
...Soundtrack//become each other's tears-hyolin sistar//...
...Apa aku memang tidak memiliki hak untuk bahagia?....
...-mina-...
Aku telah selesai mandi dan membersihkan rumah juga memasak untuk mas Astan.Mas Astan masih terlelap dikasur, katanya dia mau libur hari ini.
Sultan mah bebas yekan!!.
"Mas bangun,, mandi dulu biar sarapan." Aku menyentuh pelan pundak mas Astan.
Mas Astan sama sekali tak mau bergerak dari posisinya saat ini.
Akhir akhir ini mas Astan sedikit susah untuk dibangunkan ah tepatnya sih memang selalu susah.
Aku mendekat mencium bibir mas Astan pelan.
Lihatlah si mesum ini, giliran dicium saja langsung bangun.
"Ihhh mas lepasin dulu, mandi saja biar kita sarapan." Mas Astan masih saja mendekapku erat.
Cup,,,
Mas Astan mencium bibirku lagi dan lagi dan terakhir dengan hisapan lembut.
"Kamu sengaja kan mancing Mas pagi pagi gini,, kamu ngk tau yah kalau bibirmu ini sangat menggoda sekali, membuat seluruh saraf Mas jadi tegang." Mas Astan mengeluarkan lidahnya menjilati bibirku.
Aku mencoba bangkit namun Mas Astan tahan.
"Mandi dulu dong Mas, lagian belum pake baju gitu ngk malu Mas? " Aku menutup tubuh Mas Astan yang tersingkap selimut tadi.
Mas Astan malah tersenyum smirk"Kamu suka kan sayang liat tubuh aku yang tak berpakaian ini?"Mas Astan.
Ya ampun tak habis habis kemesuman Mas Astan ini.
"Mas mandi yah aku tunggu dimeja makan,jangan lama lama Mas." Aku berjalan keluar dari kamar dan sekilas aku mendengar kikikan dari Mas Astan.
Hatiku masih saja sama berdebarnya saat berada didekat Mas Astan.
Semua kebahagiaan ini serasa mimpi dan tak pantas untuk orang seperti ku.
Namun aku ingin egois dan bahagia juga.
Walaupun tak tau sampai kapan kebahagiaan ini akan bisa aku rasakan.
Aku duduk dikursi menunggu Mas Astan datang.
Tiba-tiba hapeku berdering dan menampakkan nama Mas Ken di layar.
Ada apa yah kira kira karena sudah sejak lama kami tak berhubungan lagi karena Mas Ken sangat sibuk.
Aku sangat terkejut mendengar pemberitahuan Mas Ken itu hingga hape yang aku genggam jatuh ke lantai.
Begitu juga dengan tubuhku yang melemas tak berdaya dengan genangan air mata yang menganak sungai dipelupuk mataku.
Rasanya sakit dan menyesakkan aku tak bisa berpikir jernih lagi sekarang.
Tolong katakan kalau aku salah dengar.
Tolong katakan kalau aku sedang tidur dan bermimpi saat ini.
Aku tak percaya dan tak mau percaya dengan apa yang aku kenal.
Tak mungkin.
Tidak mungkin.
Bapak tak mungkin,,,,,.
"Hikss,,,, bapak,,, hiks,, " Aku menangis sekeras yang aku bisa dilantai dingin itu.
Aku memukul dadaku yang sangat menyesakkan itu, sudah lama sekali aku tak merasakan kesakitan ini.
Apakah aku memang tak berhak untuk merasakan kebahagiaan dalam hidup ini?.
Kenapa aku selalu diberikan hal hal menyedihkan selama aku hidup?.
"Hiks,,, " Aku terus menangis tak tau harus apa sekarang.
"Hei,,, kamu kenapa sayang? " Mas Astan memeluk ku dengan erat dan memukul punggung ku dengan pelan.
Aku terus menangis tanpa kata untuk menjelaskan kenapa aku bisa menangis kepada Mas Astan.
Air mataku mewakili kata yang tak bisa aku utarakan.
Rasanya sungguh menyiksa.
Setelah menempuh perjalanan yang jauh sore hampir maghrib lah baru kami sampai di kampung ku.
Setelah aku memberitahu Mas Astan tentang apa yang menimpa bapak Mas Astan langsung membawaku pulang untuk melihat kebenarannya.
Aku tak tau kenapa Mas Astan mau saja datang kesini, padahal Mas Astan sangat membenci bapak.
Aku tak percaya kalau saat ini yang ada dihadapan ku adalah makam bapak.
Bahkan dihari terakhirnya aku tak bisa melihat wajah damainya itu.
