Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)

Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)
52.kehidupan kelam mu(S2)


❄selamat membaca❄


    Setelah ia menangis dengan keras dan memakan waktu sangat lama kami hanya diam saja. Aku masih tidak bisa berpikir jernih saat ini. Kenapa dengan nya sebenarnya? Ia terlihat begitu takut seolah ia benar-benar akan dilecehkan olehku saja. Aku ini suaminya.


Ia menunduk dengan keadaan menyedihkan itu. Masih mengenakan branya saja. Aku mendekat kearahnya memakaikan kemejaku yang sudah rusak kancing itu saat kupaksa buka tadi.


Aku memberikan ia segelas air putih agar ia sedikit lebih tenang. Karena ku lihat tangannya masih saja gemetar ketakutan.


"Jelaskan!"aku membuka pembicaraan. Karena aku sungguh merasakan kalau ia benar-benar sedang menyembunyikan sesuatu dariku.


"Jelaskan semuanya."kuulangi lagi karena ia tak menjawab sama sekali perkataan ku tadi.


"Eugh,, itu tuan tadi saya dengan mas ken hanya mengucapkan salam perpisahan, dia memeluk saya sebagai adik saja." Aku tidak meminta penjelasan untuk yang itu, dia pikir aku cemburu apa? Cih.


Aku bergeser mendekat kearahnya dan memutar bahunya hingga kini ia sudah menghadap wajahku.


"Bukan itu maksud saya,jelaskan kenapa kamu seperti itu tadi?apa sesuatu pernah terjadi padamu? "Ia langsung terlihat bingung dan panik.


"Jelaskan sekarang juga." Aku tak akan berhenti meminta penjelasan sebelum ia benar-benar akan bercerita.


Ia pun menarik nafas dalam-dalam, terlihat sekali sirat kesedihan diwajahnya saat sedang memulai pembicaraan mengenai kejadian yang pernah ia alami itu.


"Saat disekolah dulu saya adalah target bully-an semua orang disekolah, sejak saya masuk sekolah hingga saya berhenti sekolah saya tidak pernah bisa tenang disana, saya dipukuli, dihina dan juga pernah hampir ditelanjangi oleh mereka."


Aku kaget sekali mendengar itu darinya. Ternyata ia sudah merasakan bagaimana kelamnya hidup sejak dahulu, dan aku juga tidak pernah memperlakukan ia selayaknya disini.


"Saya sudah mencoba melupakan semua itu tuan,, dan saya hampir berhasil namun waktu itu tuan tidak pulang sampai larut sekali dan saya mendapat panggilan dari teman kantor tuan melalui telepon rumah, katanya tuan mabuk dan tak bisa pulang, saya dan pak umar pergi menjemput tuan, namun ditengah jalan saya minta diturunkan oleh pak umar karena pak umar lupa mengunci pagar rumah,saya tidak tau kalau kota ini sangat menyeramkan hingga saya hampir dilecehkan oleh tiga preman hiks,, saya,, hiks,, saya diseret diaspal hingga punggung saya luka dan mereka hampir saja mencium dan membuka baju saya, untung saja pak umar datang dengan cepat hingga saya tidak sampai diapa apakan oleh mereka." Air matanya tiada hentinya mengalir deras dengan sesak didadanya yang kian bertambah.


Aku benar-benar kaget mendengar ceritanya itu. Jadi luka parah nya itu bukanlah sebab jatuh dari tangga? Pantas saja parah begitu, kenapa hidupnya begitu sial sih? Dan aku juga tidak pernah mempedulikan bagaimana perasaannya selama ini.


"Saya tidak takut ataupun menolak jika tuan ingin melakukan itu, tapi hiks,, saat melihat wajah marah tuan tadi saya tiba tiba teringat dengan semua perlakuan mereka, saya tau kewajiban saya sebagai istri tuan, saya sudah mencoba meyakinkan diri kalau saat ini yang dihadapan ku adalah tuan tapi lagi lagi saya merasa takut,, hiks,, sa,, "


Aku memang laki-laki kurangajar yang sangat kejam. Aku memperlakukan ia layaknya tahanan, pembantu dan bahkan memperlakukan ia layaknya ja*lang yang bisa ku perlakuan semauku.


