
❄selamat membaca❄
Berkali-kali aku terjaga dalam tidurku karena tidak nyaman. Apa karena aku tidur disofa yah? Kalau tidur disofa saja sudah tidak nyaman begini bagaimana dengan gadis itu yang setiap malam tidur dilantai. Pantas saja ia sangat nyenyak bahkan sudah hampir jam 05 ia tak kunjung bangun.
Aku barulah tidur jam 02 tengah malam gara-gara harus membersihkan kekacauan dikamar ini. Lantai penuh dengan pecahan beling. Aku tidak suka dengan tempat berantakan seperti itu jadi dengan terpaksa aku sendiri yang membersihkan nya karena gadis sialan itu pingsan. Dasar menyusahkan sekali.
Aku bangkit dari sofa dengan kesal dan berjalan kearahnya.
Tuk.
Aku menendang dengan keras tempat tidur itu hingga menghasilkan getaran sedikit keras.
"Bagaimana tuan putri?masih tidak mau bangun yah?"tanyaku dengan nada mengintimidasi nya tidak lupa dengan tanganku yang bersedekap didepan dada seolah sedang menghakimi nya.
Ia dengan cepat menggeleng"Maaf tuan,saya sudah berkali-kali mencoba bangkit namun sangat sulit rasanya, maafkan saya tuan,"tuturnya masih berakting sedang mencoba untuk bangkit.
Dia pikir siapa yang ia bodohi? Aku bukanlah anak kecil yang dengan mudah ia tipu.
Dengan kasar aku menarik tangannya hingga ia meringis menahan sakit.
"Akhhh," Ringisnya namun aku tak peduli.
"Obati luka bodohmu itu,jangan beralasan sakit agar bisa istirahat,tidak ada waktu istirahat untuk gadis hina sepertimu."kelempar plastik berisi obat itu kearahnya.
Ia terlihat bingung tanpa sebab. Mudah sekali sih merasa bingung. Tinggi ngobatin doang.
Namun karena ia melihat aku yang masih saja berdiri mengawasinya ia langsung membuka tutup salep itu dan mulai memasukkan tangannya melalui leher bajunya.
"Akhh," Ringisnya lagi dan lagi yang terdengar seperti desahan dalam pendengaran ku.
Jujur saja saat ia meringis seperti itu aku tidak tahan mendengar nya. Meresahkan sekali sih.
"Ck," Decak ku karena merasa ia sungguh tak becus bahkan dalam mengobati dirinya sendiri. Dasar tak berguna.
"Jangan bertele-tele,lakukan dengan cepat dan segera kerjakan pekerjaan rumah,tidak ada alasan bahkan sakit sekalipun,kamu beruntung hari ini saya sedang libur kerja,kalau sampai saya tidak libur dan terlambat ke kantor gara gara kelalaian mu,habis riwayatmu ditanganku."aku masih dalam posisi yang sama dan tidak lupa dengan suara yang lantang untuk sekedar menakut-nakuti nya.
Bukannya meneruskan mengobati lukanya ia malah mencoba turun dengan susah payah. Ada apa sih dengan otaknya itu?.
"Akhh," Lagi-lagi ia mendesah eh meringis membuatku semakin tidak nyaman saja.
"Mau kemana kamu?"tanyaku saat ia hendak turun dan menahan sakit.
"Ah,,saya mau menyiapkan air untuk tuan mandi,"ucapnya masih berusaha untuk bangkit dengan menahan ringisannya.
"Bodoh!Kamu tidak dengar?Obati dulu lukamu itu,jangan membuat saya jengkel jika nanti luka mu itu semakin parah."membuat emosi saja.
"Saya akan obati nanti tuan, saya sedikit kesulitan mengobatinya jadi saya takut akan memakan waktu yang lama,saya takut tuan akan marah jika saya belum juga menyiapkan air untuk tuan mandi,jam sudah menunjukkan pukul 07.25 am."ia sudah bangkit berdiri sekarang.
"Huh,,,sungguh menyebalkan."aku mengangkat tubuhnya kembali keatas tempat tidur dan mendudukkan nya disana.
"Cepat singkap bajumu itu, " Titah ku membuat ia merasa bingung.
"Hah?,,ma,, maksud tuan?"ia terlihat sangat tidak mengerti dengan ucapanku. Bodoh memang.
"Ck,,,dasar bodoh,"ucapku dengan kesal lalu duduk dibelakang nya kemudian nyingkap bajunya dari belakang.
