Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)

Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)
5.Neraka mu baru dimulai (S2)


❄selamat membaca❄


    Sejak mobil aku lajukan meninggalkan pekarangan rumah gadis ini.Aku sedikit tersenyum saat tau fakta bahwa pria sialan itu akan  sendirian dirumahnya.Dia harus membayar apa yang sudah aku alami setelah kepergian Dyva.


Aku melirik sekilas kearah gadis itu. Ia nampak menatap keluar melalui jendela mobil, sepertinya masih menangis terlihat dari bahunya yang bergetar itu.


Seharusnya dia jangan dulu menangis sekarang,nanti juga ia bakal menangis lagi lebih lama mungkin dari sekarang.


Dunia bagai nerakamu akan dimulai hari ini. Jadi bersiaplah gadis bodoh. Kamu pikir aku menikahi mu untuk aku manjakan yah? Hahaaha jangan pernah bermimpi.


"TURUN!" Bentak ku dengan keras saat setelah kubuka pintu mobil itu.


Terlihat pak umar yang sedang duduk di post bangkit berdiri karena kaget. Aku lebih memilih tak melirik kearah pak umar karena aku merasa ini bukanlah urusannya. Begitupun dengan pak umar yang memilih diam dan berdiri saja tanpa berniat ikut campur. Baguslah.


Melihat ia kaget dan merasa linglung seperti orang bodoh dengan cepat aku tarik tangannya sekeras mungkin. Sengaja untuk membuat ia kesakitan.


"Dasar lamban," Ujarku dengan keras dan menarik ia memasuki rumah membiarkan ia sejak tadi meringis menahan sakit karena genggaman ku yang semakin ku keraskan agar ia kian merasakan sakit.


"Akhh," Liriknya tak tahan lagi dengan kerasnya genggaman ku di pergelangan tangannya.


Aku berhenti sejenak lalu menatap marah kearahnya "Apa yang kamu lirihkan?Jangan berani yah sok manja dihadapan saya!Kamu pikir saya membawa kamu kesini untuk bermanja hah?" Teriak ku tepat dihadapan wajahnya lalu dengan cepat aku menariknya menaiki tangga menuju kamar.


"Bugh."


Aku lemparkan ia ke lantai dengan keras hingga semakin meringis.


"Dengar ini baik-baik dengan telinga mu itu!" Perintahku dengan suara lantang.


Aku memang sengaja mengeraskan suaraku saat sedang berbicara dengan gadis sialan ini. Karena aku dapat merasakan kalau ia lemah saat mendengar suara yang keras. Sepertinya menyenangkan membuat ia merasakan ketakutan saat sedang berbicara dengan ku.


"Saya tekankan kepada mu apa-apa yang harus kamu kerjakan dan yang tidak boleh kamu kerjakan selama berada di dalam rumah saya." Aku berkacak pinggang seolah sedang mengadili nya yang sedang terduduk tunduk dilantai tanpa berani melihat kearahku.


Ia masih terdiam tak menjawab, mungkin menunggu ucapan ku selanjutnya.


"Setiap pagi kamu harus bangun secepat mungkin untuk memasak, menyiapkan air untuk saya mandi, menyiapkan pakaian saya kekantor, mencuci baju dan membersihkan setiap sudut rumah ini. Jangan sampai ada setitik debu halus sekalipun yang saya temukan nantinya, karena kamu akan mendapatkan akibatnya."ia terkejut kaget saat aku kian mengeraskan suaraku.


"Dengar tidak?" Tanyaku dan hanya ia balas dengan anggukan saja. Kurang ajar sekali dia. Dia pikir aku apa? Aku bertanya dengan suara dan dengan mudahnya ia hanya membalas dengan anggukan saja? Bosan hidup rupanya?.


"Kamu bisu? Saya tidak mengerti dengan bahasa bisumu itu, kalau saya bertanya dengan suara makan kamu juga harus menjawabnya dengan suara juga. Berhenti mengangguk didepan saya!Menjengkelkan," Ucapku dengan nada kesal karena aku benar-benar merasa kesal dengan sikap lancang nya seenaknya saja mengangguk seperti itu.


"Ba-baik mas," Ucapnya sedikit gemetar. Aku sendiri yang mendengar itu sedikit merasa aneh dan heran dengan panggilan kampungan itu.


Aku berjongkok kearahnya sembari menarik wajahnya agar menghadap kearahku. Wahh dilihat dari dekat wajahnya lumayan juga dengan mata yang bening dan bibir yang begitu menggoda sekali. Mikir apa sih kamu Astan?.


"Mas? Kamu pikir saya siapa? Sampai kamu memanggil saya dengan sebutan kampungan itu," Sergap ku masih memegangi dagunya namun ia semakin takut saja saat mendengar gertakan ku dan matanya tak berani melihat kearahku.


"JAWAB!" bentak ku semakin keras saja hingga ia semakin gemetar takut karena gertakan ku tadi.


