
❄Selamat membaca❄
Aku tidak menyangka waktu berlalu begitu cepat hingga kini aku sudah mulai merasa bosan menunggu untuk kesembuhan ku yang tak kunjung datang itu.
Sudah dua tahun berlalu tapi kakiku masih saja belum bisa berjalan dengan normal seperti biasanya, lenganku sudah sembuh meskipun memiliki bekas yang sangat tidak pantas untuk dilihat. Aku hanya ingin cepat sembuh dan bisa kembali kerumah untuk berkumpul dengan mina juga alfa.
Bagaimana keadaan mereka saat ini? Apakah anakku alfa sudah tumbuh besar dan gagah? Aku sungguh merindukan mereka sampai mau gila rasanya.
Dokter selalu mengatakan kalau kakiku akan sembuh dalam waktu dekat, tapi aku tak tau kapan tepatnya? Hingga kini sudah lebih dari dua tahun aku masih saja susah untuk berjalan normal, meskipun sudah bisa berjalan dengan tongkat aku tak ingin kembali kerumah dengan keadaan seperti ini. Aku tak ingin mina merasa sedih karena melihat keadaan ku yang seperti ini.
Setiap malam aku tak hentinya memikirkan bagaimana mina disana? Bagaimana alfa disana? Bagaimana keadaan mereka tanpaku? Apakah mereka juga memikirkan hal yang sama seperti ku?Apakah mereka juga merindukan ku seperti aku merindukan mereka? Aku takut mereka tak merindukan ku seperti aku yang merindukan mereka.
Apakah mina merasa susah saat harus mengurus segalanya sendirian? Apakah mina menangis setiap malam seperti yang kulakukan? Aku tak hentinya mengeluarkan air mata setiap mengingat nya, ia sungguh gadis yang lemah juga cengeng bagaimana ia bisa bertahan sendirian tanpa ku? Bagaimana jika ada yang berniat jahat padanya dan aku tidak ada disana menemani juga menjaganya.
Aku sungguh merasa jahat dengan diriku sendiri. Sudah dua tahun lebih aku mencoba untuk sembuh dengan cepat tapi kenapa sangat sulit? Aku memang laki-laki lemah yang tak bisa diandalkan. Selama ini aku selalu merasa serba bisa tapi nyatanya aku hanya manusia biasa yang tak bisa melawan takdir ku. Aku sungguh benci dengan jarak ini. Aku ingin memeluknya mengatakan kalau aku tak ingin berpisah dalam bentuk apapun itu, bahkan sekejap pun aku tak ingin ia jauh dariku.
Aku berjalan dari depan rumah menuju tempat pencucian wajah dengan tongkat kayu yang dibuat oleh bapak untuk ku dan alhamdulillah sangat membantu sekali untuk ku bisa berjalan dengan mandiri walaupun sedikit menyakitkan karena harus berjalan dengan bertumpu pada satu kaki. Tapi entah kenapa dengan mengingat wajah mina aku merasa semua terasa mudah untuk kulakukan.
Aku duduk diatas batu dan mulai mencuci wajahku dengan pelan karena sekarang lengan ku sudah sembuh aku bebas menyentuh air dan tidak akan berpengaruh lagi pada lenganku.
Aku tak kuasa menahan air mataku karena teringat dengan mina saat aku sakit ia yang akan mencucikan wajahku dengan lemah lembut dan ia juga akan menjaga ku setiap saat Karena merasa khawatir.
"Hiks,kenapa se menyakitkan ini setiap mengingat wajahmu sayang? " Aku tak kuasa menahan air mataku dengan terus saja mengguyur wajahku dengan air dalam gentong itu.
Aku menatap langit malam ini yang tidak ada satupun bintang disana. Aku seperti langit malam ini sepi, sedih dan sendiri meskipun sebenarnya bintang tak akan pernah hilang dari sana walaupun tidak terlihat seperti saat ini aku tau mina juga pasti sedang memikirkan ku seperti aku memikirkan nya walaupun aku tak bisa melihat nya kini.
"Mas harap kamu baik-baik saja sayang. Maaf mas belum bisa pulang sekarang, mas akan berusaha pulang secepatnya agar bisa memeluk kamu juga anak kita. " Air mataku terus saja mengalir deras mengingat senyuman mina juga tangisan lucu alfa anakku.
