
❄selamat membaca ❄
Aku berdiri didepan kaca sembari mengancing satu persatu anak kancing kemeja berwarna hitam yang kini sudah melekat ditubuh gagah ku ini. Dan sedikit sisiran di rambut aku akhiri dengan melihat sebentar apakah penampilan ku sudah bisa dikatakan rapi.
Aku sambar dompet juga kunci mobil dari nakas tepat disebelah tempat tidur ku. Dengan cepat aku berjalan menuruni anak tangga untuk melanjutkan aksiku.
"Pagi tuan." Sapa pak umar padaku sembari menunduk. Aku sudah berkali-kali memintanya untuk tidak usah melakukan itu. Tapi yasudahlah. Kali ini aku malas membahas ini.
"Bapak jaga rumah saja yah, biar saya sendiri yang mengemudi hari ini." Terangku membuka pintu mobil.
"Apa tuan baik-baik saja? Maaf tuan saya hanya khawatir." Ucap pak umar terlihat dari wajahnya memang terpancar aura kekhawatiran terhadap ku.
Mungkin karena kejadian semalam dimana aku hampir saja menabrakkan diriku ditengah jalan. Untung saja aku cepat sadar dan tidak jadi melakukannya.
Aku menggeleng "Bapak tidak usah khawatir,saya baik-baik saja. Permisi pak." Dengan cepat kulajukan mobil meninggalkan pak umar yang masih terlihat khawatir itu.
Sekedar informasi pak umar sudah seperti keluarga bagiku dan Dyva. Dyva saja tidak jarang memanggilnya dengan sebutan Ayah.Aku hanya sedikit gengsi saja menunjukkan kasih sayang ku pada pak umar.
Dia dan keluarganya sudah kami anggap layaknya keluarga.
Kepergian Dyva juga sangat membuat pak umar dan ibu ani merasa sedih. Dyva sangat sering bersama mereka karena aku kebanyakan memakan waktuku di kantor.Tak jarang Dyva tertidur dirumah pak umar dan harus kujemput dulu baru ia mau kembali kerumah.
Mengingat Dyva kembali membuat hatiku sakit.
"Sudahlah, berhenti berlarut-larut dengan kesedihan ini.Akubtak akan bisa membiarkan mereka hidup dengan tenang." Gumamku melajukan kecepatan mobil itu karena perjalanan masih sangat jauh.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Sampailah aku kedepan rumah pria sialan itu. Kita lihat bagaimana ia hidup setelah semua hal yang telah ia perbuat.
Aku berjalan menuju pintu rumahnya yang terlihat kecil dan juga dindingnya terbuat dari papan namun lantainya memang berbahan semen kasar.
Seorang gadis yang sedang mengerjakan sesuatu diatas meja yang sudah mulai terlihat usang. Aku tebak itu pasti putri dari pria sialan itu. Kalau dilihat-lihat sih tidak terlalu buruk untuk menikahi nya karena ia juga sudah bukan anak-anak lagi.
Yap, aku memang sudah merencanakan ini dari awal. Menikahi gadis sialan itu adalah jalanku untuk membalaskan dendam pada pria bejat itu. Karena dengan menikahi gadis itu aku bisa dengan leluasa menyiksa dan melampiaskan semua dendam ku padanya tanpa harus ada gangguan orang lain. Ide yang bagus bukan?.
Aku masih berdiri didepan pintu memperhatikan dia yg sedang membungkus banyak sekali makanan dengan daun pisang. Bisa bisanya dia masih bersikap santai begitu setelah apa yang ayahnya lakukan. Dan dimana pria ja*lang itu?.
Aku perhatikan tubuhnya dari atas sampai bawah dan bergantian dari bawah sampai atas. Tidak terlalu buruk juga.
Ia terlihat panik saat melihat kehadiranku yang memberikan ia tatapan sinis juga penuh dengan kebencian itu. Apapun yang sedang ia kerjakan kini sudah terhenti karena merasa takut dengan kehadiranku.
Terakhir kali aku datang kesini waktu itu aku berhasil memukul pria sialan itu dengan tanganku sendiri, mungkin itulah yang membuat ia takut padaku sekarang ini.
"Dimana pria sialan itu?" Tanyaku dengan lantang hingga ia terkejut dan terlihat sangat gemetar.
"Ba,, bapak sakit." Ucapnya takut takut.
Wah? Bagus dong. Kenapa tidak sekalian saja mati?Dia pikir aku akan mengiba jika pria sialan itu sedang sakit. Semakin pas saja timingnya untuk aku mengancamnya kini.