"Kamu pikir kamu siapa?Sampai seenaknya memberikan saya panggilan kampungan itu.Tau dirilah sedikit!" Aku menekan keras pipinya hingga ia meringis menahan sakit karena tekanan yang aku berikan bukan main-main.


"Ma-maaf tuan, saya minta maaf." Ia sedikit memegangi pipinya saat setelah aku lepaskan tadi.


Apa? Tuan? Gadis ini sungguh aneh sekali. Dari mana dia mendapatkan panggilan itu? Tapi tak apalah sedikit lebih baik dari pada panggilannya yang pertama tadi.


Setelah ia memasuki kamar mandi aku rebahkan tubuhku diatas tempat tidur sembari memainkan ponsel ku namun tak ada hal yang menarik sama sekali.


Aku memejamkan mataku sejenak merasa lelah karena sejak tadi aku terus saja emosi hanya dengan melihat wajah gadis sialan itu.


Karena tak bisa terpejam akupun memilih membuka pakaian yang aku kenakan saja dan menutupi tubuhku dengan sebuah handuk yang melilit diantara pusat dan kakiku.


Aku duduk kembali menunggu dia selesai menyiapkan air untuk aku mandi. Namun kenapa ia lama sekali? Sudah lama sejak tadi aku menunggunya namun ia tak kunjung keluar juga.


Aku berjalan kesal menuju kamar mandi dengan mengeratkan lilitan handuk ku agar tidak kedodoran.


"Kenapa lama sekali? Dengar yah!kamu tidak bisa selamban itu dirumahku. Sebagai seorang pembantu sepertimu, kamu harus cekatan dan langsung tanggap." Ku tekankan kata pembantu dalam pengucapan ku karena dia hanya akan jadi pembantu yang bisa aku siksa dengan sepuasnya.


Ia sedikit kaget saat melihat kedatangan ku. Mungkin karena ia tak pernah melihat tubuh sixpack yang keren seperti tubuhku. Dasar gadis ja*lang.tampangnya saja yang terlihat polos begitu.


Aku melirik sekilas air belum ia siapkan sama sekali. Jadi? Sedang apa dia sejak tadi didalam sini? Wah apa dia tidak takut yah kepada ku? Berani sekali ia belum melakukan apapun setelah membiarkan aku menunggu sangat lama tadi.


"Dimana air yang saya minta?Berarti sejak tadi kamu hanya diam bermalas-malasan disini? KURANG AJAR!Dasar jala*ng tidak tau diri." Sekeras mungkin aku bentak ia dan mendorong tubuh kecilnya hingga membentur dinding kamar mandi. Sungguh gadis ini adalah sumber emosi.


"Dengar ini baik-baik!Sebelum saya bertindak lebih keras lagi, tahu dirilah sedikit!Saat ini dan seterusnya kamu bukan lagi seorang putri dari pria sialan itu. Kamu sekarang adalah pelayanku. Ingat! Pelayanku.jadi jangan coba-coba mengabaikan segala perintah ku, paham?" Teriak ku tepat di depan wajahnya yang merah menahan tangis. Apa peduli ku dengannya?.


Melihat matanya semakin merah dan berair membuatku merasa risih. Aku sudah tekankan berkali-kali bahwa aku tak akan pernah mengasihani siapapun yang telah terlibat dengan perginya Dyva. Tapi tetap saja hatiku tetap bergetar saat melihat bulir air mata seorang gadis karena aku terbayang dengan wajah Dyva.


Ia kaget saat air yang keluar dari shower itu mengguyur tubuhnya. Kenapa lagaknya aneh sekali sih? Seperti baru pertama kali melihat air saja.


Aku matikan shower itu dan ia masih saja menatap bingung kearah shower dengan mulut masih menganga.


"Jadi menyiapkan air yang tuan maksud adalah dengan benda ini?"tanya nya sedikit takut.


Hah? Dia sedang mencoba bermain-main yah dengan ku? Apa aku yang salah dengar?.


"Benda? Maksudmu shower ini? Kamu sungguh tak tau?" Aku malah dibuat bingung dengan gadis ini.


Ia mengangguk tanda ia benar-benar tidak tau dengan ini.


Dia hidup dijaman apa sampai tidak tau?.


"Maaf tuan, tadi saya bukan sedang bermalas-malasan.


Saya hanya bingung bagaimana cara menyiapkan air yang tuan maksud tapi tidak ada Kula disini," Ujarnya dengan nada pelan. Polos sekali sih jadi manusia, bagaimana bisa ia tak tau tentang ini?.


Ah sudahlah, bukan urusanku juga. Lebih baik aku mandi saja.


"Keluar kamu, dasar tidak becus," Ucapku sembari mendorong tubuh basahnya keluar dari kamar mandi.


Kemudian aku melanjutkan urusan mandi ku dengan perlahan.


BERSAMBUNG...


Jangan lupa vote,komen, dan like yah sayang💕


Cinta kalyan ❤