
❄Selamat membaca❄
Aku perlahan membuka mataku dan melihat sekeliling kamar. Kenapa suasananya berbeda sekali yah? Kalau tidak salah aku, Reno dan Adit sedang minum bertiga di bar. Kenapa sekarang aku sudah ada dikamar?.
Aku melirik jam di dinding menunjukkan pukul 05.12 Am, pasti pak umar yang membawaku pulang. Aku tidak ingat apa-apa selain kemarin aku bekerja dikantor. Kebiasaan ku setelah minum tak ingat apa yang terjadi.
Aku duduk diatas tempat tidur dan mendapati gadis bodoh itu sedang tertidur diatas lantai tanpa bantal, juga selimut. Sungguh miris yah tapi itu yang aku inginkan.
Aku berdiri dan bangkit lalu dengan sedikit keras ketendang tubuhnya agar bangun. Bisa-bisanya ia belum bangun bahkan setelah aku bangun. Sudah mulai berani yah.
Mungkin karena tendangan ku ia mulai terusik dan matanya perlahan terbuka dengan pelan dan lemas. Kenapa dia sebenarnya?.
"Maaf tuan,,maaf,"ucapnya mencoba bangkit namun untuk duduk saja ia tak bisa. Kenapa dia? Sedang bersandiwara yah? Masih berani bersandiwara disaat seperti ini? Sungguh wanita tidak tau diri. Aku tak mau membuang tenaga ku pagi-pagi seperti ini. Sudahlah astan abaikan saja dia.
"Siapkan air untuk saya mandi,apa yang kamu lakukan semalaman Sampai kamu terlambat untuk bangun?"ku bentak ia dengan keras hingga ia sedikit kaget terlihat dari urat lehernya yang menonjol sedikit tadi.
"Maafkan saya tuan,"ucapnya lagi dan lagi meminta maaf padaku. Suka sekali sih meminta maaf namun diulang lagi.
"Sudahlah saya tidak mau bad mood dipagi buta seperti ini,cepat siapkan air."aku duduk kembali diatas kasur.
Ia dengan cepat mengangguk dan mencoba bangkit namun ambruk kembali, kenapa sih dia sebenarnya?
" Kenapa kamu? "Tanyaku ketus.
Ia menggeleng dengan cepat. Aku paling kesal dengan orang yang ditanya kenapa malah dijawab tidak apa-apa tapi sebenarnya ada masalah. Ingin kulakban saja mulutnya yg suka berbohong itu.
"Tidak apa apa tuan,mungkin tadi saya belum sepenuhnya sadar."
"Tunggu!! Ada apa dengan memar diwajahmu?"aku malah dibuat bingung dengan memar yang ada di wajahnya itu. Seperti bekas perbuatan seseorang.
Ia dengan cepat berpaling muka " Tidak apa-apa tuan, "ucapnya bersusah payah berdiri.
Aku merasa semakin curiga dibuatnya. Ia terlihat lemas dan untuk berdiri saja ia kesusahan dan beberapa memar ada diwajahnya. Ini pasti perbuatan seseorang. Kenapa dia sebenarnya.
Sret,,,
Aku menarik ia yang sedang berusaha untuk berdiri itu hingga kini ia berada telat diatas pangkuan ku.
"Berani sekali yah berbicara kepada saya tapi melihat kearah lain,sudah mulai hebat."aku menarik wajahnya yang tadi sedang menatap kearah lain hingga kini telat didepan wajahku dan bahkan sangat dekat sekali. Dan aku berkali-kali meneguk ludah tanpa sebab.
Dari dekat sangat jelas sekali lebam yang ada disudut bibirnya itu. Ia mencoba menunduk karena takut kutatap dari tadi.
"Kenapa ini?"tanyaku menunjuk lebam itu.
Ia menggeleng lagi dan lagi. Pasti mau berbohong lagi kan.
"Tidak apa apa tu,,akhh,"ucapannya terhenti karena kutekan lebam itu. Mau berbohong sih.
"Kamu pikir saya anak yang baru lahir? berbohong seperti itu untuk apa?cepat katakan dengan jujur ini kenapa?"ku keraskan suaraku saat membentaknya hingga ia kaget bukan main. Air matanya hampir saja jatuh karena suara keras ku. Peduli amat sih.
"Saya jatuh dari tangga tuan,jadi lebam begini,saya takut tuan akan marah karena saya bersikap ceroboh,"ucapnya menunduk.
Apa? Jatuh dari tangga? Tidak mungkin sekali jatuh dari tangga bisa separah itu dan kenapa malah diwajahnya bukan kaki ataupun tangan? Dia pikir yang dia bodohi adalah anak kecil, yasudahlah apa peduli ku.
"Sudah tau masih bertingkah ceroboh,cepat siapkan air untuk saya mandi!"perintahku setelah mendorongnya jauh dari pangkuan ku tadi.
