Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)

Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)
resah


...Soundtrack//your moonlight-chen (EXO) //...


...Biarkan kami bahagia....


...-mina-...


      Usia kehamilanku sudah memasuki umur 8 bulan lamanya.Aku tak pernah membayangkan kalau aku akan dikaruniai malaikat kecil di usiaku ini, aku bahagia tentunya apalagi saat ini mas Astan sangat menyayangi ku tanpa kurang.


Tapi lagi lagi setiap ada kebahagiaan akan ada kesedihan bukan?.


Aku senang bisa memberikan mas Astan keturunan tapi aku takut kalau aku tak akan bisa melihat buah hatiku lahir nantinya.


Karena sejak mengandung kondisi tubuhku semakin hari semakin mengkhawatirkan,aku mengalami anemia yang sangat parah bahkan sampai sampai sangat dokter menyarankan agar aku jangan dulu hamil diusia ini.


Tapi siapalah seorang ibu yang akan rela kehilangan anaknya bahkan belum lahir sekalipun.


Awalnya aku sangat yakin kalau aku akan bisa bertahan dan kuat dan memilih mempertahankan kandungan ku ini.


Tapi akhir akhir ini rasa takut kian menghantui ku mengingat kondisiku yang semakin memburuk ini.


Untuk duduk saja aku sudah mulai kesusahan,wajahku selalu pucat pasi.


Mas Astan awalnya sangat tidak menyetujui kalau aku memilih mempertahankan kandungan ku ini,aku tau bukan karena ia tak mengiginkan anak ini hanya saja ia takut akan kehilangan aku.


Aku juga berpikiran sama dengan nya, aku takut meninggalkan mereka, aku sangat ingin bahagia bersama mereka.


Tapi aku sudah merasa harapan itu sangat tipis saat ini.


Aku tak hentinya berdoa kepada Tuhan agar aku diberi kesempatan bahagia bersama mereka, mendengar tangisan anakku dan tersenyum bersama dalam waktu yang sangat lama.


Aku sungguh ingin tetap hidup tapi aku lebih menginginkan anakku lahir dengan selamat.


"Kenapa sayang? " Mas Astan duduk ditepi ranjang menghapus air mataku.


Aku bergeser pelan mendekati mas Astan dengan susah payah.


Mas Astan yang melihat aku kesusahan dalam bergerak pun berinisiatif datang mendekat dan ikut berbaring seperti ku.


"Kenapa menangis lagi?kamu tak pernah berhenti menangis,mas kan jadi khawatir,apa ada yang sakit? " Mas Astan memeluk tubuh lemahku meskipun sedikit kesusahan karena perutku yang dulunya rata kini sudah buncit.


Aku menggeleng"Tidak ada yang sakit mas, aku hanya bahagia karena diberikan kesempatan menjadi seorang ibu meskipun aku tidak tau hiks,, apa aku akan diberi kesempatan untuk mendengar suara tangisan nya nanti."air mataku sudah tak bisa aku tahan lagi.


Tangisku pecah membayangkan anak ku lahir tanpa seorang ibu.


Aku sudah tau rasanya kehilangan seorang ibu jadi aku tidak ingin anak ku merasakan itu.


Mas Astan mendesah berat, lagi lagi aku menangkap raut wajah tak suka dari mas Astan.


"Kamu kenapa lagi sih sayang?siapa bilang kalau kamu ngk akan bisa denger suara tangis Malaikat kita?kamu pasti bisa karena kamu ibunya." Mas Astan menghapus air mataku dengan lembut.


Aku menggeleng "Aku takut mas hiks,,, aku takut." Aku mengeratkan pelukanku pada mas Astan.


Mas Astan pun ikut mengeratkan pelukannya "Mas tau kamu wanita hebat, kamu pasti kuat dan bertahan,kita harus sama sama membesarkan anak kita, aku tidak mau sendirian aku mau kita sama-sama ada buat dia." Mas Astan.


Tangisku makin pecah, aku sangat dan sangat mau mas.Tapi bagaimana kalau Tuhan berkehendak lain, apalagi dengan kondisiku yang sangat parah ini.


Aku sudah bersusah payah mengikuti semua aturan dokter agar aku bisa sembuh Tapi tetap saja kondisi ku tak berubah.


