
❄selamat membaca❄
Aku masih saja duduk disamping kuburan Dyva adik semata wayang yang kini sudah tidak bisa lagi aku elus rambutnya saat ia sedang merajuk, kupeluk saat ia merasa sendiri dan kutegur saat sedang salah. Kehilangan seseorang yang satu-satunya kita miliki tidak semudah yang dibayangkan. Hingga kini aku masih belum bisa menerima kenyataan itu.
"Dyv,, kakak kangen," Lirihku memegang batu nisan Dyva dengan air mata yang kutahan. Aku bukanlah laki-laki yang mudah menangis tapi untuk Dyva aku tidak tau kenapa air mataku sangat mudah untuk keluar.
Hari sudah mulai gelap karena jam sudah menunjukkan pukul 17 lewat. Aku bangkit dari duduk ku "Kakak pulang yah, besok kakak datang lagi buat nemenin kamu biar kamu ngk ngerasa sendirian." Setelah mengatakan itu dalam hati aku berkata"Atau aku yang merasa sendirian?"
Aku melajukan mobil meninggalkan areal pemakaman tempat dimana Dyva beristirahat untuk selamanya di pembaringan nya.
Tidak terlalu memakan waktu untuk sampai kerumah.
Seperti biasa pak umar akan menyambutku dengan senyum khasnya yang membuat kita merasa nyaman dan aku yang memang kurang ajar hanya membalas dengan anggukan saja dan berlalu begitu saja.
Aku memasuki rumah dan melihat rumah masih saja gelap tanpa pencahayaan sama sekali. Apa untuk menghidupkan lampu juga gadis sialan itu tidak bisa? Kenapa tak ada satupun lampu yang menyala? Dasar membuat emosi saja bisanya.
Aku menghidupkan lampu satu persatu dan melihat kekamar tidak ada dia begitu juga dengan ruangan lainnya aku tak bisa menemukan gadis sialan itu. Kemana perginya dia? Apa dia tidak takut yah? Jangan bilang dia memang kabur.
Aku keluar dengan kesal dan memanggil pak umar yang kini sedang berkemas untuk pulang. Apa saja sih kerjanya hingga gadis sialan itu bisa kabur? Atau jangan jangan dia membiarkannya kabur? Pak umar memang baik tapi untuk masalah ini kalau benar pak umar membiarkan nya kabur itu bukan kebaikan namanya tapi kebodohan.
"Dimana gadis sialan itu? Apa kamu membiarkan dia kabur?" Dan aku menyesali ucapan ku yang tak sopan itu pada pak umar. Tapi,, ah sudahlah.
Pak umar terlihat bingung "Loh, bukannya neng minat ada di dalam rumah tuan?" Tanya balik pak umar. Bagaimana aku tidak jengkel sih?.
"Kalau ada untuk apa saya bertanya?"
"Maaf tuan, saya pikir neng minat di dalam rumah seharian dan neng minat tidak pernah sedikitpun menginjakkan kakinya kepasar. Saya bisa menjamin nya tuan." Pak umar terlihat sangat yakin. Memang sih pak umar Adalah orang yang sangat dipercaya. Tapi aku takut ia bisa saja berubah.
"Kalau seyakin itu cepat temukan gadis sialan itu." Aku memasuki rumah dengan sedikit emosi. Bisa-bisanya dia mencoba untuk lari dari genggaman ku. Hidup dan matinya kini ditanganku.
Setelah aku mandi dengan air yang aku siapkan sendiri,aku duduk disofa dengan penuh rasa kesal. Lihat saja kalau ketemu akan aku berikan sebuah peringatan agar ia merasa takut dan tak berani untuk membangkang seperti ini lagi.
Tiba-tiba pintu terbuka menampakkan gadis sialan itu yang kini berjalan menunduk kearahku.
"DARI MANA SAJA KAMU?" Dia terlonjak kaget saat aku bentak tadi. Emosiku sudah meningkatkan karena sifatnya yang diam diam membangkang.
Dia menunduk meremas kemejaku yang sangat besar ditubuhnya yang kecil itu. Belum lagi ukurannya hanya sampai diatas pahanya saja. Aku harus mengalihkan pandangan karena aku laki-laki normal.
