
❄Selamat membaca❄
Sesuai perintahku tadi ia langsung datang kekamar dengan pelan setelah membersihkan ruang depan.
Ia berdiri seperti orang bodoh diambang pintu tanpa tau harus berbuat apa. Hingga kini aku juga masih bingung harus melakukan apa lagi padanya hingga ia merasa jera. Kenapa ini itu ia msih bisa bertahan?.
"Tunggu apa lagi? Cepat naik."hah? Kenapa aku menyuruhnya naik sih?
Ia terlihat heran dengan perintahku tadi namun ia langsung patuh pasti ia takut terkena amukan ku.
"Pijit saya sekarang,sangat melelahkan menghadapi seorang manusia bodoh dirumah ini."ooh aku sedang ingin dipijit bukan karena hal lain. Jadi wajar saja saya menyuruhnya naik keatas ranjang.
Ia dengan tangan kecilnya mulai memijit tubuhku. Wahh bagaimana yah cara mendeskripsikan pijatan nya itu. Sungguh itu bukanlah sebuah pijatan. Sungguh tidak terasa sama sekali. Seperti sedang mengelus saja.
"Keraskan bodoh!"aku sungguh tidak merasakan apa-apa dalam pijatan nya itu. Pasti ia sedang bercanda saat ini. Itu sungguh bukanlah sebuah pijatan.
"Kamu dengar tidak? Saya bilang keraskan!" Kuulangi lagi perintah itu namun tak ada perubahan sama sekali. Apa dia sungguh sedang bermain-main saat ini? Itu sungguh bukan sebuah pijatan.
"Wahh kamu sepertinya memang tidak mau mendengarkan saya yah?berapa kali saya katakan pake tenagamu bodoh,kamu pikir saya menyuruhmu menina bobok an saya yah?pijat yang benar, dasar dungu."kesalku,bagaimana bisa itu ia sebut sebuah pijatan? Menjengkelkan sekali sih. Selalu saja berhasil membuat aku kesal sendiri.
Ia masih saja melanjutkan memijit bahuku namun aku masih saja tidak merasakan apa-apa"Akhh sudahlah,tak ada yang bisa diharapkan dari gadis to*lol sepertimu."teriak ku merasa sedikit frustasi.
Aku merasakan tangannya terlepas dari bahuku. Dan ia hanya diam mematung dibelakang tubuhku.
"Ahh sepertinya ini saatnya bersenang-senang sedikit,kita lihat apakah kamu akan berhasil menghibur saya?" Entah dari mana datangnya ide aneh itu. Katakan saja aku sudah gila dan bertingkah layaknya ABG. Aku sungguh tak mengerti dengan jalan pikiranku ini.
"Maju kedepan saya sekarang! " Perintahku hingga ia langsung berjalan pelan dari belakang menuju kearah depan. Dan ia duduk dihadapanku sedikit jauh sembari menatap kearah bawah.
"Mendekat dan lihat kearah saya bodoh!" Perintahku dengan keras hingga ia otomatis mendekat lalu melihat kearah ku.
Padangan kami bertemu hingga aku lagi-lagi merasa sesuatu yang aneh dengan diriku hanya bersitatapan dengan gadis bodoh ini.
"Cium bibir saya sekarang juga!"ini sungguh bukanlah niat awalku tadi. Kenapa aku malah mengatakan itu sih? Melihat wajahnya aku hanya bisa berfokus pada bibir lembut dan kenyal itu. Jujur aku merindukan bibir itu. Ingin merasakan lagi betapa nikmatnya menghisap nya hingga aku ingin lebih dan lebih.
Ia langsung kaget dan merasa bingung dengan ucapanku itu. Aku sebenarnya sedang malu saat ini. Bagaimana bisa aku menyuruhnya mencium bibirku? Ia mematung tanpa gerak.
"Kamu tuli? " Bentak ku dengan keras. Aku harus tegas sudah terlanjur ku katakan jadi tak apa lanjutkan saja.
"Ti,, tidak tuan," Ucapnya takut.
"Kalau begitu kenapa tidak kamu laksanakan?kamu lupa apapun yang saya minta kamu harus melakukannya bagaimana pun itu." Ku tegaskan perkataan ku itu hingga ia langsung gelagapan.
