Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)

Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)
19.gadis cengeng (S2)


❄selamat membaca❄


     Setelah ia siapkan handuk bersih aku langsung melakukan acara mandiku setelah itu aku memakai setelan yang ia siapkan yaitu baju kaos hitam polos dengan celana hitam polos juga. Tidak terlalu buruk karena aku hanya akan bersantai dirumah ini sampai sore nanti. Karena aku akan ke kantor saat sore.


Setelah memakai pakaian yang ia siapkan aku duduk sebentar diatas ranjang sembari melirik ponselku yang saat ini sedang berada dalam genggaman ku. Aku bukanlah termasuk orang yang suka memainkan sosial media, game dan semacamnya karena aku rasa itu terlalu membuang waktu namun sesekali saat aku sedang bosan aku juga memainkannya.


Aku mendengar suara dari bawah, pasti gadis bodoh itu sedang memasak. Padahal aku tidak pernah memakan masakannya namun, ia masih saja memasak. Aku jadi tak ada alasan untuk memarahinya.


Aku pun berdiri lalu berjalan menuruni anak tangga menuju sofa kemungkinan memasang televisi untuk mencari channel yang menarik hati.


Aku berkali-kali menukar channel televisi namun tak kunjung menemukan show yang menarik semua membosankan sekali.


"Tuan,, sarapannya sudah selesai saya masak,"ucapnya pelan berjalan mendekat kearahku.


Lihatlah, ia masih saja berusaha keras membujuk aku agar mau memakan masakannya itu. Baiklah kita lihat apakah masakannya layak disebut makanan nanti.


"Bawa kemari, " Ucapku hingga membuat ia sedikit kaget.


Dengan Buru-buru ia berlari kedapur dan menyiapkan makanan dengan semangat. Kenapa dia?.


Dengan perlahan ia meletakkan nampan berisi air putih dan nasi goreng dihadapan ku. Setelah itu ia bangkit berdiri.


"Mau kemana kamu? " Tanyaku bingung saat ia hendak pergi.


"Eug,,saya akan kedapur tuan,saya takut tuan tidak berselera makan kalau tuan melihat saya,"ucapnya menunduk.


Wah tumben sekali ia tau diri begitu? Tapi kenapa aku malah ingin ia berada disini sekarang? Aku tak mau makan sendirian.


"Kamu pikir saya bodoh mau makan begitu saja masakan anak pembunuh seperti mu? duduk disini cepat dan makan makanan itu dihadapan saya."bagus sekali modusmu astan, kenapa akhir akhir ini kamu terlihat sangat labil?.


Dengan wajah ragu ia duduk disamping tempat duduk yang aku tunjuk tadi. Ia meraih piring dan menyendok satu sendok nasi goreng itu kedalam mulutnya dan mengunyah dengan perlahan.


Aku mengangguk tanpa ku sadari. Kenapa aku harus mengangguk segala sih?.


"Baiklah saya percaya sekarang,kalau begitu suapi saya makan."hah? Apa aku sudah gila menyuruhnya menyuapi ku makan? Makin gila saja kamu astan.


Ia pun menurut menyuapiku satu sendok nasi goreng buatannya. Awalnya aku pikir rasanya akan seperti nasi goreng yang biasa aku pesan. Namun kuakui nasi goreng buatannya sangat enak hingga aku merasa ingin dan ingin lagi. Kenapa bisa yah seenak ini? Sungguh nasi goreng yang luar biasa.


"Ba,, bagaimana tuan?apa rasanya enak tuan?"tanya nya dengan pelan.


"Biasa saja,"ucapku berbohong padahal aku sudah sangat ketagihan dengan rasa dari nasi goreng buatannya ini. Terlalu gengsi untuk memuji masakannya karena bisa saja nanti ia malah besar telinga karena pujian ku itu. Lebih baik tidak usah memuji saja.


Wajahnya langsung berubah lesu karena tanggapan ku tadi.


Mendengar itu ia langsung merubah air mukanya menjadi tersenyum Kikuk, kenapa mudah sekali sih baginya untuk tersenyum seperti itu? Dengan semua perlakuan, perkataan dan juga hinaan yang kuberikan untuknya bisa-bisanya ia masih bisa membuat lengkungan dibibirnya itu.


