
❄selamat membaca❄
Aku merasa sangat kelelahan hari ini karena harus meng-handle seluruh pekerjaan kantor. Miska yang menjabat sekretaris ku tidak bisa hadir hari ini karena ada urusan dan jadilah aku yang harus turun tangan pada bagian bagian tertentu.
Pak umar datang menjemput tadi dan kini ia sedang memarkirkan mobil sedang aku berjalan pelan menuju rumah. Ingin beristirahat saja sekarang.
Saat hendak memasuki rumah aku langsung disuguhi pemandangan wajah gadis sialan itu. Langsung saja moodku hilang seketika.
Aku berjalan pelan menuju pintu yang dimana sudah berdiri ia tepat disebelahnya. Tangannya terulur kearahku. Ada apa sih? Sedangkan apa gadis bodoh ini?.
"Kenapa? " Tanyaku bingung karena ia tiba-tiba mengulurkan tangannya kearah tas ku.
"Be,,begini tuan,biar saya saja yang membawakan tas tuan,"ucapnya takut-takut. Untuk apa dia membawakan tas ku?.
Aku tersenyum smirk kearahnya. Meremehkan apapun niat tersembunyi dibalik sikapnya ini"Dasar ja*Lang,kamu pikir saya akan luluh jika kamu bertingkah seperti ini? Berhenti menggoda saya dengan bertindak bodoh seperti itu."aku mendorong tangannya dan berjalan melewati nya.
Belum juga beberapa langkah ia lagi-lagi berbicara seolah ia memang harus membawa tas ku"Maaf tuan,saya tidak bermaksud lain.Tolong biarkan saya membawa tas tuan,"ucapnya dengan wajah menunduk.
Aku berbalik dan berjalan kembali kearahnya dengan penuh pertanyaan dalam benakku "Kenapa kamu bersikeras sekali untuk membawa tas saya?Ingin mencuri yah?Sayangnya tak ada uang tunai didalam tas ini,hanya ada berkas,jadi tidak usah bersikeras membawa tas saya, berhenti mengganggu."Aku merasa sangat jengkel sekarang. Aku lelah dan ada lagi gadis bodoh ini yang terus saja membuatku pusing karena sikap bodohnya.
Aku berjalan menjauh darinya mencoba menaiki tangga"Bu,, bukan begitu tuan,,sa,"ucapannya tidak dapat ia teruskan karena sudah aku lemparkan tas itu tepat dihadapannya.
Aku tak peduli untuk apa ia sangat bersikeras membawakan tasku, aku hanya ingin mandi sekarang. Sungguh gerah sekali.
"Ambillah,pusing saya melihat tingkah bodohmu itu,jangan berpikir saya akan terharu melihatmu bersikeras ingin membawa tas saya,jangan bermimpi,cepat siapkan air untuk saya mandi."Aku langsung memasuki kamar meninggalkan ia yang masih saja berdiri disana.
Setelah selesai mandi aku kembali dihadapkan dengan laptop ku. Apalagi kalau bukan urusan kantor. Mungkin malam ini aku harus begadang untuk menyelesaikan ini semua.
Aku pun dengan cekatan mengerjakan satu persatu hal yang harus ku urus itu. Ada beberapa file yang sudah selesai.
Tiba-tiba gadis bodoh itu masuk dengan pelan ia berjalan menghampiri ku.
"Tuan,, saatnya makan,saya sudah siapkan makanan diatas meja,"Ujarnya masih berdiri disampingku. Dasar pengganggu. Berapa kali aku katakan kalau aku tidak akan pernah mau menyentuh makanan dari hasil tangannya itu. Masih saja bersikeras begitu. Mengundang emosi saja.
Aku melirik kearahnya dengan ketua memperlihatkan kalau saat ini aku sedang tidak ingin diganggu.Setelah itu aku kembali mengerjakan tugasku itu tanpa memperdulikan ia mengerti atau tidak. Kalau tidak mengerti berarti dia memang gadis bodoh.
Setelah berdiri sedikit lama ia keluar kamar dan masuk kembali membawa nampan berisi makanan juga minuman yang ia tata diatasnya.
"Ini makanannya tuan, silahkan dimakan,"ujarnya meletakkan nampan itu tepat diatas nakas disampingku.
Lihatlah! Bagaimana aku tidak emosi melihatnya? Sudah jelas aku sedang tidak ingin diganggu sekarang, aku sedang sibuk kenapa ia sangat menjengkelkan sih?.
Aku dengan keras mendorong nampan itu hingga jatuh ke lantai dengan segala sesuatu yang ada diatasnya termasuk makan, minuman juga tempatnya yang terbuat dari kaca itu pecah dan hancur berkeping-keping.
"Dasar sialan,apa saya menyuruh kamu membawa makanan kesini?lancang sekali kamu. Kenapa kamu sangat keras kepala?Berhenti cari perhatian kepada saya,atau kamu akan melihat bagaimana aslinya saya.Bersyukurlah saya masih lemah lembut terhadapmu,"Ucapku dengan suara lantang bukti bahwa saat ini aku memang sedang emosi karena tingkahnya yang terus saja membuatku jengkel.
Ia terlonjak kaget dan hampir saja oleng namun ia bisa stabil kembali.
