Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)

Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)
20.Aku bijak (S2)


❄selamat membaca❄


    Padahal aku sudah niatkan untuk berangkat ke kantor saat setelah shalat ashar. Namun miska berkali-kali menelpon karena niky berulah lagi.


Aku terpaksa harus berangkat cepat hari ini. Aku keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk saja. Memakai setelan lengkap yang disiapkan oleh gadis be*go itu.


Setelah semua lengkap akupun meraih dompet juga kunci di atas meja. Setelah itu aku berjalan menuruni anak tangga.


Sebelum sampai dipintu aku melihat gadis bodoh itu sedang berdiri dihalaman depan sembari melihat langit. Sedang syuting drama dia? Bergaya sok aesthetic begitu untuk apa?.


Aku menutup pintu yang sudah kubuka tadi lalu berjalan menuju gerbang mengabaikan kehadirannya disana. Namun baru beberapa langkah aku sudah mendengar suaranya bertanya padaku.


"Apa tuan akan langsung berangkat?"tanya nya berjalan mendekat kearahku. Kenapa masih bertanya jika sudah tau jawabannya? Menjengkelkan sekali sih dia. Aku sungguh tak ingin emosi saat ini. Karena akan mempengaruhi kinerjaku nanti.


"Saya memang menyuruhmu bertanya karena punya mulut,tapi saya harap tidak usah menanyakan hal yang sudah kamu tau jawabannya,membuang waktu saja,"ucapku dengan nada yang cukup kesal. Sepertinya orang gila juga tau kalau sudah rapi begini pasti sudah mau pergi. Kenapa masih repot bertanya seperti itu?.


Ia menunduk minta maaf namun aku malah menangkap wajahnya yang memerah dan matanya sembab pasti karena menangis tadi, hanya karena film saja dia sudah menangis hingga matanya sesembab itu? Dia sepertinya memang tidak punya otak sama sekali. Karena hal kecil saja nangisnya sudah parah seperti itu. Bagaimana jika dia yg jadi aku. Pasti sudah bunuh diri.


"Mata mu kenapa?kenapa bengkak begitu?"tanyaku tiba-tiba. Hey, kenapa kamu peduli astan?.


"Anu,,itu tuan,saya tadi motong bawang jadi merah gini hehehe,"ucapnya sembari cengengesan seperti orang bodoh. Dia pikir yang ia coba bohongi adalah anak kecil. Sudah jelas ia habis menangis malah beralasan karena memotong bawang. Dasar bodoh.


"Saya tak tertarik sebenarnya,hanya basa basi saja tadi,jangan berulah apalagi berniat kabur,"tutur ku lalu berjalan pergi.


Aku tau ia tak akan pernah berani untuk kabur. Hanya tidak tau lagi ingin mengatakan apa makanya aku berkata begitu. Dia tidak seberani itu untuk Nekad.


Aku melajukan mobil menuju kantor sembari menyetel beberapa lagu-lagu yang dirilis dari perusahaan yang saat ini aku pimpin. Seperti dugaan ku hasilnya tidak ada yg mengecewakan.


Aku sesekali mengikuti alunan musik juga lagu yang dilantunkan oleh mereka.


" Dia cukup berbakat tapi sangat susah untuk diatur,"ucapku lalu kembali fokus untuk menyetir.


Aku berjalan menuju ruangan ku setelah membiarkan petugas lobi untuk memarkirkan mobil itu untuk ku.


Baru juga melewati lift miska sudah memotong jalan yang akan aku lewati.


"Astan, gawat nih gawat," Ucapnya terlihat panik dan tanpa ia sadari kancing kemejanya yang begitu ketat itu terbuka sedikit. Untung saja aku imannya sedikit kuat untuk tidak terangsang dengan itu. Ah bukan begitu, aku juga sedikit heran kenapa aku sama sekali tidak pernah tergoda dengan miska yang selalu tampil modis, seksi dan sesekali ia juga mencoba merayuku tapi aku sama sekali tak tergoda dengan itu. Sedangkan gadis sialan itu, ia hanya mengenakan kemeja ku yang kebesaran saja sudah membuat pikiran ku travel kemana-mana dan berujung di kamar mandi. Apa aku yang kurang waras atau bagaimana? Bagaimana mungkin gadis berkelas seperti miska tidak membuat ku bereaksi sedang gadis bodoh itu bisa? Ayolah astan kamu pasti salah menduga kan?.


