
❄Selamat membaca❄
Aku bangkit dari tidurku, aku memang tidak bisa berjalan tapi alhamdulillah aku masih bisa untuk bangkit duduk meskipun dengan susah payah.
Dengan perlahan aku meraih gelas yang berisi air putih itu lalu meminumnya. Kulihat bapak sedang mengerjakan sesuatu diluar. Dari pintu terlihat sangat jelas kalau bapak sedang sibuk mengerjakan nya.
"Bapak." Aku memanggilnya dengan pelan lalu ia dengan sigap berjalan kearahku.
"Ada apa nak? Kamu butuh sesuatu yah? " Tanya nya dengan pelan hari sudah mulai gelap dan seperti nya sudah menjelang isya.
"Saya boleh minta bantuan pak? " Aku bertanya dengan penuh segan. Aku sebenarnya sangat malu untuk meminta bantuan karena takut akan merepotkan.
Ia tersenyum kearahku, tulus sekali senyumannya "Apapun nak selagi bapak mampu. " Ia mendekat kearahku.
"Saya ingin mencuci wajah pak, agar lebih segar sedikit. " Aku merasa sangat merepotkan nya. Sungguh!.
"Baiklah bapak keluar untuk mengambil air dulu nak, kamu tunggu disini saja yah. " Aku dengan cepat menggelengkan kepala ku.
"Saya ingin langsung ke tempat nya bagaimana pak? Apakah bapak bisa membantu saya kesana? " Tanya ku pelan.
Ia tersenyum lagi"Hmm tua-tua begini bapak masih kuat nak. "Aku ikut tersenyum mendengar lelucon nya yang sangat lucu itu.
Aku dibantu oleh bapak itu dengan sedikit pelan dan benar saja tubuhnya sangat kuat diusianya yang sudah mulai lanjut itu. Awalnya aku sangat ragu dengan permintaan ku itu karena melihat bapak yg sudah mulai lanjut usia itu.
Ia dudukan aku diatas batuk yang sering mereka jadikan tempat duduk saat sedang beraktivitas disini.
" Biar bapak bantu kamu membersihkan wajahmu nak. "Dengan lembut bapak itu merawatku seolah sedang merawat anaknya sendiri. Kenapa rasanya begitu nyaman seolah sedang bersama orang tuaku sesungguhnya?.
" Kulitmu sangat bagus yah? Pasti kehidupan mu sangat mapan yah nak? "Bapak itu tersenyum.
Aku hanya tersenyum membalasnya" Terima kasih pak sudah mau membantu saya, saya sangat berterima kasih banyak dengan pertolongan bapak yang sangat besar ini. "Ucapku dengan sungguh sungguh.
Bapak itu tersenyum kearahku" Tidak usah sungkan nak, bapak ikhlas melakukannya karena bapak sudah menganggap mu seperti anak bapak sendiri. "Aku terharu mendengar itu dan menunduk merasa sangat bersyukur tapi tetap saja aku merasa kurang karena mina juga alfa tak ada disini.
" Terima kasih pak. "Aku tetap mencoba untuk tegar.
" Baiklah kita kembali ke dalam saja agar kamu bisa beristirahat nak. "
Dengan gelengan aku menolak ucapan bapak itu"Saya ingin ikut duduk disana dengan bapak kalau bapak tidak keberatan. "Aku tersenyum dan bapak itu ikut tersenyum.
" Baiklah kalau kamu ingin nak. "Dengan lemah lembut ia menuntunku menuju balai tempat bapak mengerjakan pekerjaan nya tadi.
Orang yang berpendidikan tinggi saja tak akan mampu mengerjakan itu dengan seindah buatan bapak.
" Bapak belajar dari mana melakukan ini? Sangat indah pak. "Aku memegang sebuah hasil sulaman yang suah jadi dan hasilnya seperti buatan seorang profesional saja.
" Ah kamu bisa aja nak, itu padahal masih belum seberapa. Bapak tidak terlalu mendalaminya hingga hasilnya seperti itu. Maklum nak hanay mengandalkan ide bapak saja tanpa belajar langsung dari ahlinya. "Aku tercengang mendengar itu, bagaimana bisa hasil seindah ini dibilang tidak bagus?.
