Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)

Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)
95.keberangkatan ku (S2)


❄selamat membaca❄


Aku membawa semua barang yang sudah di packing oleh mina sembari menggendong alfa menuju ruang tamu di depan televisi.


Kulihat mina masih saja merengut seperti sedang memikirkan banyak hal. Aku sendiri sudah dibuat bingung oleh nya sejak tadi. Ia terlihat sangat khawatir tanpa sebab. Padahal aku hanya pergi sementara saja.


Aku memasang televisi untuk membuat suasana didalam rumah ini sedikit ramai, dan kulihat mina masih saja terus-menerus memeriksa isi dari koper ku juga beberapa keperluan lainnya yang akan aku bawa menuju lokasi pertemuan bisnis kami.


"Mas,, yakin nih ngk perlu bawak p3k? "Aku sejak tadi ditanyai olehnya apakah aku harus bawa p3k atau tidak.


"Ngk perlu sayang,mas tidak sedang bepergian ke gunung atau ke lembah hahahah."aku tertawa agar ia tidak terlalu serius dalam memikirkan keperluan ku saat sedang bepergian ini.


"Terus pelampung gitu kita ngk perlu beli lagi yah mas? Aku takut banget nanti tiba-tiba terjadi sesuatu gitu."ia terlihat benar-benar sangat khawatir terlihat dari wajahnya itu.


Aku tersenyum melihat kearahnya karena merasa lucu melihat ia yang begitu khawatir itu.


"Sudah disediakan oleh pihak kapal sayang."aku mencoba menenangkan ia yang terlihat sangat panik dan khawatir itu.


"Hmmm apalagi yah sekarang? Ehmm kalau bekal makanan gitu ngk perlu yah mas? Biar aku masakin sebelum mas berangkat."


Aku bangkit dari duduk ku dengan alfa yang masih saja berada dalam gendongan ku.


Kuelus rambutnya dengan pelan berkali-kali menenangkan ia yang aku sendiri tidak tau kenapa sebenarnya dengan dia.


"Semua tersedia dikapal sayang, kamu tidak perlu khawatir mas akan kelaparan atau semacamnya,mas tidak tau apa yang membuatmu khawatir seperti ini seharian, tapi mas janji bakal baik baik saja."


"Tap,, tapi mas,, ak,, "


"Kita duduk dulu yah sayang, kamu relax dulu biar mas pijitin bentar bahu kamu mungkin kamu lagi kecapean aja."


Aku membantu nya bangkit dan menuntun nya untuk ikut duduk dengan ku diatas sofa sembari menunggu pemberitahuan keberangkatan ku malam ini apalagi saat ini sudah mendekati waktu berangkat.


"Aku ngk capek mas, aku cuma khawatir aja."ia bersandar ke bahuku.


Aku pun membalikkan badannya agar membelakangi ku kemudian kupijit dengan pelan bahunya berharap ia melupakan pikiran nya yg enggak enggak itu.


"Ihh sakit mas, aku beneran ngk capek kok."kini ia membalikkan tubuhnya hingga menghadap kearahku.


"Kamu sih sayang sejak tadi pagi keliatan suram banget dan seperti seorang yang kelelahan gitu."


"Aku cuma khawatir aja mas, tapi aku juga bingung khawatir karena apa."mendengar itu aku semakin berat untuk meninggalkan ia dan alfa dirumah. Tapi mau gimana lagi aku tetap harus pergi untuk memperluas jejaring perusahaan yang kini kunaungi.


"Duhh jadi berat gini yah ninggalin dua kurcaci kesayangan ku ini."


Biasanya ia akan protes dan marah saat aku mengatakan ia kurcaci kecil yang imut. Tapi kali ini tak ada nada protes darinya. Malah aku merasa kemeja yang aku kenakan saat ini mulai terasa basah dan berair.


Karena mina menangis aku pun berniat melepaskan pelukan ku untuk melihat wajahnya itu namun ia tahan dan semakin melepaskan tangisannya dalam pelukanku hingga alfa mulai ikut menangis seperti nya.


