Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)

Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)
4.pernikahan sialan (S2)


❄selamat membaca❄


Sungguh menyebalkan sekali saat memikirkan nya saja? Walaupun aku sendiri yang memiliki ide bodoh ini tetap saja aku sendiri merasa enggan untuk menikah dengan gadis sialan itu. Memikirkan harus melihat wajah nya setiap hari membuatku ingin mengatur siasat lain agar bisa membalas dendam kepada pria sialan itu tanpa harus melibatkan status ku sendiri. Tapi sudah tidak ada cara lain yang lebih efektif dari cara ini.


Dengan terpaksa aku Mengancingkan kemeja putih ditubuhku, aku yang memutuskan namun aku serasa seperti dipaksa saja.


Aku raih jas berwarna hitam yang tergeletak diatas tempat tidur dan bergegas menuruni tangga menuju mobil yang sudah pak umar siapkan itu.Pak umar sudah aku beritahu bahwa aku akan membawa seorang gadis yang akan berstatus sebagai istri ku nanti kerumah ini.Awalnya ia sangat terkejut dengan berita yang aku sampaikan secara tiba-tiba itu. Tapi tetap saja pak umar tidak pernah lupa dengan batasannya sehingga ia hanya bisa mengangguk dan berkata bahwa semoga semuanya berjalan lancar dan baik baik saja. Cih, aku malah berharap sebaliknya.


"Dimana pesanan saya yang semalam pak?" Segera Kusamba kunci mobil yang disodorkan oleh pak umar.


Pak umar menyodorkan kembali sebuah totebag padaku yang sudah pasti isinya adalah baju yang aku pesanan semalam sepulang dari rumah gadis bodoh itu.


"Jaga rumah ini pak mungkin saya akan pulang malam nanti." Aku sekilas melihat pak umar menunduk sebelum aku memasuki mobil itu dan bergegas melaju.


Aku memang sudah menganggap pak umar dan keluarga nya seperti keluarga ku sendiri. Tapi bukan berarti aku akan mengundang mereka hadir diacara pernikahan sialan ku ini. Ini hanya sebuah acara agar aku bisa sah menghukum gadis sialan itu hingga pria sialan itu merasakan hancurnya melihat putrinya hidup layaknya di neraka.


Jadi biarkan saja pak umar menunggu dirumah. Terlalu memalukan jika ia harus menyaksikan pernikahan bodoh ini.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Aku tiba didepan rumah pria sialan itu dengan penghulu dan juga saksi bayaranku.


"Kalian tunggu disini dulu, setelah menerima aba-aba dari saya barulah kalian masuk nanti." Aku dengan perlahan memasuki rumah itu.


Saat melangkah masuk aku sudah melihat mereka berdua duduk tidak tenang dan langsung berdiri setelah melihat kedatangan ku.


Senyum langsung tersungging di wajah ku. Namun bukan senyum kebahagiaan tapi karena merasa lucu melihat mereka berdua yang sekarang seolah berada dalam kendaliku.


Dengan keras aku lemparkan totebag itu dilantai hingga mereka berdua terlonjak kaget seperti seorang tawanan yang digertak.


"Kenapa begitu terkejut hmm?Cepat pakai baju itu dalam hitungan kesepuluh kamu sudah selesai, satu," Ucapku menggantung ucapanku seolah benar-benar menunggu sampai hitungan kesepuluh.


Aku melihat gadis itu langsung meraih totebag dan berlari memasuki sebuah ruangan yang aku tidak terlalu peduli itu ruangan apa. Aku tersenyum senang karena mereka benar-benar berada dalam genggaman ku.


Aku melirik sinis kearah pria sialan itu yang kini sudah bersimpuh menekuk lutut seolah sedang merendah meminta belas kasihan. Matanya terlihat sangat sayur, habis menangis kah? Ah aku tidak terlalu peduli sih dengan itu. Karena air matanya adalah bahagia ku sekarang.


"Akhh." Ringis gadis itu saat ia hendak keluar dari ruangan itu tak sengaja membentur dinding, mungkin karena terlalu terburu-buru karena takut dengan ancaman ku, rasakan.


