
❄selamat membaca❄
Kami masih berdiri ditempat kami, saling memandang dengan air mata yang tak hentinya mengalir deras meluncur bebas seolah kami sudah mengumpulkan semua air mata dan mengeluarkan nya saat ini.
Ku lihat ia masih saja mematung diam dengan deraian air mata. Bibirnya seolah ingin berbicara tapi tak kuasa karena air matanya lebih dulu mengeluarkan perasaan nya.
Aku berjalan dengan pelan dalam keadaan menggendong alfa yang masih saja diam terheran melihat aku dan Mina yang sejak tadi menangis haru.
Air matanya kian menderas saat aku sudah mulai dekat dengan nya. Matanya tak lepas dari wajahku yang juga menangis tak percaya kalau saat ini istriku lah yg ada dihadapan ku ini.
"Hiks,, " Tangisannya yang tadi hanya diam kini lolos karena kini aku sudah ada dihadapan nya.
Ia berkali kali mengerjapkan matanya menandakan kalau ia masih mencoba mencari tau apakah ini adalah mimpi nya. Aku ingin berteriak sembari mengatakan kalau saat ini aku memang sudah ada dihadapan nya.
"Hiks,, " Ia lagi-lagi mengeluarkan suara tangisannya dengan tertahan.
Kuhapus air matanya dengan pelan sedang aku sendiri menangis deras karena sekian lama barulah aku benar-benar bisa menyentuh wajah nya yang selama ini ku rindukan itu. Rasanya sangat mengharukan dan tak bisa ku ungkapkan lagi.
"Hiks,, " Barulah tangis nya pecah saat ku rengkuh tubuh lemahnya yang sejak Tadi sudah kulihat melemah itu. Pasti ia sudah banyak menangis karena ku.
"Aku kembali sayang."kata-kata yang sudah lama ingin ku katakan itu kini lolos dengan mudah dari bibirku. Rasanya sangat lega setelah mengatakan itu. Aku kembali selama dua tahun pasti ia sudah lama menunggu kata itu. Aku memang jahat telah lama pergi tanpa kabar peda nya.
" Hiks,, "ia hanya menangis dalam pelukan ku. Aku tau saat ini ia tak sanggup lagi untuk berbicara karena air matanya mengalir dengan deras. Ia sungguh sangat terharu dengan ini sama dengan yang kurasakan kini.
"Mamah,, enapa? " Alfa tiba-tiba berbicara heran ditengah tengah keharuan yang kini ku rasakan dengan Mina. Ia pasti bingung melihat ibunya sedang menangis dan aku juga menangis.
Mina melepaskan pelukan kami dan mencoba untuk tersenyum kearah alfa. Namun ia sungguh tak bisa memaksakan bibir nya untuk tersenyum dan malah ia semakin menangis hebat jika ia paksa tersenyum.
"Mamah,, hiks,,, ngkpp bang, abang sama papah dulu yah sayang,Katanya Kangen papah kan? " Ia berbalik dan berjalan dengan gontai kearah kamar. Aku tau saat ini ia pasti akan menangis lagi didalam kamar.
Alfa dengan semangat memeluk ku karena rasa rindunya yang sudah sangat dalam itu. Aku sungguh bersyukur alfa masih mengenaliku yang tak bisa melihat ia tumbuh hingga sebesar ini.
Ku gendong alfa memasuki rumah dengan pelan ku langkah kan kakiku melewati pintu itu dan aku kembali lagi merasakan suasana rumah. Tak ada yang berubah karena mungkin Mina sengaja tak mengubahnya.
Aku duduk di sofa dengan memangku alfa yang masih saja merasa senang dengan kedatangan ku. Kupeluk ia dengan erat dan menciumi pipinya seolah ia adalah alfa yang masih bayi dalam pandangan ku.
Karena saat ia masih bayi dulu menciumi pipinya berkali-kali adalah hobby ku hingga ia menangis dan Mina akan memarahiku karena sudah mengganggu alfa. Aku jadi rindu dengan momen itu. Terasa sangat disayangkan aku tak bisa melihat alfa tumbuh sebesar ini. Pasti menyenangkan melihat ia mulai belajar berjalan hingga belajar berbicara seperti saat ini.
Air mataku lagi-lagi lolos karena mengingat betapa lamanya kami berpisah dan saat aku datang alfa sudah sebesar ini.
"Alfa kangen ngk sama papah? " Kutahan air mataku dengan mencoba tersenyum kearah alfa yang masih saja memeluk ku dengan erat.
Ia tersenyum melihat kearah ku sembari mengangguk"Tapi mamah ilang, kalau papah erja dan ulang etelah elesai erja."
