Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)

Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)
28.Dasar..(S2)


❄selamat membaca❄


Aku duduk diatas kasur setelah selesai mengenakan pakaian ku. Hari ini aku tidak masuk kantor karena miska yang akan mengurus nya hari ini.


Aku berbaring sebentar dan memainkan hapeku karena merasa bosan, apa ia melakukan pekerjaan dengan baik yah?.


"Awas saja kalau ia mengacaukan cat nya, " Gumamku kembali memainkan hape yang saat ini ada didalam genggaman ku.


Entah kenapa aku menyuruhnya untuk men-chat gudang belakang. Bingung harus menyusahkan anak itu dengan cara apa, karena apa pun yang ku perintahkan selalu ia kerjakan tanpa menolak. Kalau ia tidak menolak tak ada alasan untuk aku menghukumnya.


Mataku tertuju pada kantong belanjaan yang berada di dekat lemari. Bukankah sudah ia bereskan semalam yah? Kenapa bisa berada disana?.


Aku bangkit dari ranjang untuk mengambil kantong itu dan kembali duduk.


"Hah? Peralatan tulis? Kenapa bisa ada disini?." Aku sedikit heran kenapa bisa ada peralatan tulis seperti ini disini? Belum lagi warnanya sungguh heboh sekali. Warna pink?.


"Ah, kenapa bisa aku lupa? " Aku menepuk pelan jidatku.


Aku merutuki kebodohan ku yang entah setan apa yang merasuki ku hingga meraih benda ini dan memasukkan nya kedalam keranjang? Gila kamu Astan.


"Mini! " Panggil ku dengan suara lantang agar ia bisa mendengar nya karena kamar ini tidak terlalu jauh dari gudang belakang.


Ia masih tak kunjung datang juga bahkan sudah berkali-kali ku panggil. Dasar tuli.


Terpaksa aku turun kebawah dan memanggilnya dari halaman depan.


"Mini! " Setelah itu aku berjalan cepat menuju kamar karena kulihat ia mulai berjalan kemari.


Aku duduk diatas kasur berlagak sok keren yang aku sendiri tidak tau dengan alasan apa aku harus bersikap seperti itu.


Ia membuka pintu kamar dengan pelan dan berjalan pelan kearahku.


"Ada apa tuan? " Ia bertanya dengan pelan dan nadanya sopan sekali. Pasti takut aku marahi.


Aku tidak merubah air wajahku barang sedikitpun. Masih stay cool dan tidak lupa dengan bersedekap dada seolah sedang menghakimi saja.


"Ini kamu yang masukkan kedalam keranjang saat belanja semalam? "Tanyaku seolah olah aku memang tidak tau kenapa bisa peralatan tulis itu bisa ada dirumah ini.


Ia terlihat heran dan berpikir namun ada raut kepanikan diwajahnya itu. Tidak lupa dengan tangannya yang meremas bajunya yang penuh dengan chat dinding itu. Kenapa ia terlihat menggemaskan saat ini? Kamu mikir apa sih astan?.


"Ti,, tidak tuan, mana berani saya,"ucapnya sedikit gagap.


Memang benar sih, ia tak akan berani mengambil ini karena kuperhatikan ia hanya melihat nya saja namun aku yang bodohnya tidak bisa ditebak malah memasukkan benda ini kedalam keranjang. Jangan bilang kamu sedang kasihan astan? Jangan sampai.


Aku berjalan dengan pelan menuju kearahnya yang terlihat panik itu. Kenapa panik kalau bukan kita pelakunya? Suka sekali sih panik begitu.


"Jadi menurutmu siapa lagi kalau bukan kamu? Tidak mungkin saya membeli peralatan bocah seperti ini, melihat warnanya saja sudah membuat saya tidak nyaman."


Namun, kenyataan nya adalah aku yang memasukkan peralatan ini ke dalam keranjang. Untung saja hanya aku yang menyadari kebodohan ini. Dan ini sungguh memalukan sekali.


"Saya sungguh tidak tau tuan," Ucapnya membela diri.


"Yang memegang keranjang selama belanja adalah kamu,tidak mungkin juga orang lain datang khusus memasukkan itu kedalam keranjang, lagian seingat saya kamu juga semalam mendekati tempat alat tulis ini," Ucapku mematahkan kepercayaan nya dengan fakta yang kulihat semalam. Aku akan malu jika ia tau kalau akulah yang memasukkan ini kedalam keranjang.


