Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)

Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)
kehangatan


...Soundtrack//i love you boy-suzy(miss A) //...


...Bisakah kamu membuatku merasakan nyaman?...


...-mina-...


Aku memegang erat sabuk pengaman yang ada ditanganku.


Setelah mendengar bentakan mas Astan aku tidak ada hentinya gemetar takut.


Sudah lama mas Astan tidak se mengerikan ini,apa yang membuat mas Astan tiba tiba semarah itu?.


Padahal tadi ia masih berbincang dengan mbak Miska, apa ada masalah di kantor?.


Aku melirik takut kearah mas Astan dan aku semakin merasa takut saja saat melihat sorotan matanya yang berapi-api itu, penuh dengan amarah seakan ingin menghancurkan segala sesuatu yang ada dihadapannya.


Aku sungguh ketakutan!!!.


Mobil mas Astan hentikan tepat didepan gerbang mengabaikan pak Umar yang membungkuk untuknya.


Dan dengan kasar mas Astan membuka pintu mobil lalu menarik tanganku dengan keras hingga terasa sangat sakit.


Aku menurut dan mencoba menahan rasa sakit ditanganku itu,kalau aku protes yang ada mas Astan akan semakin marah dan bisa membunuhku kapan saja.


Mas Astan membuka pintu kamar dan melemparkan aku ketempat tidur dengan kasar.


Walaupun kasur mas Astan empuk dan juga besar tak menutup kemungkinan aku bisa merasakan sakit saat dilempar ke kasur itu.


Mas Astan mengunci pintu dengan cepat dan berbalik sembari menatap ku dengan wajah menyeramkan miliknya.


Ini lebih menyeramkan dari seluruh wajah yang pernah ia tunjukkan padaku.


Tolong katakan dimana salahku? Sudah jelas saat ini mas Astan sedang marah padaku.


Ia membuang jas nya ke lantai dengan kasar dan juga membuka kemejanya dengan satu tarikan hingga kancingnya bertebaran dimana mana.


Mau apa mas Astan?.


Kenapa tiba tiba aku teringat kembali dengan wajah wajah preman yang ingin memerkosa ku dulu?.


Saat ini wajah mas Astan ber-ekspresi sama dengan mereka.


Aku perlahan mundur takut saat mas Astan sudah menaiki tempat tidur.


"Tu,, tuan mau apa?" Aku gemetar takut sekali.


Tangan mas Astan berhasil meraih kakiku dan dengan pasti ia menarik tubuhku hingga sangat dekat dengan tubuhnya.


Aku gemetar takut, bagaimana kalau mas Astan akan melakukan itu padaku? Aku belum siap.


Kenapa wajah mas Astan seperti itu?kenapa ia terlihat sama dengan wajah preman preman itu.


Tamparan mereka lagi lagi terngiang di kepalaku, dan saat mereka berusaha membuka bajuku juga ikut terbayang diotakku.


"Kenapa kamu takut dengan suamimu sendiri? " Mas Astan memegang tanganku.


Aku melepaskan tangan mas Astan dengan paksa, aku takut sekali.


Mas Astan tertawa dengan wajah menakutkan itu"Apa yang barusan kamu lakukan?saya hanya memegang tanganmu saja loh,kamu sudah menolak tapi kenapa laki laki lain memelukmu kamu tidak protes?apa kamu se murahan itu?bagaimana kalau kita tes apakah yang dibawah masih disegel atau sudah kendur karena kamu jajankan."mas Astan berbicara dengan bahasa yang aku tidak mengerti.


Apa yang disegel? Apa yang kendur? Kenapa berbicara seperti itu disaat saat menegangkan ini?.


Aku perlahan mundur lagi,aku takut sekali saat ini.


Mas Astan menarik tubuhku hingga berada di pangkuannya" Kamu tidak ingat posisi ini?dasar gadis murahan."mas Astan mencium bibirku dengan penuh nafsu.


Ia menjilati bibirku dan menghisap nya dengan keras.


