Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)

Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)
12.ini balasan mu(S2)


❄selamat membaca❄


     Kalian pasti berpikir kalau aku akan berhenti sampai lima cambukan tadi? Oh tidak bisa, belum puas rasanya dan aku masih ingin melakukan itu agar ia sadar dan tau diri bahwa tak ada yg bisa ia anggap sebagai lelucon disini.


Tadi itu Hanya pemanasan saja. Ini akan lebih menyakitkan dari pada cambukan tadi. Jadi bersiaplah gadis kurang ajar.


Bugh.


Satu cambukan lagi aku daratkan dipunggung nya dan ini dua kali lebih keras dari yang tadi. Apa ikat pinggang terlalu lembek yah? Apa aku gunakan tongkat golf saja biar makin terasa sakitnya?.


Bugh.


Bugh.


Bugh.


"Akhh." Ini sudah kesembilan kalinya aku mendaratkan cambukan dipunggung kecilnya dan barulah ia meringis dan mengeluarkan suara. Sejak tadi ia hanya diam saja.


Aku hendak melayangkan satu cambukan lagi agar genap sepuluh tapi tak jadi karena melihat ia yang susah payah merangkak mendekat memeluk kakiku. Sungguh pemandangan yang sangat indah sekali.


"Tuan,,,maafkan saya tuan,saya bersalah,saya tidak akan lancang lagi untuk masuk kesana,maafkan saya tuan,"ucapnya sembari memeluk kakiku. Ia pikir aku akan semudah itu luluh? Hahahah maaf tidak akan.


Dengan senyuman penuh kebahagiaan aku menendang keras perutnya hingga ia sedikit terpental dari dekatku. Rasakan saja tambahan rasa sakit mu itu.


Hujan tiba-tiba turun menambah ide gila untuk ku menyiksa gadis bodoh ini. Entah aku yang sudah benar-benar tidak waras atau dendam ku yang terlalu besar hingga aku tak ada merasa puas-puas nya saat menyiksa dia.


"Wah,,tepat sekali hujan datang, sepertinya akan lebih menyenangkan setelah ini."Aku tersenyum dan berjalan mendekat kearahnya yang kini masih memegangi perutnya menahan sakit.


Ku seret paksa ia menuruni tangga dan membawanya kearah pintu. Dengan sekali dorong saja ia sudah jatuh ke tanah dan langsung diguyur hujan.


"Akhh," Risngisnya masih terdengar sedikit pelan di indra pendengaran ku.


Aku melihat ia menahan rasa sakit itu dibawah hujan. Pasti perih sekali bekas cambukan itu dan bekas tusukan beling bertemu dengan air hujan. Komplit sudah.


Aku tersenyum menonton dia yang masih saja terduduk penuh pilu itu.Aku sebenarnya sedikit tersentil namun dengan cepat aku hilangkan rasa simpatik itu karena jika aku memberikan belas kasihan sama saja aku menerima kepergian Dyva.


"Silahkan nikmati mandi hujannya,diumur mu ini bermain adalah hal yang paling menyenangkan,saya baik kan,sudah memberimu waktu untuk bermain,jadi silahkan nikmati."Aku menutup pintu dengan keras karena berlama-lama disana akan membuat pertahanan ku runtuh.


Setelah itu aku memilih untuk tidur saja. Karena menghadapi gadis sialan itu terus saja menghabiskan tenagaku. Oleh karena nya aku butuh istirahat.


Namun aku masih saja penasaran bagaimana ia sekarang dibawah hujan. Dengan pelan aku mendekat kearah jendela dan menarik sedikit tirai.


Ia menangis lepas dibawah hujan saat ini. Ini pertama kalinya aku melihat ia benar-benar menangis karena selama ini ia hanya menahannya saja. Dasar lemah, kalau tau lemah untuk apa sok kuat?.


Ia berjalan pelan dan lesu menuju pintu. Aku yang bodoh atau kepo hingga aku juga berjalan menuju pintu menempelkan telinga ku untuk sekedar mendengar apa yang akan ia lakukan.


Kulihat knop pintu bergerak tanda ia mencoba untuk membukanya namun tak bisa karena sudah pasti aku kunci dari dalam. Kasihan.


Aku mendengar suara tangisan putus asa darinya"Tuan,,hiks,,tuan,,maafkan saya tuan,ampuni saya tuan hiks,,saya tidak akan lancang lagi,saya tidak akan pernah masuk lagi kekamar itu tuan,hiks,,tolong tuan saya mohon."tangisan nya semakin keras seolah ini sungguh benar-benar perih baginya.


