
❄selamat membaca❄
Aku masih saja menangis bersimpuh dilantai seakan aku adalah seorang anak yang sedang kehilangan ibunya.
"Hiks,,, beri aku kesempatan untuk menjadi suami yang baik untuknya."harapanku sudah hilang. Aku sudah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku.
" Mas, "telingaku menangkap suara samar namun sangat familiar dalam pendengaran ku.
"Hiks,,, baru beberapa saat saja Mas sudah berhalusinasi kamu memanggil Mas."aku semakin menangis keras karena khayalan ku saat ini mina sedang memanggilku.
"Mas,, kenapa nangis begitu sih."kurasakan sebuah sentuhan dibahuku oleh seseorang yang aku sendiri tidak tau.
Aku dengan cepat berbalik dan jantung ku berdetak tak beraturan bak sedang maraton saja karena melihat sosok Mina dengan pakaian rumah sakit sedang duduk di kursi roda sembari tersenyum ke arah ku.
Awalnya aku tak bereaksi apa apa karena masih tidak percaya dengan apa yang sedang ku lihat itu namun dengan sigap aku merengkuh Mina kedalam pelukan ku.
"Hiks,,, kamu jahat sayang, kamu buat Mas takut."
Aku sudah seperti anak kecil yang sedang kehilangan mainan menangis dengan kesal. Karena aku sangat kesal dengan mina yang sungguh berhasil membuat ku ketakutan bukan main. Aku takut kehilangan mina.
Suster yang membawa kursi roda Mina tadi saja sampai tersenyum merasa lucu melihat laki laki dewasa sepertiku menangis seperti seorang anak kecil yang ketakutan.
"Maafin aku Mas,,, hiks,, aku juga takut."
Mina juga malah ikut menangis dalam pelukan ku.
Aku masih tak mau melepaskan pelukan ku,aku takut saat aku lepas Mina akan pergi,aku masih berpikir ini adalah ilusiku semata.
"Maaf pak,, saudari Mina masih sedikit lemah jadi perlu dibaringkan dulu." Suster.
Aku yang mendengar itu pun langsung melepaskan pelukannya "Maaf sayang, Mas hanya takut kamu pergi lagi."
Aku pun mengangkat tubuh lemah Mina keatas ranjang dan mencium pelan kening Mina.
"Sejak kapan kamu bangun sayang? Kenapa mas tidak dikabari?"
Aku menarik kursi dan duduk tepat disamping mina yang tersenyum kearahku sedang bibirnya masih saja terlihat pucat.
"Aku sudah bangun mulai dari pagi tadi Mas, tapi aku masih belum sepenuhnya sadar tadi jadi pihak dokter masih melakukan pemeriksaan dan setelah sepenuhnya sadar kami telpon Mas eh malah mati belum sempat pihak dokter bilang kalau aku sudah sadar terus ditelpon lagi malah ngk di angkat Mas."
Aku langsung merutuki kebodohan ku yakin tak mendengar kan pihak rumah sakit hingga selesai berkabar. Dan malah memikirkan yang tidak-tidak. Bodoh kamu astan bodoh.
"Jadi aku minta diantar bentar Mas liat putra kita eh pas belum sampai kesana kami dengar teriakan dari kamar aku ini dan ternyata Mas sudah disini sembari menangis keras seperti tadi, Mas kenapa? "Aku sungguh malu dengan pikiran ku bodoh itu, mungkin ini adalah karma ku yang selalu mengatai mina bodoh ternyata aku lah yg lebih bodoh disini.
"Mas takut kamu ngk bangun lagi."
Aku memegang erat tangan Mina dengan air mata bahagia karena bersyukur masih bisa melihat Mina membuka mata dan berbicara.
Mina menghapus air mata ku dengan lemah"Aku juga takut Mas,, aku takut tidak bisa melihat wajah Mas lagi hiks,, "Mina memegang wajah ku dan menghapus lagi air mata ku.
Begitu juga dengan ku, aku juga memegang wajah Mina dan menghapus air matanya.
" Terima kasih sayang,, Terima kasih sudah berjuang untuk kembali lagi."aku memeluk Mina dengan erat.
Mina menepuk pelan punggung ku yang menangis dalam pelukannya.
"Makasih juga Mas tanpa henti merawat dan juga menemani ku disini, aku bangun karena mas."aku yang mendengar itu sedikit bingung dan mengerutkan dahiku.
"Aku memang koma mas tapi aku bisa mendengar dengan jelas setiap kali mas sholat dan berdoa disini, memohon keselamatan ku dengan suara yang pasrah dan menangis hiks,, aku tau tapi aku tak bisa bangun untuk memeluk tubuh lelahmu mas hiks,, maafkan aku udah buat mas menderita hiks,,, "
Aku dengan cepat menggelengkan kepalaku karena mina tidak sepenuhnya benar.
"Tak ada yang lebih menderita selain kamu sayang, kamu sudah mempertaruhkan hidup kamu untuk anak kita sayang buah hati kita, terimakasih sudah menjadi orang yang selalu memberikan apapun untuk mas dan ibu yang baik untuk anak kita."
