
...Soundtrack//tell me-kim na young//...
...Kenapa tak ada alasan apapun untuk membenci mu?...
...-mina-...
Aku sudah hampir membaca semua halaman dibuku yang mas Alga berikan padaku,mungkin hanya beberapa halaman lagi agar buku ini aku tamatkan.
Aku bersyukur sekali bisa bertemu dengan mas Alga,dia sangat baik dan perhatian,murah hati dan juga ramah,sifatnya sebelas duabelas dengan pak Umar.
Ngomong ngomong kabar pak Umar gimana yah sekarang?Apa separah itu hingga sampai sekarang mas Alga masih terus menggantikan pak Umar, besok aku akan menanyakan itu kepada mas Alga.
"Mini!" Suara arogan itu lagi.
Aku langsung berlari menuju ruang depan untuk memenuhi panggilan mas Astan.
"Ada apa tuan? " Tanyaku cepat.
"Buatkan saya teh." Tiba tiba sekali dia mau dibuatkan sesuatu olehku.
"Dari tadi saya perhatikan kamu selalu memegang buku itu?buku siapa itu?terlihat asing dan sepertinya bukan dari rumah ini," Ucap mas Astan.
Lihatlah dia,sangat teliti kalau menyangkut rumah ini.
"Anu,, itu tuan mas Alga meminjamkan bukunya kepada saya,mas Alga sangat baik," Ucapku tanpa sadar tersenyum.
Raut wajah Astan berubah masam,entah kenapa saat mendengar Mina memuji Alga sambil tersenyum membuatnya kesal.
"Cepat buatkan teh sesuai yang saya inginkan," Ucap mas Astan sangat keras.
Kenapa tiba tiba marah begitu sih?.
Aku meletakkan buku itu dimeja tepat dihadapan mas Astan dan langsung menuju dapur untuk membuat teh mas Astan.
Tangan Astan langsung terulur mengambil buku itu.
"Cara menunjang motivasi belajar?hahahah."Astan tertawa sinis membaca judul buku yang diberikan oleh Alga.
"Lucu sekali,bahkan anak Tk saja tidak membaca buku seperti ini,kalau memang orangnya memiliki niat untuk belajar tanpa buku ini ia akan terus termotivasi untuk belajar,dasar alasan,, bilang saja ia hanya ingin menarik perhatian gadis bodoh itu." Terdengar kesal memang.
Entah kenapa Astan sangat tidak suka kalau Mina berdekatan dengan Alga.
Mendengar langkah kaki Astan langsung melemparkan buku itu kembali ke meja.
"Teh nya sudah siap tuan," Ucapku tersenyum meletakkan nampan berisi teh itu dihadapan mas Astan.
Mas Astan mengangkat gelas itu dan tiba tiba.
"Akhh." Mas Astan sedikit memekik hingga gelas itu jatuh.
"Astaga,,, kenapa tuan menjatuhkan gelas itu tepat diatas buku ini? " Aku spontan mengambil buku yang terkena tumpahan teh panas yang disebabkan oleh mas Astan.
Aku membersihkannya dan meniup niup lembaran buku yang basah itu.
Bagaimana ini? Sudah rusak dan kotor begini, padahal ini adalah amanah pertama yang diberikan mas Alga untuk aku pinjam,bagaimana aku akan mengatakan ini?.
Aku melirik kesal terhadap mas Astan namun tidak jadi saat melihat sorotan tajam darinya.
Kenapa dia? Kenapa malah dia yang marah?harusnya kan aku? Egois memang.
Dia berdiri tetap dihadapanku dan menarik pipiku dengan keras.
"Apa tadi kamu baru saja memperlihatkan kalau kamu lebih menghormati buku sialan itu dibanding saya?wahhh hebat sekali yah,siapa kamu sampai selancang itu menyalahkan saya? " Tekan mas Astan sembari menekan pipiku semakin keras.
Aku menggeleng "tidak,, tuan,, sa,, saya, tidak bermaks,, akhh," Teriakku saat mas Astan semakin membuat rasa perih disudut bibirku terasa.