"Bukan begitu tuan,saya hanya kecewa ternyata selama ini orang orang dikampung tempat saya tinggal berbohong dengan rasa masakan saya, mereka berkata masakan saya enak dan bahkan mengalahkan restoran bintang lima, mereka juga selalu membeli dagangan saya hingga ludes tanpa harus saya jualkan ke kampung sebelah kampung saya,tapi sekarang saya faham kenapa mereka melakukan itu, mereka hanya kasihan kepada saya,dan bodohnya saya selama ini sangat bangga dengan masakan saya,"ucapnya lesu dan menundukkan kepalanya kebawah.


Berapa banyak sih pekerjaan gadis ini? Sesuatu sekali sih dia. Tidak hanya jadi tukang laundry dia juga tukang jual makanan. Padahal umurnya masih sangat muda sekali untuk melakukan hal-hal seperti itu. Sungguh sesuatu.


"Dasar bodoh,hanya karena ucapan saya sudah membuat mu goyah,kamu yang tau kemampuan mu,bukan orang lain."dia terlihat sangat bingung.


"Cepat suap lagi,"titah ku dengan cepat ia turuti.


Setelah menyuapiku ia pun beralih melihat kearah televisi dan ia terlihat sangat tertarik dengan cerita kuno dan bodoh film itu.


Apa sih yang menarik dari film itu hingga matanya tak berkedip bahkan saat melihatnya. Padahal hanya kisah anak sekolahan yang sering dibully. Tak ada hal yang menarik perhatian sama sekali.


Namun saat aku sedang melirik kearahnya aku dapat melihat dengan jelas ia meneteskan air mata dan dengan cepat ia beralih membelakangi ku dan mengusapnya dengan cepat pula. Kenapa tiba-tiba menangis begitu? Hanya karena film? Apa dia menangis hanya karena melihat tokoh dalam film itu dibully? Dasar gadis bodoh. Itu kan hanya fiktif semata kenapa dibawa serius?.


"Cepat suapi saya, sedang apa kamu membelakangi saya?"ucapku hingga ia dengan cepat berbalik dan mengusap air matanya dengan pelan.


"Anu,,itu tuan mata saya kelilipan,maaf tuan,"ucapnya dengan wajah yang sudah jelas terlihat sedang menahan tangis. Kenapa dia sebenarnya? Tidak ada angin tidak ada hujan ia menangis tanpa sebab.


Aku semakin dibuat heran olehnya karena air matanya tak kunjung berhenti untuk mengalir.


"Maaf tuan,maaf karena menggangu acara makan tuan,karena kelilipan mata saya tak berhenti mengeluarkan air,"ia pikir aku anak teka yah? Berbohong seperti itu untuk apa? Sudah jelas ia sedang menangis malah beralasan sedang kelilipan. Dasar bodoh.


"Sudahlah,saya kenyang,"jujur saja melihatnya seperti ini sedikit membuat hatiku tersentil. Daripada aku melakukan hal gila lagi seperti memeluknya lebih baik ia pergi dari hadapan ku sekarang juga.


"Maafkan saya tuan karena membuat tuan tak nyaman,saya permisi tuan,ada sesuatu yang harus saya urus,"ucapnya dengan nada suara bergetar menahan tangis. Apa sebenarnya yang ia tangiskan? Membuat bingung saja.


Bahkan baru bebeberapa langkah ia berjalan aku sudah mendengar tangisan kecil darinya. Tapi aku memilih untuk berpura-pura tidak tau saja.


Aku juga mendengar suara samar-samar dari dapur. Apa ia melanjutkan tangisannya disana yah? Sudahlah bodoamat. Aku tak peduli mau ia menangis atau bahkan mati sekalian.


Aku memilih untuk tidak menghiraukan dia. Dan fokus pada tontonan ku saja.


BERSAMBUNG...


HUUU kasian yah minat, lagi flashback masa sekolah tuh dia.


Jangan lupa yah like, komen dan vote nya juga 😘☺