasa takut sama sekali kepada Rossa setelah apa yang dia lakukan kepada wanita itu.


Steven berjalan dengan begitu santai. Ketika dia melintasi Rossa yang saat ini sedang duduk di lobby gedung apartemen. Entah sedang menunggu siapa.


" Eh, kamu!! Bukankah kau yang tadi siang bertemu denganku di restoran?" tanya Rosa ketika dia melihat Steven yang berjalan di depannya.


Steven yang berpura-pura lupa dengan seorang Rossa tampak begitu santai berhadapan dengannya seakan tidak terjadi apapun di antara mereka berdua.


" Siapa ya?" tanya Steven yang kaget melihat seorang wanita tiba-tiba saja memanggilnya dengan tidak sopan.


" Elah kau tidak usah bersandiwara kau kan yang tadi siang bertemu denganku di restoran?? Cepat kembalikan ponselku!" Rosa menengadahkan tangannya di hadapan Steven yang langsung tertawa merasa lucu dengan kelakuannya.


" Kamu nih sedang berbicara apa sih? Ya ampun dasar cewe aneh!! Ponsel apa yang kau katakan huh?? Aku tidak tahu tentang ponselmu!" Steven menyingkirkan tangan Rossa yang tadi hendak mencekal lengannya.


Rossa terlihat begitu murka kepada Steven yang tetap menolak untuk mengakui bahwa dia mengetahui tentang ponselnya.


" Aku tahu kalau ponselku tertinggal di dalam mobil kamu saat kita pergi berbelanja gaun untukku karena kau yang sudah menjatuhkan jus alpukat ke pakaianku. Apa kau berani untuk memperlihatkan blackbox-mu yang ada di mobil kamu kepadaku?" tentang Rossa kepada Steven yang auto melotot benar-benar merasa tidak percaya ada seorang wanita seperti Rossa di dunia ini.


' Astagfirullah Kenapa ada seorang wanita yang begitu teliti seperti dia?' bathin Steven yang merasa bodoh sekali karena tadi lupa untuk menonaktifkan kamera yang ada di dalam mobilnya.


' Bagaimana ini kalau dia memaksa untuk melihat rekaman yang ada di dalam mobil?' bathin Steven yang mulai gugup luar biasa.


Kalau Rossa melihat rekaman itu di dalam mobilnya. Rekaman itu pasti akan memperlihatkan dirinya yang sedang mengambil dan juga memindahkan ponsel milik Rosa yang tertinggal di jok depan ke jok belakang. Kemudian Steven yang membawa keluar ponsel itu dari mobilnya saat dia sudah berada di perusahaan Prayoga Group.


" Kenapa kok malah dia berani tidak untuk memperlihatkan Black box mobilmu padaku??" Rossa masih tidak menyerah untuk menantang Steven yang hanya bisa menghela nafas melihat kelakuannya itu.


Steven berusaha untuk meninggalkan Rossa. Akan tetapi Gadis itu sudah seperti lintah yang melekat kepadanya.


" Cepat perlihatkan black box mobil kamu kepadaku! Kalau kau memang tidak bersalah!" Rossa terus berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan karena dia merasa yakin bahwa dirinya telah meninggalkan ponselnya di mobil Steven.


" Perlihatkan saja black box mobil paman!" ucap Siska yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Rosa Mandalika.


Steven menatap Siska dengan tatapan pertanyaan. Ketika melihat Siska yang menganggukkan kepalanya. Steven pun kemudian tersenyum kepada Rosa.


" Baiklah kalau kau memaksaku untuk memperlihatkan black box yang ada di dalam mobilku. Ayo ikuti aku!" Steven kemudian melangkahkan kaki untuk menunjukkan mobilnya kepada Rosa yang begitu Arogan dan sombong terus memperhatikan Steven.


" Tenanglah kalau kau tidak melakukan kesalahan. Kau tidak usah merasa takut kepada gertakan wanita yang tidak sopan ini!" Siska tersenyum kepada Steven sambil mengedipkan sebelah matanya memberikan kode agar Steven bisa tenang dengan hal itu.


Steven kemudian mengambil sim card yang tersimpan di dalam kamera yang ada di dalam mobil.


Steven tampak khawatir ketika wanita itu menengadahkan tangannya untuk meminta sim card yang ada di tangan Steven.


