
❄Selamat membaca❄
Ia masih terus memeluk erat tubuhku dengan erat dan bahkan lebih erat dari yang tadi. Seolah ia sedang menyalurkan rasa rindunya itu yang sudah membendung tinggi. Ia tak hentinya menangis keras dalam pelukan ku itu hingga membuat rasa bersalah dalam diriku terus bertambah seiring suara tangisannya yang menggema dalam pendengaran ku.
"Maafkan mas sayang."aku menahan air mataku agar tidak jatuh, aku tak ingin Mina akan semakin menangis saat aku juga ikut menangis. Kami harus bersyukur dengan keajaiban ini.
Ia dengan cepat menggeleng"Mas tidak salah hiks,,, Terima kasih sudah kembali mas."Tangisnya melepaskan pelukan nya di tubuh ku.
Aku mendekat kan tanganku dan mengusap air matanya itu dengan pelan.
"Maafkan mas karena baru kembali sekarang sayang,, mas,, " Banyak yang ingin ku jelaskan. Banyak yang ingin kuceritakan tapi entah kenapa bibirku kaku untuk mengungkapkan semua itu.
Saat ini aku hanya ingin memandangi wajahnya saja, aku sungguh sangat senang dengan wajahmu yang kini sudah benar-benar berada dihadapan ku.
"Kalau mas masih belum sanggup untuk menceritakan itu aku bisa nunggu mas, karena mas pasti sudah menderita selama ini hiks,,, Terima kasih sudah mau bertahan dan kembali pulang." Ia mendekat kearahku dan menangis sembari membelai wajahku dengan air mata yang terus saja meluncur jatuh.
"Kalian yang menderita sayang,pasti mata ini sering menangis karena mas kan."ku usap lagi wajahnya yang mengalir air mata itu.
"Mas mandi dulu yah setelah itu istirahat, pasti mas,, hiks,, mas kelelahan kan, hiks,, kenapa mas bisa sekurus ini hiks,? " Ia begitu sedih saat melihat tubuhku yang semakin kurus itu padahal ia sendiri sangat kurusan saat ini.
Ia menahan air matanya dan mulai membuka satu persatu kancing baju kemejaku itu dengan sesekali sesegukan karena kebanyakan menangis tadi.
Saat kemejaku sudah ia lepas ia langsung kaget melihat banyak sekali bekas luka ditubuh ku itu. Dan matanya berhenti kearah bekas luka yg berukuran besar di lenganku itu.
Tangis nya langsung pecah saat melihat itu, aku tau pasti reaksinya akan seperti itu. Makanya aku memilih memakai kemeja lengan panjang agar ia tak bisa melihat nya tadi. Tapi aku tak akan bisa menyimpan itu karena ia pasti akan melihat nya.
Dengan air mata yang terus saja mengalir ia mengusap bekas luka yg sudah mengering itu.
"Pasti sakit sekali mas hiks,, "ia tak kuasa lagi menahan tangisannya itu.
"tidak sayang, mas tidak merasakannya karena kalian selalu ada untuk mendoakan kesembuhan mas."
Karena terlalu banyak menangis ia ambruk dilantai dan menangis disana.
"Hiks,, " Ia terus saja menangis hebat dilantai. Aku tak tahan jika melihat ia terus saja menangis. Ia pasti sudah banyak menangis selama ini. Aku tak ingin ia menangis lebih banyak lagi.
Aku turun dari ranjang dan berjongkok dihadapan nya sembari menangkup wajah penuh pilunya itu"Hei,, kamu sudah cukup banyak mengeluarkan air matamu sayang, mas janji tidak akan pernah pergi lagi, maafkan mas."
Ku dekap tubuhnya itu dengan lembut hingga ia lagi-lagi menangis keras"Bekas itu hiks,,, pasti sakit sekali,, pasti sakit sekali karena tak ada aku yang membantu mas mengurusnya hiks,, maafkan aku mas."
Aku malah lebih bersyukur saat ia tak ada disamping ku ketika aku sedang terpuruk dulu. Aku tak ingin ia melihat luka serius itu dan ia akan lebih banyak menangis lagi.
"Kamulah alasan kesembuhan mas sayang, mengingat kamu yang sangat cengeng ini membuat mas semangat untuk sembuh, mas takut kamu sendirian, menangis seharian dan bahkan semalaman membuat mas sangat ingin sembuh."
Setelah mendengar itu ia langsung menghapus air matanya dengan cepat dan bangkit berdiri.