"Maaf tuan sa-saya," Ucapnya terbata-bata seolah sedang mencari alasan. Lihat kan, sudah jelas sekali terlihat kalau ia memang benar-benar berniat kabur.
"Maaf tuan, sa-saya" Ia mendongak kearahku dan aku dikagetkan dengan luka di dahinya yang lumayan parah itu. Kenapa ia bisa terluka? Ah masa bodoh dengan itu. Lebih menyenangkan menyiksa orang yang sedang terluka.
"Sepertinya saya terlalu lunak yah kepada mu? Berani-beraninya kamu mencoba kabur." Dengan cepat aku menarik tangannya tentunya sangat keras hingga ia harus menahan rintisan karena tekanan ku bukan main-main.
Dengan keras kubuka pintu kamar mandi dan melemparkan tubuh kecilnya hingga membentur dinding. Pasti sakit sekali yah? Namun aku suka.
"Ohh, jadi kamu ingin melihat saya yang sebenarnya? Kamu sudah cukup menerima kebaikan saya dalam beberapa hari ini.Oleh karena itu kehidupan bagai di Neraka mu dimulai hari ini." Dengan senyum smirk aku membuat ia semakin merasa takut dan gemetar.
Ia menggeleng dengan cepat"Maaf tuan, saya tidak berniat kabur tuan,"ucapnya meringkuk mendekat dan bersimpuh memeluk kakiku.
Dia pikir aku akan dengan mudah luluh hanya karena ini? Aku sudah membentengi hatiku untuk lebih kuat lagi jangan mudah jatuh hanya karena belas kasihan.
"Lepaskan kaki saya sebelum saya semakin marah," Ucapku namun ia masih saja tak mau mendengar. Dasar gadis keras kepala. Lihat saja aku tak main-main saat sedang marah.
"Ooh, tidak mau mendengarkan yah?Baiklah kalau itu maumu," Ucapku tersenyum dan dengan keras aku menendang perutnya hingga ia terpental mengenai dinding. Mati saja sekalian gadis keras kepala.
Dia meringis menahan sakit diarea perutnya. Sedikit ku acungkan jempol untuknya yang sampai kini tidak menangis walaupun air mata sudah menganak sungai dipelupuk matanya ia berhasil menahannya agar tidak jatuh.
Masih kurang puas rasanya jika hanya memberikan ia pelajaran sampai disini. Hari sudah mulai gelap mungkin sedikit menyenangkan mandi dimalam dingin ini bukan?.
Dengan lancar air jatuh dari shower hingga menimpa tubuhnya yang kini berada tepat sekali dibawah shower.Dia terlihat kaget dengan air dingin yang tiba-tiba menimpa tubuhnya yang hanya dibalut kemeja tipis itu hingga lekuk tubuhnya terlihat sangat jelas. Satu kata yang ingin aku ucapkan bahwa tubuhnya lumayan juga.
"Ini belum seberapa dengan apa yang akan kamu hadapi kedepannya,"ucapku tersenyum dan berlalu pergi. Berlama-lama disitu naluri ku sebagai laki-laki tak akan bisa ku kendalikan. Sekedar informasi saja nafsuku sangat besar namun sejauh ini aku masih bisa menahannya.
Aku menaiki tempat tidur dan memainkan ponselku untuk mengusik rasa bosan.Samar-samar aku mendengar suara tangisan dari dalam kamar mandi. Walaupun tertahan namun tetap saja gema suaranya masih terdengar dengan jelas.
" Dasar sok kuat, kalau ujungnya menangis untuk apa ditahan sejak tadi?"ucapku merasa heran dan kembali memainkan ponselku hingga aku benar-benar merasa bosan memainkannya.
Suara tangisan itu masih ada hingga kini. Apa pedulimu padanya? Semakin ia tersiksa maka aku semakin senang.
Mungkin hari ini aku sedikit kelelahan hingga aku mulai merasa ngantuk.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa vote, like, dan komen yah.
Maaf baru update, soalnya aku lagi mid semester dan ini juga dari hasil begadang 😅