
Soundtrack//cry-chen baek Xi(cbx)//
Bisakah aku melupakan kenangan pahit itu?.
Sampai saat ini mas Astan belum juga pulang.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 22.35pm.
Kak adin dan mas ken sudah pulang sejak jam 18.21pm tadi.
Mereka bersikeras ingin membawa alfa untuk menginap Tapi mengingat umur alfa yang masih cukup sensitif dan masih mengandalkan asi ku saat lapar aku takut itu akan merepotkan mas ken dan kak adin nantinya.
Bagaimana kalau saat tengah malam alfa rewel karena lapar? Tak mungkin kak adin danas ken harus kerumah ini tengah malam.
Kak adin terlihat sangat kecewa tapi ia juga tau tujuanku melarang itu.
Tunggu sampai umur alfa sudah bisa dengan leluasa mereka bawa, aku tak akan keberatan dengan itu.
Alfa sudah sangat lelah bermain dengan kak adin dan disambung lagi dengan ku tadi hingga saat ini ia sudah kehabisan baterai dan terlelap kealam mimpi.
Aku membaringkan alfa di keranjang kamar dan hendak menuju sofa untuk menunggu kepulangan mas Astan.
Tapi sebelum itu aku harus membereskan terlebih dahulu mainan alfa yang berserak itu.
Aku tersenyum melihat betapa lucunya mainan mainan itu.
Dan yang memilihnya adalah mas Astan sendiri untuk alfa.
Lagi lagi aku merindukan masa Astan dan bingung dengan sikap mas Astan.
Aku meletakkan keranjang mainan alfa tepat ditepi dinding kamar.
Aku mendengar suara suara aneh dari lantai bawah.
"Mas,, " Panggilku membuka pintu kamar namun sangat gelap sekali.
Siapa yang mematikan lampu ruangan ini?.
"Mas,, " Panggilku lagi tapi kali ini aku malah sedikit was was tanpa sebab.
Tak ada sahutan lagi.
Apa jangan jangan maling yah?
"Ma,, mas,, itu mas kan? Aku takut mas, jangan becanda" Aku memegang erat pegangan tangga dan menuruni anak tangga dengan hati hati sekali.
Lagi lagi tak ada sahutan sama sekali.
Aku pelan berjalan menuju bawah tangga untuk mengambil tongkat golf yang mas Astan simpan disana untuk berjaga-jaga takut takut kalau itu memang adalah maling.
Aku membuat siaga ingin memukul tapi tiba tiba mas Astan berjalan dari arah dapur dengan sebuah kue ulang tahun dan lilin yang sudah menyala.
"Happy birthday sayang"
Mas Astan berjalan menuju arahku dengan tersenyum.
Kakiku gemetar takut dan tongkat golf itu jatuh karena tanganku juga ikut gemetar tak dapat memegangnya lagi.
Air mataku mengalir dengan deras sekali.
Ingatan ingatan itu muncul kembali.
Mas Astan tepat dihadapan ku sembari menyanyikan lagu Ucapan selamat ulang tahun untuk ku.
Kepalaku langsung pusing dan aku mendadak takut.
Aku merasakan kalau seluruh ingatan pahit itu datang lagi saat ini.
"Sayang,, kamu kenapa? " Tanya mas Astan.
Aku tak bisa berbicara lagi, nafasku bahkan sudah mulai tersenggol tak bisa stabil.
Aku berjalan mundur dan berlari menuju kamar.
Aku memeluk tubuhku disudut kamar dan menangis dalam diam disana.
Aku sungguh tak ingin mengingat itu lagi.
Aku benci hari ulang tahunku sendiri.
Aku tak ingin merayakan itu, aku tak pantas merayakan itu.
Bagaimana aku bisa merayakan ulang tahunku saat aku tau hari itulah ibuku meninggal karena kebodohan dan keegoisan ku.
Kalau saja saat itu aku tak memaksa ayah untuk pergi jalan jalan berdua dan meninggalkan ibu sendirian yang sedang sakit aku takkan kehilangan ibuku sendiri.
Aku tak suka dengan ulang tahunku sendiri.
"Hiks, , ," Aku gemetar takut dan seakan saat ini aku melihat api yang menyala itu.
Ibuku terbakar didalam rumah penuh api itu.