Kenapa aku sangat takut dan merasa sakit sekarang?setiap mas Astan melakukan ini padaku aku tidak pernah keberatan, tapi kenapa kali ini aku merasa kalau ia sedang melecehkan aku?.


Air mataku jatuh deras,bukan karena bibir mas Astan yang tidak berperasaan itu, tapi aku merasakan sangat sakit sekali di ulu hatiku.


Kenapa ia kasar begini?kenapa tidak dengan cara yang lembut saja.


Cara dia menatapku begitu merendahkan.


Aku terus menangis saat mas Astan turun ke leherku menciumnya dan menghisap nya dengan keras.


Aku menahan eranganku, sungguh menyakitkan sekali.


"Kenapa menangis begitu?apa kamu tidak suka yah?ooh jadi kamu hanya mau disentuh oleh orang yang bukan suamimu?kamu hanya mau disentuh oleh laki laki lain? " Mas Astan berbicara apa sih?.


"Masih saya cium saja kamu sudah menangis begitu, dan saat laki laki lain memelukmu kamu tersenyum senang,coba pikirkan seberapa rendahnya dirimu itu." Mas Astan masih ingin mencium bibirku namun aku menghindar.


Aku tak mau diperlakukan seperti ini,kenapa mas Astan terlihat sama dengan mereka, mereka yang tak berperasaan itu.


Mas Astan semakin marah karena aku menghindari ciumannya.


"Hiks,,, " Aku menangis keras saat mas Astan dengan sekali robekan telah merobek bajuku.


Aku semakin gemetar saja saat mas Astan juga telah merobek tank top yang saat ini aku kenakan hingga hanya menyisakan bra berwarna hitam yang saat ini aku pakai.


Aku menyilangkan tanganku di dadaku, kenapa ia memperlakukan aku seperti ini?.


Aku menangis mencoba lari dari mas Astan namun lagi lagi ia berhasil menarik aku kedalam Kungkungan nya.


"Hiks,,, ampun tuan hiks,,, lepaskan saya,, hiks,, ampun,, jangan lakukan itu hiks,,, tolong,,, " Aku memeluk diriku sendiri mengingat semua kejadian dimana mereka ingin melecehkan aku.


Saat sekolah dulu aku juga pernah diperlakukan tidak layak dan juga pernah beberapa preman ingin memerkosa ku dan yang lebih membuatku merasa sakit adalah suamiku sendiri memperlakukan aku seperti mereka memperlakukan aku.


"Hiks,,,to,, tolong." Aku semakin gemetar takut dan sangat ketakutan.


Mas Astan terdiam memperhatikan aku yang sangat aneh dalam pandangan nya.


"Kenapa kamu? " Tanya mas Astan mencoba memegang tanganku.


Aku mundur dengan perlahan dengan gemetar yang semakin menjadi jadi.


"Hiks,, jahgan,, jangan lakukan itu,, tolong,, jangan." Aku semakin takut saja.


"Hei,, ada apa dengan mu? " Mas Astan merasa heran.


"Tolong,, hiks,, jangan lecehkan aku,, hiks,, aku mohon." Aku memeluk diriku semakin erat.


Aku merasakan pelukan hangat dari tubuh setengah telanjang mas Astan.


Aku mencoba berontak karena takut.


"Sst,, maafkan aku, maafkan aku, tenanglah,, maafkan aku." Mas Astan berbicara lembut dan mengelus punggung ku yang juga hampir telanjang itu dan hanya tersisa bra ku saja.


Aku langsung memeluk tubuh mas Astan dengan erat dan menangis sekeras yang aku bisa.


Aku ingin melupakan semua masa lalu kelam ku itu, aku tak mau terus terusan mengingat semua kejadian yang membuatku hampir gila itu.


"Hiks,,,, aku takut,,, hikss." Aku menangis memeluk mas Astan.


Mas astan mengelus pelan punggung dan rambutku.


"Sst,, tenanglah,, maafkan saya sudah membuat kamu takut."mas Astan dengan lembut.


Tangisan ku semakin keras saja mendengar kata kata maaf dari mas Astan, kenapa hatiku semakin sakit saja?.