Aku langsung bersimpuh duduk memeluk batuk nisan bertuliskan nama bapak sembari menangis sekeras yang aku bisa.
Aku tak punya siapa siapa lagi di dunia ini.
Rasanya sungguh menyakitkan saat keluarga kita satu satunya pergi meninggalkan kita sendiri didunia yang kejam ini.
Apa sesakit ini yang Mas Astan rasakan selama ini? Pantas saja kebencian Mas Astan tak terkendali dulu.
Aku menangis sekeras yang aku bisa.
Mas Astan dan Mas Ken diam memberikan ruang untuk aku meluapkan segala rasa sakit yang aku rasakan.
"Mas juga kaget sekali saat datang kesini warga bercerita kalau bapak mengakhiri hidupnya dirumah, mereka ingin menunggu sampai kamu ditemukan tapi karena tak ada tanda tanda kamu akan datang mereka memilih memakamkan bapak." Mas Ken menjelaskan.
Kenapa harus bapak yang mengalami ini semua? Kenapa bukan aku saja yang begini.
Aku yang selalu memberi luka kepada bapak, aku yang membuat bapak kehilangan wanita yang sangat ia cintai yaitu ibu dan sekarang aku yang membuat bapak kehilangan nyawanya sendiri.
Kenapa aku malah berbahagia disana dengan Mas Astan tanpa tau bapak yang menderita disini.
"Maafkan Mas terlambat datang, selama ini Mas sudah berkali-kali datang kesini tapi tak pernah bertemu dengan bapak." Mas Ken.
Aku terus menangis membayangkan betapa menderita nya bapak sendirian disini dan akhirnya memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
"Hiks,,, bapak,, maafkan mina pak,,, kenapa bapak pergi,, biarin mina ikut bapak hiks,,, " Aku memeluk lebih erat batu nisan itu.
Mas Astan datang kesamping ku dan memeluk ku namun aku menolaknya.
"Hei,, kamu kenapa?" Heran mas Astan.
Aku sudah tak pantas mendapat kehangatan pelukan itu, aku tak pantas dicintai, disayangi apalagi diperhatikan.
Mas Astan pasti kesakitan selama ini, aku baru menyadari dan merasakan bagaimana rasanya kita sendiri di dunia ini tanpa keluarga dan juga orang yang kita sayangi.
Mas Astan selama ini merasakan rasa sakit ini.
Aku menangis sekeras mungkin didepan makam bapak dengan perasaan yang tak berdaya lagi.
Mas Astan lagi lagi ingin memberikan aku pelukan tapi aku mendorong tubuh Mas Astan dengan keras.
"Aku mau Mas pergi sekarang, aku tidak mau melihat Mas lagi hiks,, " Aku menagis setelah mengatakan itu.
Aku sebenarnya butuh Mas Astan, aku butuh pelukannya aku butuh kekuatan dari Mas Astan.
Tapi rasanya tak pantas.
Mas Astan terlihat kaget mendengar ucapan ku itu.
"Hei,, sayang kamu kenapa? " Mas Astan memegang tangan ku namun aku menghempaskan nya dengan keras.
"Hiks,, mas tuli yah? Aku bilang Mas pergi dari sini hiks,, aku benci sama Mas." Aku semakin menangis hebat.
Mas Astan menggeleng"Tidak,, kamu sedang berbohong sekarang, kamu tau kan aku tau setiap kamu berbohong kebohongan mu selalu terlihat dengan jelas,kenapa kamu seperti ini? "Mas Astan masih saja ingin memegang tangan ku.
Aku tersenyum seolah olah itu lucu padahal hatiku sangat sakit saat ini" Hahaha Mas sudah puas kan? Kita sama sama impas sekarang,bukankah ini yang Mas inginkan? Nyawa dibayar dengan nyawa?aku sudah kehilangan bapak sekarang jadi apa Mas masih perlu menyiksaku?alasan Mas menikahiku adalah untuk pembalasan dendam kan?sekarang nyawa kak dyva sudah terbalas dengan kepergian bapak,jadi bisakah kita berhenti sekarang?"Aku tak tau kenapa aku mengeluarkan kata kata kasar itu.
Itu bukanlah sesuatu yang hatiku inginkan.
Mas Astan terlihat kaget dengan ucapanku, mata mas Astan memerah menahan air mata, bibirnya bergetar tak menyangka aku bisa berkata seperti itu.
"Sayang,, kenapa kamu begini?aku tau kamu mencintai ku jadi kamu sedang berpura-pura sekarang." Mas Astan mencoba mendekat namun aku mundur.
