
❄Selamat membaca❄
Ia melepaskan pelukan nya dari tubuh basah ku yang ditimpa oleh hujan berkali-kali begitu juga dengan nya.
"Kita mau main apa mas? Ujan gini enaknya main apa yah? " Ia terlihat berpikir hendak bermain apa dibawah hujan.
Kalian tau apa yang terlintas di otakku saat ini? Hanya satu apalagi saat hujan melakukan itu akan lebih nikmat.
Benar sekali, saling menghangatkan dibawah selimut adalah permainan paling nikmat saat hujan. Tapi aku yakin bukan itu yang mina maksud. Aku saja yang pikiran nya suka travel kemana-mana.
"Gimana kalau kita main petak umpet sayang? " Kuberikan solusi namun ia tampak sedang berpikir lagi.
"Seperti itu kurang menyenangkan mas, apalagi mas kan tau dan hafal semua tempat ini pasti akan mudah menemukan aku. " Benar juga yah.
"Gimana kalau gini aja mas, kita main kejar kejaran aja siapa yang kalah harus dihukum terserah apa saja hukuman yang diinginkan oleh yang menang? " Ia serius meminta permainan itu? Sudah tentu akulah yang akan menang disini. Hahah kenapa begitu polos sih sayang?.
Aku dengan cepat mengangguk saja asal ia senang aku juga ikut senang.
"Yasudah kejar aku mas heheh. " Ia berlari kencang saat mengatakan itu. Sedikit curang yah hhahaha dia pikir aku tak akan mendapatkan nya dengan mudah.
Aku berlari pelan terlebih dahulu hingga ia semakin semangat berlari, ia mengira begitulah kemampuan berlari yang kupunya hahah. Dia tidak tahu saja aku pernah menjadi juara pelari saat SMA dulu.
"Hahaha masnya ngk bisa nangkep aku wlee. " Ia menjulurkan lidahnya meledekku.
Aku tertawa merasa ia sangat menggemaskan karena merasa bangga dengan kemampuan berlari nya padahal kan aku hanya berpura-pura lamban agar ia senang.
Aku berpura-pura tak sanggup menangkapnya hingga ia divonis sebagai pemenang kali ini.
Dia melompat sangat girang hanya karena itu, bagaimana aku tidak gemas saat ia seperti itu? Rasanya ingin kuterkam saja ia sekarang tapi aku sadar kami sedang berada diluar kini. Lihat saja nanti aku akan membuat mu diam dalam tindihan ku.
"Apa yang ingin kamu berikan pada mas sebagai hukuman sayang?" Tanyaku pelan.
Ia terlihat berpikir keras, kenapa suka sekali sih membuang waktu untuk berpikir seperti itu?.
"Aku mau mas gendong aku keliling rumah ini sebanyak dua kali heheh, gimana mas? " Ia langsung merasa kalau hukuman yang ia berikan itu sudah berat padahal mah seratus kali pun aku akan mau kalau hanya menggendong nya. Tanpa ia suruh juga aku akan bersedia.
Aku langsung berjongkok dihadapan nya dan ia dengan semangat menaiki punggung ku dan bersorak bahagia saat aku mulai berjalan mengelilingi rumah sembari menggendong nya yang sangat senang itu. Apa ia lupa yah kalau saat ini ia adalah seorang ibu yang melahirkan malaikat lucu seperti alfa? Ia bertingkah seolah ialah anak-anak kini. Aku tersenyum senang menggendong nya hingga dua kali putaran. Dan saat selesai ia tak mau turun juga.
"Mas, boleh minta satu bonus lagi ngk? Satu kali putaran lagi dong yah, yah. " Lagi-lagi ia bersikap manja agar aku mau.
Aku pun menurutinya dan kembali menggendong ia memutari keliling rumah dengan ia yang terus saja bersorak senang hingga aku ikut senang mendengar itu.
Kali ini aku lagi lagi sebagai pengejar untuk nya. Dia masih berpikir aku akan menyerah kali ini? Aku sudah memiliki sebuah hukuman yang cocok untuk mengakhiri mandi hujan ini. Aku takut ia akan sakit jika terlalu lama disini.
Dan dengan cepat kutangkap ia yang kecewa karena kalah dariku. Aku tersenyum melihat sirat kecewa darinya itu.
"Yahh, aku kalah. Mas mau ngasih hukuman apa sama ku? " Ia terlihat menunggu.
"Mendekatlah sayang,AS sudah tau hukuman apa yang pantas untuk gadis manis seperti mu. " Ia dengan polos mendekat.
"Cium bibir mas sekarang, hukuman kamu harus bisa membuat mas puas dengan ciuman mu dan buat mas bergairah hingga ingin lebih dari itu. " Aku tersenyum saat mengatakan itu. Aku tau ia akan kesal karena merasa aku tengah menggoda nya.
"Oke, siapa takut? Hukuman gitumah kecil. " Siapa sangka ia begitu polos mengira itu adalah hukuman sungguhan padahal kan aku sedang modus mengatas namakan hukuman agar bisa menikmati bibirnya itu.