Kulitnya putih sekali namun kini terlihat sangat mengerikan karena bekas cambukan ku semalam. Aku tidak tau separah ini jadinya, membiru dan ada pada beberapa titik sedikit terluka. Pasti sakit sekali.
"Akhh," Ringisnya saat kancing kutangnya terlepas dan dapat aku lihat dengan jelas punggung nya yg kini terpampang dihadapanku.
Mendengar ringisannya juga pemandangan dihadapanku ini lagi-lagi membuatku merasakan sedikit aneh tanpa sebab.
"Berhenti meringis seperti itu,telinga saya risih mendengarnya."Tepatnya tidak tahan mendengar nya.
Tanganku perlahan mengoleskan salep itu pada area area yang membutuhkan pengobatan. Ia berkali-kali bergerak kaget mungkin karena merasa perih dan benar saja ia tak berani untuk meringis lagi.
Namun,kenapa ia menangis sekarang? Dapat aku rasakan dan lihat bahwa ia sedang menangis saat ini karena bahunya bergetar begitu.
"Kenapa kamu?jangan cengeng dihadapan saya,saya tidak suka,"ucapku memperingati nya. Bagaimana mungkin ia tak menangis pasti lukanya terasa perih sekali. Aku hanya tidak mau luluh saja saat melihat gadis menangis aku sedikit tidak tegaan. Ahhh jangan sampai pertahanan ku runtuh hanya karena air mata sialan itu.
Aku lihat ia dengan buru-buru menghapus air matanya "Ma,,maaf tuan,hiks,,maafkan saya."ia terus saja meminta maaf.
" Terima kasih tuan,"ucapnya memperbaiki posisi bajunya setelah selesai aku obatin.
Aku hanya diam saja tak menjawab namun beberapa saat setelah aku bangkit dari kasur ia juga melakukan hal yang sama.
"Mau kemana kamu?" Tanyaku bingung.
"Saya akan menyiapkan air untuk tuan mandi. " Ia sudah berhasil turun dari tempat tidur. Kenapa nakal sekali sih dibilangin?.
"Sepertinya kamu memang sedang mencari perhatian saya kan?kamu pasti berlagak rajin seperti itu agar saya terharu melihat kegigihan mu, iya kan?"kesalku.
"Bukan begitu tuan,saya hanya ingin menyelesaikan tugas saya,"tuturnya takut-takut sambil menunduk.
"Ooh ingin menyelesaikan tugas kamu yah,kalau begitu mandikan saya sekarang. " Sedikit menggodanya mungkin menyenangkan.
"bagaimana hmm? saya minta kamu laksanakan tugas yang baru saya minta."ku langkahkan kakiku mulai mendekat padanya.
"Bu,,bukan,,be,,begitu maksud saya tuan,sa,,"dia terlihat sangat gugup sekarang hahahah. Sedang berpikir apa dia?.
"Jadi tugas seperti apa yang kamu maksud?hmmm?"aku semakin mendekatkan wajah kami hingga hanya beberapa sentimeter saja jaraknya. Dan ini adalah ujian yang sebenarnya untuk ku. Melihat bibirnya sering kali membuat dunia fokus ku runtuh.
Ia mencoba mundur dan akhirnya ambruk diranjang dan aku juga tak bisa seimbang hingga kami berdua ambruk namun aku menahan tubuhku dengan kedua tanganku kalau tidak bisa mati dia.
" Akhh,"Ringisnya dan pasti tau kan apa yang akan aku rasakan setiap mendengar itu. Mati-matian menahan diri. Dasar ja*lang.
Ia mematung kaku layaknya patung namun ada sirat ketakutan diwajahnya.
"Kenapa takut?bukankah kamu bersikeras ingin melaksanakan tugasmu?"godaku lagi.
Ia terlihat seperti ingin menangis sekarang. Padahal aku tidak melakukan apa-apa padanya. Aneh sekali.
"Dasar gadis bodoh!! Kalau jelas jelas kamu masih lemah begitu kenapa malah sok soan mau ngerjain ini itu?cepat tidur!!biar urusan rumah saya panggil jasa pembersih."aku bangkit dari tubuhnya lalu meraih handuk kemudian langsung memasuki kamar mandi.
Gara-gara gadis sialan itu aku harus berlama-lama dalam kamar mandi.
Gadis setan.
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA VOTE, LIKE DAN KOMEN YAH
Eh ngk ngegas kok hehehhe