
❄selamat membaca❄
Aku Bangun dengan cepat dan langsung mandi setelah disiapkan air oleh gadis bodoh itu.
Setelah itu aku berangkat sangat cepat karena masih banyak urusan diperusahaan yang menunggu untuk aku tangani dengan cepat.
"Hari ini biar saya yang menyetir," Tutur ku memasuki mobil membiarkan pak umar berdiri menunggu kepergian ku.
Aku memasang kembali beberapa lagu yang baru saja dirilis oleh perusahaan ku.
"Tunggu dulu, kenapa nadanya bisa berubah dari yang sudah kami rencanakan diawal? " Bingung ku langsung menekan tombol panggil.
"Halo, ada apa astan? Kamu tidak bisa datang hari ini? " Tanya miska tiba-tiba dari seberang telepon.
"Bukan itu, saya sedang diperjalanan saat ini. Coba dengarkan lagu nicol yang baru kita rilis dua hari yang lalu, kenapa nadanya bisa berubah dari yang sudah kita sepakati diawal? Ah dengarkan saja dulu saat saya sampai disana baru kita bicarakan." Kututup panggilan sepihak dan kembali fokus menyetir menuju kantor.
"Kalau perubahan nya sedikit masih bisa dimaklumi, tapi ini sudah jauh dari rencana."
Aku memarkirkan mobil sendiri dan langsung berjalan menuju lift. Seperti biasa miska sudah menunggu didepan lift lengkap dengan tab tempat ia mengumpulkan data.
"Aku sudah dengarkan lagunya namun hanya sedikit yang diubah." Miska mulai membuak pembicaraan sembari menyelaraskan langkahku menuju ruangan.
Aku berhenti sejenak "Dengarkan dengan seksama dan jangan hanya sekali dengar." Aku berjalan lagi dan diikuti olehnya.
"Sudah lebih dari 30 kali kudengarkan, tapi hanya berbeda pada ketukan kelima saja. Sepertinya bukan masalah yang serius astan."
Aku berhenti lagi dan lagi"Kepatuhan adalah kuncinya miska, dia tidak bisa mengubah nada dengan seenaknya saja. Baiklah anggap saja kita bisa menerimanya tapi bagaimana dengan komposer lagu itu? Jadi coba perhatikan untuk kedepannya. Saya akan coba bicara dengan komposer apa ia butuh pengubahan atau dibiarkan saja."aku kembali berjalan.
"Astan, tunggu dulu! Bagaimana kalau kita biarkan saja, kalau komposer tidak setuju baru kita turun tangan. Masalahnya begini, kalau kita melakukan perekaman ulang makan kita juga harus mengumumkan perilisan album ulang, aku takut akan berpengaruh pada kualitas nicol nantinya." Miska sedikit cemas.
"Anggap saja ini adalah kesalahan kita dalam mengeluarkan album itu, maka tak akan berpengaruh pada kualitas nicol. Kepercayaan adalah kunci dari kerja sama. Bagaimana jika karena hal kecil ini kita kehilangan komposer hebat," Ucapku memasuki ruangan meninggalkan miska yang hanya mengangguk pelan itu.
Aku duduk diatas kursi lalu menyandarkan sedikit punggung ku kelumpuhan kursi.
Tiba-tiba panggilan masuk ke ponsel ku yang saat ini sedang berada disaku jasku.
"Halo pak ada apa? " Tanyaku dengan cepat.
"Ini ibu nak, ibu mau memberitahu nakal astan kalau bapak sedang sakit. Dan tidak bisa masuk hari ini, dan digantikan oleh alga. Dia sudah berangkat seperti jam kerja bapak biasanya." Suara ibu masih terdengar lembut sampai kini.
Ibu ani adalah istri pak umar. Ia sangat lembut layaknya seorang ibu bagiku dan Dyva.
"Baiklah buk, tolong sampaikan pada bapak semoga cepat sembuh. Maaf tak bisa kesana untuk membesuk, " Ucapku dengan pelan pula.
Setelah menutup panggilan dari ibu aku langsung keluar dari kantor. Hari ini aku sungguh ingin bolos kerja.
"Loh, kenapa keluar? Padahal baru saja sampai." Miska yang datang dari ruang latihan vokal terlihat bingung melihat aku yang hendak keluar itu.
"Ada hal yang harus saya urus." Aku berlalu begitu saja padahal aku tau miska masih ingin mengatakan sesuatu. Tapi aku sungguh merasa jenuh dikantor saat ini.
Mobil kulajukan meninggalkan kantor dan dengan kecepatan tinggi aku memutar balik mobil menuju rumah pria sialan itu.
Sudah lama sekali yah tidak bertemu dengan mertua kesayangan ku itu. Sudah bagaimana yah kabarnya sekarang? Apa ia baik-baik saja atau bahkan sudah tak bernafas saat ini.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama dan jauh aku akhirnya sampai ketempat penuh dengan kebencian ini.
