
❄selamat membaca❄
Hari ini aku berangkat lebih pagi ke kantor karena banyak klien yang harus ditangani dan sampai kini miska sekretaris ku masih saja belum menyelesaikan urusannya itu.
Aku menaiki mobil dan dengan cepat kulajukan mengabaikan gadis sialan itu yang selalu mencoba membujuk aku untuk memakan makanan nya itu. Sudah ditolak berkali-kali masih saja gigih.
Sampai di kantor aku langsung memasuki ruangan ku namun sebelum itu aku menuju meja Rani yang selalu menggantikan posisi miska saat ia tak ada di kantor.
"Ran, setelah tiba waktu rapat hubungi saya. Saya ada diruangan." Ia mengangguk dan langsung aku tinggalkan menuju ruangan ku.
Aku langsung mendudukkan bokong ku di kursi kekuasaan ku kemudian mengumpulkan berkas yang penting untuk didiskusikan saat rapat nanti dengan beberapa klien.
Namun mataku tak sengaja melihat fotoku dan Dyva lengkap dengan bingkai silver diatas meja. Kami terlihat sangat bahagia saat itu. Tak kusangka Dyva kan secepat itu pergi meninggalkan aku.
"Apa gunanya semua ini kalau tidak ada kamu Dyv?" Aku memang sering berbicara dengan gambarnya saja. Anggap saja aku gila.
"Kamu tau kan kalau kakak bekerja keras hanya untuk masa depanmu. Katamu kamu ingin bahagia dengan kecukupan serba ada. Dan kamu ingin menikah dengan laki-laki sederhana karena kamu sudah punya harta kamu tidak ingin laki-laki kaya lagi." Air mataku mengalir namun dengan cepat aku tepis.
"Kini semua kerja keras kakak bagai sia-sia," Ujar ku mencoba untuk menahan diri agar tidak cengeng bahkan hanya dihadapan foto Dyva.
Pasti Dyva akan tertawa jika melihat wajahku saat ini. Ia pernah berkata bahwa ia ingin melihat aku menangis karena selama ia ada ia belum pernah melihat mu menangis bahkan saat kami dalam keadaan yang begitu memprihatinkan. Sangat berbeda dengan Dyva yang sangat mudah menangis itu. Ada masalah sedikit langsung menangis.
Seseorang yang mudah menangis itu adalah bukti bahwa hatinya lembut dan penuh kasih saya6. Dan Dyva memang sangat perhatian dan penuh cinta. Ia sungguh seorang Dewi.
Suara telepon kantor yang ada di meja ku berdering hingga membuyarkan lamunan ku tentang Dyva. Ternyata kenyataan dengan mudah menghilangkan semua itu.
"Baik, saya akan segera tiba." Aku bangkit berdiri dan memperbaiki penampilanku dihadapan kaca berukuran besar itu.
Tadi itu adalah panggilan dari Rani yang Memberitahukan kalau rapat akan segera dimulai. Sebagai seorang CEO aku sudah tentunya harus lebih dahulu berhadir disana sebelum klien datang. Itulah yang menjadi salah satu tanggung jawab kantor.
Aku keluar dari ruangan dan berjalan memasuki ruangan yang menjadi tempat rapat kami sejak dahulu.
Dan proses rapat berjalan dengan lancar meskipun aku sedikit kesulitan menghadapi beberapa klien yang keras kepala yang hanya mengandalkan pikiran mereka saja tanpa melihat fakta yang sudah ada.
Karena banyak sekali hal kami bahas tak terasa waktu sudah berlalu dengan sangat cepat. Hari kini sudah mulai gelap.
Aku parkirkan mobil dihalaman rumah dan langsung berjalan memasuki rumah begitu sampai. Sungguh hari ini adalah hari yang melelahkan untuk ku karena begitu banyak aktivitas yang kujalani.
Sampai ke dalam rumah aku dapati rumah dalam keadaan kosong lagi. Biasanya gadis bodoh itu sudah menunggu ku di depan pintu dengan wajah bodohnya itu. Tapi kemana dia? Air untuk ku mandi saja belum ia siapkan.
Namanya siapa? Mina apa mini sih? Lupa. "Mini! " Panggil ku dengan keras setelah menentukan mana namanya yang sebenarnya.
Namun tak ada sahutan sama sekali padahal aku memanggilnya sudah sangat keras sekali.
"Kurang ajar!! Jangan bilang gadis sialan itu kabur, berani sekali gadis hina itu."kulempar keras tas kantor ku dan kubuka dasiku dengan kasar kemudian berjalan keluar hendak menemui pak umar.
Baru beberapa langkah saja mataku teralihkan dengan sesuatu yang bercahaya datang dari taman dan gadis bodoh itu sedang apa berbaring diatas rumput?.
"Sedang apa gadis bodoh ini disini?"gumamku pelan sambil berjalan kearahnya.
Tuk.
Tuk.