Aku lagi lagi tertawa palsu"cinta yah mas? Aku bahkan tak tau apa dan dimana letak cinta yang Mas sebut? Apa kah saat aku sedang bersimpuh dibawah kakimu atau terpaksa menuruti semua perintahMu? Itukah cinta yang Mas maksud,aku tak pernah mencintai Mas asal Mas tau saja."aku semakin menangis setelah mengatakan itu.
Aku mencintaimu mas sangat dan sangat asal kamu tau saja, aku tak ingin kehilangan mu, aku terluka setelah berkata seperti itu.
Mas Astan menggeleng"Mas tak percaya dengan apa yang kamu maksud,Mas tau kamu mencintai ku setelah apa yang kita lalui, Mas mohon jangan seperti ini."Mas Astan lagi lagi ingin mendekati ku.
Aku tersenyum getir"Setelah apa yang kita lalui? Mas pikir aku mau melakukan ini itu bahkan memberikan keperawanan ku untuk Mas adalah karena aku mencintai Mas? Hahahah ternyata Mas bodoh juga yah,Mas tidak tau bagaimana cara untuk bertahan hidup karena Mas belum pernah hidup seperti aku, aku setiap hari hanya berpikir bagaimana cara agar pergi jauh dari hidup mas bahkan dengan cara aku merelakan hal berharga seperti itu hiks,,, jadi aku mohon Mas kita sudahi saja sampai disini, Mas tak akan rugi jika melepaskan aku kan? Karena akulah yang sudah tak berguna disini."aku berjalan pergi.
Air mataku tak bisa lagi aku tahan, langkahku terseok seok tak berdaya.
Mas Astan mengejarku dan berdiri tepat dihadapan ku.
Ia memegang bahuku dengan pelan"Mina,, lihat mataku, katakan kalau kamu tidak mencintai ku."Mas Astan.
Aku mana sanggup melakukan itu.
Aku tak akan sanggup melihat mata penuh duka itu, pasti sangat sakit mendengar kata kata itu dari mulutku ini.
"Hiks,,, " Aku malah menangis melihat kearah lain.
Ayolah Mina akhiri ini sekarang juga.
Jangan lagi menambah penderitaan kepada orang lain, karena kamu tak akan tau apa lagi yang akan terjadi kepada orang yang dekat dengan mu, lebih baik pergi dan menjauh saja.
"Kenapa kamu menangis? Aku tau kamu sedang berpura-pura sekarang, jadi aku mohon berhenti berpura-pura sekarang, ayo kita pulang kamu sedang kelelahan sehingga tak bisa berpikir jernih." Mas Astan menarik ranganku.
Aku melepaskan tanganku dengan susah payah"Mas mengerti kan bahasa manusia? Ahh Mas kan bukan manusia,aku tak mau lagi kembali kerumah itu, rumah yang menjadikan aku sebagai tahanan,rumah dimana aku diperlakukan tidak layak oleh suamiku sendiri eh oleh tuan astan maksudnya, jadi saya harap tuam faham dan tinggalkan saya disini."
Aku lagi lagi merasakan sakit dalam ulu hatiku.
"Saya rasa anda mengerti dengan ucapan mina tadi, silahkan pergi, saya tau ini bukan urusan saya tapi anda juga pasti tau kalau saat ini mina benar benar tak ingin melihat anda." Mas Ken tiba tiba ikut berpartisipasi dengan pergulatan ini.
Aku menarik tangan mas Ken "Bawa aku pulang kerumah Mas." Aku dengan erat menggenggam tangan mas Ken.
Aku melihat tatapan tak percaya dari mas Astan.
Air matanya berhasil lolos dalam pandangan ku namun dengan cepat Mas Astan menghapusnya"Baiklah,, mungkin hari ini kamu sedang kelelahan,kita bicara nanti saja, Mas pergi sayang."Mas Astan berjalan pelan sembari menunduk.
Aku langsung terjatuh ditanah tak sanggup melihat Mas Astan yang terlihat kecewa itu.
Aku sungguh wanita jahat.
Tak pantas mendapat cinta dan mencintai Mas Astan.
Jadi sebelum semuanya semakin dalam lebih baik aku akhiri dari sekarang.
...//bersambung//...
...🔷🔷🔷🔷...
Du du du aku nangis pas ngetik ini🤧🤧🤧🤧
Kenapa nyesek gini sih? Dulu kesel banget liat si astan tapi sekarang pen banget meluk dia, kasiannn.
Roda berputar gaess.
🔷🔷jangan lupa like and komen yah cuyung 🔷🔷
♦♦jangan lupa follow amun aku juga yah say♦♦
Laffyouall❤cinta kalyan 🖤