Setelah ia siapkan air untuk ku mandi aku pun mandi dan setelah itu keluar dari kamar mandi langsung mengenakan setelan yang sudah disiapkan oleh gadis bodoh itu.
"Mini! " Panggilku dengan keras dari atas pasti ia bisa mendengar nya.
"Ada apa tuan?ada yang bisa saya bantu?"tanya nya saat sudah tiba dipintu kamar dengan wajah yang masih terlihat lemah itu.
" Ikatkan saya dasi,"ucapku dengan cepat.
"A,,anu tuan,maafkan saya tuan,saya belum pernah mengikatkan dasi seperti itu,"ucapnya panik.
"Jadi kamu menolak?wahhh berani sekali yah."aku sengaja mengatakan itu agar ia takut.
"Bukan tuan,saya hanya,,,baiklah tuan akan saya coba,"tuturnya datang mendekat kearahku.
"Maaf tuan,,saya tidak bisa meraihnya."
Aku berdecak pelan"Makanya jadi orang jangan mini,nama kamu aja mini,gimana ngk mini gini,"ejek ku padanya.
"Maaf tuan nama saya Mina bukan mini."ia tak Terima dengan namanya yang kuubah itu. Hahahah lucu sekali dia.
"Bagi saya kamu itu mini dari ukuran tubuh mu saja sudah terlihat itu adalah namamu."ia hanya diam saja tak berani untuk lebih membantah lagi.
"bagaimana ini tuan,saya masih belum bisa meraihnya."ia terlihat bingung sekali harus bagaimana mengikatkan dasiku karena ia sangat pendek.
Akupun menunduk dan mendekatkan tubuhku padanya hingga wajah kami sangat dekat sekarang.
Aku menangkap wajah gugupnya saat ini, apa ia sedang salah tingkah saat ini? Kenapa?.
"Sa,,saya tidak bisa tuan,,maaf."ia menyerah sangat cepat. Dasar bodoh.
"Dasar gadis to*lol, mengikat dasi saja tak becus, bergunalah sedikit."kesalku mendorongnya hingga terpental diatas tempat tidur.
"Akhh."ia meringis menahan sakit saat punggungnya menyentuh kasur. Kenapa dia? Sangat jelas sekali ia sedang menahan sakit tadi.
"Kenapa kamu sebenarnya?"
"Tidak apa apa tuan,"ucapnya lagi-lagi mencoba berbohong. Aku bukan anak kecil yang semudah itu percaya.
"Kamu sadar tidak kalau kemampuan berbohong mu sangat buruk?jadi sebelum saya marah katakan yang sebenarnya,apa yang kamu lakukan semalaman?seingat saya kemarin kamu tidak memiliki luka luka itu,"ucapku mendekat kearahnya yang sudah berdiri disamping kasur.
"Saya berkata yang sebenarnya tuan,saya jatuh dari tangga hingga saya luka luka begini."
Ku tarik ia agar duduk kembali diatas kasur dan dengan cepat kubalikkan tubuhnya membelakangi ku. Aku takkan percaya semudah itu gadis bodoh.
"Berbalik sekarang!"perintahku saat ia mencoba menghadap ke belakang.
" Hah? "Bingung nya.
"Bodoh!!berbalik sekarang!"kusentil dahinya barulah ia berbalik dengan ragu.
" Tu, tuan."ia kaget saat kusingkap bajunya dari belakang.
Aku dibuat kaget dengan keadaan punggung nya yg penuh dengan beberapa memar itu. Aku semakin ragu kalau ini semua bukanlah disebabkan oleh jatuh dari tangga. Dasar gadis bodoh beralasan saja tak becus sama sekali.
"Kamu yakin kalau kamu hanya jatuh di tangga?"tanyaku lagi memastikan namun ia masih saja kukuh untuk berbohong. Baiklah terserahmu saja.
"Iya tuan,saya jatuh di tangga kemarin."dasar pembohong bodoh.
Ia meringis sejak aku mencoba mengobati lukanya itu.
"Bagaimana bisa jatuh dari tangga lukanya bisa separah ini?"tanyaku lagi-lagi.
"Ma,,eh tuan,nanti tuan bisa terlambat,,saya bisa mengobati luka saya nanti tuan,"ucapnya dengan suara yang khas baru saja menangis.
Dasar cengeng, dijahatin nangis ditolongin nangis juga. Heran.
Aku tak mendengarkan ucapannya dan tetap fokus mengobati lukanya itu. Dan tangisan nya semakin menjadi-jadi hingga punggung nya tak hentinya bergetar sejak tadi.
"Berhentilah menangis, semalaman saja kamu bisa menahannya,kenapa saat saya obati kamu malah menangis?"ucapku mencoba mendiamkannya. Aku tak atau alam penyebabnya hingga ia menangis begitu.
"Maaf tuan,,sangat perih hingga saya ingin menangis hiks,,"
Bahkan sampai selesai kuobati ia tak hentinya menangis.
Dasar cengeng.
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH.