
❄selamat membaca❄
Aku masih menggendong tubuhnya yang gemetar takut itu. Kalau tau setakut ini kenapa masih berani bertingkah lain?😒.
Aku berhenti saat tepat didepan gudang belakang rumah. Tidak ada pencahayaan sama sekali disini. Bukankah ini adalah tempat yang bagus untuk membuat gadis sialan ini merenungi segala kebodohannya juga kesalahannya.
Aku lempar tubuhnya dari gendongan ku tepat ke dalam gudang yang sangat gelap itu. Tanpa peduli ringisan sakit dari bibirnya.
"Coba renungkan segala kesalahnmu dan keluarga sialanmu itu ditempat ini,karena kesadaran mu masih kurang,kamu pikir tempat gelap seperti ini lebih menyeramkan dan menyakitkan dibandingkan tempat adik saya sekarang?adik saya sekarang di dalam tanah asal kamu tau,gelap dan tidak nyaman dan itu semua karena pria sialan yang berstatus ayahmu itu,aku ingin tau bagaimana reaksinya saat tau kalau putrinya juga merasakan hal yang sama, bersyukur lah kamu tidak saya kubur dalam keadaan masih bernafas,tapi lihat saja kalau tingkahmu masih tidak tau diri saya tidak akan segan segan menguburmu hidup hidup."panjang sekali yah? Aku tidak peduli karena memang begitulah yang saat ini dalam hatiku.
Aku menutup pintu dengan keras lalu pergi ke dalam rumah untuk mengambil minuman dari dalam kulkas.
" Gerah sekali,"ucapku meminum habis air yang ada di dalam botol itu namun masih saja membuatku kegerahan. Berhadapan dengan gadis itu sangat memancing emosi dan membuat kita merasakan api yang berkobar-kobar.
Aku berjalan kedepan televisi dan menghidupkan TV untuk sekedar menonton channel yang menarik. Terlalu dini untuk melihat keadaan nya.
Biasanya aku akan sedikit tertarik dengan kisah si gundul tapi kali ini aku sungguh tidak tertarik sama sekali. Kenapa aku malah memikirkan gadis sialan itu saat ini?.
"Ah biarkan saja, terlalu dini untuk melihat nya," Ucapku lagi-lagi membuang jauh-jauh pikiran ku itu.
Namun bodohnya aku malah berdiri meraih senter yang berada di dalam lemari dan berjalan kearah gudang belakang. Oh iya aku hanya sedang ingin melihat ia merenung, ingin menonton saja tanpa ada niat lain kok.
Aku membuka pintu gudang dengan kasar lalu mengarahkan senter itu ke dalam dan dia sudah menangis seperti orang bodoh disana. Dasar manusia cengeng hanya bisa menangis saja.
"Hiks,,maafkan saya tuan hiks,,maafkan saya,saya minta maaf hiks,,"dia malah bersujud di hadapan ku. Sedang apa sih dia? Bersujud seperti itu untuk apa? Dia pikir aku akan senang jika dia bersikap seperti itu?.
Belum lagi kenapa dengan rambutnya? Kenapa begitu berantakan sekali? Dan,, darah apa yang ada di dahinya itu? Baru kutinggalkan sebentar saja sudah begitu. Dasar gadis paok.
"Apa yang kamu lakukan bodoh?" Tanyaku mendekat kearahnya lalu memeriksa dahinya yang benar-benar sedang terluka saat ini. Kenapa bisa yah? Dia hanya kutinggal beberapa saat sudah terluka begini.
"Hiks,,maafkan saya tuan hiks,,,saya harus bagaimana agar bisa membuat tuan merasa lebih baik hiks,,maafkan saya."bukannya menjawab pertanyaan ku ia malah terus-menerus meminta maaf dan bersujud di kakiku bersimpuh meminta maaf.
Berhenti bersikap bodoh dan bangkit sekarang!"aku berdiri memperhatikan ia yang juga mencoba untuk berdiri namun tak sanggup. Kenapa dengan gadis bodoh ini. Apa ia bertingkah begitu agar aku kasihani yah?.