"Sial, kenapa jauh sekali sih kesini? Membuang banyak waktu saja." Aku menutup pintu mobil dengan keras.
Ku lihat pintu tertutup rapat, dimana pria sialan itu? Apa dia melarikan diri? Wahh semakin menarik saja.
"Apa dia pergi dari kampung ini? Dan membiarkan putrinya dalam tahanan ku? Wahh baru kali ini aku bertemu dengan pecundang seperti nya." Aku duduk dikursi yang ada didepan rumah buluk itu.
Aku memainkan hapeku sebentar sebelum pergi. Biarkan saja dia kalau memang kabur, karena aku punya pelampiasan amarah juga dendam dirumah karena yang dirumah lebih menyenangkan daripada yang disini.
Aku berdiri dan langkahku terhenti saat dihadapan ku sudah berdiri pria sialan itu dengan kayu bakar yang ada di pundaknya. Tubuhnya semakin kurus saja dan lihatlah wajah penuh pilu itu. Sungguh menyedihkan tapi aku senang.
Ia terlihat panik dan segera menjatuhkan kayu bakar itu.
"Tuan, saya kira tuan tak akan pernah datang lagi. Mari duduk tuan, bagaimana keadaan putri saya tuan?Apa dia baik-baik saja? " Matanya langsung merah berair saat ia menyinggung putrinya sendiri.
Aku tersenyum kecut melihatnya. Kukira ia akan mati, tapi apa ini? Masih hidup?.
"Sepertinya saya tidak harus menjawab pertanyaan Anda. Saya kesini hanya ingin memberikan ini sebagai hadiah pengobat rindumu pada putri kesayangan mu itu. Tenang saja saat ini ia masih bernafas kok tapi tidak tau kalau hari-hari selanjutnya. Kita lihat saja, tergantung moodku dan beritanya akan sampai kesini jika ia sudah pergi." Aku tersenyum melihat kepanikan nya saat mendengar kata demi kata yang kuucapkan.
Dengan terburu-buru ia membuat amplop itu.
"Pelan-pelan saja, bagaimana jika hadiah pemberian saya itu rusak? Jadi pelan-pelan saja agar tidak mengurangi keindahan di dalamnya."
Ia menurut dan membuka pelan amplop itu. Dan kalian tau apa reaksinya yang membuatku tertawa tertahan? Ia langsung ambruk ditanah saat melihat isi dari amplop itu. Tentu saja isinya adalah beberapa gambar mina yang sangat mengenaskan itu, mulai dari ia menangis keras dibawah hujan, tidur dilantai dan lainnya.
Aku ikut jongkok menyelaraskan posisi kami"Bagaimana mertua? Suka dengan hadiah dari menantu tunggalmu ini? "Tanyaku tersenyum memberikan kearahnya hingga ia tak bisa lagi menahan air matanya.
Sungguh mengharukan sekali tapi aku suka hahaha. Anggap saja aku psikopat gila. Karena aku sudah tidak peduli lagi.
" Tuan, saya mohon bunuh saja saya, jangan perlakukan putri saya seperti itu. Dia tidak salah apa-apa. "Ia memeluk kakiku dengan rengekan menyebalkan itu.
Ku tendang dengan keras ia" Dengarkan ini baik-baik pak tua yang terhormat. Sekarang mina adalah hak saya, terserah saya mau memperlakukan ia seperti apa mau saya. Bukan urusan anda kalau kita berbicara tentang kesalahan, apa menurut anda adik saya juga bersalah hingga pantas mati saat ini?"aku memperbaiki jasku dengan kasar.
"Tunggu saja beberapa hadiah berikutnya akan menyusul. Jadi coba renungkan kesalahanmu hingga akhir hayatmu itu." Aku berjalan menuju mobil.
"Ingat, saat ini mungkin putrimu masih bisa bernafas dan juga berbicara secara normal, kita tidak tau untuk hari berikutnya. Doakan saja agar saya lupa dengan rencana saya." Kututup pintu mobil dengan keras lalu melaju meninggalkan pekarangan rumah sialan itu.
Setelah agak jauh aku berhenti sebentar lalu merenungkan kata-kata yang keluar dari mulutku tadi.
"Apa aku sudah kelewatan yah? Terdengar seperti bukan manusia saja yang bicara tadi." Aku merutuki kebodohan yang asal bicara tadi.
"Ah sudahlah, apa peduli ku. Aku harus konsisten dan membalaskan dendam itu hingga kurasa puas. " Aku kembali menghidupkan mesin mobil dan melaju menuju rumah.
BERSAMBUNG...
jangan lupa like, vote dan komen yah gaes.
Laffyouall😘