Aku tidak peduli mau bagaimana caranya untuk membersihkan kamar ini, penuh dengan pecahan beling. Aku kembali duduk dan melanjutkan pekerjaan ku yang tertunda karena gadis kamvret itu. Sedang ia berjongkok mencoba memungut satu persatu kekacauan itu.
Namun mataku tiba-tiba menangkap kalung yang bertengger di leher gadis itu. Kenapa kalung itu terlihat seperti milik Dyva yah?.
Aku turun dari ranjang dan mendekat kearah gadis itu dengan satu tarikan aku paksa ia untuk berdiri.
"Sa,,saya, membersihkan rumah tuan,mencuci dan juga memasak,"ucapnya takut dan sedikit menunduk.
"Apa kamu memasuki kamar dyva?"tanyaku dengan tegas.
Dia terdiam, dasar gadis kurang ajar. Setelah ketahuan sudah tidak berani bicara lagi.
"JAWAB!"semakin keras ku bentak dia dan tidak lupa dengan kutekan keras pipinya hingga ia sedikit meringis. Sudah berapa kali ku peringatkan ia untuk berhati-hati padaku tapi tetap saja ia masih bertingkah seolah ia tidak takut padaku.
Dengan penuh ketakutan ia mengangguk pelan""I,,iya tuan,saya masuk dan berniat membersihkan kamar kak dyva,"ucapnya pelan.
"Kurang ajar!! lancang sekali kamu."Dengan keras aku lemparkan ia ke lantai yang penuh dengan pecahan kaca itu.Biarkan saja ia terluka bahkan mati sekalian, kenapa dia begitu lancang sih? Selalu saja memiliki cara agar aku emosi saat melihat dia.
"Maafkan saya tuan,saya tak berniat lain,saya tidak tau kalau tuan tidak suka kalau saya masuk ke kamar itu,maafkan saya tuan,saya pikir tidak Masalah Karena tuan tak pernah menyebutkan larangan seperti itu,"ucapnya pelan seolah sedang membela diri. Memang aku tidak pernah menyebutkan itu. Tapi setidaknya ia tau diri untuk tidak berlaku lancang seperti itu.
Aku tersenyum seolah ia sungguh benar"Ohhh,sedang beralasan yah,baiklah saya tak akan menyalahkan kamu karena sudah memasuki kamar adik saya,tapi bagaimana kamu akan menjelaskan ini?"Aku memegang kalung yang saat ini sedang menggantung dilehernya hingga ia langsung panik.
"Ti,,tidak tuan,bukan seperti yang tuan pikirkan,saya hanya merasa kalau kalung ini sangat cantik jadi saya mencobanya kemudian saya lupa melepaskannya kembali,maafkan saya tuan saya tidak bermaksud."ia langsung menjelaskan dengan kata-kata yang membuatku semakin geram. Kalaupun sekedar mencoba apakah ia mempunyai hakim untuk itu? Berani sekali dia.
Aku tersenyum semakin mengerikan kearahnya hingga ia semakin takut""lancang sekali kamu sekalipun itu hanya sekedar mencoba,sudah lupa yah apa yang diperbuat oleh pria sialan yang berstatus ayahmu itu terhadap adik saya?Dan sekarang kamu bertingkah seolah tak sengaja memakai barang adik saya,ingin menguasainya yah?Baiklah tapi sebelum itu kamu akan mati terlebih dahulu."Aku membuka ikat pinggang ku dengan kasar.
"Selama ini saya hanya memberikan ancaman kepadamu kan?Dan kamu pasti menganggap itu sebuah lelucon,kamu bertingkah seolah tak takut sama sekali,baiklah saatnya memperlihatkan secara nyata kepadamu agar kamu tau bagaimana saya yang sebenarnya saat sedang marah."dengan penuh emosi aku menggulung seperempat ikat pinggang yang ada ditanganku saat ini.
Aku berjalan pelan kearahnya lagi dan dengan satu tarikan aku berhasil mengambil kembali kalung berharga adikku itu. Tak peduli bahkan kulit lehernya terluka. Ini balasan untuk kelancangan nya.
Aku meletakkan kalung itu di nakas kemudian berjalan lagi kearahnya dan dengan mudahnya aku mendorongnya hingga jatuh tengkurap.
Sebut saja aku manusia tanpa hati, sebut saja aku manusia tanpa peri kemanusiaan. Karena dendam dan kemarahan sudah enggak
Mendominasi diriku.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Empat cambukan sudah aku daratkan di punggung kecilnya itu tidak lupa dengan iringan ringisan dari bibirnya. Aku tidak merasa kasihan sama sekali malahan aku ingin mencambuk nya sebanyak yang aku mau.
Bugh.
"Lima cambukan saja tak akan membuat saya merasa lega karena perbuatan keluarga hinamu itu,saya tak akan pernah bisa memaafkan kepergian adik saya"ucapku sedikit lirih karena mengingat Dyva adikku yang kini sudah pergi untuk selamanya.
Kalau bukan karena kepergian nya aku tak akan seperti ini.
BERSAMBUNG...
duhhh kasian minat yah. Udah kedua kalinya ngetik ini tetep aja aku kasian.
Jangan lupa dukungan nya yah vote, like dan komen