Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)

Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)
berangkat.


Soundtrack//afternoon-jay park//


Semoga saja tidak seperti dugaanku


-mina-


Seluruh baju mas Astan sudah selesai aku packing dan saat ini kami sedang menunggu konfirmasi keberangkatan mas Astan.


Alfa dan juga mas Astan sedang duduk di sofa sembari menonton televisi.


Sebenarnya sih aku tidak sedikit pun melirik televisi karena berkali-kali Men-chek barang barang mas astan.


"Mas,, yakin nih ngk perlu bawak p3k? "


Mas astan yang sedang memangku alfa tersenyum kearahku.


"Ngk perlu sayang,mas tidak sedang bepergian ke gunung atau ke lembah hahahah"


Iya juga sih,Untuk apa yah p3k itu?.


"Terus pelampung gitu kita ngk perlu beli lagi yah mas? Aku takut banget nanti tiba-tiba terjadi sesuatu gitu"


Mas Astan lagi lagi tersenyum menanggapi ucapanku.


Apasih yg lucu menurut mas Astan? Aku sedang khawatir sekarang.


"Sudah disediakan oleh pihak kapal sayang"


Aku mengangguk saja karena aku sungguh tak tau menau tentang itu.


"Hmmm apalagi yah sekarang? Ehmm kalau bekal makanan gitu ngk perlu yah mas? Biar aku masakin sebelum mas berangkat"


Mas Astan Bangkit dengan alfa yang masih dalam gendongannya.


Ia tersenyum memegang bahuku sembari menyelipkan tangannya untuk membenahi rambut diwajahku.


"Semua tersedia dikapal sayang, kamu tidak perlu khawatir mas akan kelaparan atau semacamnya,mas tidak tau apa yang membuatmu khawatir seperti ini seharian, tapi mas janji bakal baik baik saja"


Aku hanya terdiam mendengar ucapan mas Astan tadi.


Memang benar ucapan nya, aku sungguh tidak tau juga apa yang membuatku sekhawatir ini.


Tanpa sebab.


"Tap,, tapi mas,, ak,, "


"Kita duduk dulu yah sayang, kamu relax dulu biar mas pijitin bentar bahu kamu mungkin kamu lagi kecapean aja"


Aku capek? Karena apa tepatnya?.


Oknum yang kelelahan disini hanya mas astan yang pantas jadi kandidat.


Dia bekerja di kantor dan saat luang dan pulang dari kantor juga masih sering bantuin aku ngurus alfa dan terkadang ngurus rumah juga.


"Aku ngk capek mas, aku cuma khawatir aja"


Aku ikut mas Astan duduk di sofa dan bersandar dibahu sandarable mas astan.


"Sini mas pijitin dulu kamu"


Mas Astan membalikkan tubuhku dan benar saja ia memijit bahuku dengan pelan tapi tetap saja aku merasa kesakitan.


"Ihh sakit mas, aku beneran ngk capek kok"


Mas Astan tertawa dan menghentikan aktifitas memijitnya tadi.


"Kamu sih sayang sejak tadi pagi keliatan suram banget dan seperti seorang yang kelelahan gitu"


"Aku cuma khawatir aja mas, tapi aku juga bingung khawatir karena apa" Bingung ku.


Mas Astan trsenyum dan menarik aku kedalam pelukannya yang alfa juga disana.


"Duhh jadi berat gini yah ninggalin dua kurcaci kesayangan ku ini"


Aku yang biasanya marah dan kesel setiap dipanggil kurcaci oleh mas astan.


Kali ini aku benar benar merasa sedih dan tak protes sama sekali.


Aku juga merasa sangat berat untuk melepaskan kepergian mas Astan yang hanya beberapa minggu itu.


"Hiks,, " Aku menangis lagi dalam dekapan mas Astan.


Mas Astan mencoba melepaskan pelukannya untuk melihat wajahku.


Tapi aku tahan dan masih menangis disana dengan sepuasku.


Alfa juga ikutan nangis mungkin karena melihat ibunya nangis.


"Duhh sayang udah dong nangis nya, liat nih alfa jadi ikutan mewek"


Aku bangkit dan meraih alfa dari pangkuan mas astan.