"Ma,,maaf tuan,"ia langsung bangun dan refleks meminta maaf padaku.
"Apa yang kamu lakukan disini?saya pulang dari kerja air untuk saya mandi tak kamu siapkan gadis bodoh,dan kamu malah enak enakan tidur disini?sudah bosan hidup rupanya?"ketusku padanya mencoba menahan amarah ku yang kini sudah ditenggorokan ku.
"Ma,,maaf tuan,"ucapnya menunduk. Apa? Bisanya cuma meminta maaf saja. Minta dipotong yah bibirnya biar bisa berhenti meminta maaf.
"Sudahlah,saya sedang lelah,tak ada energi untuk marah lagi,cepat siapkan air untuk ku mandi."kutahan saja emosiku karena aku sudah terlalu lelah saat ini.
"Tunggu tuan,,saya mau menunjukkan sesuatu kepada tuan."langkah ku terhenti saat mendengar itu dan mau tak mau aku harus berbalik kearahnya lagi.
Aku berdecak sebal"Apa yang mau kamu tunjukkan?lakukan dengan cepat dan segera siapkan aku air."
Dia mengangguk senang dan segera setelah itu ia menunjukkan bunga yang ditata hingga menyerupai bentuk love. Maksudnya apa? Aku melirik datar kearahnya karena jujur saja apa spesialnya itu semua?.
"Apa maksudmu membuat hal bodoh semacam ini?ooh masih bisa yah bermain main dirumah saya?kamu tak takut yah sama sekali dengan saya?cambukan kemarin masih kurang ?"aku sungguh tak habis pikir dengan gadis bodoh ini. Untuk apa ini semua tepatnya? Apa ia menganggap aku ini lelucon yah. Seharusnya setelah kejadian beberapa hari lalu ia harusnya sadar saja dan jangan lagi bersikap seperti ini.
"JAWAB!"bentak ku saat ia hanya menunduk saja tak berkata apapun. Padahal aku sudah sangat emosi sekarang.
"Bukan begitu tuan,saya hanya ingin memberikan kejutan kepada tuan,"ucapnya membuat ku semakin tak habis pikir dengan jawaban nya itu. Sungguh ia seperti nya sudah tidak sayang nyawa lagi.
"kejutan?wahh hebat sekali anak seorang pembunuh sepertimu ingin memberikan kejutan kepada target? rasanya takMungkin dan terasa janggal,"ucapku sambil tersenyum mengerikan padanya tidak lupa dengan langkah ku yang berjalan kearahnya.
"Bu,, bukan begitu tuan,saya hanya ingin tuan merasa lebih baik."ia ketakutan sekarang. Kalau tau ia penakut kenapa masih suka cari gara-gara?.
Saat aku berjalan kearahnya aku melihat bunga kesayangan Dyva tergeletak di rumput. Pasti gadis sialan ini yang melakukannya. Lancang sekali dia.
Aku berjalan dengan emosi menuju bunga itu dan mengambilnya"Sialan!apa hak mu memegang bunga ini?"ucapku berjalan kearahnya dengan emosi yang tersulut. Bisa tidak sehari saja gadis kurang ajar ini tidak membuatku emosi?.
"maaf tuan,bukan maksud saya begitu."hanya bisa minta maaf saja mulut sialan itu.
"wah!kamu memang benar benar wanita sialan,kamu semakin hari semakin lancang saja yah, sepertinya kamu memang bosan hidup."dengan keras ku tarik rambutnya dan menatap matanya dengan tatapan penuh dengan kebencian dariku.
Ia meringis menahan sakit karena tarikan ku di rambutnya. Demi apapun karena gadis sialan ini aku bertingkah seperti seorang psikopat saja. Dia memang pembawa bencana.
"maafkan saya tuan akhhh."belum selesai ia berbicara aku langsung menarik lebih keras lagi rambutnya itu. Mati saja sekalian.
"Kamu tau bunga apa ini?hingga tangan sialanmu itu lancang memegangnya bahkan lancang memindahkannya dari tempat ia berada,ini bunga adik saya yang tanam,ini bunga yang paling dia suka,kalau saja tadi kamu menjatuhkannya hingga pecah bagaimana? berhenti melakukan hal hal yang membuat saya marah, menjengkelkan."masih dengan tarikan di rambutnya.
Kalau diiringi backsound tik tok yang tarek sis semongko, mungkin ini akan semakin menarik saja. Biar diviralkan sekalian.
"Akhhh maaf tuan." Aku sangat jengkel saat mulutnya itu selalu meminta maaf tapi selalu saja membuat ulah.
"Kamu pikir hanya karena mulut kotormu itu meminta maaf maka akan saya biarkan begitu saja?ooh tidak bisa tentunya."kuletakkan pot bunga itu dan langsung mengangkat tubuhnya itu menuju Neraka yang sesungguhnya.
Tunggulah nerakamu!
BERSAMBUNG...
Jangan lupa vote, like dan komen yah.