Ia dengan cepat mendorong tubuhku hingga terduduk diatas rumput dan dengan wajah seksinya ia menggigit bibir dan mengangkat dress nya lalu duduk diatas pangkuan ku diatas rumput itu.
Aku sendiri diam terheran menunggu aksi apalagi yang akan ia lakukan.
Ia mengalungkan tangannya di leherku lalu pertama ia menjilat bibirku yang basah karena air hujan dan sesaat kemudian ia pun mulai melu*mat bibirku dengan nikmat dibawah hujan.
Ia terus saja mencium bibirku dengan menutup mata dan perlahan ia juga menurunkan resleting dresnya itu. Kulihat gundukan nya kini menggantung dihadapan ku. Apa ia tak mengenakan BH yah? Kenapa aku tidak sadar sih?.
Ia arahkan tanganku kedalam bajunya dan dengan bibir mendesah ia menggerakkan tanganku disana seolah sedang meremas gundukan itu. Aku tersenyum merasa puas dengan pelayanan nya ini.
Aku pun bangkit dan menggendong mina sembari menciumnya. Kubawa ia menuju kamar mandi tamu yang ada dibawah.
Sampai disana ia langsung ku dudukkan di lantai dengan wajah seksinya ia mulai membuka bajunya sendiri hingga tinggal lah celana dalamnya saja.
Aku bingung dengan mina yang saat ini, apa dia berpikir kalau hukuman itu belum berakhir yah? Kalau begitu baiklah. Aku dengan senang hati menerima nya.
Ia mendorong tubuhku ke dinding kamar mandi lalu membuka bajuku dengan gerakan sensual belum cukup sampai disitu ia juga membuka celana ku hingga menyisakan segitiga itu sama seperti nya kini.
"Mashh,, apa mas belum bergairah kini? " Ia bertanya dengan mendesah karena ia mengarahkan tanganku untuk mengusap area nya dari luar celana nya.
Aku menggeleng tersenyum padahal sejak tadi aku sudah lebih dari bergairah. Lagian kenapa ia masih belum faham juga padahal ia sudah melihat junior ku tegang. Apa ia tak mengerti yah maksud dari bergairah?.
Ia terlihat berpikir keras dengan berdiri mematung dan menutupi gundukan nya itu. Kenapa ia imut dan seksi sih dalam waktu bersamaan?.
"Apa hanya ini kemampuan yang kamu miliki? Kamu belum berhasil sama sekali sayang. Tadi katanya kecil. " Aku bermaksud mengatakan itu agar ia semakin semangat.
Ia terlihat tidak mau kusebut cemen karena itu dan ia langsung merapatkan diri kami di dinding kamar mandi. Ia menghimpit tubuhku dengan penuh semangat.
Lalu ia juga mulai mencium bibirku lagi dan mengelus setiap tubuhku seperti yang sering kulakukan padanya. Dan ia juga turun mencium leher juga ****** ku hampir saja desahan ku lolos kalau sampai lolos habis sudah permainan.
Ia terlihat bingung kenapa aku masih saja terlihat tenang.
Ia pun melucuti celananya dengan gerakan sensual hingga bokongnya sedikit bergoyang aku Hampir gila dibuatnya. Wajah polos itu berusaha sangat keras.
Dan saat ini ia sudah telanjang bulat dihadapanku dengan perlahan ia mengeluarkan si junior dari dalam sarangnya dan.
"Akhh,, akhh,, mas,, ahhh. " Ia mendesah saat mencoba memasukkan anuku kedalam lobang nya itu.
Aku pun tak tahan lagi sejak tadi menahan gairahku.
Dengan cepat ku dorong ia di dinding dan melakukan aksiku dibawah sana.
"Akhh,, mashh akhh. " Ia mendesah saat aku terus saja bergerak maju mundur disana hingga ia merem melek tak karuan.
Kami melakukan itu dan menyudahinya kemudian kami kembali ke dalam kamar untuk merebahkan diri masih dengan pakaian mandi kami.
"Mas tumben sekali susah untuk bergairah, aku sampai kehabisan akal tadi. " Bibirnya begitu polos saat mengatakan itu.
Aku tertawa pelan"sebenarnya kamu yang tidak sadar sayang. Bahkan sebelum kamu mencium mas dibawah hujan tadi mas sudah lebih dulu bergairah.
Mas hanya ingin melihat sejauh mana kemampuan kamu. Dan ternyata oke juga sayang. "Ku kecup bibirnya.
" Ihh aku malu Banget mas jahat banget sih. "Ia langsung menutup dirinya dengan selimut.
" Kenapa harus malu sayang? Mas malah bangga hmmm."aku ikut masuk kedalam selimut dan memeluknya dengan erat.
Kami pun tertidur pulas.
BERSAMBUNG...
Mina tuh polos polos gimana gitu.
Jangan lupa yah like, komen dan vote❤.