"Sedang apa nak? Mari duduk disini. " Ibu dan bapak datang dari rumah, bapak membawa alat sulam sedang ibu seperti biasa membawa Ubi dan minuman diatas nampan sembari tersenyum kearahku.
Aku dengan buru-buru menghapus air mataku dan membasuh wajahku lagi menutupi bekas air mataku. Aku tak ingin mereka tau kalau aku menangis tadi.
Aku berdiri dengan tongkat ditanganku lalu berjalan pelan menuju balai itu duduk di dekat bapak.
"Kenapa wajahmu merah begitu juga dengan matamu? Kamu tidak sedang menangis kan? " Ibu terlihat khawatir.
Aku tersenyum sumringah "Ah ibu pikir aku anak-anak yah? Kenapa menangis? Aku hanya mencuci wajah tadi buk dan tak sengaja mengenai mataku hingga merah begini. " Aku mencari alasan dan sebenarnya hatiku sedang mencelos saat ini.
" Ah ibu ada-ada aja, memang setiap aku mencuci wajah aku selalu begitu mungkin. "
"Ibu pikir kamu menangis lagi. "
"Berbicara tentang menangis yah buk, aku jadi teringat dengan mina istri ku. Ia sangat cengeng dan mudah menangis, terkadang hanya karena hal kecil saja ia akan menangis hahahha sangat menggemaskan sekali kan buk. " Aku tersenyum saat mengingat nya.
Ibu dan bapak saling memandang dan ikut tersenyum "Itu tandanya nak mina adalah gadis yang berhati lembut astan, kamu pasti sangat menyayangi nya kan? "
Aku dengan cepat mengangguk "Sangat dan sangat menyanyangi nya dan saat ini aku yakin ia pasti sangat kesepian disana. Ia sangat mudah menangis hingga membuat ku khawatir setiap jauh darinya buk. Dulu saja ia tak pandai mengikatkan dasi ku ia langsung menangis karena merasa tak berguna. Padahal hanya dasi loh buk. " Aku tersenyum lagi saat mengingat mina yang sungguh cengeng itu.
Ibu dan bapak tersenyum kearahku "Cepatlah sembuh nak, dia pasti sudah sangat merindukan mu. " Ibu menepuk pelan bahuku.
Aku mengangguk tersenyum "Oh iya buk, aku boleh kan ikut kepasar besok? Siapa tau aku bisa membantu Ibu disana. Aku sangat ahli dalam hal memasarkan barang buk. " Aku tersenyum bangga dengan talenta yang kumiliki sejak muda dulu.
Awalnya ibu menolak karena takut akan membuat kakiku lebih parah jika dipaksa berjalan kepasar yang jaraknya sangat jauh itu. Tapi setelah ku yakinkan ia akhirnya setuju.
Aku memang sudah lama ingin ikut tapi baru sekarang aku merasa kalau kondisi ku pantas untuk ikut agar tidak menyusahkan ibu dipasar nantinya.
"Kalau nanti aku sudah sembuh dan berhasil pulang kerumah, ibu dan bapak mau kan ikut aku ke kota dan kita menjadi keluarga disana? " Aku bertanya dengan pelan sembari melihat kearah mereka bergantian.
Mereka masih terdiam dan aku menunggu jawaban dari mereka dengan penuh pengharapan.
Ibu tersenyum "Ibu tau nak niatmu sangat baik, tapi Ibu dan bapak sudah sangat nyaman berada disini. Kami sangat senang bisa membantu nak astan tanpa harus menerima apapun." Ibu tersenyum.
Aku hanya bisa diam tak bisa berkata-kata lagi. Aku tak ingin memaksa keputusan mereka. Karena kenyamanan mereka adalah hal yang terpenting.
"Kalau Ibu dan bapak berubah pikiran, tawaran ini masih terus berlaku." Aku tersenyum kearah mereka.
Kuharap mereka diberi umur yang panjang agar aku bisa membalas budi mereka dengan penuh rasa Terima kasih. Aku sungguh tak menyangka ditengah kejam dan buruknya dunia ini, masih ada manusia berhati malaikat seperti mereka berdua, bagaimana jika semua orang memiliki hati seperti mereka. Pasti dunia akan Damai dan indah.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa yah like, komen dan vote ❤.