" Cukup,, tidak usah diteruskan."ku dekap erat tubuh rapuh penuh luka dan kenangan suram itu. Bagaimana bisa aku tidak tau kesedihannya selama ini dan aku bahkan menambah luka untuknya disetiap saat.


Ia kembali menangis dalam pelukan ku. Ia pasti merasakan sakit yang luar biasa naik fisik maupun batinnya.


"Hiks,, saya takut tuan. Maafkan saya hiks, " Kenapa ia malah minta maaf.


"Kenapa kamu minta maaf? Saya yang seharusnya meminta maaf padamu. Maafkan saya sudah membuatmu ketakutan tadi." Aku melepaskan pelukan kami dan memandangi wajahnya yang sangat hancur itu. Penuh dengan kesedihan dan luka.


Ku dekat kan wajah kamu perlahan, sedikit demi sedikit hingga kini bibirku bisa bersentuhan dengan bibinya.


Ia hanya diam saat aku mencium bibirnya menyalurkan kekuatan dengan melu*matnya lembut hingga kini ia mulai menutup matanya menikmati setiap pagu*tanku pada bibir manisnya itu.


Ia mengalungkan tangannya di leherku dan ku tuntun agar ia ikut membalas ciuman ku itu meskipun masih terasa kaku ia sudah mulai bisa melakukan nya.


Kujatuhkan tubuh kami keatas ranjang dengan ia kini berada dibawah tindihan ku yang bertelanjang dada ini.


Kami masih saja melakukan ciuman lembut dan nikmat itu hingg6ia mulai kehabisan nafas dan aku melepaskan tautan bibir kami menyisakan salivaku dibibirnya itu.


Kujilat bibirnya dengan lembut dan aku kembali mengu*lum bibirnya yg sangat candu untuk ku itu.


Ia tak menolak perlakuan ku itu dan ia hanya pasrah saja saat aku mulai turun mencium lekuk putih lehernya itu. Namun kulihat ia menggigit bibir menahan desahan saat aku tak sengaja menyentuh dadanya yang kenyal itu.


Melihat ia menggigit bibir seperti itu aku tak tahan untuk tidak mencumbunya.


Kudaratkan kembali ciuman hangat dan lembut dengan satu kul*uman besar dan hisapan terakhir.


Setelah itu aku menyudahinya sebelum aku benar-benar lepas kendali menghilangkan mahkota berharga miliknya itu.


"Lupakan semua itu dan beristirahatlah." Kupeluk ia diatas ranjang ku sembari menutup tubuh kami dengan selimut.


"Tuan, apa tuan tidak keberatan saya tidur disini? Saya tidur dibawah saja." Ia berniat bangkit namun kutahan dan segera memeluk tubuhnya dengan erat hingga ia tak bisa bergerak lagi.


"Tidurlah," Ucapku mengelus surai hitamnya itu dengan lembut.


Ia terasa sangat kaku saat aku suruh untuk tidur dikasur denganku. Ia pasti bingung kenapa aku sebenarnya dan aku juga merasa bingung dengan diriku sendiri.


"Tuan tidak keberatan jika saya tidur disini? " Ia lagi-lagi bertanya padaku.


Aku sungguh bingung harus berkata apa sekarang? Aku sendiri bingung kenapa aku menahannya untuk pergi? Apa aku benar-benar sudah jatuh cinta pada mina?.


"Tuan,, saya tidak apa, saya tidur dibawah saja." Ia kembali ingin bangkit.


"Berani turun kamu saya cium sampai pagi. " Ia langsung diam dipelukanku sembari menutup matanya dengan paksa.


Aku menahan senyum melihat ia yang percaya dengan ancaman ku itu. Siapa yang akan tahan berciuman sampai pagi? Siapapun itu pasti butuh istirahat untuk bertahan hidup.


Apa aku benar-benar jatuh cinta pada mina yang sangat ingin kubenci ini?.


BERSAMBUNG...


jangan lupa yah like, komen dan vote ❤