
❄selamat membaca❄
Aku perlahan mendengar suara samar-samar dua orang sedang berbicara didekatku. Bukan sekali ini, tapi tetap saja untuk membuka mata akuerasa sangat kesulitan begitu juga untuk menggerakkan seluruh tubuhku aku merasa sangat kesulitan.
"Sudah hampir seminggu loh pak anak ini belum juga sadar, ibu jadi merasa khawatir. " Aku mendengar itu dengan sangat jelas tapi aku tak tau situasi apa yang saat ini sedang kuhadapi.
"Sudahlah buk, kita berikan waktu dulu untuk pemulihan nya. Mungkin sebentar lagi ia akan Bangun. " Suara lagi dari arah yang berlawanan dengan suara tadi.
Itu bukanlah suara yang kukenal karena terdengar sangat asing ditelinga ku. Dimana aku sebenarnya? Aku sungguh merasakan kalau saat ini aku sedang tidak dirumah.
Dimana mina? Kenapa aku sama sekali belum pernah mendengar suaranya? Dan alfa, kenapa aku tak mendengar suara tangisan alfa? Aku merindukan mereka berdua. Aku sungguh merindukan mereka.
Aku bersusah payah untuk membuka mataku yang sangat sulit untuk kubuka itu, lalu aku beralih mencoba menggerakkan tanganku tapi tak kuasa untuk aku lakukan juga. Kenapa dengan ku sebenarnya? Kenapa semua terasa sulit kulakukan.
Dan dengan sekuat tenaga barulah aku bisa membuka mata dan saat mataku berhasil terbuka tangan ku pun ikut bisa ku gerakkan dengan pelan wlaupun masih terasa janggal kurasa.
"Hah? Kamu sudah bangun nak? " Seorang wanita yang sudah berumur datang kedekatku dan ku lihat rambutnya sudah mulai memutih.
Aku merasa bingung siapa dia sebenarnya? Aku juga merasa asing dengan tempat yang saat ini ku lihat, ini bukanlah rumah yang selama ini kutinggali. Dimana aku sekarang?.
Aku masih terdiam dan melihat dengan heran kearah lain dan tak menemukan mina juga alfa.
"Pak, bapak, dia sudah bangun pak. " Ibu itu berlari keluar dan terus memanggil seseorang yang ia sebut dengan sebutan Bapak, apakah itu suaminya yah?.
Aku merasa bingung dengan tempat yang saat ini aku lihat. Dimana aku sebenarnya?.
"Syukur lah kamu sudah sadar nak. " Seorang pria yang juga berumur datang dari luar dengan ibu itu tersenyum senang dan bapak itu mendekat kearah ku sembari membantuku untuk bangkit.
"Minum air putih dulu nak. " Awalnya aku ragu namun aku langsung meminum air putih dalam sebuah mug yang sudah terlihat tua itu.
"Bagaimana perasaan mu saat ini? " Tanya bapak itu melihat kearahku.
"Dimana istri dan anak saya pak? Dimana saya sekarang? " Tanyaku bingung dan mereka berdua juga terlihat kebingungan dengan pertanyaan ku.
Mereka saling melihat dan aku semakin bingung dengan mereka, kenapa mereka diam saja saat aku bertanya seperti itu?.
"Maafkan kami nak karena tidak tau dengan keberadaan istri juga anak mu nak. Kami menemukan mu ditepi pantai enam hari yang lalu dengan beberapa luka yang sedikit parah dan selama enam hari kamu tidak sadarkan diri. " Ibu itu menjelaskan padaku.
Aku langsung teringat dengan kecelakaan kapal yang kami tumpangi itu. Awalnya aku mengira itu hanya mimpiku saja ternyata aku benar-benar mengalami nya dengan jelas.
Bagaimana ini? Apakah mina baik-baik saja dirumah sendirian menjaga alfa. Apakah penumpang yang ikut kapal itu juga selamat seperti ku? Aku memiliki banyak sekali kekhawatiran yang membuat ku semakin merasa pusing.