Sepertinya sudut bibirku terkoyak saking kerasnya tekanan mas Astan.
"Ingat dan dengarkan ini baik baik,hidup dan matimu ada di tangan saya,terserah saya ingin memperlakukan kamu seperti apa,beruntunglah saya masih memperlakukan kamu sebagai manusia, jadi jangan melewati batas dan sadarlah posisimu gadis bi*nal."mas Astan melepaskan tekanannya di bibirku.
" Hanya karena buku sialan ini kamu bersikap lancang menyalahkan saya?bagaimana jika tangan saya lecet hanya karena teh panas mu itu?ahh sepertinya kamu sengaja yah melakukannya untuk mencelakai saya?"mas Astan lagi lagi berargumen untuk menyudutkan aku.
Bagaimana bisa ia menjadikan itu sebagai alasan untuk terus menindas ku? Siapa pun tau kalau teh itu panas kecuali tadi ia berpesan kalau ia ingin teh manis dingin.
Rasanya sudut bibirku sangat perih.
"Cepat ikut saya ke kamar," Ucap mas Astan berjalan menuju kamar dan kuikuti dari belakang.
Mas Astan naik ke tempat tidur dan duduk disana.
"Tunggu apa lagi? Cepat naik," Perintah mas Astan.
Ada apa lagi kali ini?kenapa mas Astan semakin aneh saja,biasanya dia paling sensitif saat aku berdekatan dengan tempat tidurnya dan sekarang ia menyuruhku naik?.
Aku menurut naik sebelum terkena amukan nya lagi.
"Pijit saya sekarang,sangat melelahkan menghadapi seorang manusia bodoh dirumah ini," Perintah mas Astan dan masih saja menyempatkan menghinaku.
Kalau bukan aku siapa lagi yang ia sebut manusia bodoh dirumah ini, tak mungkin ia mengatakan dirinya sendiri.
Aku memijat perlahan bahu mas Astan dengan hati hati.
"Keraskan bodoh!! " Perintah mas Astan.
Aku sudah mengeraskan pijatan ku dibahunya.
"Kamu dengar tidak? Saya bilang keraskan!! " Mas Astan dengan suara Lantangnya.
Aku sudah bersusah payah Sekeras mungkin memijatnya.
"Wahh kamu sepertinya memang tidak mau mendengarkan saya yah?berapa kali saya katakan pake tenagamu bodoh,kamu pikir saya menyuruhmu menina bobok an saya yah?pijat yang benar, dasar dungu," Umpat mas Astan.
Bagaimana ini?aku sudah mengerahkan seluruh tenagaku tapi tetap saja tak ada efeknya untuk mas Astan.
"Akhh sudahlah,tak ada yang bisa diharapkan dari gadis to*ol sepertimu," Teriak mas astan sedikit frustasi.
Aku terdiam tepat dibelakang nya,dia pikir aku mau hidup seperti ini? Aku juga ingin menjadi manusia yang bisa diharapkan oleh orang banyak, tapi nyatanya aku bukanlah orang yang pantas untuk diharapkan.
"Ahh sepertinya ini saatnya bersenang-senang sedikit,kita lihat apakah kamu akan berhasil menghibur saya?" Ucap mas Astan dengan nada yang mencurigakan.
"Maju kedepan saya sekarang! " Perintah mas Astan lagi secara tiba tiba
Aku duduk tepat dihadapan mas Astan, tentunya menghadap kebawah tak berani bersitatapan dengan mas Astan.
"Mendekat dan lihat kearah saya bodoh!!" Perintah mas Astan lagi.
Mau tidak mau aku harus mau, maju dan melihat kearahnya dengan jantung yang seakan memaksa keluar.
Entah kenapa saat melihat wajahnya ini,rasa benci dan kesalku hilang entah kemana?.
Mas Astan menatap ke arahku juga"Cium bibir saya sekarang juga,"Titah mas Astan bukan main.
Bagaikan tertembak rasanya,jantung ku semakin berpacu memompa darah ke seluruh tubuhku.
