Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)

Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)
103.pasar(S2)


❄selamat membaca❄


   Setelah semua barang yang ingin kami bawa kepasar telah selesai kami kemas kami pun bergegas menuju pasar.


Jalan menuju kesana sangat tidak wajar untuk dilalui karena sangat kacau, dipenuhi dengan lumpur juga sangat terik, bagaimana bisa ibu dan bapak tahan lewat dari sini setiap hari?.


Aku tersenyum melihat mereka berdua yang juga ikut tersenyum kearahku.


"Harusnya kamu tidak usah ikut nak, jalan kesana sangat jauh juga terik begini, belum lagi kakimu masih belum sembuh total kalau dipaksakan takutnya akan semakin parah. " Ibu selalu saja khwatir terhadap ku.


Padahal yang seharusnya di khawatirkan adalah ibu yang terlihat semakin rentan itu, terlalu jauh pasti akan membuat ia merasa lelah juga tak berdaya nanti nya.


"Biar astan saja yang bawa buk. " Aku meraih tas tenteng dari tangan ibu.


"Biarkan ibu saja nak, kamu sudah membawakan banyak barang. " Ibu kembali ingin meraih tas itu dari tanganku.


"Biarkan astan saja buk, benar tidak apa, kalau ibu mau astan juga bisa menggendong ibu sekarang. Katakan saja kalau ibu merasa kelelahan makan astan akan bersedia menggendong ibu. " Aku tersenyum sembari mengikuti langkah ibu yang lebih dulu berjalan sembari mengusap wajahnya itu.


Aku tau sejak tadi ibu tak hentinya menangis karena aku akn pergi besok kembali ke kota. Mau bagaimana lagi? Aku juga akan berusaha mengunjungi ibu dan bapak lebih sering lagi nanti nya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang barulah kami sampai dipasar.


Seperti namanya, sangat ramai dan banyak sekali jenis penjual juga barang yang dijual disini, belum lagi panas terik begitu menusuk kulit bahkan sudah dibalut dengan baju sekali pun.


"Kita akan berjualan disini buk? " Aku bertanya dan langsung disahuti oleh ibu dengan senyuman.


"Baiklah buk, silahkan duduk di kursi sana buk, biar astan saja yang mengatur barang ini dan juga menjualnya. "


Ibu dengan cepat menggeleng tidak setuju dwi ucapan ku itu"Biar kamu saja nak yang duduk, ibu yang akan mengaturnya dan menjualnya. "


"Ibu belum liat bagaimana kemampuan ku dalam memasarkan barang kan? Jadi biarkan hari ini aku berguna untuk ibu sebelum aku kembali ke kota. " Aku tersenyum kearah ibu dan ia yang awalnya sangat menolak tawaran ku itu kini mulai mengangguk meskipun ada sirat tidak nyaman dari wajahnya itu. Aku tau ibu pasti merasa tidak enak hanya duduk saja melihat aku bekerja.


Kubuka perlahan isi tas itu dan mulai mengatur barang sesuai dengan label harga dan jenisnya hingga terlihat sangat menarik perhatian, biasanya untuk memasarkan suatu barang kita harus bisa membuatnya terlihat menarik perhatian dan sikap ramah adalah modal utama dalam menjual barang.


Ibu perlahan mendekat kearah ku"Wahh bagaimana bisa secantik ini? Ibu tidak pernah terpikirkan sama sekali. "


Aku tersenyum "Kedepannya ibu harus menyiapkan nya seperti ini karena ini akan menarik pelanggan untuk datang melihat nya, karena awal nya melihat kan kemudian membeli. " Ibu dengan cepat mengangguk tersenyum.


Aku mengambil kursi itu dan menyuruh ibu untuk duduk lagi"Silahkan duduk buk, biar astan saja yang menjualnya. "


Tak lama dari itu kami kedatangan beberapa pelanggan dan alhamdulillah kami menjual lumayan banyak dari biasanya menurut penuturan ibu.


"Wahh kamu memang ahli dalam bidang ini nak, lihatlah dagangan kita hampir habis dan kami tidak pernah menjual nya sebanyak ini. " Ibu terlihat sangat senang. Setidaknya aku merasa sedikit tenang besok saat ingin pergi. Alur yakin ibu juga akan melakukan hal yang sama saat hendak berdagang.


