
❄selamat membaca❄
Aku terbangun karena mendengar suara ketukan dari tadi. Aku sempat tertidur hanya karena merasa kesal dengan mereka berdua yang terlihat sangat serasi saat melakukan sesi pemotretan tadi.
Aku berjalan pelan menuju pintu, pasti gadis gila itu yang sejak tadi tak hentinya menggedor pintu ruang pribadiku. Tidak sabaran sekali sih, semakin berani yah karena bertemu dengan laki-laki itu.
"Kenapa? Sudah puas yah? " Aku langsung terdiam saat kulihat bukan mina yang saat ini datang tetapi itu adalah miska.
Ia terlihat bingung dengan apa yang aku katakan "Hah? Kamu kenapa? Puas apa sih? "
"Aah itu ngkpp, ada apa? " Tanya ku dengan wajah acuh tak acuh.
"Niky, ia sudah datang. Kamu ngk mau ngasih masukan gitu? Aku udah lelah ngurus dia."
"Baiklah kamu duluan saja nanti aku nyusul." Kututup pintu dengan pelan lalu berjalan kekamar mandi untuk membersihkan diriku lebih dahulu karena sempat tertidur tadi.
Setelah Merasa rapi aku langsung berjalan menuju ruangan Pendisiplinan karena miska juga niky sudah berada disana.
Aku menutup pintu dengan pelan setelah masuk dan disambut dengan tundukkan oleh niky. Ku lihat ia sangat panik dan takut melihat kearahku hingga ia hanya memilih untuk menunduk saja.
"Bagaimana? Kenapa hanya menunduk begitu? Bukankah kamu tadi mengatakan kalau kamu sudah tidak peduli? " Miska memulai pembicaraan dengan penuh emosional.
Niky hanya diam saja saat miska berkata begitu.
"Kenapa diam saja? Saat hanya kita berdua saja mulutmu tak bisa diam dan terus saja melawan ucapanku."
"Sudahlah miska." Aku menahan miska yang hendak menyembur niky lagi.
"Saya permisi kalau sudah tidak ada lagi yang akan kita bahas. " Aku bangkit berdiri padahal belum lama duduk tadi hingga miska sendiri kebingungan.
"Astan kamu kenapa sih? Melarangku untuk berbicara tapi kamu tidak melakukan apapun untuk membuat dia sadar." Miska terlihat kesal.
"Sudahlah kalau sudah tidak ada yg mau dibahas saya permisi. Sangat lelah hari ini."
Tiba-tiba saja kurasakan tangan niky memegang tanganku dengan penuh getar"Hiks,, maafkan saya pak, maafkan saya karena mengecewakan bapak lagi."ia meneteskan air mata.
Aku berbalik kearahnya dengan pelan dan melepaskan perlahan tangannya "Kamu tidak pernah mengecewakan saya, saya tidak merasa dirugikan sama sekali dengan segala tingkah kamu. Kalau merasa bersalah tolong minta maaflah pada dirimu sendiri karena selama ini yang berjuang hingga sampai pada titik ini adalah kamu sendiri. Saya hanya berperan sebagai pendukung saja, kalau tidak mau didukung saya bisa apa? "
Ia terlihat semakin menangis saat aku mengatakan itu padanya.
"Pikirkan baik-baik, banyak orang di luar sana yang menginginkan tempat mu. Keberuntungan tidak selalu berulang." Kutinggalkan mereka berdua disana.
23.56pm.
Aku masih saja duduk dimobil tepat dilobi. Memang aku sengaja menyuruh pak umar tadi untuk melakukan reservasi kamar hotel untuk aku dan mina juga ken yang merupakan model kami saat ini hingga totalnya ada 3 kamar.
Karena kami masih saja melakukan sebuah pertemuan tadi untuk merencanakan bagaimana hasil pemotretan tadi. Hingga kini aku sungguh merasa lelah tanpa sebab.
Gadis bodoh itu pasti sudah tertidur dikamar. Ia sangat mudah tertidur bahkan dijalan pun ia pasti akan merasa nyenyak.