Aku tak berani bergerak sama sekali,apa sebenarnya yang ingin mas Astan lakukan, kenapa tiba tiba ia ingin aku menciumnya?bukankah ia sangat merasa jijik dengan ku?.
" Kamu tuli? "Bentak mas Astan.
" Ti,, tidak tuan,"ucapku takut takut.
"Kalau begitu kenapa tidak kamu laksanakan?kamu lupa apapun yang saya minta kamu harus melakukannya bagaimana pun itu," Tekan mas Astan lagi seakan memberiku peringatan.
Aku menarik nafas berkali kali,dan mendekat dengan gemetar.
Bibirku sudah mulai menyatu dengan bibir mas Astan namun aku tak sanggup hingga aku ingin mundur kembali.
Cup,,,,
Mas Astan menahan tengkuk ku saat aku hendak mundur dan dengan sigap ia mencium bibirku dengan cepat.
Aku lagi lagi dibuat kaget oleh mas Astan.
Bibir kami menyatu dalam beberapa menit dan saling mendiamkan disana.
Aku tak berani bergerak, menahan nafas dan menutup mata takut.
"Gerakkan bibirmu bodoh!" Ucap mas Astan masih menyatukan bibir kami sehingga suaranya terdengar aneh namun masih sangat jelas apa yang sedang ia katakan.
Aku tak mengerti gerakan bagaimana yang ia inginkan?.
Aku mencoba menggerakkan bibirku maju dan mundur dan melihat mas Astan menutup mata.
Apa aku melakukanya dengan benar?.
"Ck,, kamu mengerti tidak?" Kesal mas Astan melepaskan bibirku.
Aku bernafas lega.
Namun tiba tiba mas Astan menarik aku lebih dekat dengan nya hingga aku sampai ke pangkuannya.
Cup,,
Lagi lagi mas Astan mencium bibirku dengan cepat.
Seperti semalam ia menghisap bibirku berkali kali bergantian namun lebih keras dari yang semalam.
Apa sebenarnya yang membuat mas Astan seperti ini?apa berciuman begini yah realnya?.
Aku hanya diam tak bergerak saat mas Astan masih terus terusan mencium,mengulum,me****** dan menghisap bibirku.
Dan terakhir ia menjilat sudut bibirku hingga sedikit terasa perih.
"Akhh." Aku memekik sakit.
Mas Astan menatap kearahku yang masih duduk di pangkuannya.
Aku yang sadar sedang duduk disana pun mencoba pergi sebelum mas Astan marah.
Namun mas Astan menahan tanganku dan tubuhku agar tetap duduk di sana.
"Begitulah berciuman yang saya maksud,kalau kamu masih tidak mengerti awas saja! " Ancam mas Astan kepadaku.
Aku mengangguk saja agar mas Astan tidak marah.
"Wahh kamu mengerti yah? Bagaimana kalau kita coba apa kemampuan mu sudah bisa dikatakan mengerti? " Mas Astan.
Matilah kamu Mina!!kenapa malah mengangguk tadi?
Aku harus bagaimana sekarang?
"Ayo tunjukkan bagaimana yang kamu sebutkan mengerti tadi." Mas Astan
Aku dengan gemetar mendekatkan wajahku dan lagi lagi aku tak berani menyatukan bibir kami.
Aku malah menagis lagi tanpa sebab.
Kenapa sih dengan ku? Setiap mas Astan memperlakukan ku begini hatiku terasa sakit?
"Hiks,, " Aku menangis dipangkuan mas Astan.
Menutup wajahku dengan kedua tanganku.
Kenapa rasanya sangat menyakitkan?
Ini lebih menyakitkan daripada cambukan dan semua kata katanya.
...//bersambung//...
...🔷🔷🔷🔷...
Astan emang ngk waras deh😢
Ngk kebayang jadi mina.
Mina ngk faham kalau saat itu astan sedang merendahkan dirinya.
🔷🔷jangan lupa vote anda komen yah tayang tayang 🔷🔷
♦♦jangan lupa follow author ♦♦
Laffyouall buanyak buanyak ❤