
❄selamat membaca❄
Sejak tadi aku mendengar mina membangunkan ku tapi seperti biasa kalau belum mendapatkan jatah pagiku aku tak akan mau bangun bagaimana pun itu.
"Mas bangun,, mandi dulu biar sarapan."kau abaikan begitu saja. Aku hanya butuh Bibirnya saat ini dan aku berjanji akan langsung bangun deh.
Kurasakan kecupan singkat dari bibirnya itu. Hingga aku tak bisa lagi menahan senyumanku.
"Ihhh mas lepasin dulu, mandi sana biar kita sarapan."aku mengabaikan perkataan nya itu dan masih saja menyekapnya.
Cup,
Aku mencium bibirnya lagi dan lagi dengan masih mendekap erat tubuhnya itu.
"Kamu sengaja kan mancing Mas pagi pagi gini,, kamu ngk tau yah kalau bibirmu ini sangat menggoda sekali, membuat seluruh saraf Mas jadi tegang." Aku mengeluarkan lidahku dan menjilat bibirnya sekilas.
"Mandi dulu dong Mas, lagian belum pake baju gitu ngk malu Mas? "Ia memperbaiki posisi selimut yang sempat tersingkap tadi hingga memperlihatkan asetku itu. Untuk apa aku malu pada istriku sendiri.
"Kamu suka kan sayang liat tubuh aku yang tak berpakaian ini?"aku tersenyum smirk sembari menggodanya hingga ia tak tahan lagi berada disana lama-lama.
"Mas mandi yah aku tunggu dimeja makan,jangan lama lama Mas." Aku tertawa tertahan dengan tingkah nya yang sangat pemalu itu.
Akupun memasuki kamar mandi untuk menyelesaikan acara mandiku itu.
Setelah memakai pakaian yang sudah istri cantik ku siapkan aku berjalan pelan menuruni anak tangga berniat mengagetkan mina disana tapi langsung ambyar saat kudengar suara tangisan mina.
Aku langsung berlari memeluknya sembari memukul pelan punggung bergetar itu"Hei,,, kamu kenapa sayang? "
Ia tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk memberitahu ku apa sebenarnya yang membuat ia menangis kejar begini. Aku sungguh khawatir saat ini. Apa ia sakit atau bagaimana?.
18.23pm.
Kami masih diperjalanan menuju kampung mina yang jaraknya lumayan jauh dari kediaman kami saat ini.
Aku sangat kaget dengan berita ini. Aku tak percaya ayahnya mina akan mengakhiri hidupnya seperti itu. Dan lebih parahnya mina tak bisa hadir pada hari pemakamannya karena laki-laki brengsek seperti ku ini.
Kulihat mina hanya diam mematung dengan air mata yang masih saja deras mengalir.
Kalau kalian berpikir aku merasa bahagia dengan kepergian nya? Aku sama sekali tidak merasa bahagia. Aku malah diliputi rasa bersalah yang sangat besar kini, aku sudah mengikhlaskan kepergian dyva dan berniat untuk berdamai tapi takdir berkata lain. Aku sungguh merasa bersalah karena lebih mengikuti nafsuku dengan memperlakukan mereka layaknya bukan manusia. Aku jahat Karena sudah memisahkan mereka berdua. Bagaimana aku akan menebus kesalahanku ini?.
Sudah hampir maghrib barulah kami sampai ke tujuan kami. Saat kami turun ken sudah berdiri disana menunggu kami.
Mina langsung berlari menuju ken dengan tangisan yang pecah dipelukan ken. Aku sebenarnya cemburu tapi aku merasa tak berhak untuk cemburu mengingat perlakuan juga selama ini.
Ken membawa kami menuju kuburan nya meskipun sudah mulai gelap untung saja ken menyiapkan sumber cahaya untuk kami.
Sampai disana mina langsung terduduk menangis didepan makamnya sembari memeluk batuk nisan itu.
Aku sudah tak kuasa menahan rasa bersalah ini. Aku yang sangat bersalah disini. Aku telah membuat seseorang yang sangat berharga bagi istriku pergi.
Aku dengan cepat menghapus air mataku dengan kasar. Aku ingin memutar waktu kembali dan memperbaiki hubungan kami. Tapi sudah tidak bisa.
"Mas juga kaget sekali saat datang kesini warga bercerita kalau bapak mengakhiri hidupnya dirumah, mereka ingin menunggu sampai kamu ditemukan tapi karena tak ada tanda tanda kamu akan datang mereka memilih memakamkan bapak."
Saat mendengar itu hatiku semakin hancur. Akulah yang menjadikan mina layaknya tahanan hingga tak bisa bertemu dengan ayahnya bahkan disaat terakhir nya.
"Maafkan Mas terlambat datang, selama ini Mas sudah berkali-kali datang kesini tapi tak pernah bertemu dengan bapak."
Dulu aku selalu datang kesini hanya untuk menambah luka juga penderitaan untuk nya. Aku dengan tega memberikan ia beberapa foto mina yang tersiksa dan menangis. Betapa bejatnya aku ini.
"Hiks,,, bapak,, maafkan mina pak,,, kenapa bapak pergi,, biarin mina ikut bapak hiks,,, " Mina menangis dengan kencang memeluk batu nisan itu dengan kuat.
"Hei,, kamu kenapa?"Lagi-lagi kucoba untuk memeluknya mencoba memberikan kehangatan padanya. Ia Lagi-lagi menolak dengan kasar dan terus menangis.
"Aku mau Mas pergi sekarang, aku tidak mau melihat Mas lagi hiks,, "
Jantung ku seolah hampir berhenti berdetak saat mendengar itu darinya. Apa yang aku takutkan ternyata nyata. Karena akulah yang salah disini.
