Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)

Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)
78.dia khawatir (S2)


❄selamat membaca❄


    Aku berjalan kearah mina yang sejak tadi berdiri memperhatikan alfa yang sedang tidur itu. Demamnya sudah mulai reda dan ia juga sudah tertidur. Menurut penuturan dokter sih besok alfa akan kembali segar.


Aku mengelus rambutnya dengan pelan dan merasa bersalah karena membuat mina berdiam diri sejak tadi. Ia pasti masih merasa sakit hati karena ucapanku tadi.


"Sudahlah sayang, alfa baik baik saja."aku melihat kearahnya.


Ia mengangguk kemudian menunduk kembali menatap alfa yang tertidur itu.


"Kamu kenapa sayang? Sejak tadi diam melulu? "Aku merasa semakin merasa bersalah karena mina seperti ini.


"Tidak apa apa mas."


Aku memutar tubuh mina yang masih saja memandang tubuh alfa yang terbaring itu hingga kini berhadapan dengan ku.


"Mas tau kalau saat ini kamu sedang tidak baik baik saja, apa kamu masih memikirkan ucapan mas tadi? Mas sungguh bukan bermaksud mengatakan itu, mas hanya panik saja melihat alfa sedang sakit." Aku benar-benar khawatir dan merasa bersalah padanya.


"Tidak mas, aku tau kalau mas tidak bermaksud mengatakan itu, lagian aku yang salah mas tidak tau kalau alfa sedang sakit padahal aku adalah ibunya sendiri, ibu macam apa aku ini mas? Sungguh pasti mas kecewa dengan ku hiks,, maafkan aku mas, aku janji akan lebih berguna lagi untuk mas dan alfa."ia lagi-lagi menunduk dan air matanya keluar hingga membuat hatiku sangat sakit kini. Aku sangat bersalah padanya.


"Kamu menangis,aku sudah berjanji tidak akan membuatmu menangis."kuelus dengan pelan air matanya itu dengan rasa bersalah yang semakin parah.


"Kamu sudah lebih dari baik sayang, kamu ibu yang hebat, alfa pasti bangga punya ibu sehebat kamu,perjuangan mu dulu hingga sekarang bahkan mengorbankan nyawamu untuk alfa anak kita, aku yang salah dan tak bisa menjaga ucapanku, sungguh mas minta maaf karena sudah berkata seperti itu padamu,mas gagal dalam janji mas, mas sudah membuatmu menangis."langsung kupeluk ia dengan erat hingga ia menangis didalam pelukanku itu.


Pasti hatinya sangat sakit karena ku, bagaimana bisa aku berbicara begitu padanya. Ia sudah sangat becus dan hebat untuk menjadi seorang ibu.


"Mas, aku sebenarnya tidak pernah berniat memberikan alfa kepada pria tadi,dia yg merebut alfa dariku."


Aku mengangguk faham dan menghapus kembali air matanya itu"Mas tau, mas yang salah faham sayang, sudahlah sekarang kita tidur, kita anggap ini semua adalah proses menuju keluarga yang bahagia."


Aku membawa mina menaiki tempat tidur dan mendekap erat tubuhnya itu.


Aku sudah berjanji tidak akan menyakiti hatinya lagi. Tapi hari ini tanpa sadar aku sudah membuat ia terluka dan menangis. Kenapa aku begitu gagal dalam janjiku itu.


Mina berkali-kali was was hingga terus saja bangkit dan melihat Alfa hingga beberapa kali.


"Sudahlah sayang, alfa baik baik saja, mas tau kamu Khwatir tapi nanti alfa terbangun gara gara kamu liatin terus."ia pun diam dalam pelukanku.


"Sekarang kita tidur, kamu juga butuh istirahat sayang."aku semakin memeluknya dengan erat.


08.35Am.


Saat aku sedang memakai kemeja ku mina datang dari bawah untuk memanggilku makan pagi sedang alfa saat ini sedang berbaring diatas tempat tidur sembari bergerak gerak tak bisa diam.