" Tunggu dulu! Pamanku adalah seorang bisnisman. Banyak pembicaraan rahasia yang dia lakukan di dalam mobil milkknya. Rasanya tidak etis kalau hanya karena masalah ponselmu yang kamu yakini tertinggal di dalam mobil pamanku. Maka kami harus memperlihatkan semua isi dalam rekaman ini. Begini saja!! Silakan kau periksa seisi mobil ini. Apakah ada ponselmu atau tidak?" Siska akhirnya menghentikan Rossa yang tak dihendak mengambil SIM card yang diserahkan oleh Steven.


Rosa Mandalika terlihat mendengus kesal dengan apa yang dikatakan oleh Siska kepada mereka.


" Tentu saja kalau kalian sudah mengambil ponselku, maka aku tidak akan tahu hal itu. Hanya dengan melihat video itu, maka aku bisa mengetahui kejujuran kalian!" sungguh berani mati sekali Rosa berani mengatakan hal seperti itu kepada mereka berdua.


" Hati-hati ya bicaramu! Apa kau melihat bahwa Pamanku ini adalah tipe seorang pencuri? Aku bisa melaporkanmu kepada kantor polisi atas tuduhan pencemaran nama baik!" Siska benar-benar geram dengan kelakuan Rossa yang benar-benar lancang sekali.


Mendengar kata polisi membuat Rosa akhirnya harus puas dengan menggeledah seisi mobil yang digunakan oleh Steven.


" Kalau seperti ini, aku benar-benar tidak tahu apakah benar ponselku tidak tertinggal di sini ataukah di tempat lain. Semoga suatu saat Kalian mau memperlihatkan video yang ada di dalam mobil ini," Rosa Mandalika terlihat sangat sedih karena dia tidak menemukan ponselnya di sana.


Steven hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal Sebenarnya dia cukup kasihan melihat Rosa yang sepertinya frustasi karena kehilangan ponselnya.


" Memangnya di ponselmu itu ada apanya sih? Kok sampai begitu takutnya kau kehilangan ponsel itu?" tanya Steven berpura-pura tidak mengetahui apapun yang ada di dalam ponselnya.


Rosa Mandalika terlihat gugup mendapatkan pertanyaan semacam itu dari Steven yang baru tadi siang dia temui.


" Bukan urusanmu!! Minggir!! Awas aja kalau nanti aku tahu kalau kau yang sudah mencuri ponselku aku pasti akan membalas semua perbuatanmu ini!" Rosa Mandalika benar-benar marah menatap Steven yang hanya bisa mengedikkan bahunya seakan tidak bersalah sama sekali.


Setelah Rossa meninggalkan mereka berdua. Stevan baru bisa menghela nafasnya dengan begitu lega.


" Ya ampun siska kau benar-benar hampir saja membuat pamanmu ini mati jantungan!" Steven sampai tertawa dengan apa yang terjadi kepada mereka malam ini.


Siska hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan pamannya tersebut.


" Maafkan aku paman. Gara-gara aku Paman jadi mengalami nasib seperti ini. Tenanglah aku sudah mengamankan ponsel dia kok. Semua jejak kita menggunakan ponsel itu telah aku hapus. Aku sekarang sudah meletakkan ponsel miliknya di bawah kursi restoran. Tempat dia tadi siang makan di sana. jadi Paman tidak usah khawatir lagi!" Siska kemudian tersenyum kepada Farel yang akhirnya bisa bernafas dengan lega.


" Apakah kau tahu di mana Aku membuang ponsel itu?" tanya Farel yang merasa bingung dengan kejadian itu.


" Kebetulan, ketika Paman membuang ponsel itu. Aku juga sedang berada di tempat itu dan berbelanja bersama dengan Farel. Aku mengambil kembali ponselnya dan setelah itu langsung pergi ke restoran tempat tadi siang kita bertemu dengan dia. Aku rasa hal itu jauh lebih aman daripada kita membuang ponselnya begitu saja!" Steven akhirnya mengerti segera kronologis yang terjadi.


" Lalu kenapa kau ada di sini?" tanya Steven pada Siska.


Siska kemudian menyerahkan makanan ke tangan Steven.


" Ini aku membawa makan malam untuk paman. Siapa tahu Paman belum makan kan? Ya sudah paman, aku kembali ya? Karena Farel dan Aaron masih menungguku di mobil." Siska lalu berpamitan kepada Steven.