"Hei,, sayang kamu kenapa? "Aku berpura-pura tak mengerti dengan yang ia katakan dengan memegang tangannya namun ia dengan kasar menipisnya lagi.
Aku sungguh merasa bersalah dan ingin memperbaiki semuanya namun tidak bisa. Hatiku merasa sakit yang luar biasa kini.
"Hiks,, mas tuli yah? Aku bilang Mas pergi dari sini hiks,, aku benci sama Mas." Ia pikir aku akan percaya dengan perkataan nya saat ia sendiri tak kuasa mengatakan itu.
"Tidak,, kamu sedang berbohong sekarang, kamu tau kan aku tau setiap kamu berbohong kebohongan mu selalu terlihat dengan jelas,kenapa kamu seperti ini? "Kucoba lagi untuk memegang tangannya namun ia tepis lagi.
" Hahaha Mas sudah puas kan? Kita sama sama impas sekarang,bukankah ini yang Mas inginkan? Nyawa dibayar dengan nyawa?aku sudah kehilangan bapak sekarang jadi apa Mas masih perlu menyiksaku?alasan Mas menikahiku adalah untuk pembalasan dendam kan?sekarang nyawa kak dyva sudah terbalas dengan kepergian bapak,jadi bisakah kita berhenti sekarang?"ia tersenyum mengatakan itu?.
Jantung ku benar-benar shock mendengar itu. Air mataku hampir saja terjatuh untung saja aku masih bisa menahannya. Aku tak menyangka ia akan sanggup berkata seperti itu. Aku memang memiliki niat yang salah diawal tapi jujur aku tak pernah meminta ini terjadi dan aku juga ikut terpukul dengan kenyataan ini.
"Sayang,, kenapa kamu begini?aku tau kamu mencintai ku jadi kamu sedang berpura-pura sekarang."kucoba untuk mendekat padanya namun ia mundur untuk menghindari ku.
"Cinta yah Mas? Aku bahkan tak tau apa dan dimana letak cinta yang Mas sebut? Apa kah saat aku sedang bersimpuh dibawah kakimu atau terpaksa menuruti semua perintahMu? Itukah cinta yang Mas maksud,aku tak pernah mencintai Mas asal Mas tau saja."aku tak ingin percaya jikapun itu adalah kenyataan. Aku memang baji*ngan yang tak pantas untuk dicintai.
"Mas tak percaya dengan apa yang kamu maksud,Mas tau kamu mencintai ku setelah apa yang kita lalui, Mas mohon jangan seperti ini."
Sangat jelas sekali kami saling mencintai. Caranya berbicara, tersenyum jelas sekali ia juga mencintaiku. Kenapa ia seperti ini sekarang? Harusnya kami saling menguatkan. Aku tau ia butuh aku sekarang.
"Setelah apa yang kita lalui? Mas pikir aku mau melakukan ini itu bahkan memberikan keperawanan ku untuk Mas adalah karena aku mencintai Mas? Hahahah ternyata Mas bodoh juga yah,Mas tidak tau bagaimana cara untuk bertahan hidup karena Mas belum pernah hidup seperti aku, aku setiap hari hanya berpikir bagaimana cara agar pergi jauh dari hidup mas bahkan dengan cara aku merelakan hal berharga seperti itu hiks,,, jadi aku mohon Mas kita sudahi saja sampai disini, Mas tak akan rugi jika melepaskan aku kan? Karena akulah yang sudah tak berguna disini."
Air mataku langsung mengalir deras saat mendengar itu darinya. Aku sungguh tak menduga ia akan mengatakan itis, aku sungguh ingin ini semua hanya lah mimpi.ini bukanlah akhir dari segalanya kan?.
Ia mencoba pergi namun kukejar lagi dengan memegang bahunya kini"Mina,, lihat mataku, katakan kalau kamu tidak mencintai ku."
Ia menunduk menangis keras. Aku tau ia sedang berdusta sekarang. Aku sungguh tak ingin ini terjadi, aku tidak mau kehilangannya.
"Kenapa kamu menangis? Aku tau kamu sedang berpura-pura sekarang, jadi aku mohon berhenti berpura-pura sekarang, ayo kita pulang kamu sedang kelelahan sehingga tak bisa berpikir jernih." Ia menolak dengan keras saat aku menarik tangannya.
"Mas mengerti kan bahasa manusia? Ahh Mas kan bukan manusia,aku tak mau lagi kembali kerumah itu, rumah yang menjadikan aku sebagai tahanan,rumah dimana aku diperlakukan tidak layak oleh suamiku sendiri eh oleh tuan astan maksudnya, jadi saya harap tuam faham dan tinggalkan saya disini."
Ia langsung berjalan menuju ken yang sejak tadi hanya diam memperhatikan kami berdua.
"Saya rasa anda mengerti dengan ucapan mina tadi, silahkan pergi, saya tau ini bukan urusan saya tapi anda juga pasti tau kalau saat ini mina benar benar tak ingin melihat anda."
Laki-laki sialan, kenapa ikut campur. Aku tidak akan menyerah untuk mina aku tak ingin kehilangan dia.
"Bawa aku pulang kerumah Mas." Aku tak percaya dengan apa yang ku lihat ini.
Air mataku jatuh dengan deras namun dengan cepat kutepis.
"Baiklah,, mungkin hari ini kamu sedang kelelahan,kita bicara nanti saja, Mas pergi sayang."
Aku berjalan pergi. Mungkin ia hanya lelah hari ini kalau kepaksa juga tak akan bisa membawa ia ikut.
Kenapa hari ini harus ada dalam hidupku?
BERSAMBUNG...
Jangan lupa yah like, komen dan vote❤