Dengan pelan dan gemetar ia mendekat semakin dekat kearahku.
Wajahnya ia gerakkan mendekat kearah wajahku dengan bibirnya yg merah menggoda itu mulai mendekat dan menyatu dengan bibirku yang haus akan ciumannya itu.
Kulihat ia yang tak sanggup untuk bergerak lebih dekat lagi. Dan akhirnya ia memilih untuk mundur karena tak sanggup untuk melakukannya.
Cup.
Kami mendiamkan bibir kami yang sudah menyatu itu. Ia juga hanya bisa pasrah dan diam.
"Gerakkan bibir mu bodoh! " Perintahku karena aku ingin merasakan sensasi dihisap bukan penghisap.
Dan dengan kaku kurasakan bibirnya bergerak pelan dan aku dapat menikmatinya dengan menutup mata walaupun masih terasa sangat kaku sekali. Pasti pertama kalinya bagi gadis bodoh ini.
"Ck,, kamu mengerti tidak? " Kulepaskan bibir kami karena merasa sama sekali tidak puas dengan pelayanan nya itu. Sangat kaku sekali.
Ia sedikit terlihat lega namun kembali panik saat ku tarik tubuhnya hingga kini tepat diatas pangkuan ku dan tentunya wajah kamu sangat dekat. Ahh aku sungguh tidak tahan saat melihat bibir itu. Kenapa sih bibir ini sungguh membuat candu sekali. Dan kenapa harus gadis bodoh ini?.
Cup.
Aku sudah tidak tahan lagi. Dengan cepat kucium kembali bibir nya itu. Sungguh nikmat sekali. Aku sungguh tak ingin melepaskannya.
Kali ini aku sungguh ingin memuaskan rasa inginku dibibirnya. Kuhisap dengan keras bibir kaku itu namun sangat lembut untuk aku hisap dan lu*mat.
Ia hanya bisa diam tak tau harus berbuat apa, pasti lebih nikmat saat ia juga melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan. Bermain berdua pasti lebih enak dibanding sendiri.
Aku lagi-lagi menghisap, meng*ulum, melu*mat dan menjilat setiap inci dari bibir candu ku itu. Bisa bisa aku sungguh tidak akan melepaskan bibir itu.
Dan aku tak sengaja menjilat sudut bibirnya yg terluka karena ulahku tadi hingga ia sedikit memekik tertahan dan aku buru-buru melepaskan pagu*tan itu karena sadar.
Ia langsung beranjak dari pangkuan ku namun kutahan hingga ia tetap berada disana.
"Begitulah berciuman yang saya maksud,kalau kamu masih tidak mengerti awas saja!"aku merasa bodoh karena menjadikan itu alasan untuk menikmati betapa nikmatnya bibirnya itu.
Apa barusan ia mengangguk? Wah benar faham atau hanya karena takut saja.
"Wahh kamu mengerti yah? Bagaimana kalau kita coba apa kemampuan mu sudah bisa dikatakan mengerti? "Aku sungguh sangat suka menggoda gadis bodoh ini.
Ia langsung terlihat panik. Karena sudah jelas ia tak akan faham karena otaknya hanya separuh. Dasar bodoh.
"Ayo tunjukkan bagaimana yang kamu sebutkan mengerti tadi? " Aku lagi-lagi Menggodanya dengan menyuruh melakukan itu.
Ia benar-benar sangat bersusah payah mendekat dan lagi-lagi saat bibir kami hampir menyatu ia tak sanggup lagi. Kalau tidak faham dan tak berani kenapa mengangguk tadi?.
Ia menunduk dalam pangkuan ku dan kurasakan bahunya bergetar karena menangis.
Aku memang sudah keterlaluan padanya. Bisa-bisanya aku bermain-main dengan seorang anak SMA dengan beralasan ini itu untuk bisa menciumnya. Tapi ahhh sudahlah.
Aku diam memperhatikan ia yang menangis tertahan sembari kedua tangannya menutup wajahnya itu.
Ia terlihat sangat sakit hati karena ulahku. Aku tau ia sungguh tak faham niatku namun ia pasti merasa dilecehkan olehku namun tak berani untuk marah. Ia hanya bisa menangis. Ahh biarkan saja ia. Aku sungguh tak peduli dan tak mau perduli.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa yah like, komen juga vote.