"Sudahlah kita jangan lagi bahas ini, kamu pasti bisa sembuh sayang." Mas Astan mengecup pelan pucuk kepalaku.


Aku tak bisa berhenti menangis dan malah makin mengeraskan tangisanku.


"Mas,, aku mau ngomong sesuatu sama mas tapi mas janji harus mau." Aku.


Mas Astan menatap wajahku dengan seksama.


Aku menarik nafas dalam dalam namun sebenarnya aku tidak sanggup mengatakannya kepada mas Astan.


Sebelum bibirku berucap hatiku sudah lebih dulu sakit.


Mas Astan masih terdiam menunggu apa yang akan aku katakan.


"Ngomong aja sayang." Mas Astan mengelus rambutku.


"Nanti kalau tiba tiba sikecil udah lahir mas, terus aku,, hiks,, aku udah lebih dulu pergi, mas mau kan nikah lagi?" Aku menangis lepas setelah menanyakan itu.


"Ngomong apa sih kamu?berapa kali mas bilang ngk bakal ada yang pergi, kita ditakdirkan bersama jadi kamu pasti bakal selamat begitu juga buah hati kita, mas ngk suka kalau kamu bahas ini lagi." Mas Astan terlihat seperti ingin menangis.


Aku juga maunya gitu.


Tapi kembali lagi bagaimana jika Tuhan tidak mengizinkan kebersamaan kami bertahan lama?.


"Mas,, aku mohon dengerin aku dulu kali ini,aku benar benar udah ngk tau lagi mau gimana sekarang?tubuhku semakin hari semakin lemah saja, aku hanya takut kalau setelah aku pergi mas kesepian dan anak kita juga butuh sosok ibu mas." Aku mencoba menahan air mataku.


Namun tetap sama derasnya.


Mas Astan meneteskan air matanya dihadapanku.


Aku semakin rapuh saja melihatnya.


"Dengar mas juga,kamu tidak akan pergi kemana-mana,aku jamin kamu pasti akan selamat,aku ngk mau dengar itu lagi dari kamu, berhenti berbicara tentang kepergian dan semacamnya atau aku akan marah." Mas Astan menghapus air matanya dengan kasar.


Aku tak kuasa menahan tangis lagi.


Kenapa semua ini harus terjadi padaku?.


Aku ingin bahagia.


Aku ingin melihat anak ku lahir dan tersenyum dengan mereka.


Aku tak mau pergi.


Mas Astan memeluk ku dengan erat.


"Tenanglah sayang,kita bisa melewati ini." Mas Astan mengelus punggung ku dengan lembut.


"Maafkan mas tadi kalau mas terlalu keras saat berbicara, kamu mungkin kaget." Mas Astan.


Astan sendiri sudah susah payah menahan tangis.


Bohong namanya kalau ia tak khawatir.


Ia sama khawatirnya dengan Mina, tapi ia hanya mencoba meyakinkan diri kalau semua akan baik baik saja.


Walaupun hatinya menangis pilu melihat Mina yang dari hari ke hari semakin terlihat memburuk.


Ia juga sudah berusaha sebaik mungkin menjaga dan merawat Mina dengan benar.


Ia serahkan semua kepada yang maha Kuasa.


Ia hanya mencoba yakin kalau mereka akan berbahagia bersama.


Tidak akan ada yang pergi ataupun ditinggalkan.


"Berilah kami kekuatan ya Allah,berikan kami kebersamaan yang panjang,aku sungguh ingin bahagia dengan istri dan anakku." Astan membatin.


Mencium pucuk kepala Mina yang masih sesegukan dalam dekapannya.


Tak ada hari tanpa air mata dalam hari hari mereka akhir akhir ini.


Mina sudah mulai pasrah namun Astan tak mau Mina pasrah.


...//bersambung//...


...🔷🔷🔷🔷...


Huuu🤧🤧🤧🤧


Aku kasian gaes liat mereka berdua.


Jadi gini gaes,aku baru aja pelajarin kalau perempuan itu tidak baik hamil diumur 20 tahun kebawah karena bisa membahayakan si ibu dan bayi, namun tidak semua sih begitu.


Semoga kita tidak mengalaminya yah🤧.


🔷🔷jangan lupa like and komen yah cuyung 🔷🔷


♦♦jangan lupa follow akun aku juga♦♦


Laffyouall❤cinta kalyan 🖤