
❄selamat membaca❄
Aku terus saja berusaha untuk menggerakkan kakiku untuk bergeser sedikit saja aku tak bisa kini. Aku sungguh ingin cepat sembuh dan kembali kerumah. Mendengar penuturan mereka mengatakan aku akan sembuh dalam waktu dekat membuatku sedikit khwatir karena dalam waktu dekat yang mereka sebutkan tidaklah jelas sedekat apa maksud mereka itu.
Aku beristirahat sebentar dan kembali teringat dengan minat yang selalu tersenyum senang itu saat aku hanya memberikan ia sebuah kejutan kecil dan sederhana tapi reaksinya bagaimana mendapat doorprize saja. Apa karena ia yang berhati lembut dan sederhana hingga ia dengan senangnya menerima nya.
Wajahnya yang selalu jengkel dengan ulahku yang tak habisnya menggodanya itu. Tapi tetap saja ia berhasil luluh karena ku yang selalu bersikap manis padanya.
"Maafkan mas sayang, bukan maksud mas jauh darimu saat ini. Tunggu mas pulang setelah pulih. " Aku menghapus air mataku dengan pelan dan mencoba untuk bangkit lagi dengan sekuat tenagaku.
Dan karena aku terlalu memaksakan tenaga ku aku tak sengaja jatuh hingga mengenai luka di lenganku yang masih terasa perih itu dan rasanya semakin sakit saja.
"Akhh,, " Aku berteriak kesakitan hingga ibu dan bapak yang sedang di luar datang kearahku.
"Kenapa nak? Apa ada yang sakit? " Tanya ibu.
Aku memegangi lenganku yang kini sudah keluar darah lagi dan ibu langsung panik kemudian bapak juga berlari tak tau mau kemana.
"Aduhh darah, bagaimana ini? Kenapa bapak lama sekali. Tahan dulu nak. " Ibu itu benar-benar sangat panik sedang aku hanya meringis menahan sakit ku.
Aku mencoba untuk tidak meringis dihadapan ibu itu meskipun sakitnya sangat tidak tertahankan. Rasanya seperti luka di lenganku koyak kembali hingga rasanya sangat perih sekali.
Aku tak ingin menyusahkan orang lain walaupun nyatanya kini aku benar-benar telah menyusahkan mereka dengan kehadiran ku yang menjadi beban mereka itu.
Dari jauh kulihat wajahnya bapak dengan panik mendekat kearah rumah dengan seorang dokter perempuan yang juga ikut panik. Kenapa mereka sangat panik hanya karena ku? Apakah setiap orang didaerah ini memiliki hati sebaik mereka berdua.
"Tolong periksa lengan nya dok, darah sejak tadi keluar dari sana dok. " Ibu benar benar khawatir seolah aku adalah putranya yang sedang sakit sekarang.
Aku jadi rindu dengan ibu juga ayah yang sudah lama tiada itu hingga aku lupa rasanya bagaimana memiliki orang tua. Karena aku juga dyva sudah lama tak merasakan itu kecuali saat sedang bersama pak umar dan ibu ani. Mengingat itu membuatku jadi rindu dengan pak Umar juga yang lainnya.
Dokter itupun mulai membuka perban di lenganku dan benar saja luka ku itu kembali terbuka jahitan nya. Kenapa bisa? Apa karena aku terlalu banyak bergerak yah? Tapi tidak mungkin semudah itu terbuka. Apa karena aku yang terlalu memaksa untuk bangkit tadi?.
"Lukanya terbuka lagi buk, disarankan agar ia tidak diperbolehkan untuk banyak bergerak dulu. " Dokter itu terlihat sedikit malu-malu karena melihat kearahku. Kenapa dia?.
"Kita tunggu dulu pak, karena saat ini tubuh masih saja belum sepenuhnya pulih. Jadi mohon jangan memaksakan diri. Jika butuh sesuatu bisa kan bapak dengan ibu untuk membantunya? " Tanya dokter itu dan dengan cepat mereka mengangguk mengiyakan nya.
