
❄selamat membaca❄
Aku sejak tadi merasakan kalau ada yang memanggilku. Tapi suaranya terdengar samar dalam indera pendengaran ku.
"Tuan,bangun tuan," Ucap seseorang menyentuh bahuku sedikit keras. Apa itu Dyva yah?.
"Dyv, bentar lagi yah. Kakak masih ngantuk nih,kamu siapin kakak sarapan yah, abis itu baru bangunin kakak lagi." Aku kembali tidur setelah diganggu oleh Dyva tadi.
Baru beberapa saat aku mulai tidur kembali aku merasakan sentuhan lagi dibahuku"Tuan,bangun tuan,"Ucap seseorang. Tunggu? Tuan? Jadi yang membangunkan aku tadi bukan Dyva yah? Astaga astan ingat! Dyva udah ngk ada. Berarti yang membangunkan aku sejak tadi adalah gadis sialan itu.
Dengan perlahan aku membuka mata menatap langit-langit kamar dan beralih menatap kesal ke arah gadis sialan itu"jam berapa sekarang?"tanyaku ketus padanya.
Dengan buru-buru matanya langsung teralih kearah dinding yang disana sudah terpampang jam dinding berwarna putih halus.
"Jam 06.30 tuan," Ucapnya terdengar hati-hati dan pelan. Baguslah kalau ia tau bagaimana harus bersikap.
Aku bangkit dan duduk ditepi kasur"Kenapa membangunkan saya?"Bodohnya kamu astan, pertanyaan macam apa itu? Sudah jelas jam segini kamu harus bangun. Dan gadis ini sungguh menjalankan tugasnya dengan benar kali ini.
Dia sedikit bingung harus menjawab apa, bodoh memang.
"Eugh,air sudah saya siapkan tuan. Saya takut tuan akan terlambat jika saya tidak membanggakan tuan." Dengan mata bergerak gusar dan kepala yang menunduk begitulah ia setiap kali berbicara dihadapanku. Apa aku semenakutkan itu yah?.
Aku bangkit berdiri dan berjalan pelan kearahnya hingga ia perlahan mundur dengan penuh kekhawatiran dalam wajahnya. Sangat jelas terlihat.
"Ma, maaf tuan, a-apa saya berbuat salah lagi tuan?" Tanya nya semakin mundur karena aku terus melangkahkan kakiku dan semakin mendekat padanya.
Aku tak menjawab pertanyaan nya dan masih saja menatap nya dengan wajah datar hingga ia mentok di pintu kamar mandi.
"Dasar bodoh,obati lukamu itu. Jangan bilang kamu berharap saya akan mengobatinya dengan kamu membiarkannya begitu saja?"aku mendorong tubuhnya kesamping lalu aku memasuki kamar mandi meninggalkan dia yg terlihat sangat lega itu.
Apa dia sebodoh itu yah? Luka sedikit parah begitu dibiarkan begitu saja olehnya, apa dia benar berharap yah kalau aku akan mengobatinya? Hahahah jangan harap.
Setelah selesai mandi aku memakai setelan jas yang disiapkan olehnya. Tidak terlalu buruk sih.
Aku menyambar tas kantor juga kunci dan dompet lalu berjalan menuruni anak tangga satu-persatu.
Aku melihat dia sudah berdiri didepan meja makan sembari menunggu aku turun.
" Ma-eh, tuan,sarapan sudah saya siapkan. Semalam tuan tidak sempat sarapan karena saya tidak sempat membuatnya. Jadi hari ini saya berusaha secepatnya bangun agar bisa memasak untuk tuan,"ucapnya sedikit tersenyum kaku kearahku.
Bodoh! Dia pikir aku akan mau memakan makanan dari tangannya itu? Menjijikkan.
Aku berjalan pelan kearahnya dan aku langsung menangkap wajah sedikit senang dari matanya. Mungkin dia berpikir aku akan memakan makanan hina itu.
Aku berhenti tepat didepan nya dengan senyum merendahkan nya"Bagaimana bisa saya percaya masakan dari seorang anak pembunuh seperti mu? Saya tidak tau apakah makanan itu sehat atau bahkan membahayakan nyawamu saya, buang saja makanan itu! "Aku langsung melengkang pergi karena berlama-lama melihat wajahnya membuatku semakin naik pitan saja.
Bukannya langsung diam dan sadar bahwa aku benar-benar tidak berniat untuk menyentuh makanan yang ia masak malah ia kini mengikuti langkahku dan berbicara bahwa makanan nya itu aman.Aku bukannya takut untuk memakannya, aku hanya malas saja.
"Tuan, saya jamin makanan dimeja itu sehat tuan.Saya mohon tuan makanlah walaupun sedikit, dari semalam tuan belum pernah makan." Air mukanya memang memancarkan rasa khawatir, tapi apa peduliku?.
"Pak umar, antar saya ke kantor sekarang! Setelah itu bapak kembali kesini, jaga perempuan sialan itu jangan sampai keluar." Aku langsung memasuki mobil.