Lagi-lagi air mataku tak bisa lagi kutahan karena mendengar penjelasan dari alfa. Mina sangat bijak dalam menjadi seorang ibu, ia tau bagaimana ia harus bersikap agar alfa tidak sedih saat aku sedang tidak dirumah. Membayangkan bagaimana perasaan Mina saat sedang berbohong membuat ku semakin menangis hebat namun tetap saja kucoba tersenyum agar alfa tidak heran.
"Mamah bilang gitu yah sayang? Maafin papah yah ngk pernah pulang liat alfa tumbuh hingga gagah begini, papah kangen sekali sama kamu sayang."kupeluk lagi alfa dengan pelan dan menangis disana.
"Maafin papah sayang hiks,, "kuelus punggung alfa dengan lembut.
Aku melepaskan pelukan ku dan melihat kearah alfa dengan tersenyum"Kamu jagain mamah kan sayang saat papah ngk disini? Kamu ngk nakal kan? " Kuelus lagi rambut nya dengan pelan.
Aku juga ikut tersenyum saat melihat ia begitu semangat"Papah beliin semua yang alfa mau sayang, makasih udah jaga mamah saat papah ngk ada."kupeluk lagi ia karena merasa gemas.
"Papah ngk nyangka anak papah udah sebesar ini hiks,, "aku lagi-lagi tak kuasa menahan tangis ku karena mengingat alfa yang kutinggalkan dulu masih kecil dan kini ia sudah sangat besar.
Ia turun dari pangkuan ku dan berjalan menuju lemari hias meraih foto kami saat jalan-jalan dulu kala ia masih bayi.
"Papah ulu anteng anget, ndak ada ini."ia menarik kumis ku yang kini sedikit lebat itu.
Aku tersenyum dengan air mata masih mengalir"Jadi mamah kasih liat terus yah foto papah sama alfa? "Alfa mengangguk dengan cepat.
" Ata mamah papah itu ampan ilip afa, api mamah boong afa ebih ampan ali papah."aku langsung tertawa mendengar itu. Ia terlihat sangat mirip dengan ku suka meninggikan dirinya sendiri. Hahaha memang buah tak jauh jatuhnya dari pohon nya.
"Alfa tunggu bentar disini yah sayang, papah mau ketemu mamah dulu." Dan alfa dengan semangat mengangguk tersenyum.
Aku berjalan dengan pelan menaiki tangga yang selama ini kulalui saat hendak menuju kamar. Selama dua tahun aku tak pernah lagi menginjakkan kakiku disini.
Aku perlahan membuka pintu kamar dan melihat Mina duduk diatas tempat tidur sembari menghadap kearah lain dengan bahu yang bergetar tanda ia masih saja menangis sejak tadi.
Aku sendiri tak kuasa lagi menahan tangisanku karena melihat itu. Aku benar-benar sudah mengecewakan ia, aku berjanji akan cepat pulang nyatanya aku pulang setelah dua tahun lebih berlalu.
"Sayang."kupegang bahunya yang semakin bergetar itu dan kuputar tubuhnya hingga kini menghadap kearah ku.
" Hiks,, "ia menangis lagi dihadapanku dengan deraian air mata.
" Sayang,, mas pulang,, maaf mas terlambat."kata-kata yang sangat ingin ku katakan sejak lama.
Ia langsung memeluk ku seerat yang ia bisa bukti bahwa ia tajam ingin kehilangan ku lagi. Air matanya sangat deras hingga membasahi bajuku.
"Hiks,, aku takut mas,,, hiks,, aku takut."ia semakin mengeratkan pelukan nya.
"Maafkan mas sudah membuatmu takut sayang,, maafkan mas sudah membiarkanmu berjuang sendirian membesarkan anak kita,, maafkan mas sudah membuatmu kesepian." Ia hanya terdiam dan terus menangis dalam pelukan ku.
Kulepaskan pelukan itu dan beralih mencium keningnya lama bukti bahwa aku sangat merindukan ia selama ini. Aku sungguh sangat merindukan nya hingga mau gila rasanya.
Ia masih saja menangis dalam ciuman ku dikeringkan dan aku juga demikian hingga kurasa air mataku sudah banyak menetes mengenai tangannya.
Setelah ciuman ku di keningnya itu lagi-lagi kupeluk tubuhnya yang sangat kurindu kan kehangatan pelukan nya itu.
"Terima kasih mas,, hiks, Terima kasih sudah mau kembali."
Air mataku jatuh lagi tak tertahan saat mendengar itu darinya. Aku sangat bersyukur saat Mina mengatakan itu, rasa bersalah ku memang berkurang saat ia mengatakan itu tapi tetap saja aku masih merasa bersalah padanya karena membiarkan ia berjuang sendirian.
Aku akan mencoba menjadi suami terbaik untuk nya.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa yah like, vote dan komen ❤.