
❄selamat membaca❄
Sejak tadi aku terus dihantui rasa takut akan kepergian mina. Sudah berjam-jam lamanya pihak medis belum juga keluar.
Aku bahkan sudah terduduk lesu dilantai merasa tenagaku sudah mulai habis padahal yg sedang berjuang saat ini adalah mina. Kenapa aku yang bertingkah seolah akulah yang diposisi nya saat ini.
Telinga ku tiba-tiba menangkap suara tangisan bayi dalam ruangan mina ada rasa lega namun ada juga rasa takut. Bagaimana aku akan menyikapi perasaan ini. Perasaan mana yg lebih dominan aku sendiri tidak tau.
Aku buru-buru berdiri dan mengintip dari kaca pintu berukuran kecil itu. Mataku berbinar senang saat kulihat anak ku telah lahir dan menangis seperti bayi lainnya.
Aku memang senang dan terharu dengan kelahiran buah hati kami namun seketika aku merasakan ketakutan saat kulihat mina sama sekali tak bergerak dari kaca pintu. Berpikir positif saja astan,mina pasti tidak bangun karena biusanya belum juga habis.
"Suami dari pasien?"seorang dokter keluar dari ruangan mina namun kali ini dokter yang berbeda.
Aku langsung panik bukan main karena dokter itu keluar dengan wajah yang tidak bersemangat.
"De,,dengan saya dok." Aku mendekat dan mengepal tanganku kuat seperti sedang tidak sanggup mendengar kabar apa yang akan dokter itu sampaikan padaku.
"Ba,,bagaimana kabar istri dan anak saya dok?" Aku merasakan gugup setengah mati.
Helaan nafas yang panjang dan berat dapat kudengar dari arah dokter itu. Bagaimana aku akan tenang saat dokter itu bersikap demikian.
"Alhamdulillah anak bapak lahir dengan selamat tanpa kekurangan apa apa,dan berjenis kelamin laki-laki,saya juga kaget sekali dengan keajaiban ini pak,biasanya anak yang dikandung oleh seorang ibu hamil yang berusia muda seperti pasien akan mengalami kelahiran ptematur dimana si bayi kekurangan berat badan dan akan memiliki kelainan,namun alhamdulillah sekali bahwa anak bapak lahir tanpa kekurangan apapun,istri bapak sangat pandai dalam merawat kandungan nya."
Aku merasa lega dengan ucapan dokter itu dan sangat berterima kasih pada mina yang sangat hebat dalam menjaga buah hati kami.
"Namun,,,maaf karena saya harus mengatakan ini pak,saat ini kondisi istri bapak sedang tidak stabil dan masih mengalami koma,dalam perkiraan kami kalau pasien tidak akan lama dalam masa komanya namun ada juga beberapa faktor yang mengancam keselamatan pasien mulai dari kurangnya darah dan juga energi yang sudah mulai habis."
Kaki ku langsung lemas dan terjatuh dilantai saat mendengar kabar mina sedang tidak baik-baik saja sekarang. Mendengar nyawa mina sudah ada diamabang antara hidup dan mati membuat aku seolah sedang dihukum sekarang.
"Bagaimana ini dok?apakah ada yang bisa saya bantu?apa saja asal istri saya bisa selamat dok,anak saya butuh ibunya."aku menangis dilantai seolah anak yang meminta belas kasihan.
"Kami mengerti dengan perasaan bapak,kita hanya bisa berdoa dengan lapang dada dan berharap semoga pasien lekas sehat dan sembuh,kami sudah mencoba sebisa kami dengan memberikan perawatan extra."
Air mataku terus saja mengalir deras sejak tadi. Aku memang bahagia karena kehadiran putra kami tapi aku tak sepenuhnya bahagia karena mendengar kabar mina.
"Oh iya dok,bukankah tadi dokter bilang kalau istri saya kekurangan darah?,dokter bisa ambilkan darah saya dan transfer sebanyak-banyaknya untuk istri saya." Aku berdiri tergesa-gesa menghampiri dokter itu.
"Alhamdulillah untuk stok darah pihak rumah sakit tidak kekurangan dan saat ini pasien sedang melakukan terima transfer darah,bapak bisa pulang sekarang karena pihak medis masih menangani pasien,baoak belum bisa menjenguknya begitu juga dengan putra bapak,masih butuh pemeriksaan terlebih dahulu sebelum di izinkan bertemu dengan wali."
Aku hanya bisa mengangguk pasrah mendengar ucapan dokter itu.
dokter itu pergi dan aku langsung duduk memikirkan apa sebenarnya yang terjadi sekarang.Tanpa sebab pikiranku kosong.
Aku terus dihantui rasa takut karena perkataan dokter tadi yang mengatakan kalau ada beberapa faktor yang akan membahayakan keselamatan mina istriku.
Tapi karena dokter mengatakan saat ini aku belum bisa bertemu dengan anakku aku hanya bisa melihat nya dari kaca pintu ruangan khusus bayi.
Aku berdiri melihat putraku yang saat ini berada diruang husus bayi.
Sedang dari luar saja aku sudah merasa Damai melihat putra keciku yang bergerak gerak tak bisa diam itu.
Air mata ku jatuh,aku bingung dengan air mata itu,apakah air mata bahagia karena bersyukur bisa melihat anakku lahir kedunia ini atau malah sebaliknya air mata itu adalah air mata kesedihan karena sampai saat ini pihak medis belum juga selesai menangani mina.entah kapan mina akan sadar.
"Sayang,,kamu sehat yah disana,biar papah punya teman nungguin mamah bangun,papah ngk mau sendirian."
Air mata ku semakin menderas saja melihat putraku itu bergerak gerak tak mau diam seperti sedang mencari sosok ibunya.aku tak tahan melihat itu, ingin kupeluk ia saat ini juga.
"Hiks,,,maafkan papah kalau sekarang belum bisa bawa mamah kesana buat meluk kamu sayang,papah mohon kamu bertahan yah kita sama sama berjuang apalagi mamah saat ini sedang berjuang keras biar bisa liat wajah tampan mu putraku."
Katakan saja aku laki-laki yang cengeng dan sebagainya. Yang kupikirkan saat ini adalah bagaimana kami bisa bersama tanpa ada yang sakit dan terluka.
Air mataku terus saja mengalir deras dan dadaku terasa sangat sesak sekali.
Aku sudah pernah membayangkan kalau setelah putra kami lahir kedunia ini kami akan jadi keluarga yang sangat utuh dan harmonis.
Membayangkan bahwa kami berjalan bersama-sama dengan satu tangan putra kami ku genggam dan satu lagi di genggam oleh mina.
Tertawa bersama dan menemani si kecil saat bermain juga belajar.
Aku sungguh kecewa dengan angan dan harapanku sendiri, dengan melihat mina bangun saja aku sudah sangat bersyukur.
Kebahagiaan yang selama ini ini ku impikan harus ku simpan dulu untuk sesaat ini.
"Aku mohon sayang bangunlah, anak kita butuh kamu, aku juga butuh kamu."
"Kamu pasti kuat, aku yakin kamu pasti sangat ingin melihat anak kita kan? Jadi aku mohon bangunlah dan lihat wajah tampan malaikat kita."
Aku sudah tak kuasa menahan tangis karena mengingat kondisi mina saat ini.
"Dia butuh kamu sayang, dia sedang mencari ibunya sekarang."
Aku terduduk lesu karena kenyataan yang saat ini kuhadapi.
"Bagaimana aku tanpamu sayang? Hiks,,, aku tak mau kehilangan kamu."
BERSAMBUNG...
Jangan lupa yah like, komen dan vote ❤