Aku dengan enggan berjalan menaiki lift dan mencari kamar yang sudah dipesan oleh pak umar.
Kubuka pintu dengan pelan takut ia akan terbangun Nanti, selain mudah tertidur ia juga mudah terbangun.
Namun, aku malah dikagetkan dengan ia yang saat ini berdiri didepan pintu dengan penampilan yang sangat tidak ingin kulihat saat ini. Hanya mengenakan tank top saja dan celananya yang diatas lutut itu juga wajah yang sayu tanpa sebab.
"Sedang apa kamu bodoh?" Aku langsung masuk dan mengalihkan pandangan ku dari tubuhnya itu. Aku sedang lelah hari ini, dan saat aku lelah aku memilih kebiasaan suka hilang kendali.
"Aaa suamiku datang yeayyy." Ia tiba-tiba memelukku erat sekali hingga dadanya itu bergesekan dengan dadaku juga.
"Ada apa dengan gadis bodoh ini? Lepas bodoh!" Aku menghempas tubuhnya itu ke lantai dan berjalan ketempat tidur.
Ia malah menangis dilantai seperti seorang anak kecil yang tidak diijinkan masuk rumah oleh orang tuanya.
"Cepat kemari." Ia langsung menurut dengan centilnya ia menaiki tempat tidur dan duduk diatas kasur sembari menatap kearahku dengan wajah yang menggoda. Apa aku salah lihat yah ia tadi sedang menggigit bibirnya seksi.
"Ada apa dengan mu? Kenapa hanya memakai tank top begitu?mau menggoda saya yah? " Aku sungguh dibuat tercengang dengan penampilannya malam ini. Apalagi saat ini tempat ini adalah hotel banyak setan yang menjerumuskan.
"Aku juga ingin berbisik bisik dengan mas astan, kenapa aku tidak bisa dan mbak miska bisa? "Ia mendekat kearahku sembari berbisik mengatakan itu. Wahh aku takut benar-benar akan lepas kendali malam ini.
"Kenapa dengan mu gadis bodoh? "
Ia tak menjawab pertanyaan ku dan malah mendekat kearahku sembari menempel nempel kearahku.
"Aku juga ingin dekat dengan mas astan,ingin menggandeng tangan mas,memeluk dan berbicara santai,hiks,, kenapa dia bisa aku yang istri mas tidak bisa."
Entah kenapa saat mendengar itu aku merasa sedikit senang hingga tak sadar aku menyunggingkan senyum.
"Apa mas astan tak sedikitpun tertarik padaku?apa karena tubuh mbak miska lebih seksi dibanding aku? Aku juga seksi kok." Telihat ia benar-benar sangat kesal sekarang.
Aku mencium bau alkohol dari mulut mina, kulihat sekeliling ada beberapa kaleng bir yg berserakan dimana-mana.
"Dasar gadis bodoh,dia pasti mengira itu adalah minuman biasa." Kepolosannya sudah tidak tertolong lagi.
"Sudahlah gadis bodoh, kamu tidur saja jangan banyak bicara." Kubantu ia untuk berbaring ditempat tidur dan mencoba menarik selimut untuk menutupi tubuhnya itu.
Siapa duga mina akan mampu melakukan hal-hal seperti ini. Ia menolak untuk aku suruh tidur dan malah beralih naik Kepangkuan ku.
"Apa aku tidak menarik yah mas?" Tiba-tiba saja ia bertanya seperti itu. Ahh bisa gila aku lama-lama.
"Kenapa setiap mas astan menciummu aku merasa sesuatu yang aneh dalam diriku?aku senang saat mas menciumku." Senang? Terus kenapa ia selalu menangis saat aku menciumnya?.
"Apa gadis bodoh ini jatuh cinta kepada ku? " Atau malah sebaliknya yah?.
"Aku pernah membacanya di internet, kalau kita merasa jantung kita berdetak kencang saat dekat dengan orang itu kita sedang jatuh cinta dengan orang itu, apa aku juga jatuh cinta sama mas? Saat ini jantung ku berdetak sangat kencang."