Setelah aku tenang mas Astan memakaikan aku kemejanya yang sudah rusak kancing itu.


Dia juga memberiku air putih agar aku lebih tenang lagi.


"Jelaskan" Mas Astan tiba tiba berbicara.


Aku bingung apa yang harus aku jelaskan?,ooh apa mas Astan semarah tadi hanya karena aku berpelukan dengan mas Ken? Rasanya tidak mungkin sekali.


"Jelaskan semuanya." Mas Astan lagi lagi meminta penjelasan.


"Eugh,, itu tuan tadi saya dengan mas Ken hanya mengucapkan salam perpisahan, dia memeluk saya sebagai adik saja," Jelasku.


Mas Astan menarik bahuku agar menghadap kearahnya "Bukan itu maksud saya,jelaskan kenapa kamu seperti itu tadi?apa sesuatu pernah terjadi padamu? " Tanya mas Astan tiba tiba.


Apa aku harus menceritakan itu semua?bagaimana kalau mas Astan malah semakin marah karena aku pernah keluar tanpa izinnya.


"Jelaskan sekarang juga." Mas Astan semakin terlihat tidak sabaran.


Aku menarik nafas dalam dalam"Saat disekolah dulu saya adalah target bully-an semua orang disekolah, sejak saya masuk sekolah hingga saya berhenti sekolah saya tidak pernah bisa tenang disana, saya dipukuli, dihina dan juga pernah hampir ditelanjangi oleh mereka. "aku bercerita sambil memegangi dadaku yang sesak air mataku juga aku tahan.


Mas Astan tak bergeming dan hanya mendengar kan dalam diam.


"Saya sudah mencoba melupakan semua itu tuan,, dan saya hampir berhasil namun waktu itu tuan tidak pulang sampai larut sekali dan saya mendapat panggilan dari teman kantor tuan melalui telepon rumah, katanya tuan mabuk dan tak bisa pulang, saya dan pak umar pergi menjemput tuan, namun ditengah jalan saya minta diturunkan oleh pak umar karena pak umar lupa mengunci pagar rumah,saya tidak tau kalau kota ini sangat menyeramkan hingga saya hampir dilecehkan oleh tiga preman hiks,, saya,, hiks,, saya diseret diaspal hingga punggung saya luka dan mereka hampir saja mencium dan membuka baju saya, untung saja pak Umar datang dengan cepat hingga saya tidak sampai diapa apakan oleh mereka" Aku menghapus air mataku dengan cepat.


Mas Astan menatap lekat ke arahku.


"Saya tidak takut ataupun menolak jika tuan ingin melakukan itu, tapi hiks,, saat melihat wajah marah tuan tadi saya tiba tiba teringat dengan semua perlakuan mereka, saya tau kewajiban saya sebagai istri tuan, saya sudah mencoba meyakinkan diri kalau saat ini yang dihadapan ku adalah tuan tapi lagi lagi saya merasa takut,, hiks,, sa,, "aku tak bisa lagi melanjutkan kata kataku karena air mataku sudah lebih dulu keluar dengan deras.


" Cukup,, tidak usah diteruskan."mas Astan menarik tubuhku lebih dekat lagi dan mendekapku dengan erat.


Tubuh setengah telanjang mas Astan sangat hangat hingga membuatku nyaman.


Mas Astan menarik wajah ku menghadap ke wajahnya.


Ia menatap lekat mataku.


Cup,,


Ia mencium bibirku dengan sangat lembut.


Kenapa dengan ciuman ini?kenapa terasa sangat lembut dan juga membuat aku tenang dan perlahan melupakan semua ingatan pahit itu.


Mas Astan kenapa mendadak seperti ini?.


Aku takut akan semakin jatuh kepadanya.


Aku tak pantas mendapat cintanya begitu juga dengan mencintainya.


...//bersambung//...


...🔷🔷🔷🔷...


Huuu aku merasakan kesedihan mu mina😌


🔷🔷jangan lupa vote and komen yah guys 🔷🔷


♦♦jangan lupa follow akun aku juga♦♦


Laffyouall buanyak buanyakk ❤.