"Hiks,, "
Aku dan ayah tak bisa berbuat apa-apa saat tau ibu terkurung didalam rumah.
Aku tidak tau kenapa bisa pintu itu terkunci dari dalam.
Aku benci dengan ingatan ini.
Aku tak pantas bahagia karena kejahatan ku.
"Hiks,, " Aku semakin memeluk diriku lebih erat lagi.
Aku mendengar suara langkah kaki menuju kearah ku.
Mas Astan berjongkok dihadapanku dengan wajah khawatir sekali.
Ia perlahan menunduk dan memeluk tubuh gemetarku itu.
"Maafkan mas karena sudah membuatmu takut sayang"
Aku menangis lebih keras lagi dalam pelukan mas Astan.
Aku ingin lepas dari ingatan kelam itu dan menjalani hidup dengan normal.
Terdengar egois memang, tapi aku sungguh ingin seperti itu.
"Maafkan mas sayang,, maaf" Mas Astan menarik tubuhku agar lebih dekat lagi dan merengkuh tubuh penuh ketakutan ku itu.
Aku masih saja menangis dalam pelukan mas Astan.
Aku sungguh tak tau lagi bagaimana caraku melupakan itu semua.
Mas Astan mengangkat aku yang masih menangis itu.
Ia membaringkan aku tapi aku menolak dan masih terus memeluknya karena takut.
Ia pun tak jadi dan hanya diam menepuk punggung ku pelan.
"Ssst,,, maafkan mas sayang, maaf udah buat kamu takut,mas disini jangan takut lagi"
Aku memeluk erat tubuh kekaras Astan dengan tangis masih sekeras tadi.
Setelah aku lebih tenang mas Astan memberikan aku air putih dan membaringkan tubuhku begitu juga dengan nya.
Ia menjadikan lengannya sebagai bantal ku.
Aku memeluk tubuh mas Astan lebih erat lagi.
"Maafkan mas karena sudah membuatmu takut sayang" Mas Astan mengelus pucuk kepalaku dengan sayang.
Aku menggeleng.
"Padahal mas pikir kamu akan senang tadi, maafkan mas yah karena sudah membuat hari bahagia mu ini jadi berantakan"
Aku menggeleng lagi.
"Aku seperti itu bukan karena mas, aku hanya teringat dengan ibuku mas"
Mas Astan mengelus kepalaku.
"Aku tidak membenci mas hanya karena telah merayakan ulang tahunku, aku hanya tidak menyukai hari ulang tahunku saja mas hiks,,, aku benci diriku sendiri"
Mas Astan menggeleng dan memeluk ku lebih erat lagi.
"Kenapa hmmm? " Mas Astan.
Aku pun menceritakan semua kisah dimana aku harus kehilangan ibuku hanya karena keegoisanku memaksa ayah untuk menemaniku jalan jalan dan meninggalkan ibu sendirian dirumah.
Saat kami datang rumah sudah terbakar dan ibu terkunci di dalam.
Aku menangis keras karena mengingat itu semua.
"Sudahlah sayang,, ini bukan salahmu"
Mas Astan mengelus punggung ku untuk menenangkan aku.
Aku menggeleng "hiks,, aku emang jahat mas, aku yang membuat ibuku pergi hiks,,, "
Mas Astan menggeleng.
"Sudahlah sayang semua itu ada hikmahnya, mungkin saja takdirnya seperti itu,kita hanya perlu positif dalam menanggapinya" Mas Astan mencoba memberikan pengertian untuk ku.
Aku hanya terdiam saja mendengar itu.
Kalau dipikir juga kenapa mas Astan bisa berubah sebaik ini dan menerima aku?.
Itu semua karena mas Astan menerima nya dengan lapang dada.
Apa aku juga akan bisa menerima itu semua? Dan melupakan kepahitan itu?.
"Kamu istirahat yah sayang, mungkin kamu lagi kelelahan sekarang"
Aku mengangguk dan mencoba memejamkan mata.
//bersambung//
🔷🔷🔷🔷
Duhhh kasian mina masih trauma.
🔷🔷jangan lupa like dan komen yah gaes🔷🔷
♦♦jangan lupa follow akun aku juga♦♦
Laffyouall❤cinta kalyan 🖤