Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)

Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)
89.ketakutanmu(S2)


❄selamat membaca❄


     Jam sudah menunjukkan pukul 22.35pm, aku masih saja berada di post pak umar memantau keadaan mina dari dalam rumah. Apakah ia sudah mulai naik kedalam kamar agar aku bisa dengan cepat melaksanakan kejutan ku.


"Menurut bapak mina akan suka? " Aku bertanya pada pak umar yang hendak pulang itu karena aku sudah tiba jadi pak umar sudah boleh pulang.


Ia tersenyum dan mengangguk "Neng mina orangnya sangat sederhana, jadi apapun yang berasal dari nak astan pasti akan ia sukai. " Pak umar kalau ngomong bisa juga yah. Masa aku langsung saja berdebar mendengar itu. Apa mina sesayang itu yah padaku. Apa rasa sayang kami setara?.


"Baiklah pak silahkan pulang, mina juga sudah naik keatas tuh." Aku berjalan duluan menuju rumah dan pak umar pun mulai menutup pagar dengan pelan lalu pergi dengan motornya.


Aku membuka pintu dengan sangat pelan dan langsung mematikan saklar di dekat pintu hingga rumah bagian bawah langsung gelap kecuali lampu luar yang masih terus menyala hingga apapun yang ada dirumah ini masih terlihat meskipun samar.


Aku sengaja menggeser geser sofa lalu berjalan menuju pintu Mengetuk-etuknya agar mina merasa terganggu lalu turun kebawah.


Dan benar saja pintu kamar terbuka memperlihatkan mina yang merasa kaget dengan rumah yang tiba-tiba gelap.


"Mas, " Lirihnya mencari cariku yang sejak tadi berdiri dengan kue ditanganku yang lilinnya belum kunyalakan. Aku berniat menyalakan itu saat sudah berada dihadapannya agar ia tak tau keberadaan ku kini.


"Mas, " Lagi-lagi ia memanggilku tapi kali ini dengan nada yang mulai bergetar. Pasti ia sangat takut kini.


"Ma,, mas,, itu mas kan? Aku takut mas, jangan becanda." Ia masih terus berjalan hingga kini sudah berada diujung anak tangga.


Ia juga berjalan menuju bawah tangga mengambil sebuah tongkat golf, kuakui mina memang seorang gadis lulusan SMP tapi lihatlah betapa cerdasnya ia dalam memberikan pertahanan diri. Ia langsung siaga dengan alatnya meskipun hanya sebuah tongkat saja.


Akupun sudah tak tahan lagi untuk mengejutkannya dengan surprise ku ini. Aku tau ini sangat sederhana tapi akan terasa mewah jika bisa melihat ketulusan yang ada.


Ku lihat ia sudah ancang-ancang ingin memukul tapi aku langsung berjalan mendekat kearahnya sembari tersenyum dengan nyanyiin ulang tahun.


"Happy birthday sayang. " Aku masih terus berjalan menuju tempat ia berada.


Kulihat tongkat yang semula ia pegang jatuh kebawah. Apa karena ia sebahagia itu yah hingga tak sanggup lagi memegangi nya?.


Aku pun sampai dihadapannya masih dengan nyanyian ulang tahun untuknya tapi tiba-tiba nyanyianku mulai berhenti saat kulihat ia gemetar dengan air mata yang mengalir deras. Ini bukanlah sebuah gambaran kebahagiaan. Apa ia ketakutan yah? Apa aku terlalu membuat ia takut?.


"Sayang,, kamu kenapa? "Aku merasa heran dengan nya yang terus saja menangis dan gemetar.


Ia tak menjawab dan mundur perlahan kemudian berlari menuju kamar.


Aku masih terdiam berpikir apa yang saat ini sedang terjadi? Apa aku benar-benar membuat ia ketakutan? Rasanya mina tak mungkin setakut itu hanya karena lampu mati.


Aku langsung tersadar kemudian meletakkan kue itu diatas meja kemudian berjalan menuju mina dikamar.


Saat kubuka pintu kamar kulihat ia sudah menangis memeluk dirinya sendiri disudut kamar.