"Hiks,, maafin mamah yah sayang hiks,,, " Aku malah menangis lagi hingga alfa sendiri terdiam bingung meluhatku.


"Kalian lucu banget sih sayang, mas jadi berat buat perginya"


Mas astan menghapus air mataku dengan lembut dan mencium mataku secara bergantian.


Aku langsung mencium mas astan.


Mas astan sendiri kaget melihatku.


Biasanya aku paling menjaga penglihatan alfa dengan melarang mas astan untuk tidak melakukan hal hal seperti ini dihadapan alfa.


Tapi kali ini aku mencium mas astan dihadapan alfa yang tidak tau apa apa itu.


"Hei,, kamu kenapa sayang? Tumben sekali mau berciuman didepan alfa" Mas astan tersenyum.


Aku jadi malu sekali.


"Aku takut Kangen sama mas hiks,,, " Aku memeluk mas astan.


Mas astan membalas pelukanku dan juga mengelus punggung ku dengan pelan.


"Kamu baik baik yah dirumah dengan alfa, kalau ada apa apa ada pak umar didepan" Mas astan terdengar khawatir begitu.


Aku mengangguk saja dalam dekapan mas astan.


"Jangan nangis lagi yah, kan kita masih bisa telponan sayang" Mas astan tertawa pelan.


"Tapi kan mas aku takut Kangen pelukan mas huuu"


Mas astan tersenyum kearahku dan menekan hidungku.


"Kamu pikir mas ngk Kangen gitu? Mas pasti lebih Kangen dari kamu, apalagi bibir manis ini, wajah imut ini dan mata yang cengeng ini, mas pasti bakal rindu sampai gila nanti"


Aku menahan tangis lagi mendengar itu.


"Kan ihh, mas malah bikin aku tambah mewek dengernya"


Mas astan tertawa "Jadi,intinya kita sama-sama Rindu sayang"


Aku memeluk mas astan lebih erat lagi.


Hatiku lagi lagi sakit tanpa sebab dengan perasaan yang amburadul sekali.


"Mas berangkat sekarang sayang, nih barusan aja konfirmasi keberangkatan udah dikirim"


Aku melirik sekilas hape mas astan dan benar saja mereka sudah menunggu mas astan di pelabuhan.


Aku menahan tangan mas astan dengan wajah memelas dan mas astan hanya tersenyum melihat kearahku.


"Kami ikut aja yah mas ngantar mas ke pelabuhan" Bujuk ku.


Mas astan menggeleng"Jangan sayang, ini udah malem dan pelabuhan itu tidaklah dekat, mas takut kamu dan alfa malah masuk angin nanti"


Aku menggeleng "Boleh yah mas, aku maksa nih" Bujuk ku lagi.


"Jangan yah sayang, kamu itu kan tau kalau alfa itu sensitif jadi mas khawatir"


Aku akhirnya menyerah saja karena ucapan mas astan memang benar kalau alfa itu sangat sensitif sekali jadi dari pada ambil resiko lebih baik aku menurut saja.


"Yasudah aku anter sampai depan pintu aja mas"


Mas astan akhirnya setuju.


Kami berjalan menuju pintu dengan aku yang menggendong alfa dan tidak lupa dengan air mata yang menganak sungai dipelupuk mataku.


"Mas hati hati yah hiks,, " Aku memang lemah dalam hal menahan tangis.


Mas astan tersenyum dan memgahpus pelan air mataku"iya sayang, kalian juga hati hati dirumah, mas pergi yah"


Mas astan mendekat sebentar dan mengecup pelan bibirku lalu berjalan pergi.


Aku menahan tangis melihat ia yang semakin menghilang dibalik pagar depan.


Aku melihat mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah.


Aku sungguh masih diliputi rasa khawatir tanpa sebab.


Semoga saja itu semua hanya pikiran pikiran ku saja yang tidak ada hubungannya dengan kepergian mas astan.


I'm waiting for you dear..


//bersambung//


🔷🔷🔷🔷


Hmmm titidije astan sayang💕


🔷🔷jangan lupa like dan komen yah, terus favorit juga sama rate 5 nya🔷🔷


♦♦jangan lupa follow akun aku juga♦♦


Laffyouall❤cinta kalyan 🖤