"Duhh sayang udah dong nangis nya, liat nih alfa jadi ikutan mewek."


Mina pun melepaskan pelukan kami lalu menghapus air matanya dengan pelan kemudian meraih alfa dariku hingga alfa mulai terdiam karena mina juga berhenti menangis. Duhh kenapa mereka bisa serasi seperti itu yah?.


"Hiks,, maafin mamah yah sayang hiks,,, " Mina lagi-lagi menangis hingga alfa terlihat sangat bingung dengan nya.


Aku tertawa ringan saat melihat mereka berdua begitu lucu"Kalian lucu banget sih sayang, mas jadi berat buat perginya."


Cup,


Tiba-tiba mina mencium bibirku dengan memejamkan mata sembari melu*mat nya sedikit pelan hingga aku ikut membalasnya dengan pelan.


Awalnya aku smangat kaget dengan nya yang tiba-tiba mencium bibirku duluan dan bahkan dihadapan alfa. Biasanya ia akan berhati-hati agar alfa tak melihat saat kami melakukan hal-hal seperti ini.


"Hei,, kamu kenapa sayang? Tumben sekali mau berciuman didepan alfa."aku tersenyum menggodanya hingga ia terlihat malu-malu.


"Aku takut Kangen sama mas hiks,,, "ia kembali memelukku hingga aku ikut membalas pelukan nya itu.


"Kamu baik baik yah dirumah dengan alfa, kalau ada apa apa ada pak umar didepan." Kuelus rambutnya dengan pelan.


"Jangan nangis lagi yah, kan kita masih bisa telponan sayang."


"Tapi kan mas aku takut Kangen pelukan mas huuu."kulepas pelukan kami dan menekan hidungnya pelan.


"Kamu pikir mas ngk Kangen gitu? Mas pasti lebih Kangen dari kamu, apalagi bibir manis ini, wajah imut ini dan mata yang cengeng ini, mas pasti bakal rindu sampai gila nanti."aku tersenyum kearahnya.


"Kan ihh, mas malah bikin aku tambah mewek dengernya."


"Mas berangkat sekarang sayang, nih barusan aja konfirmasi keberangkatan udah dikirim."kuberikan HP ku untuk ia lihat bahwa mereka sudah menunggu ku di pelabuhan.


Mina menahan tanganku saat aku bangkit berdiri dari sofa dengan wajah sedih dan mata berkacanya itu.


"Kami ikut aja yah mas ngantar mas ke pelabuhan." Ia sangat ingin ikut tapi aku tak akan membiarkan itu. Hari sudah malam dan aku takut mereka akan masuk angin nantinya.


"Jangan sayang, ini udah malem dan pelabuhan itu tidaklah dekat, mas takut kamu dan alfa malah masuk angin nanti."


Ia menggeleng "Boleh yah mas, aku maksa nih." Bujuk nya lagi.


"Jangan yah sayang, kamu itu kan tau kalau alfa itu sensitif jadi mas khawatir."


"Yasudah aku anter sampai depan pintu aja mas."aku mengangguk setuju.


Setelah semua koper dan barang yang kuperlukan sudah ada dimobil dengan pak umar yang menunggu ku disana. Aku berjalan pelan menuju pintu yang disana mina sudah mewek karena aku akan berangkat pergi.


"Mas hati hati yah hiks,, "


Aku tersenyum dan mendekat kearahnya menghapus air matanya dengan pelan


"iya sayang, kalian juga hati hati dirumah, mas pergi yah."


Aku mendekat kearahnya mengecup pelan bibirnya itu kemudian kening dan setelah itu aku pamit meninggalkan mereka berdua.


Aku merasa langkahku sangat berat tanpa sebab. Kekhawatiran mina kini hadir dalam hatiku saat aku mulai kehilangan sosoknya karena mobil terus saja berjalan pergi menjauh dari rumah.


Kuharap semua kan baik-baik saja.


BERSAMBUNG...


Jangan lupa yah like, komen dan vote ❤.