Dan saat pak umar berjalan menuju mobil gadis sialan itu datang dan mereka berbicara sedikit. Aku tidak tau dan tidak terlalu peduli juga. Terserah saja asalkan mereka jangan sekongkol untuk memberontak padaku.
Mobil sudah dilajukan oleh pak umar meninggalkan pekarangan rumah. Jangan bilang gadis sialan itu akan berniat kabur karena tak ada siapa pun dirumah. Coba saja kalau benar ia kabur, nyawanya benar-benar akan hilang hari ini juga.
"Apa yang gadis sialan itu bicarakan dengan bapak? " Bodohnya kamu astan, kenapa malah kepo dengan pembicaraan orang lain.
"Begini tuan, neng mina meminta agar saya membawa pakaian bekas putri ataupun istri saya untuknya. Ia berkata kalau ia tak memiliki pakaian sama sekali," Ucap pak umar sedikit pelan. Sepertinya pak umar juga sudah mulai takut padaku yah? Atau ia hanya segan saja, dari nada bicaranya sudah tak seenak dulu lagi. Apa karena moodku yang akhir akhir ini tidak terlalu berlaku sopan padanya?. Yasudahlah apa boleh buat, mungkin inilah yang terbaik untuk kami.
"Bapak tidak usah menghiraukan itu, sepertinya bapak tau kan kalau ini bukan lagi urusan bapak?" Pak umar langsung mengangguk faham.
Apa aku terkesan kasar lagi pada pak umar?
"Apa lagi yang ia minta pada bapak? Semalam apa yang sudah ia minta pada bapak? " Aku takut kalau gadis sialan yang tidak tau diri itu meminta banyak hal pada pak umar yang berhati baik itu.
"Tidak tau diri memang, bisa-bisanya dia meminta tolong kepada orang yang baru ia kenal," Ucapku dengan rasa kesal.
"Mmm, begini tuan.Semalam neng mina meminta saya untuk mengajarinya bagaimana cara menghidupkan shower, AC,kompor dan juga mesin cuci. Ia sama sekali tidak tau cara menggunakannya tuan,katanya ia dari kampung dan tidak pernah berurusan dengan benda-benda itu tuan. Lalu saya pun mengajarinya. Awalnya saya ragu untuk masuk kerumah tuan,dan saya juga memberikan hape saya kepada neng mina agar ia belajar dari internet, namun neng mina juga tidak tau cara menggunakan hape tuan.Maaf tuan karena sudah lancang masuk kerumah tuan," Tutur pak umar sedikit menunduk. Padahal dulu ia sering masuk kerumah saat sedang ada Dyva, kenapa sekarang begitu takut sih?.
Aku Anggukan kepalaku pada pak umar dan ia pun bernafas lega.
Pantas saja gadis itu terlihat aneh semalam, dia sungguh tidak tau cara menggunakan seluruh alat yang ada dirumah itu? Gadis bodoh! Dia hidup dijaman apa sih sampai sekolot itu jadi manusia.
"Bapak awasi pergerakan nya. Dan laporkan setiap hari apa saja yang ia lakukan. Saya tetap harus siaga dengan orang sepertinya." Aku kembali terdiam setelah mengatakan itu. Sedangkan pak umar lanjut menyetir.
Aku turun dari mobil dan menutup pintu mobil dengan pelan"Langsung kembali kerumah, dan jangan biarkan ia berniat kabur seperti semalam."aku hendak berjalan.
"Be,, begini tuan, sebenarnya neng mina tidak pernah berniat untuk mencoba kabur.Saya kira neng mina berada didalam rumah seharian ternyata neng mina pingsan saat menjemur hingga dahinya terluka. Kalau bukan karena saya bangunkan semalam mungkin neng mina akan bermalam disana tuan," Jelas pak umar hati-hati.
Apa benar yah? Ah apa peduliku?.
"Sebelum kerumah bapak mampir dulu kebutik langganan saya.Saya sudah memesan beberapa baju dan keperluan perempuan itu. Lalu berikan kepada nya, saya risih melihat dia selalu memakai kemeja saya." Aku langsung berlalu setelah mengatakan itu.
Sangat memalukan mendapat fakta bahwa aku telah memesan baju untuk perempuan sialan itu. Awalnya aku berniat membiarkan dia tidak memiliki pakaian sama sekali dan hanya kemejaku itu yang ia punya. Namun karena setiap malam aku harus melihat pemandangan yang membuat jiwa laki-laki ku meronta terpaksa aku langsung memesan itu tdi malam bahkan pemilik butik masih merasa ngantuk.
Dasar gadis sialan, bahkan saat tak melihat wajahnya saja bisa membuatku merasa kesal dan juga resah.
Sungguh bencana sekali jadi manusia.
BERSAMBUNG...
Wkwkwkkw astan kamu tuh sebenarnya ngk cocok jadi jahat. Kamu lebih cocok jadi goodboy 😅
"Baiklah, Mari kita lihat sisi jahat ku yang sebenarnya" Astan 😒
Jangan lupa like, vote, dan komen yah gaess.