
❄selamat membaca❄
Aku merasakan sakit pada setiap persendian ku. Mungkin karena lelah saja, sejak semalaman aku mengerjakan semua berkas dari kantor dan juga memeriksa bagaimana rencana perusahaan kedepan.
Setelah itu aku juga harus mengurus mina istri ku. Tiba-tiba saja aku sudah tak bisa lagi menahan ngantuk hingga aku mulai terlelap.
Namun beberapa saat aku mulai samar mendengar suara ringisan dari arah mina.
"Mas,,, akhh,, mas sakit." Aku langsung bangkit dan melihat kearah mina yang air ketuban mina sudah mulai pecah.
Bagaimana bisa aku tertidur disaat seperti ini sih? Buru-buru ku angkat mina dan berlari menuju pak umar yang langsung panik dan menyiapkan mobil saat melihat aku yang baru keluar dari pintu. Kuakui memang pak umar sangat kompeten dalam hal ini.
Mobil langsung melaju meninggalkan rumah menuju rumah sakit terdekat"Maafkan mas sayang,, mas ngk bermaksud ketiduran, sakit yah sayang?maafkan mas."aku merasa bersalah karena tak bisa menjaganya dengan baik.
"Hiks,,, aku tidak apa apa mas,, hiks,, "
Bagaimana bisa aku percaya kalau itu tidak menyakitkan baginya saat tangannya sudah menggenggam erat tanganku menandakan kalau saat ini ia sangat kesakitan.
Wajahnya menggambarkan rasa takut yang mendalam. Aku juga sama takutnya, bagaimana kalau yang kami takutkan benar-benar terjadi?.
"Hiks,,, aku sayang sama mas." Ia mengelus pelan wajahku dengan air mata yang terus saja mengalir dari pelupuk matanya itu.
"Mas tau sayang, mas juga demikian."ku genggam erat tangannya.
" Mas yakin kamu kuat dan bisa bertahan,ingat mas selalu menunggu mu bagaimana pun itu."kucium keningnya itu dan dia masih saja menangis menahan sakit.
Sesampainya dirumah sakit mina buru-buru dibawa menuju sebuah ruangan dan tanganku yang menggenggam tangannya mulai terlepas karena selain pihak medis dilarang masuk.
Seperti biasa, saat aku sedang khawatir aku tak akan bisa hanya diam saja menunggu. Aku berkali-kali bolak-balik khwatir.
Bagaimana kalau apa yang ku takutkan benar-benar terjadi?.
"Tidak mungkin,, tidak." Aku menggeleng dengan cepat mencoba menghilangkan pikiran aneh itu.
"Saudara suaminya pasien bisa ikut saya keruangan saya sebentar? "
Ku lihat seorang dokter keluar dari ruangan mina yang saat ini berada didalam. Aku pun langsung menurut mngikuti nya menuju ruangan nya.
"Silahkan duduk tuan."aku secepatnya duduk dan tak sabar menunggu apa yang akan kami bahas ini.
"Begini pak, saat ini istri bapak sedang dalam tahap hendak melahirkan namun masih dalam tahap awal dan masih kontraksi ringan,namun saya sebagai dokter ingin memberitahu bapak bahwa kehamilan istri bapak bukanlah kehamilan biasa seperti yang lainnya,ada kemungkinan bahwa si ibu tidak akan selamat jika kita tetap melanjutkan nya."
Seketika darahku mengalir deras dan jantung ku seakan berhenti berdetak.
"Bagaimana ini dok? Apa tidak ada cara lain?istri saya pasti akan selamat kan dok? " Aku langsung panik dan tau tau harus berbuat apa lagi.
Dokter itu bangkit dan membantu ku bangkit "Bukan masalah uang ataupun lainnya namun kemungkinan untuk pasien selamat sangat tipis pak,karena usia istri bapak terlalu muda untuk mengandung hingga ia terlalu sering mengalami pendarahan dan menyebabkan ia mengidap anemia parah dan bisa membahayakan nyawanya pak, jadi kami akan berusaha semampu kami dan selanjutnya kami serahkan kepada yang maha Berkuasa."
Dokter itu berlalu meninggalkan ku yang hancur hati ini. Aku tak ingin mendengar kabar itu, aku hanya ingin mina dan anakku selamat.
Aku kembali duduk dikursi tunggu dan kulihat pak umar dan buk ani yang merupakan istrinya sudah duduk dan ikut menunggu disana.
Akuasih saja menangis mengingat semua yang dokter itu katakan tadi. Bagaimana kalau benar mina tak bisa selamat?.
Aku tak bisa bayangkan bagaimana aku akan hidup tanpa mina istriku. Aku sangat bahagia saat tau bayiku akan lahir tapi aku tak akan bisa bahagia saat tau istri ku juga terancam nyawanya. Aku tak ingin kehilangan keduanya.
"Maafkan aku sayang." Aku jadi teringat bagaimana dulu caraku memperlakukan mina dengan sangat tidak wajar. Apakah ini adalah karmaku?.
Aku sudah kuasa lagi menahan rasa sesak ini. Aku menangis sekeras yang aku bisa untuk meluapkan rasa sakit ini. Rasa khawatir ku berubah jadi rasa sakit.
"Tenanglah den, saya yakin non mina akan baik baik saja." Pak umar menepuk pelan bahuku.
Aku memang mengangguk tapi aku sendiri tidak tau apakah keyakinan ku tentang itu adalah sebuah kebenaran.
Kenangan kami kembali terputar diotakku.
Caranya tersenyum.
Tawanya.
Bahkan saat mina kesal karena aku tak hentinya menggodanya yang sangat lucu itu.
"Hiks, " Air mataku kian deras karena segala ingatan itu.
"Aku mohon bertahanlah sayang, ingat aku disini akan selalu menunggu mu."
Aku terus saja mengatakan hal itu berulang-ulang berharap mina dapat mendengar itu.
Aku terus saja menunggu bahkan sudah berjam-jam lamanya tak ada tanda-tanda seseorang akan keluar dari ruangan mina dirawat.
Pak Umar juga buk ani sudah ku suruh pulang lebih dulu. Aku akan tetap sabar menunggu sampai mina sadar dan aku juga tak sabar ingin melihat malaikat kami.
Semoga semuanya berjalan lancar dan kita bisa berkumpul.
BERSAMBUNG...
Duhh kasian yah gaes astan dari tadi nunggu mulu.
Jangan lupa yah like komen dan vote❤