"Ayo kita bersihkan dulu penampilan kamu mas."ia menyiapkan kursi dan beberapa peralatan khusus cukur.
Aku berdiri dan langsung ia dudukan diatas kursi itu. Ia juga meletakkan kain putih di leherku untuk menutupi tubuhku agar tidak terkena buku halus bekas kumis ku nanti.
Ia pun mulai memulai mencukur kumis ku dengan pelan dan Hati-hati.
Mungkin ia merasa terganggu dengan ku yang selalu memandangi nya sejak tadi. Terlihat pipinya sudah mulai merona karena itu, aku terharu karena ia sama sekali tidak berubah dan masih pemalu seperti dulu.
"Iih mas jangan diliatin akunya." Ia malu karena sejak tadi aku terus saja memandang nya tanpa henti.
Air mataku hampir saja jatuh namun tetap saja kutahan, aku tak ingin ia ikut menangis lagi karena melihat ku menangis tapi rasa Haruku masih saja berlanjut hingga kini.
"Sekarang kumisnya udah ilang deh."ucapnya berpura-pura ceria padahal aku tau ia masih ingin menangis kini. Ia kemudian meletakkan kain juga perlatan itu diember setelah mengusap wajahku hingga bersih kembali.
Aku masih terus memandangi nya hingga kini. Jujur saja tak akan ada rasa puasnya kupandangi wajahnya itu. Semakin kupandang semakin aku rindu.
"Mas kenapa sih dari tadi natalan aku gitu banget? " Ia berdiri bingung dengan ku.
Ku tarik tubuhnya hingga berada dipangkuan ku seperti halnya yang sering kulakukan dulu saat menggoda ia. Kuusap wajahnya dengan pelan dengan air mata yang masih tertahan dipelupuk mataku.
"Betapa mas sangat merindukan wajah ini? Senyum ini dan mata penuh kasih sayang ini."dan air mataku langsung runtuh seketika.
"Kamu pasti menderita selama ini sayang hiks,, " Tangisan ku semakin menjadi-jadi karena tak kuasa menahan rindu.
Ia dengan cepat mendekat dan memeluk erat tubuhku yang masih saja menangis itu.
"Kita sama-sama menderita mas,mungkin cobaan ini adalah cobaan yang terakhir kalinya untuk kita, aku percaya ada hikmah dibalik semua ini mas,mas sama sekali tidak salah dan aku sungguh bersyukur suamiku ini sudah pulang dengan Selamat,, hiks,,, aku,, aku sangat bersyukur mas kembali dan alfa anak kita juga sangat bahagia dengan kembalinya mas."ia ikut menangis setelah mengatakan itu. Kata-kata yang keluar dari bibirnya Lagi-lagi membuat ku semakin menangis.
"Aku setiap hari memperlihatkan foto mas pada alfa, agar saat mas kembali alfa langsung tau kalau papahnya adalah orang hebat seperti mas,setiap hari dia bertanya kapan papahnya pulang kerja aku selalu menahan tangis dan mencoba tersenyum lalu berkata bahwa mas akan pulang secepatnya dan ternyata keyakinan ku memang benar."
Aku sangat bersyukur karena memiliki istri sehebat dia, ia begitu cerdas dan tau apa yang harus ia lakukan. Hingga aku semakin merasa bersalah karena telah mengecewakan ia.
"Terima kasih sayang, Terima kasih sudah menjadi ibu yang baik untuk alfa dan istri sempurna untuk mas."aku menangis keras karena merasa bangga memiliki nya.
Dengan pelan ia mendekat dan mengecup pelan bibirku dan mendiamkan nya lama disana. Aku sungguh merindukan kecupan ini.
Kubalas kecupan nya dengan lembut dan beralih mencium keningnya dengan pelan.
"Mas bangga punya kamu sayang."aku mencium bibirnya lagi.
"Mah,, afa apal." Tiba-tiba alfa sudah datang dan membuka pintu kamar kami.
Mina langsung bangkit kikuk dari pangkuan ku merasa malu jika alfa benar-benar akan melihat kelakuan kami tadi.
"Eh abang laper yah sayang,tunggu yah biar mamah temenin abang makan."alfa yang mendengar itu menurut dan turun lebih dulu kebawah.
"Mas mandi aja yah dulu, aku temenin alfa makan dulu." Mina membersihkan peralatan itu dan kubalas dengan anggukan.
Kemudian ia turun kebawah lebih dulu.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa yah like, komen dan vote❤.