
❄selamat membaca❄
Aku merasa tidur ku sedikit terganggu saat seseorang berbicara disebelah ku.
"Tu-tuan, maaf mengganggu. Saatnya makan malam tuan," Ucap seorang gadis dan saat aku buka perlahan mataku wajah gadis sialan itulah yang saat ini ada dihadapan ku. Menjengkelkan sekali sih.
"Berani sekali kamu mengganggu tidur saya," Ucapku dengan nada marah padanya. Sekedar info aku paling tidak suka saat tidurku diganggu oleh orang lain. Apa lagi seingat ku aku baru saja tertidur tadi setelah menyiram gadis bodoh ini di dalam kamar mandi.
Ia sedikit bergetar saat aku bentak seperti tadi. Dasar lemah sekali, dibentak seperti itu saja sudah berlagak ketakutan.
"Maaf tuan, saya takut makanan nya segera dingin kalau tidak dimakan sekarang." Ia berbicara sambil bergetar menunduk.
Aku melirik kearah nya yg saat ini sangat tidak pantas untuk dilihat, apa lagi untuk pandangan para lelaki. Bagaimana tidak? Kemejaku yang tipis ia kenakan itu berwarna putih dan transparan saat terkena air. Tubuhnya kini sudah terpampang jelas dihadapan ku. Belum lagi apa itu yang didadanya sedikit menyembul keluar membuat mataku harus aku jauhkan dari sana.Aku adalah laki-laki normal yang langsung bereaksi saat melihat hal-hal seperti itu. Dan belum lagi laki-laki memang memiliki penglihatan tajam untuk hal-hal seperti itu. Bahkan saat wanita berpakaian tertutup kami bisa tau ukurannya apalagi yang terawang seperti ini.
"Dasar jal*ang, kamu mencoba merayu saya yah? Sayangnya saya tidak tertarik dengan jal*ang murahan seperti mu. Menjijikkan!" Aku bangkit berdiri dan meninggalkan dia didalam kamar yang terlihat bingung saat aku katain seperti tadi.
Wajar saja dia bingung.Dia memang bukan tipe gadis yang nakal yang mencoba menggoda laki-laki, dia masih sangat polos untuk hal seperti itu. Aku hanya mengatakan itu agar dia yg terlihat tidak baik padahal aku yang pikirannya sudah travel kemana-mana.
Aku menuruni anak tangga dan sesaat kemudian aku langsung disuguhi pemandangan dapur yang sepi dan melihat bayang-bayang Dyva yang biasanya sudah ada dimeja makan menunggu aku untuk makan malam bersama.
Aku duduk diatas kursi dan menyendokkan nasi itu kepiring ku namun beberapa saat setelah itu aku langsung merasa air mataku jatuh lagi. Bayangan dihadapan ku kini perlahan hilang dan kini aku benar-benar sedang sendirian dimeja makan ini.
Bagaimana aku akan melanjutkan makan saat aku sudah tak bisa lagi bahkan untuk menyuapkan satu sendok nasi saja kedalam mulutku.
"Dyva, bagaimana ini? Kakak tak bisa menghabiskan makanan nya, ayolah marahi saja kakak tak apa." Ucapku seolah saat ini Dyva memang sedang berada di hadapan ku sembari memasang wajah tak suka saat aku selalu tidak pernah bisa menghabiskan makanan yang ada dipiring ku dan ia akan selalu marah padaku dengan memberikan nasehat bahwa mubazir itu adalah temannya setan. Lucu sekali wajahnya saat mengatakan itu, tapi kenapa air mataku yang jatuh saat mengingat wajahnya itu?.
"Tu-tuan baik-baik saja?" Tanya gadis bodoh itu mendekat kearahku dari nada suaranya yang semakin dekat.
Aku buru-buru menghapus air mataku karena aku tak ingin gadis sialan ini tau bahwa aku lemah jika menyangkut Dyva.
Aku memutar kursi yang saat ini aku duduki hingga kini tepat menghadap wajah gadis itu yang langsung menunduk saat aku tatap. Dengan senyum getir aku melihat kearahnya"wah,sekarang kamu khawatir tentang saya? Kejutan sekali seorang putri dari orang yang membunuh adik saya mengkhawatirkan saya?Jangan bercanda sekarang!"dengan penuh kesal aku menatap wajahnya dengan segala kebencian.
Dia meremas kemeja yang ia kenakan itu bukti bahwa sekarang ini ia benar-benar sedang ketakutan "Ma-maaf tuan, saya hanya khawatir." Dengan wajah penuh ketakutan itu ia berkata menghawatirkan aku? Yang benar saja.