Aku terlonjak kaget saat ia tiba-tiba menempelkan dadanya itu tepat didada bidangku.
"Gadis bodoh ini tidak tau apa kalau aku adalah laki laki normal?" Kudorong tubuh gadis bodoh itu agar sedikit lebih jauh agar aku tidak lepas kendali nantinya.
Namun, malam ini ia sudah sangat keterlaluan keras kepalanya itu. Ia tetap saja melakukan hal yang sama menempelkan dadanya yang berisi itu didadaku sembari tersenyum menggoda.
"Mas bisa rasakan detakan jantung aku kan?"
Aku lagi-lagi mendorongnya jauh karena aku benar-benar hampir kalap sekarang.
"bodoh! Kamu kira tubuhku tidak akan ereksi karena kamu tempelkan begitu saja payu*dara mu didadaku? "Aku merasa mulai panas di sekujur tubuhku. Bisa gawat ini kalau sampai aku benar-benar lepas kendali.
" Mas benar benar tidak merasakan apa apa? "Ia masih melakukan hal yang sama.
" Baiklah gadis bodoh, jangan salahkan aku."
Aku menarik tengkuknya dengan cepat dan langsung kudaratkan ciuman penuh nafsu dibibirnya yang sangat candu bagiku itu.
Sungguh malam ini mina sangat berbeda dengan mina yang biasa kulihat. Ia juga membalas ciumanku meskipun masih terasa kaku namun sensasinya bukan main nikmatnya. Jujur bercumbu berdua lebih nikmat dibanding sendiri atau sepihak.
Kami masih sama-sama melakukan interaksi bercumbu berdua saling hisap-menghisap, dan aku juga memasukkan lidahku ke rongga mulutnya.
Ia terlihat sedikit bersemangat tapi tidak sebanding dengan nafsuku yang sudah mulai membuncah ini.
Mina mulai kehabisan nafas dan dengan terpaksa kulepaskan bibir kenikmatan itu.
Ia langsung meraup sebanyak-banyaknya udara yang mungkin bisa ia raup.
Dan dengan cepat ku dorong tubuhnya hingga ia jatuh kedalam tindihanku.
Ia mengalungkan tangannya di leher. Kemudian dengan penuh nafsu kucium bibirnya dengan penuh perasaan. Ahh sungguh nikmat sekali rasanya apalagi ia juga membalasnya.
Aku mulai turun menciumi lehernya dan sesekali menghisap menyisakan tanda merah disana hingga ia sedikit mendesah membuat aku mulai hilang akal.
Aku ingin lebih dan lebih lagi apalagi saat mendengar suara desahan seksinya itu.
Aku kembali mencium bibirnya dan tanganku mulai tidak bisa lagi untuk kukendalikan.
Kumasukkan tanganku memasuki tank topnya dan aku langsung kaget saat kupegang sesuatu yang kenyal dan juga lembut ditanganku.
"Aku tak tau kalau ini sebesar ini." Aku tersenyum saat gunung kembar yang sering menyembul dihadapan ku itu kini sudah ada dalam genggamanku. Tak terasa yah itunya sangat besar.
"Akhh," Ia mendesah nikmat saat Kurenai dan kutekan gunung itu hingga aku benar-benar sulit tuk mengendalikan diriku.
"Tahan dirimu astan." Aku sudah mulai kehabisan tenaga untuk mengendalikan diriku.
Mina memeluk tubuhku dengan erat hingga aku benar-benar sudah tahan lagi.
"Akhh Hampir gila aku." Aku mendorong tubuhnya dengan keras dan langsung menutupi tubuhnya yang hampir kutelanjangi itu.
"Dasar gadis sialan ini,aku bersumpah kalau dia begini lagi tak akan aku lepaskan, dia pikir menahan diri itu mudah? "
Aku dengan kesal menutup pintu kamar mandi.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa yah like, komen dan vote 😅❤