"Akhh," Ringisnya jatuh saat ia mencoba untuk bangkit namun tetap saja jatuh kembali.
"Dasar menyusahkan saja bisanya,"ucapku kesal lalu mengangkat tubuhnya alam bridal style. Aku tidak bermaksud lain aku hanya tidak suka berasap ditempat gelap itu makanya aku mau mengangkat tubuhnya. Jangan salah faham.
Sekilas aku melihat ia berkali-kali menghapus air matanya saat berada dalam gendongan ku. Belum lagi ia juga menggigit bibirnya saat ini. Mungkin untuk menahan tangisnya. Kenapa suka sekali sih menangis? Apa akhir-akhir ini menangis juga termasuk kedatangan kategori hobby yah?.
"Diam ditempat!berani bergerak kamu saya habisi."ia langsung diam tak berani bergerak saat mendengar ancaman ku itu. Lagian mau kemana sih? Sudah tau ia tak bisa bangkit masih saja ingin petakilan.
Aku keluar dari kamar dan berjalan kearahnya dengan kotak p3k di tangan ku.
Aku duduk tepat dihadapan nya dan mulai membersihkan luka di dahinya dengan kapas berisi alkohol.
"Hiks,,biar saya saja tuan,maafkan saya hiks,,saya minta maaf tuan,"ucapnya masih saja menangis walaupun terkadang ia berusaha menahannya dengan menutup mulutnya dan sesekali menggigit bibirnya. Namun tetap saja air matanya tidak bisa berhenti mengalir.
Aku memilih mengabaikan nya saja. Aku masih menekuni pengobatan di dahinya itu. Kenapa bisa terluka begini sih? Padahal hanya kutinggal sebentar tadi.
"Hiks." Tangisan itu masih saja lolos sesekali dari mulutnya. Aku sebenarnya tidak terlalu tega melihat seorang gadis menangis. Karena aku akan mengingat wajah Dyva yang sangat cengeng itu. Sangat mudah untuk menangis bahkan saat ia marah pun ia menangis.
"Apa semenyakitkan itu Sampai kamu terus menagis begitu?"tanyaku dengan bodohnya. Yah pasti sakitlah lukanya terlihat sedikit parah. Kamu kenapa sih astan?.
Ia hanya membalas dengan Anggukan dan air mata yang masih meluncur bak air hujan yang tak kunjung reda.
"Diamlah,saya tidak suka melihat seorang gadis menagis seperti ini,"ucapku meniup lukanya dan menutupnya dengan kapas juga Flaster penahan kapasnya.
Bodohnya aku merasa seperti seorang ABG saat ini apalagi mengingat ucapanku tadi. Apa? Saya tidak suka melihat gadis menangis seperti itu? Kenapa terdengar norak sekali sih?Memalukan sekali sih.
Dia mengangguk lagi namun tetap saja air matanya tak bisa ia ajak untuk berkompromi. Karena saat ia berkata tak akan menangis disitulah air matanya turun dengan deras.
Kenapa aku merasa kasihan saat ini? Hatiku ikut sakit melihatnya menangis seperti itu. Ia terlihat seperti Dyva saat sedang menangis.
Dan anggap saja aku pria bodoh dan tidak konsisten karena aku tidak rau kenapa aku dengan bodohnya menarik tubuhnya kedalam pelukanku dan belum sampai disitu juga. Tangan sialan ini kenapa malah menepuk pelan punggungnya. Kenapa sih dengan ku? Tak sinkron dengan hatiku sama sekali.
Dia akhirnya menangis lepas dalam pelukanku sungguh sangat menyakitkan mendengar itu. Ia terdengar sangat putus asa saat ini.
Aku tak menginginkan rasa kasihan ini. Aku hanya ingin membalas dendam padanya bukan malah jatuh seperti ini.
Dasar gadis sialan. Kenapa ia bisa membuatku berkonflik dengan diriku sendiri?
BERSAMBUNG...
duhhh maaf yah kalau banyak typo nya. Soalnya ngetiknya marathon dikejar deadline tugas heheh.
Jangan lupa vote, like dan komen yah🙂🤧