Aku tak menjawab sama sekali. Ketauan dong kalau aku sejak tadi berdiri disini? Eh Iya yah, sedang apa aku sejak tadi disini?.


Kudengar lagi langkah kakinya yang menjauh dari pintu. Dan bodohnya lagi aku beralih dari pintu ke jendela dan melihat dari balik tirai. Hmmm oh iya aku lagi gabut Iya lagi gabut jadi maklum aja.


Baru naik sebentar saja ia kembali turun dan mengurungkan niatnya. Masih sayang nyawa rupanya?.


Ia kembali menangis keras didepan pagar dan tangisannya sangat jelas kesini karena hujan sudah mulai reda. Cengeng sekali sih jadi orang.


Aku memilih mengabaikan dia saja dan menaiki tangga menuju kamar. Namun lagi-lagi aku penasaran sedang apa dia?.


Dengan pelan kubuka tirai jendela kamar dan aku melihat ia sudah tergeletak tak berdaya ditanah.


"Sial!Kenapa pake pingsan segala sih? Menyusahkan saja kerjanya,"ucapku dengan penuh kekesalan.


"Siapa peduli mau dia pingsan atau bahkan mati sekalipun aku tak akan peduli."Aku baringkan tubuhku diatas kasur dan mencoba untuk tidur.


Namun belum lama sejak aku mencoba untuk tidur tanpa alasan aku merasa kesal dan langsung turun menuju tempat gadis sialan itu.


"Menyusahkan saja ja*Lang satu ini."dengan sedikit kesal aku mengangkat tubuhnya yang basah itu dari tanah. Dasar pembuat onar.


Sampai dikamar aku melemparkan tubuhnya dengan keras keatas tempat tidur namun ia sama sekali tak bergeming.


" Bangun! "Dengan keras ku tampar wajahnya hingga meninggalkan bekas merah disana namun ia tak kunjung bangun.


"Dasar sialan,tak hentinya membuatku marah dan jengkel,bangun!!jangan sampai saya akan lebih kejam dibandingkan yang tadi."kukeraskan suaraku namun ia tak bergerak sama sekali.


Wajahnya sangat pucat dan lelah.


Dengan terpaksa aku menghubungi dokter. Aku masih sayang dengan karier ku. Aku tak mau ada berita beredar bahwa ada yang meninggal disini.


"Apa sebenarnya yang terjadi dengan pasien?kenapa kondisinya semengerikan ini?"tanya dokter itu padaku.


Apa aku menyewa nya untuk wawancara yah? Harusnya langsung beri obat saja kemudian pergi. Dasar manusia gabut.


"saya tidak membayar mu untuk wawancara bodoh seperti itu,cepat periksa dan secepatnya pergi dari sini,"ucapku dengan ketus. Dia sedikit kaget karena respon ku yang seperti seorang perawan yang sedang datang tamu bulanan.


"sepertinya gadis ini butuh perawatan khusus,ia mendapati luka parah,"jelas dokter itu melihat kearahku dan hanya ku tanggapi dengan wajah bodoh amat.


"Berikan salap dan resep obat saja,tidak usah repot-repot merawatnya."dengan ogah ogahan aku melihat kearahnya.


Ia terlihat sangat menentang pendapat ku namun ia pasti sadar bahwa ini bukanlah urusannya lagi. Untung saja cepat sadar. Jadi tidak perlu emosiagi. Cukup gadis bodoh ini saja yang selalu memancing emosi ku jangan ditambah lagi.


"Baiklah,ini salap untuk lukanya dan pil untuk menghilangkan rasa sakitnya."aku meraih resep itu darinya.


Aku membayar tagihan nya dan lagi-lagi ia mengoceh tanpa sebab "Di usia seperti ini adalah saatnya tubuh mereka aktif,jika hal hal seperti ini sering terjadi maka mentalnya akan terganggu,tolong adiknya diperhatikan pak."Apa maksudnya menyebutkan adik? Wah bikin emosi saja. Kalau tidak tau apa-apa mending diam saja. Dasar manusia gabut.


Setelah dokter itu pergi astan langsung melempar resep obat itu dengan kasar.


"Sialan." Dengan api yang membara astan memilih berbaring disofa.


BERSAMBUNG...


Duhh astan ih jahat banget.


Jangan lupa untuk vote like dan komen yah.