"Dasar bodoh," Tudingku tersenyum smirk hingga membuat mereka berdua semakin takut saja.


Acara ijab kabul telah selesai, para penghulu juga para saksi bayaranku itu sudah pulang setelah aku berikan uang.


Aku memutar bola mata malas melihat drama ikan asin yang kini sedang eksklusif didepan mataku.


"Maafkan bapak nak," Ucap pria sialan itu menangis dihadapan gadis itu.


Gadis itu hanya menunduk tanpa menjawab perkataan pria yang berstatus sebagai ayahnya itu.


"Bapak sangat jahat, bapak bahkan menyeret kamu nak." Tangis pria itu hingga membuat gadis itu semakin tak berani untuk sekedar mendongak keatas.


Sungguh menyedihkan sekali hingga aku ingin tertawa saat ini.


"Bukan pak, aku ikhlas dan mungkin inilah jalan yang terbaik untuk kita," Ucap gadis bodoh itu dan ia masih mencoba untuk tersenyum? Wah nyalinya kuat juga yah. Dia pikir aku menikahinya mungkin untuk aku jadikan istri yah? Hahaha lucu sekali.


Apa? Jalan terbaik untuk kita? Untuk aku tepatnya karena aku akan leluasa menyiksa juga membuatmu hidup layaknya tahanan juga merasa tak lagi berguna untuk tetap hidup.


Aku sudah merasa jenuh menonton akting mereka itu. Mataku panas melihatnya karena mereka sungguh tak ada bakat.


Dengan cepat aku mengantongi telepon genggam yang sejak tadi aku mainkan. Hari sudah mulai larut dan mereka tak ada habisnya menangis. Apa mereka berpikir aku akan luluh melihat air mata buaya itu? Oh tidak akan.


Dengan pasti aku berdiri dan menarik paksa tangan gadis itu yang tadi berada di genggaman pria sialan itu.


"Tidak usah banyak drama, ikut saya!" Titah ku dengan keras tangannya yang sangat kecil dalam genggaman tanganku.


Dia tidak berontak. Apa mungkin karena takut padaku yah? Semakin bagus jika ia benar-benar takut.


Saat aku tarik ia tak hentinya menatap nanar ayahnya yang juga tak berani untuk menahanku yang sudah menarik paksa putrinya ini. Karena aku yakin ia takut dengan ancaman ku dengan dalih jika ia berani macam macam bukan hanya ia yang hidup sengsara tapi juga putrinya. Padahal dengan ia tak berbuat apa-apa juga aku akan tetap menyiksa gadis sialan ini.


Ia barulah menangis saat sudah beberapa langkah menjauh dari hadapan pria itu. Sejak tadi ia menahannya, wah sedikit menarik juga gadis ini. Padahal kalau dilihat dari usianya ia masih tergolong sangat muda,kutebak ia pasti masih menduduki bangku SMA kelas satu. Ah sudahlah bukan urusanku.


Yang penting sekarang adalah. Aku bisa leluasa membalaskan dendam ku padanya.


Dyva, ingat janji kakak kan? Kakak tidak akan semudah itu merelakan kepergianmu. Jadi kakak akan menepatinya dengan membalaskan dendam atas kepergian mu.


Maafkan kakak yang melakukannya dengan cara kakak sendiri. Karena mereka yang tak mengalami bagaimana rasanya jadi kakak tak akan tau bagaimana rasanya. Kakak seperti seorang yang tak punya tujuan sekarang. Kamu adalah tujuan kakak namun, setelah kamu pergi apa yang akan jadi tujuan kakak lagi?.


Jadi karena hidup kakak memang sudah hancur tak berguna. Tidak salah juga kan kakak mengajak gadis sialan ini untuk hancur bersama.


BERSAMBUNG...


Duhhh astan kok baji*ngan banget sih jadi orang? Kesel aku lama-lama 🤧


Jangan lupa yah vote, like dan komen cerita aku💓


Cinta kalian 💗