" Aku jadi teringat dengan kehidupan ku saat remaja dulu pak, aku mengerjakan banyak sekali pekerjaan untuk bertahan hidup dan juga membesarkan adik saya tanpa orang tua. "Aku mulai membuka pembicaraan dan bapak itu langsung pokus bekerja dan mendengarkan cerita ku juga.
" Saat itu aku masih muda dan tak tau arti dunia dewasa yang sangat kejam itu, dengan kerja keras dan berbagai cara aku mencari kehidupan yang layak dan alhamdulillah aku bisa sukses dan mendapatkan pekerjaan yang layak namun disaat itu pula aku kehilangan adikku yang kuperjuangkan mati-matian itu. "Aku menceritakan itu dengan mengingat wajah dyva.
" Dan lucunya pak, aku menikah dengan anak dari seseorang yang tidak sengaja menabrak adik ku hingga tak bisa diselamatkan. Saat itu aku masih dipenuhi dengan rasa tidak rela dengan kepergian adik ku dan melampiaskan semua amarah juga kekesalan ku pada anak dari yang menabrak adik ku yaang saat ini berstatus istriku. Aku sungguh sudah dibutakan oleh kebencian hingga terus saja memberikan luka padanya tanpa tau kalau ia juga tak pernah bahagia dalam hidupnya. Hingga suatu hari aku sadar kalau aku sudah sangat salah dan aku berusaha memperbaiki semua dari awal lagi. "Aku menunduk merasa bersalah hingga kini meskipun mina sudah memafkan ku.
Bapak itu tersenyum" Kamu adalah laki-laki hebat nak, kamu sangat hebat. "Aku merasa tidak pantas saat mendengar itu.
" Aku sama sekali tidak pantas disebut laki-laki hebat pak. Minalah yang hebat karena bisa bertahan hingga kini dengan laki-laki se egois aku. "Aku tersenyum getir.
" Aku sangat merindukan mina dan alfa anakku. "Air mataku mengalir deras dan dengan cepat kuhapus.
" Ketahuilah nak setiap manusia punya kesalahan baik itu dari masa lalunya, masa sekarang dan kita tidak tau dengan masa depannya. Namun, ketahuilah bahwa hanya manusia hebat yang bisa sadar dan memperbaiki kesalahan nya yang bisa melakukan itu. Dan kamu adalah salah satunya. "Aku tersenyum mengangguk meskipun masih merasa bersalah hingga kini.
" Ada apa nih? Kelihatannya sangat seru berbincang-bincang nya. "Ibu datang dengan sebuah nampan berisi Ubi dan teh manis.
" Silahkan dimakan nak, maaf kami hanya punya ini. "Ibu duduk disamping bapak dan dengan cepat kuraih sebuah ubi.
" Ini saja sudah lebih dari cukup buk. Oh iya buk maaf terlambat memperkenalkan diri. Namaku astan jaya ramatha panggil saja astan buk. "Aku menyalami ibu dan bapak bergantian.
Mereka tersenyum mengangguk kearahku" Namamu sangat cocok dengan wajahmu nak. "Aku tersenyum.
" Kalau aku sudah sehat aku akan membawa mina dan alfa untuk bertemu dengan ibu dan Bapak, aku sangat ingin mereka tau ada orang berhati malaikat seperti kalian. "Aku sungguh terharu sekali.
Kami pun bercerita satu sama lain diatas balai itu dengan sesekali bersenda gurau meskipun hatiku masih saja pilu mengingat wajah mina yang kini pasti merasa kesepian.
" Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud untuk tidak kembali, aku hanya tidak ingin kamu melihat keadaan ku saat ini. "
Setelah beberapa saat barulah aku dibantu oleh bapak untuk kembali didalam dengan susah payah karena kakiku sangat kaku untuk digerakkan.
BERSAMBUNG...
jangan lupa yah like, komen dan vote❤.