Ia langsung semakin panik saja karena perkataan ku. Kalau bukan dia kenapa takut begitu? Aneh sekali sih.


"Maafkan saya tuan,saya mungkin tidak sadar memasukkan itu tuan," Ucapnya takut.


Dasar gadis bodoh memang, kenapa mengaku melakukan hal yang bukan ia lakukan? Apa dia sebodoh itu yah? Kan bisa saja ia mengelak kalau memang benar bukan ia pelakunya. Kenapa malah berkata seperti itu. Dasar otak kayu.


"Ooh jadi sekarang kamu beralasan tidak sengaja untuk mendapatkan peralatan ini? Hebat juga yah tak tik mu."entah kenapa menggodanya sedikit menyenangkan. Apalagi hari ini aku sedang bosan. Bermain-main sedikit juga tidak salah kan.


Ia sedikit panik karena ucapan ku barusan" Maafkan saya tua."ia menunduk dan terlihat merasa sangat bersalah. Padahal kan bukan dia pelakunya.


"Baiklah lain kali jangan ulangi, kalau kamu segitu inginnya kepada sesuatu barang itu, jangan berpikiran licik seperti itu,tidak baik."


Hanya aku yang tau hal memalukan ini. Bagaimana bisa aku menasehati nya padahal akulah yang melakukannya. Dasar memalukan sekali kamu astan.


"Baik tuan,, maafkan saya."ia menunduk faham.


"Ambillah,daripada sayang dibuang,saya tidak membutuhkan benda ini." Aku mengarahkan peralatan itu kearahnya.


"Apa tidak apa apa tuan?saya tidak punya uang untuk menebusnya."ia langsung tertunduk kecut setelah bersemangat tadi. Kenapa dia?.


"Yasudah kalau tidak mau,saya buang saja." Aku berlagak seolah ingin membuangnya.


Namun ia dengan panik bergerak menuju kearahku"Jangan tuan,,bi,, " Ia mencoba meraih kotak itu namun ku hindari hingga ia oleng dan menimpa tubuhku diatas ranjang.


Tunggu!! Kenapa pipiku terasa basah? Aku melirik sekilas ternyata ia sedang mencium pipiku? Wahhh lancang sekali dia.


Aku terpaku karena melihat wajahnya sedekat ini. Apa dia secantik ini yah?.


"Maafkan saya tuan!!"ia langsung bangkit dengan buru-buru dan panik.


"Wahh kamu tidak mau mendengarkan saya yah?berapa kali saya bilang agar kamu berhenti menggoda saya,modus mu terlalu jelas."aku langsung berargumen sesuka ku. Aku sebenarnya masih kaget dengan ciumannya di pipiku tadi.


Ia juga terlihat sangat grogi saat ini. Ia menatap kearah lain sembari meremas ujung bajunya.


"Kenapa menatap kearah lain?bukankah kamu menginginkan ini? Ayo lanjutkan misi menggodamu,selagi ada kesempatan begini," Ucapku dengan bodohnya menarik ia mendekat dan mendekatkan wajah kami.


Bodoh kamu astan bodoh.


"Maaf tuan,, saya tidak bermaksud,saya hanya terjatuh tadi, maafkan saya sudah membuat tuan merasa tidak nyaman,"ucapnya terlihat semakin takut saja.


" Minggir,, sadar tidak bajumu itu kotor sekali,masih saja berani menempel nempel ke saya."


Kalian boleh berkata kalau aku sudah gila. Aku sendiri bingung dengan diriku sendiri.


"Maaf,, tuan,,sa"


"Cepat kembali bekerja,awas saja kalau sampai gudang itu tidak selesai kamu cat,kamu akan habis."


Tak kubiarkan ia menyelesaikan ucapannya karena aku ingin ia pergi dengan cepat dari hadapan ku. Sungguh canggung sekali.


Kamu bukan Abg baru kasmaran astan. Kenapa begitu canggung hanya karena ciuman dipipi saja. Ayolah.


BERSAMBUNG...


Jangan lupa dukungannya yah.