Air mata mina mengalir deras saat mendengar ucapanku itu.
"Mas, ayok bawa aku liat anak kita, dari tadi aku belum sempat liat wajahnya."
"Sayang, mas tau kamu pasti ingin melihat pangeran kita tapi mas takut tubuhmu masih belum sanggup untuk bergerak lebih banyak lagi."
Mina malah tersenyum kearahku. Apa aku terlihat sedang bercanda yah?.
"Dokter bilang kalau kesembuhan ku adalah suatu keajaiban mas, alhamdulillah aku merasa baik baik saja, ayok mas bawa aku melihat anak kita, dia juga mungkin sudah sangat merindukan kehadiran ibunya mas, dari dia lahir sampai saat ini aku belum pernah ngasih dia minum asi."
Benar yang mina katakan kalau pangeran kami sejak kecil belum pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu dan bahkan asinya mina juga belum pernah ia minum.
Setelah sampai diruang khusus bayi ku berhenti kan kursi rodanya tepat didepan bayi kami. Ku lihat mata mina yang berair dan berbinar takjub itu.
Ku angkat bayi kami dari keranjang nya dan memberikan nya ke pangkuan mina.
Air mata mina sudah tak bisa ia bendung lagi saat meraih bayi kami.
"Ini mamah sayang,, hiks,, maafkan mamah baru bisa datang sekarang, kamu pasti udah kangen banget yah sayang? " Pasti ia sangat merindukan malaikat kecil kami.
"Kamu sehat sekali sayang,, Terima kasih sudah mau berjuang dengan mamah sayang,, hiks,,, maafkan mamah."aku berjongkok dihadapan mina dan menghapus air matanya dengan pelan.
"Sudahlah sayang, nanti anak kita ikut nangis liat mamah cantiknya nangis,, kan sayang,, mamah ngk boleh nangis kan." Aku seperti sedang berbicara dengan bayiku.
"Oh iya mas,, anak kita udah dikasih nama belum? "
Aku dengan pelan menggelengkan kepalaku "Awalnya mas mau ngasih tapi mas yakin kamu pasti sudah menyiapkan itu jadi mas tunggu kamu sadar dulu sayang." Kuelus kepalanya lembut.
"Yasudah mas, kasian anak kita sudah dua minggu belum memiliki nama juga,aku udah siapin nama untuk laki laki setampan anak kita mas aku harap mas suka." Aku tersenyum kearah mina. Aku tau ia pasti sudah menyiapkan ini sedari dulu makanya aku lebih memilih menunggu mina sadar untuk memberikan anak kami sebuah nama.
"Siapa sayang? Mas yakin pasti namanya bagus banget."
"Alfa jaya ramatha mas, gimana menurut mas? "
Aku tersenyum mendengar itu. Seperti dugaanku mina adalah ibu yang sangat hebat dan juga cerdas. Aku sungguh menyukai nama itu.
"Mas suka sekali sayang,kamu sangat kreatif sayang."kulihat mina yang tersenyum sangat puas.
"Alfa sayang,, kamu sehat selalu ya nak."aku tersenyum melihat mina yang sangat senang bisa bertemu dengan alfa begitu juga dengan mu yg masih tidak percaya dengan keajaiban ini.
"Ngeak,,, huu. " Tiba-tiba alfa menangis sangat keras.
"Alfa,, kamu kenapa sayang? Kamu lapar yah sayang? Maafin mamah yah sayang belum pernah ngasih kamu asi."
Kulihat mina yang panik langsung membuka kancing bajunya dan mulai mengeluarkan gundukan nya itu untuk alfa hisap. Aku bodoh atau gimana sih, masa aku cemburu dengan anak ku sendiri sih?.
"Mas,, kok liat liat sih? Aku jadi malu ih."kulihat mina memang merasa malu saat ini.
"Kenapa harus malu sayang? Dulu aja aku sering kok nyusu sama kam,, mphh."aku tak bisa menyelesaikan ucapanku karena mina sudah lebih dulu membekap mulutku itu.
"Mas ih,, kok ngomong gitu sih?"kulihat banyak sekali pasang mata melihat kearah kami. Apa aku ngomongnya ke kencengan yah?.
"Iya deh maaf, padahal yang mas bilang beneran kok, jadi kamu ngk usah malu sayang." Ku elus pucuk kepala mina dan alfa tiba-tiba menangis lebih keras lagi.
"Kamu kenapa sayang? Kok malah nangis? Mamah kan udah ngasih asi sama kamu sayang."
Aku ikut panik saat kulihat alfa rewel begitu "Badannya ngk panas kok, tapi kenapa alfa rewel gini? "
"Coba kasih asi lagi sayang. "
Kulihat mina lagi-lagi memberikan alfa asinya namun alfa masih saja rewel. Mina pun mencium bau mulut alfa hingga kulihat wajahnya sangat panik.
"Mas,, anak kita ngk dapet asi aku, gimana nih mas? Coba panggil dokter dong mas, kok asi aku ngk mau keluar sih? "
Aku langsung mengangguk dan keluar menuju ruang dokter.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa yah like, komen dan vote. ❤