"Baiklah buk, untuk hari ini sampai disini saja dulu. Mari pulang dan ibu bisa beristirahat dulu. " Aku mulai merapikan barang karena hari sudah mulai sore, aku takut ibu akan merasa kelelahan nanti nya karena jika kami pulang hampir malam makan Jalan akan ramai dan ibu akan kesusahan nantinya.


"Permisi pak, apakah kalian akan tutup sekarang? " Tanya seseorang tiba-tiba datang kearahku dan juga ibu.


Aku mengangguk ramah"Apakah ada yg bisa kami bantu? "Tanya ku dengan pelan.


"Tentunya kami masih memiliki banyak dirumah, apakah anda tertarik dengan ini? Dan kalau saya boleh bertanya apakah anda ingin memesan? " Tanyaku dengan pelan.


Ia tersenyum dan mengangguk "Karena saya ingin memberikan nya padahal banyak orang makan saya ingin memesan banyak sekitar 200 buah, apakah dalam dua hari kedepan saya bisa mengambilnya kesini? " Tanya nya dengan pelan.


Kalau dilihat dari penampilan nya ia tidak akan berbohong, dan belum lagi ia seperti nya berasal dari daerah sini. Jadi kalau sewaktu waktu ia berani bermain-main dengan ibu dan bapak  aku tidak akan tinggal diam saja.


"Bagaimana buk? Apakah menurut ibu kita bisa menyiapkan 200 buah sulaman selalu dua hari? " Aku terlebih dahulu menanyakan kesanggupan ibu.


Ibu dengan semangat mengangguk tersenyum "Sangat bisa nak. " Ia terlihat sangat senang.


"Baiklah kalau begitu, ini kartu nama saya disana tertera nomor HP saya, untuk penjemputan barang terserah kalian ingin melakukan transaksi dimana saja, disini juga tidak masalah. Saya permisi buk, mas. " Ia pergi berlalu.


"Ibu sangat senang nak, ibu sangat senang sekali. Ibu tidak tau bagaimana lagi harus mengungkapkan rasa senang ini. " Aku tersenyum memeluk ibu dan ibu juga membalas pelukan ku.


"Baiklah buk, untuk masalah transaksi nanti malam astan yang akan memperjelas nya dengan pelanggan. "


Kami pun berangkat kerumah setelah semua perlengkapan sudah selesai kami kemas. Diperjalanan ibu tak hentinya tersenyum dan bercerita banyak hal karena merasa hati ini adalah hari keberuntungan baginya.


"Astan berharap kedepannya ibu akan sebahagia ini. " Aku tersenyum dan ibu juga mengangguk tersenyum.


"Ibu masuk saja dulu, biar astan yang keladang menyusul bapak sekalian membantu bapak membawa kayu bakar. " Aku tersenyum berlalu setelah mendapat sinyal anggukan dari arah ibu.


Sesampainya diladang ku lihat bapak sudah selesai bekerja dan mulai mengangkat kayu bakar yang ia kumpulkan dan ia ikat berukuran lumayan besar. Kalau kutebak itu pasti sangat berat sekali.


"Biar Astan saja pak. " Dengan cepat kuraih kayu bakar itu.


"Ini sangat berat nak, biar bapak saja. "


"Bapak tau kan kalau astan itu manusia hebat, masalah inimah kecil. " Aku tertawa ringan dan bapak juga ikut tertawa.


"Bagaimana di pasar hari ini? "


"Alhamdulillah lancar pak, dan dagangan hampir terjual habis dan seorang pemborong datang memesan 200 buah sulaman. " Bapak yg mendengar itu langsung terkejut dan aku tersenyum melihat itu.


"Kamu memang ahli sekali dalam bidang itu nak, bapak bisa bayangkan bagaimana reaksi ibu saat melihat itu, pasti ia akan berbicara terus tanpa henti dengan bibir tersenyum. "


Tepat sekali tebakan bapak itu, ibu tak hentinya berbicara dengan riang setelah pulang dari pasar. Aku jadi senang melihat nya.


"Terima kasih nak, kamu memang anak baik. "


Dengan cepat aku menggeleng "Aku tidak lebih baik dari kalian berdua pak, kalian adalah yang terbaik. "


Kami pun berbincang-bincang sembari berjalan menuju rumah yang jaraknya tidak terlalu jauh. Tapi karena kami keasikan berbincang jalan terasa lambat 😅.


BERSAMBUNG...


Jangan lupa yah like, komen dan vote❤.