"Cepat panggil pria sialan itu kemari sebelum saya benar-benar menjebloskan nya kedalam ruang tahanan." Suara lantang ku semakin aku keraskan saja untuk membuat ia semakin takut.
Mataku tertuju pada ruangan yang mereka gunakan sebagai rumah ini. Namun pandangan ku terhenti tepat diwajah pria sialan yang keluar dengan bantuan gadis itu. Wahh ternyata benar-benar sedang sakit yah? Bagus lah akan semakin mudah mengancam orang yang sedang sakit karena batin mereka lemah saat sedang sakit.
Ia melipat kakinya dilantai seolah sedang bersujud memohon padaku.
"Kamu tau kan maksud dari kedatangan saya kemari?" Serangku dengan cepat.
Tidak mungkin dia tidak tau, karena aku sudah pernah memberikan ia peringatan bahwa sewaktu-waktu aku akan datang meminta lagi meminta pertanggung jawabannya karena sudah membuat aku kehilangan adikku.
"Hukum saja saya tuan, tak apa. Saya sudah ikhlas dimasukkan dalam penjara. Setiap hari saya lalui dengan penyesalan, tak ada lagi gunanya saya hidup." Ia menangis.
Wah, semakin bagus dong jika dia hidup lebih sengsara lagi. Tapi apakah ia pikir hanya ia yang hidup dalam kesedihan? Aku adalah pihak yang lebih menderita disini.
"Pak, bapak jangan bilang gitu hiks,, kalau bapak dipenjara aku bagaimana?" Gadis itu memeluk pria sialan itu sembari menangis.
Drama apa lagi ini?Lihat mereka berdua yang sudah tidak tau diri ini. Masih bisanya mereka menunjukkan kekeluargaannya dihadapan orang yang menjadi sebatang kara karena perbuatan nya sendiri.
"Jadi kamu tidak mau yah kalau ayahmu masuk penjara? Bagaimana kalau kamu mau berkorban untuknya?" Tanyaku dengan senyuman licik.
Ia dengan rasa semangat mengiyakan ucapanku padahal aku belum menyebutkan apa yang akan aku minta darinya.
"Saya bersedia apapun itu hiks,, "
Semakin bagus kalau memang begitu. Tapi kita lihat apakah kamu masih akan bersedia nantinya setelah tau apa yang akan aku lakukan untukmu. Menikah dengan ku sama dengan masuk kedalam kehidupan penuh dengan penderitaan.
"Menikahlah dengan saya, dan hidup kamu sudah menjadi hak saya mutlak." Ucapku dengan cepat dan tegas.
Pria sialan itu terlihat sangat panik karena ia pasti sudah faham dengan niatku dibalik itu. Sedangkan gadis itu terlihat sedikit berpikir. Siapapun tidak akan mau jika harus menikah dengan laki-laki yang seperti ku yang sudah bersikap kasar diawal. Hanya orang bodoh yg mau melakukan itu.
Dan orang bodoh itu adalah gadis sialan ini. Dia setuju saja dengan permintaan ku padahal dia tidak tau apa yang akan ia hadapi nantinya jika sudah bersamaku. Baiklah kalau itu yang jadi keputusannya.Aku tidak salah disini yah.
Ini mutlak kesalahan darinya yang langsung mau mau saja.
"Mina, jangan lakukan itu nak. Biarkan bapak saja yang menanggung perbuatan bapak ini. Kamu tidak ada hubungannya dengan ini." Pria sialan itu lagi-lagi mengoceh tidak jelas.Nampaknya aku tidak salah dalam memilih metode untuk membalaskan dendam ku ini.
Mereka berdua masih saja berseteru dengan urusan mereka.
"Besok pernikahan kita dilaksanakan, tidak usah mengundang tamu cukup diam disini saja dan tunggu aba-aba dari saya." Setelah mengatakan itu aku keluar dari rumah sialan ini dengan senyum kepuasan membayangkan bagaimana aku akan membuat hidupnya layaknya dineraka.
Tunggulah hari dimana bibirmu tak akan bisa lagi untuk sekedar tersenyum dan matamu tak akan bisa berhenti mengeluarkan bulir air mata.
Aku dan segala dendam ku tak akan membiarkan kamu hidup tenang.
BERSAMBUNG...
jangan lupa vote, like dan komen yah sayang💕
Bagaimana pendapat kalian?