Itu yang membuat ku ingin sembuh dengan cepat karena aku tak ingin menyusahkan mereka lebih lama lagi. Aku menunduk karena merasa kalau diriku kini tidak lah berguna lagi.
"Baiklah pak buk, saya permisi. " Dokter itu berniat pergi namun ibu dan bapak mengajaknya terlebih dahulu berbicara diluar dengan berbisik tapi aku masih bisa mendengar dengan jelas apa yang saat ini mereka bicarakan.
"Maafkan kami nak, saat ini untuk biaya pengobatan nya kami masih belum bisa mendapat nya karena dagangan ibu mulai sepi kali ini." Aku merasakan kalau aku benar-benar telah menjadi beban bagi mereka. Kehadiranku hanya sebagai benalu bagi mereka yang berhati kapas itu.
"Bagaimana kalau bapak bekerja sementara dirumah mu nak, baik jadi supir dan pembersih pekarangan. Dengan begitu bapak bisa sedikit demi sedikit melunasi nya. "
Aku meremas alas lantai itu dengan kuat merasa kalau aku benar-benar sudah salah disini. Kenapa aku malah menjadikan mereka menderita karena ku. Aku adalah orang lain tapi kenapa mereka begitu bersikukuh mempertahankan hidupku yang sama sekali bukan siapa-siapa bagi mereka berdua.
"Ibu, bapak, saya juga ikhlas menolong kalian. Saya sudah katakan berkali-kali kalau saya juga ingin membatu orang lain seperti kalian. Untuk masalah biaya kan sudah saya katakan panggil saya kapanpun kalian butuh dan tidak perlu khawatir dengan biaya karena saya ikhlas dalam mengobati nya. " Aku merasa sedikit lega kali ini. Orang orang disini sangat baik hati.
"Aku harus sembuh dengan cepat agar tak menjadi benalu bagi mereka disini. Minat juga menungguku dirumah. " Aku mencoba untuk bangkit lagi.
"Nak, ingat pesan dokter untuk tidak bergerak banyak dulu. " Ibu dan bapak datang kearahku dengan penuh perhatian.
"Maafkan saya buk, pak, saya sudah banyak menyusahkan kalian. Padahal saya hanya orang asing yang tidak ada hubungannya dengan kalian. Maafkan saya. " Aku menunduk meminta Maaf.
"Kalau ibu dan bapak merasa kalau kamu menyusahkan sudah sejak awal kami akan membiarkan kamu tetap disana nak. Karena kami ikhlas menolong mu kami tak akan merasa kalau kamu menyusahkan untuk kami. Jadi ibu harap kamu cepat sembuh agar usaha kami juga tidak sia-sia. "
"Bagaimana kalau saya pergi saja buk dari sini. Atau saya bisa minta tolong untuk yang terakhir kalinya bapak bisa antar saya kerumah saya yang berada dikota. Istri dan anak saya pasti akan senang jika saya kembali. Saya merasa tidak enak karena menyusahkan ibu dan bapak lebih banyak lagi. " Aku merasa sangat bersalah.
"Bapak menyarankan agar kamu tetap disini dengan kami nak sampai kondisimu benar-benar pulih. Bapak khawatir mereka akan terkejut saat melihat mu datang dengan kondisi seperti ini, tidak bisa berjalan dan dipenuhi dengan beberapa luka bahkan luka parah dilenganmu. Tapi semua pilihan ada padamu nak, bapak hanya ingin membantu saja untuk masalah kamu merasa tidak nyaman Karena merasa menyusahkan kami. Jujur bapak katakan kami sama sekali tidak keberatan dengan kehadiran mu disini nak, katakan saja apa yang kamu inginkan bapak dan ibu akan membantu sebisa kami. "
Air mataku jatuh karena merasa terharu, ternyata masih ada manusia berhati malaikat seperti mereka. Aku sungguh sangat bersyukur bisa bertemu dengan mereka.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa yah like, komen dan vote ❤.