"Mas, makanan udah siap." Ia berjalan kearah ku sembari membantu mengancingkan Kemejaku dan membantu mengikatkan dasiku.


Cup,


Ku kecup keningnya hingga ia kaget bukan main.


"Ihh mas, itu ada alfa loh."mina marah sembari menyelesaikan ikatan dasiku.


Aku tertawa karena melihat wajah kesalnya itu


"Kening doang padahal, belum juga bibir."


Kulihat ia hendak mengangkat tubuh alfa namun aku dengan sigap mengecup bibirnya hingga ia semakin kesal.


"Hahahaha,, imutnya kalau lagi marah."aku benar-benar merasa puas menggodanya habis-habisan.


Kami pun duduk dikursi khusus tempat kami makan. Aku menyiapkan makanan ku dan mina diatas piring lalu menyuapi mina dan aku sendiri secara bergantian, sedang alfa ia sibuk mengemut ****** mina dengan santai. Aku terkadang iri melihatnya hahahah anggap saja aku sedikit gila karena iri dengan anakku sendiri.


"Alfa sayang mau ngk tukeran sama papah."mina terlihat heran.


"Hah? Mau? Beneran nih? Kamu mau makanan papah terus makanan kamu buat papah, ini lebih enak loh sayang."aku tersenyum kearah alfa yang masih sibuk minum asi itu.


Plak,


Mina langsung memukul bahuku sedikit keras karena ucapanku tadi.


"Mas kalo ngomong gitu lagi sama alfa, awas aja ngk aku kasih jatah apapun termasuk ciuman."


Warning nih, kalau udah diancem tidak dapat jatah apapun termasuk jatah ciuman membuat bibirku tak bisa berbicara lagi.


Bayangin aja masa aku ngk bisa menciumnya dan mendapatkan jatah ku bisa mati aku.


"🎶Sayang tolong jan marah marah🎶"aku bernyanyi sambil menyuapi nya makan.


"Nanti mungkin mas pulang agak lama yah, kalian hati hati dirumah."mina mengangguk sembari menrima suapan dari ku.


"Udah kenyang yah sayang? "Mina mengangkat tubuh alfa keatas dan bajunya belum ia kancing sama sekali.


Mataku langsung melihat gundukan nya yang bergerak itu dibalik bajunya. Memang kalau pagi mina tak akan menggunakan bra karena ulahku yang setiap malam melepaskan nya.


Segera ku kancing bajunya kembali lalu menyuapi nya.


"Nanti kalo mas pulang mau dibeliin apa sama papah sayang? " Kuraih alfa sembari berjalan pelan ke teras rumah yang diikuti oleh mina yang membawa tas kantor ku itu.


"Papah berangkat yah sayang,jangan nakal sama mamah, nanti papah ngk jadi beliin kamu mainan kalo nakal." Ku cium pipi alfa berkali-kali hingga ia langsung menangis keras.


"Mas ihhh udah dong, liat alfa udah nangis gitu."mina langsung meraih alfa dari gendongan ku.


Amu tak bisa lagi menahan tawa karena alfa yang menangis gara-gara ku kecup berkali-kali.


"Kamu juga mau yah sayang? Muahh,,, muahh,, "ku kecup pipinya berkali-kali dan terakhir satu kecupan di bibirnya.


" Ihh mas, nanti telat kantor loh."


"Gimana kalau mas bolos aja sayang? Lagian kantor sendiri kok."aku tersenyum menunggu jawaban darinya.


"Mas berangkat ngk? Atau beneran nih mas mau puasa selamanya? "


Warning lagi nih, gawat kalau beneran puasa mah.


"Dadah sayang,, papah berangkat."aku melambai kearahnya dan langsung berangkat karena takut dengan ancaman keramat itu.


Membayangkan nya saja sudah membuat ku takut, tak ada jatah sama sekali adalah penyiksaan yang sesungguhnya. Terkadang alfa rewel saat kami bermain saja aku sudah sangat frustasi bagaimana kalau mina benar-benar tidak mau bermain  lagi? Wahhh ngeri juga yah.


BERSAMBUNG...


jangan lupa yah like, komen dan vote❤.