Aku langsung merasa penuh penyesalan telah membuat ia ketakutan seperti itu. Niat awalku hanyalah untuk merayakan hari bahagia nya itu bukan untuk membuat ia ketakutan seperti ini.


"Maafkan mas karena sudah membuatmu takut sayang."kudengar tangisnya semakin pecah saat aku mengatakan itu. Apa benar yah ini karena aku membuatnya ketakutan?.


Aku menepuk pelan punggung nya dengan terus meminta maaf dan mengatakan maaf padanya hingga ia masih saja menangis keras dalam pelukanku.


"Maafkan mas sayang,, maaf."ku dekatkan tubuh kami untuk memberi ia rasa aman dan aku benar-benar disini untuk nya.


Ia masih saja menangis dan aku pun mengangkat perlahan tubuhnya itu menuju ranjang. Membaringkan mina namun ia menolak untuk melepas tanganku hingga akupun ikut berbaring disamping nya dengan cepat ia peluk tubuhku dengan erat seolah ia benar-benar sedang ketakutan setengah mati sekarang.


"Ssst,,, maafkan mas sayang, maaf udah buat kamu takut,mas disini jangan takut lagi."kuelus pelan pucuk kepalanya dan juga menepuk pelan punggung nya hingga ia mulai tenang.


Aku turun sebentar dari ranjang untuk mengambilkan air putih lalu memberikan ia minum air putih itu agar lebih lega sedikit. Setelah itu aku membaringkan tubuhnya lagi membiarkan lenganku ia jadikan bantalnya.


"Maafkan mas karena sudah membuatmu takut sayang." Kuelus lagi surai hitamnya dengan sayang.


Ia dengan cepat menggeleng karena ucapanku itu. Apa tandanya ia begini bukan karena ku yah?.


"Padahal mas pikir kamu akan senang tadi, maafkan mas yah karena sudah membuat hari bahagia mu ini jadi berantakan."dan ia menggeleng lagi.


"Aku seperti itu bukan karena mas, aku hanya teringat dengan ibuku mas."aku lagi-lagi mengelus surai hitamnya.


"Aku tidak membenci mas hanya karena telah merayakan ulang tahunku, aku hanya tidak menyukai hari ulang tahunku saja mas hiks,,, aku benci diriku sendiri."aku langsung menggeleng karena Ucapannya itu sangat tidak pantas.


"Kenapa hmmm? "Aku menunggu ia menceritakan semua nya dari awal hingga akhir kenapa ia bisa seperti ini.


Ia menceritakan semua masalalu nya yang sangat kelam itu baik dari pihak keluarga maupun sekolah ia selalu dihantui rasa takut. Belum lagi aku yang dulu begitu kurangajar padanya. Aku sungguh sangat merasa bersalah untuk nya.


"sudahlah sayang,, ini bukan salahmu."aku mencoba untuk menenangkan ia agar tidak terus-menerus merasa kalau ialah yang bersalah disini.


" Hiks,, aku emang jahat mas, aku yang membuat ibuku pergi hiks,,, "aku langsung menggeleng.


"Sudahlah sayang semua itu ada hikmahnya, mungkin saja takdirnya seperti itu,kita hanya perlu positif dalam menanggapinya." Ia hanya terdiam mendengar ucapanku itu namun air matanya masih saja mengalir dengan deras. Aku tau bagaimana rasanya saat kita juga dihantui rasa bersalah. Meskipun selama ini aku mengatakan kematian dyva adalah karena ayahnya mina tetap saja aku merasa diriku lebih bersalah karena tidak bisa menjaga mina hingga kehilangan dia.


Namun bagaimana pun yang masih hidup harus tetap melanjutkan hidup agar bisa menebus rasa bersalah dan membuktikan kita bisa berubah lebih baik lagi agar kesalahan itu tidak terulang lagi hingga kedua kalinya.


"Kamu istirahat yah sayang, mungkin kamu lagi kelelahan sekarang."


Setelah ia mengangguk akupun mencoba untuk menidurkan dia dengan terus menepuk pelan punggung nya dalam pelukan ku.


BERSAMBUNG...


jangan lupa yah like, komen dan vote❤.