Aku bangkit berdiri lalu mendekat kearahnya dengan mendekatkan mulutku di telinganya "Harusnya sekarang kamu khawatirkan dirimu sendiri,kita tidak tau sampai kapan nafasmu akan berhembus.Mungkin saja ini hari terakhir mu bisa melihat dunia ini," Ucapku dengan senyum penuh kemenangan karena berhasil membuat ia benar-benar merasa takut sekarang.
"Sepertinya kamu memang berniat menggoda saya kan?Dasar ja*lang bi*nal,kenapa tidak sekalian saja telanjang bulat dihadapan saya dibanding kamu berpakaian tipis transparan seperti itu." Aku lagi-lagi menyalahkan dia padahal pikiran ku yang menjelajah ini itu. Dia bahkan tidak tau apa-apa.
Dia merasa kebingungan dan melihat kearah pakaian yang saat ini ia kenakan. Aku tebak saat ini ia tau apa maksudku dilihat dari reaksinya yang langsung menutupi tubuhnya dengan kedua tangan. Bodoh apa faedahnya menutup seperti itu? Jelas sekali aku masih dengan sangat mudah melihat semua itu.
"Bu-bukan maksud saya menggoda tuan.maaf tuan, tadi baju saya basah dan saya tidak punya baju ganti, setidaknya ini lebih baik daripada tidak berpakaian sama sekali," Ucapnya dengan bibir yang berhasil membuat aku menelan saliva berkali-kali. Ayolah astan, jal*ang diluar sana lebih baik dari gadis bodoh ini. Tapi kenapa hanya dengan melihat bibir itu kamu sudah tidak bisa menahan diri.
Aku tersenyum smirk dan semakin mendekat kearahnya "Bagi saya sama saja, sama-sama menjijikkan!Sudah berapa laki-laki yang menjajankan tubuhmu ini? Sepertinya sudah banyak yah?" Aku berlalu setelah mengatakan itu. Sebut saja aku gila karena menuduhnya dengan kata-kata seperti itu padahal akulah yang berpikiran negatif sejak tadi.
Lebih baik aku pergi saja meninggalkan gadis sialan ini takutnya aku semakin lepas kendali dan menghajarnya habis disini.
Aku menaiki tempat tidur dan memainkan beberapa game dari ponselku. Aku bukanlah tipe laki-laki yang suka bermain game seperti kebanyakan laki-laki lain. Tapi saat bosan aku memainkannya sesekali.
Aku melirik pelan gadis itu saat masuk dan berjalan kearah samping tempat tidur tempat ia biasa tidur. Aku tidak pernah yah menyuruhnya tidur dilantai. Dia sendiri yang memilih untuk tidur disana padahal ada sofa yang lebih empuk dari pada lantai dingin itu,jadi aku tidak salah disini.
Aku yang sedang bermain game dari layar hape sesekali melirik gadis bodoh itu yang mulai terlelap setelah sedikit bergerak gusar karena merasa tak nyaman tidur di lantai itu. Sedikit kasihan melihat ia memeluk diri untuk sekedar mencari kehangatan tapi bukan urusanku. Biarkan saja.
Aku langsung berbalik kaget saat ia bergerak gusar hingga kemeja yang ia kenakan menyingkap sampai keatas hingga lagi-lagi pemandangan itu yang aku lihat. Paha mulusnya terpampang dihadapan ku dan akhhhh,,, membuat frustasi saja gadis sialan ini. Kenapa aku menjadi labil seperti ini sih? Ingat astan dia masih anak-anak. Ya ampun.
Aku berkali-kali mencoba membuang pikiran ku yang bukan-bukan itu. Sejak tadi kenapa sih denganku yang tak habisnya berpikir yang tidak tidak pada seorang gadis yang masih SMA seperti gadis bodoh ini.
Namun saat aku mencoba membuang pikiran jahat itu aku lagi-lagi disuguhi pemandangan dimana satu kancing bagian atas bajunya ternyata terbuka hingga,, akhh,, mati saja kamu gadis sialan.
"Ah, sial," Umpat ku membuang selimut yang saat ini ada di tubuhku kearah gadis itu hingga ia tertutupi oleh selimut itu.
Aku dengan segala keterpaksaan harus menuntaskan ini di dalam kamar mandi.
Dasar gadis setan.
BERSAMBUNG...
Wkwkwkw ngakak teh saia 😅ini astan nafsuan banget ya ampun 😌😌bisa-bisanya dia berekspetasi jauh banget 😅
Jangan lupa vote, like dan komen yah gaes.