"Akh,, " Aku meringis menahan sakit saat aku mulia memikirkan itu semua.
"Kamu istirahat lagi saja dulu nak. Kamu masih belum pulih sepenuhnya. "
"Kenapa dengan kaki ku pak buk? Kenapa tidak bisa bangkit? "
Bagaimana aku bisa pulang kerumah jika aku seperti ini? Aku tak ingin membuat mina lama nunggu ku? Aku tak ingin membuat mina lama sendirian dirumah.
"Kakimu mengalami mati saraf saat ini nak, kata dokter akan pulih dalam waktu dekat tapi kita tidak akan tau kapan tepatnya. "
Aku langsung merasa hancur saat mendengar itu, belum lagi lenganku terasa sangat perih apalagi saat aku mencoba untuk menggerakkan nya.
"Kamu jangan banyak bergerak dulu nak, ibu siapkan makan dulu yah. " Ibu berjalan kedapur untuk mengambil sepiring nasi dan lauk tempe.
"Biar bapak saja buk yang menyuapi nya. "
Satu sendok diberikan oleh bapak dan aku dengan pelan meraihnya. Aku langsung teringat dengan mina yang selalu menyuapi ku jika aku sedang sakit dan aku juga tak jarang menyuapi nya saat ia sibuk memberikan alfa asi. Aku merindukan mereka berdua. Sampai mau gila rasanya.
Air mataku perlahan menetes mengingat wajah tersenyum mina. Rasanya baru kemarin aku melihat mereka berdua dengan senyuman kebahagiaan dan kini aku benar-benar sangat jauh dari mereka. Kuharap mereka akan baik-baik saja tanpa aku.
"Hiks,,, " Aku tak kuasa lagi menahan tangis karena merindukan mereka. Aku merasa bodoh karena tak mendengar permintaan mina yang melarang ku untuk pergi. Jika aku mendengar nya dan menurut injak tak akan terjadi. Aku tak akan berakhir jauh dari mereka seperti ini.
"Kenapa nak? Apa makanan nya tidak enak? " Tanya bapak itu.
Aku menggeleng dengan pelan"bukan karena itu pak, aku merindukan keluarga ku. "Aku menunduk pelan.
" Kalau kamu benar-benar merindukan mereka, bertahanlah dan sehat selalu. Kamu tidak mau kan kehilangan mereka? Begitu juga dengan mereka. Mereka tak akan pernah mau kehilangan kamu nak. "Bapak itu tersenyum melihat kearah ku aku hanya terdiam.
Aku akan berusaha kuat untuk kembali dengan selamat kerumah bagaimana pun itu. Aku tak ingin pulang dengan keadaan seperti ini. Aku tak mau membuat mina kesusahan karena harus repot mengurus ku jika aku datang kesana dengan kondisi seperti ini.
Aku harap waktu berlalu dengan cepat dan menyembuhkan luka dalam hati kami masing-masing. Aku ingin kembali dan membahagiakan mereka.
Bagaimana keadaan mereka sekarang? Aku sangat merindukan mereka. Aku ingin memeluk tubuh mereka dengan erat dan memberitahu mereka aku sangat takut jika harus berpisah seperti ini.
" Baiklah nak, habis ini kamu istirahat lagi. Semoga mereka juga bisa setegar kamu nak. "Bapak itu tersenyum dan berjalan pelan berlalu.
Aku tak tau siapa mereka sebenarnya? Yang jelas aku sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan orang sebaik mereka yang mau menyelamatkan ku, padahal aku bukanlah kenalan mereka dan mereka juga bukan dari keluarga yang mampu. Aku tak tau apakah masih ada orang seperti mereka diluaran sana.
Aku berjanji akan kembali sehat dan membalas budi mereka dengan hati yang ikhlas seikhlas mereka dalam merawat ku.
Karena kebaikan mereka sangat penting dan berharga bagiku.
BERSAMBUNG...
jangan lupa yah like, komen dan vote ❤.