Kenapa malah memikirkan gadis bodoh itu sih? Membuang waktu saja aihh.


"Kamu tenang dulu, tarik nafas dan kancing dulu kemeja mu itu. Mau menggoda saya yah? " Ucapku terang-terangan hingga ia langsung melihat pada penampilannya yang sangat erotis itu.


Aku hanya terdiam mendengar senda guraunya itu. Karena tak ada hal yang bisa dianggap lucu disitu.


"Jadi jelaskan sekarang apa perihal yang membuatmu begitu panik tadi? " Aku berjalan menuju ruangan ku dan diikuti oleh miska dengan menyelaraskan langkah kami bersamaan.


"Niky, dia ketahuan sedang makan bersama cowok penjaga indomaret itu," Ucap miska lalu memberikan beberapa gambar yang menjadikan segalanya terlihat nyata.


Aku menghela nafas pelan lalu duduk di kursi kekuasaan ku diikuti oleh miska yang berdiri disamping ku.


"Masalahnya apa jika mereka sedang makan berdua? " Tanya ku santai.


Miska terlihat heran dengan Jawaban yang aku berikan. Apa yang membuat ia heran dalam kalimat ku itu?.


"Astan, kamu tuh ngk pernah serius dengan masalah yah. Ini tuh scandal astan. Niky adalah bintang saat ini yang tengah naik daun. Fansnya ada dimana-mana dan kalau mereka tau mereka pasti akan marah dan protes kesini." Miska terlihat kesal.


Aku tertawa pelan mendengar ucapannya "Apa makan di indomaret dengan pegawai nya adalah dosa besar? Kenapa mereka harus protes dengan itu? Ayolah miska, kamu yang terlalu overthinking. Be positif saja. Karena ini bukanlah masalah besar. Kita bisa saja menjadikan ini sebagai batu loncatan kita untuk meraih respon positif dari publik dengan mengeluarkan artikel bahwa niky seorang bintang yang tengah naik daun dengan suka rela menemani seorang pegawai indomaret yg sedang makan sendirian. Dia begitu berhati mulia. Game over." Aku berdiri membuka jas yang saat ini ku kenakan dan menggantungkan nya dirak pakaian yang tersedia di dalam ruangan ku itu.


Miska yang awalnya terlihat bingung dan panik langsung tersenyum lega mendengar ucapanku itu.


"Wahh seperti yang diduga. CEO memang selalu memiliki sudut pandang yang hebat, baiklah akan segera ku kabarkan pada riko untuk segera merilis artikel itu secepatnya." Miska tersenyum senang.


"Yasudah kalau sudah tidak ada urusan lagi, silakan keluar masih banyak yang harus saya urus." Aku duduk kembali.


"Tunggu dulu, kamu ngk mau gitu ngasih hukuman buat niky, kamu terlalu baik padanya hingga ia selalu membuat masalah." Miska yang tadinya suah berjalan kearah pintu kembali berbalik menuju mejaku.


Aku gelengkan kepala ku dengan santai "Biarkan saja dia, nanti juga sadar sendiri." Aku kembali fokus pada berkas dihadapan ku.


Miska mendesah pelan"Selalu saja bilang begitu, pantas saja niky tak pernah kapok berbuat onar, "ucap miska terlihat kesal.


Aku beralih menatap kearah miska" Jika kita terus-terusan menanggapi emosinya yang labil itu dengan amarah pula ia akan semakin membangkang. Karena usianya saat ini masih sangat labil dan bisa nekad untuk hal-hal yang lebih mengerikan dari ini semua, jadi kita slow respon saja agar ia lelah dengan sendirinya."aku menggulung lengan kemeja ku dengan pelan dan miska yang mendengar itu hanya mengangguk saja lalu beralih keluar ruangan ku.


Aku kembali disibukkan dengan berkas berbagai saham dan investasi kerja sama yg saat ini ada dihadapan ku.


BERSAMBUNG...


Duhh astan ternyata sebijak itu yah saat di kantor. Kenapa malah menjadi nano-nano saat dirumah, kadang baik, jahat, kekanankan dan juga mesum. Ada apa dengan astan yah wkwkwk


Jangan lupa like, vote dan komen yah.