
***Hai,, hello,, annyeong 🙃
Maaf yah gaes baru update sekarang 🙏🙏. Aku lagi mid semester dan ini juga nyuri waktu heheheh. Semoga kalian suka yah dengan "suamiku yang kejam season 2" Ini.
Aku sebenarnya ragu sih mau lanjutin ini karena aku takut respon kalian tidak se excited dulu lagi🤧🤧🤧. Aku berharap kalian tetap mendukung cerita ini yah, karena ini adalah cerita yang paling aku suka dari semua cerita ku yaang lain🤧🤧.
Semoga tidak mengecewakan kalian juga yah, aku takut Banget kalian tidak suka dengan season duanya. Tapi mengingat ada beberapa yang minta cerita ini versi sudut pandang astan, aku juga penasaran sih pengen nulis bagaimana cerita ini versi sudut pandang astan. Jadi mari kita sama-sama ikuti alur ceritanya yah biar jelas🙃🙃.
Dan satu lagi, aku lagi revisi cerita ini yang season satu doakan yah agar secepatnya bisa direvisi, aku jadi harus extra semangat karena harus mid,update dan juga revisi 😅😅sok rajin banget yah aku hehehhehe.
Mohon doanya yah agar semuanya lancar🤧🙏***.
🔷🔷🔷🔷🔷🔷🔷🔷🔷🔷🔷🔷🔷
❄selamat membaca❄
Kakiku terasa sangat berat bahkan untuk sekedar menginjakkan kakiku menuju rumah penuh kenangan itu.Baru beberapa langkah saja aku langkahkan kakiku didepan pagar wajah tersenyum Dyva yang kulihat. Aku benci jika harus melihat ilusi itu. Dyva adikku satu-satunya, keluarga tunggal yang aku miliki kini sudah pergi untuk selama-lamanya.
Aku merasa sudah tidak memiliki alasan untuk bertahan hidup,aku selalu berusaha menjadi kakak yang baik untuknya bagaimana pun itu bahkan aku sampai mati-matian bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan nya.Kami tumbuh tanpa orang tua karena kedua orang tua kami yang meninggal karena memiliki penyakit yang sama dan untungnya kami tidak menuruni penyakit itu.
Kakiku terasa lemas saat mencoba melangkah mendekati pintu. Pandangan ku tertuju kearah taman dimana Dyva selalu menanam banyak bunga disana.Aku selalu merasa senang saat melihat bunga-bunga yang ia tanam dengan sepenuh hati dan kasih sayang. Karena ia selalu berkata bahwa bunga yang indah itu menyerupai mendiang ibu.Tapi kenapa melihat bunga itu kini bukanlah senyuman yang terukir dibibir ku namun rasa pilu yang kian menganga membayangkan ia terbujur kaku ditanah saat ini. Adikku satu-satunya yang aku perjuangkan agar bahagia kini harus aku relakan kembali kepada-Nya. Aku memang egois sampai kini masih belum bisa menerima kepergiannya itu.
Dan, air mata ku sudah lolos saat ini dari pelupuk mata yang sudah tak bisa menahannya.Katakan saja kalau aku bukanlah laki-laki sejati, aku tak bisa bersabar dan juga tak bisa ikhlas dengan kepergiannya yang begitu tiba-tiba itu.Sudah sedikit lama ia tak ada disini bersamaku. Tapi kenapa rasanya ia masih ada?.
Tanganku tergerak untuk membuka gagang pintu, Lagi-lagi bayangan Dyva yang selalu tersenyum dan tertawa yang aku dapati dirumah ini. Bagaimana caraku untuk lupa?.Hidup sebatang kara inilah aku kini. Sendirian dengan hati yang redam mencoba melawan takdir tapi tak mampu karena takdir lebih dulu menentukan.
Kucoba untuk membuang jauh-jauh ilusi yang kian memperburuk suasana hatiku itu.Dengan pelan aku melangkah menaiki anak tangga yang sering dihitung oleh Dyva saat kami sedang menaikinya bersama.
Aku memasuki kamar Dyva yang sangat apik itu.Ia meminta ku untuk mengubah chat kamarnya yang semula berwarna biru muda itu menjadi warna pink. Karena ia memang termasuk gadis yang cantik dan feminine.
Dengan hati yang sakit aku memandangi sekeliling kamarnya yang kini terasa hampa tanpa sang pemilik. Poster pacar hayalan berjumlah 9 orang dengan pakaian yang sama dan berkulit putih bak kapas yang selalu ia puja itu kini terlihat sudah tak berarti lagi sama halnya dengan stuff k-pop yang ia minta untuk aku belikan dulu.
Aku terduduk diranjang yang kini sudah dingin itu karena sudah tidak pernah lagi ditempati oleh adikku Dyva. Aku sekarang dengan cepat air mata pilu ini.
"Hiks,, kenapa kakak jadi cengeng gini sih?" Ucapku dengan senyuman yang dipaksakan.Membayangkan saat ini Dyva ada dihadapan ku tersenyum mengejek aku saat sedang menangis.
Aku tersenyum kearah nya yang masih saja terdiam memandangi ku dengan mata cantik berbinar nya itu.
"Kakak tidak mau sendirian, kakak kesepian hiks." Air mataku semakin deras saat melihat bayangan Dyva yang mulia menghilang layaknya sebuah debu yang tersapu bersih oleh angin.
Aku beringsut jatuh dari ranjang ke lantai tak kuasa menahan sesak dalam dadaku karena rasa kehilangan yang tak bisa aku bendung lagi. Kehilangan seseorang yang satu-satunya kita miliki tidak lah semudah yang kalian bayangkan.
Terduduk pilu layaknya hilang harapan begitulah posisi ku saat ini. Serasa hidup akan berakhir besok. Tak ada sinar yang bisa mencerahkan hariku lagi.
Aku seka air mataku dengan kasar saat mengingat wajah pria sialan yang telah sampai hati menabrak Dyva hingga tak bisa diselamatkan lagi.
Aku tidak akan pernah bisa memaafkan perbuatan bejat pria sialan itu. Aku berjanji akan membuat ia lebih menderita dari yang aku alami ini. Adikku terbaring kaku ditanah maka aku akan melakukan lebih keji lagi dari itu.
Bersiap lah dan tunggu pembalasan dendam ku yang tak akan bisa kau prediksi. Aku tak akan pernah ikhlas dengan kepergian Dyva. Mungkin menjebloskan kamu ke dalam ruang tahanan tak akan membuat aku puas.
Aku berdiri dengan hati yang sudah dipenuhi dengan dendam yang membara. Menutup pintu kamar Dyva dengan hati yang masih mencelos kemudian masuk kedalam kamar ku untuk beristirahat diantara banyak nya kontroversi hidup yang menyengsarakan hati dan raga.
Aku berbaring diatas tempat tidur mencoba untuk memejamkan mata walaupun tidak ingin tidur sama sekali.
Memikirkan dan merencanakan bagaimana tepatnya aku akan menyiksa dan melepaskan rasa dendam ini agar aku benar-benar merasa puas dengan pembalasan ku kepada pria sialan itu.
Hingga sesaat kemudian aku mulai merasa pandangan ku kabur dan benar saja aku mulia merasa ngantuk.
Selamat malam Dyva.
BERSAMBUNG....